Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
42. Minta ijin (1)


__ADS_3

Alisha akhirnya pamit pulang. Ia benar-benar merasa tidak karuan. Aliando dengan sigap mengantarnya.


"Abang pulang aja ya," pinta Alisha, setelah mereka sampai teras rumah Alisha.


"Kamu yakin gak mau ditemeni?"


"Iya, aku mau istirahat, tidur bentar juga pasti sembuh,"


"Aku belikan obat ya, apa yang kamu rasakan?"


"Udah dibilangin gak perlu, kalau mau obat, udah dari tadi aku minta ke apotik dulu sebelum kita sampai rumah,"


"Ya udah, kamu butuh apa? biar aku belikan atau aku siapkan dulu!"


"Gak usah, Bang, cepet pulang gih, kalau masih di sini, kapan aku istirahatnya?"


"Ah ya udah, baiklah, aku pulang, kalau ada apa-apa, kabari aku ya!"


"Iya, Kak Ando!" kata Alisha penuh penekanan.


Sebelum pergi Aliando mengulurkan tangannya ke kening Alisha, memeriksa, apakah gadis itu demam atau tidak.


"Aku gak papa, Bang, cuma tadi mual aja,"


"Mungkin kamu masuk angin,"


"Iya, mungkin aja,"


"Kita ke rumah neneknya ditunda aja ya, pokoknya nunggu kamu fit dulu,"


Alisha mengangguk.


🌡


Aliando segera kembali ke rumahnya, karena ketiga sahabatnya masih ada di sana.


"Jangan ngaco, Al! Ini masa depan lho, jangan main-main, Al!" kata Rafael. Ia tidak bisa menerima jalan pikiran Aliando yang menyatakan akan segera menikahi Alisha.


"Gue setuju ma Rafael, cinta sih cinta, tapi jangan bodoh, Al! Kayak gak ada cewek lain!" imbuh Robby. Ia sangat menyayangkan jika Aliando harus mendapatkan Alisha si gadis cabe.


Aliando kini menatap Benni, hanya dia yang belum berkomentar, semenjak dirinya mengungkapkan akan menikahi Alisha, Benni hanya diam.


"Kenapa lihatin gue?" tanya Benni.


"Cuma kamu yang belum berkomentar!" kata Aliando.


"Emang lo butuh koment seperti apa?"

__ADS_1


"Entah, mungkin dukungan atau beberapa hujatan, terserah kamu!" jawab Aliando santai.


Benni tersenyum kecil, ia tidak yakin sahabatnya akan mendengarkan apa yang akan dia katakan.


"Lah malah senyum," komentar Robby yang juga penasaran Benni akan komentar apa.


"Gue gak perlu koment, karna yakin banget gak akan lo denger!"


"Tapi kan setidaknya, aku tau seberapa peduli kalian terhadap aku dan Alisha,"


"Lo kan punya feel yang gak pernah salah, jadi percaya saja sama feel elo!" kata Benni. Ia juga sebenarnya tidak yakin jika Alisha adalah gadis cabe, karena Aliando juga pernah bercerita jika Alisha sendiri mengaku bahwa dia bukan gadis cabe saat foto-fotonya bersama beberapa pria viral di medsos sekolah.


"Jadi kamu setuju kalau aku menikah dengan Alisha?" tanya Aliando bahagia, karena diantara sahabatnya, hanya Benni yang seakan setuju dengan ide 'menikahi' Alisha.


"Tentu, sangat setuju, dan gue dukung lo, tapi jangan sekarang juga, Al! Bukannya lo punya cita-cita? baru aja lulus, udah nikah, apalagi Alisha masih kelas sebelas, belum genap juga usianya tujuh belas kan?" jelas Benni memastikan.


"Lah kalo ternyata dia beneran hamil gimana? Kasihan anaknya nanti nggak punya bapak," Aliando mencoba meyakinkan ketiga sahabatnya.


"Lah lo sendiri, mau gitu, tanggung jawab terhadap apa yang tidak lo lakukan?" tanya Benni. Ia tidak percaya jika Aliando lebih mementingkan perasaan daripada logikanya.


"Kenapa tidak? Aku sangat menyayangi Alisha dan saat ini, satu-satunya cita-citaku adalah berbahagia dengan Alisha,"


"Lo udah jadi budak cinta, Al!" komentar Robby sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin menjaganya karena rasa sayang, tanpa alasan lain," ungkap Aliando yakin.


"Rasa sayangku ini tidak melihat status dia, meskipun ternyata dia adalah cewek seperti yang kamu bilang, dia tetap memiliki hak untuk mendapatkan cinta yang tulus, dan aku ingin menjadi penjaganya dan cintanya,"


Tak ada cinta yang salah, apalagi jika itu tulus, hanya terkadang, waktu, keadaan dan seseorang yang kita cintai yang belum tepat untuk bersama.


Robby, Rafael dan Benni menyerah. Mereka pun mengembalikan keputusan pada Aliando.


"Apapun kami dukung, kapan lo mau nikah? kita bakal hadir!" kata Rafael akhirnya buka suara lagi.


"Aku belum yakin, karena Alisha belum tentu setuju,"


"Lah kalo dia emang hamil, masa dia nolak?" tanya Robby.


"Mungkin dia akan memilih jalan lain!" kata Aliando membuat ketiganya menerka apa maksud dari perkataan Aliando.


"Maksud lo lebih baik menggugurkan janin?" tebak Benni hati-hati.


Aliando mengangguk, ia tahu bagaimana nekatnya seorang Alisha. Bisa saja, hal seperti ini pun akan terjadi.


"Ya Tuhan, emangnya dia berani?" tanya Benni lagi.


"Sangat berani dan nekat!" kata Aliando sambil menarik nafas panjangnya.

__ADS_1


"Lalu, lo mau gimana?"


"Mau bilang nenek dulu! Malam ini aku pergi ke sana, kalau ada apa-apa dengan Alisha aku minta tolong kalian sigap ya, segera tolong dia!"


Rafael, Robby dan Benni saling pandang. Kemudian mereka menganggukkan kepala, tanda siap menjalankan tugas dari Aliando.


☘️


Nek Maryam dan Kek Haidar begitu bahagia dengan kedatangan Aliando, mereka sudah mendengar cerita acara perpisahan tadi siang dari pak Aman. Aliando tidak ingin menunda niatnya untuk meminta ijin agar bisa menikahi Alisha.


"Astaghfirullah ... Anak ini, baru tadi cerita lulus, sekarang udah minta ijin nikah!" kata nek Maryam sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan aneh-aneh, Al!" imbuh kek Haidar.


"Al serius, Nek, Kek," ucap Aliando sangat meyakinkan.


Maryam dan Haidar saling melempar pandangan, mencari keseriusan dari ucapan Aliando.


"Jangan-jangan, kamu sudah berbuat yang tidak-tidak!" nek Maryam mulai curiga. Rasanya orang tua memang seperti itu, peka terhadap hal-hal yang sensitif.


Aliando hanya menunduk, seakan menunjukkan wajah penyesalan.


"Ya ampun, nenek sama kakek kan cuma suruh kamu jaga Alisha bukan jadiin pacar lalu kamu berbuat yang tidak-tidak!" nek Maryam bangkit dari duduknya lalu memukul pundak Aliando berkali-kali. Sementara Aliando hanya diam membiarkan, tanpa ada niat untuk menghindar.


"Jadi, kamu serius, Al?" hanya kek Haidar yang terlihat tenang.


"Iya, Kek!"


"Gimana bisa kamu ngerusak anak orang, hagh! Bikin malu aja!" nek Maryam masih mengomel, tangannya kini malah menjewer telinga Aliando.


"Anak manis, cantik, baik, malah kamu hancurin masa depannya, kamu juga! lulusan terbaik tapi gak punya akhlak, kamu tau kan, nomer satu itu akhlak, kalo kayak gini, percuma otak kamu pinter, tapi gak faedah, Aliandoooooo!" teriak nek Maryam gemas, ia segera duduk di samping Aliando sambil memegang dadanya. Rasanya cukup sesak juga nafasnya setelah berteriak-teriak.


"Maaf, Nek, Al khilaf!"


"Enak aja! khilaf khilaf! trus masa depan kamu mau dikemanain Al, Al, masih kecil udah punya anak! ya Tuhan, mau dikemanain ini muka!" nenek Maryam masih emosi. Tangannya kali ini bukan hanya mengetuk kepala Aliando melainkan mentoyornya.


"Sudah, Nek, sudah!" Kakek Haidar menghampiri nek Maryam lalu mengusap punggungnya beberapa kali dengan lembut.


"Nenek, istirahat ya, biar Kakek berbicara pada Aliando!"


"Ya udah, urus tuh cucu kesayanganmu! pusing aku!" kata nek Maryam sambil memijat keningnya. Ia kemudian beranjak ke kamar, bermaksud untuk menenangkan diri.


Sementara Aliando masih menundukkan kepala. Baru kali ini ia berbohong, dan baru kali ini juga ia menerima kemarahan nek Maryam, kemarahan yang hampir sama dengan kemarahan ibunya dulu, saat mengetahui ayahnya tengah dekat dengan Vanya.


"Maaf, Mah, Nek, Kek, Ando terpaksa melakukan ini!" gumam bathinnya.


...🌻🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2