Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
51. Tasyakuran pernikahan


__ADS_3

Aliando memutuskan untuk kembali ke rumah, ia tidak ingin berlama-lama di rumah nek Maryam, apalagi Soraya dan Michelle justru memutuskan untuk menginap. Sepertinya, mereka memang sengaja ingin merusak pernikahan Aliando dan Alisha yang baru saja hitungan hari.


"Wah, nyamannya," komentar Alisha ketika masuk ke rumah panggung milik Aliando.


"Kamu suka?" tanya Aliando.


"Iya, suka banget," kata Alisha sambil memperhatikan sekelilingnya. Semua tampak berbeda dari terakhir kali dia ke rumah Aliando. Semua berubah, walau sebelumnya sudah terlihat rapi, namun kali ini sangat berbeda, lebih rapi dan berwarna, juga ada tambahan beberapa perabotan rumah tangga. Ada sofa sudut di ruangan bagian depan, padahal sebelumnya hanya meja kursi bambu, sementara di ruang televisi masih tetap, hanya saja, sekarang yang menjadi alas bukan lagi karpet biasa, melainkan surpet yang sangat lebar.


Sementara, di bagian belakang rumah, kali ini ada dapur dan tambahan kamar mandi, padahal sebelumnya kamar mandi hanya ada di kamar Aliando, dan juga ada ruangan yang cukup luas untuk tempat makan dengan nuansa lesehan.


Beralih ke kamar tidur yang ukurannya empat kali empat meter persegi, masih sama seperti sebelumnya, hanya saja, tempat tidur yang tadinya hanya cukup untuk satu orang kini menjadi lebih besar, diletakkan di sudut kamar di sebelah jendela yang menghadap ke timur. Sehingga jika matahari telah terbit bisa menyinarinya. Sementara lantainya sudah beralaskan karpet, dan di sisi lainnya dalam kamar ada lemari pakaian yang cukup besar dengan tiga pintu, serta sebuah meja multifungsi dengan rak buku di sampingnya, juga rak kecil dengan sebuah cermin untuk berhias, serta ada satu meja lesehan ukuran sedang yang bisa digunakan untuk bekerja menggunakan laptop.


Alisha begitu takjub dengan apa yang dilihatnya, ia benar-benar tidak menyangka Aliando telah mempersiapkannya dengan sedemikian rupa.


"Selamat datang istriku," ucap Aliando sambil memeluk Alisha dari belakang. Kemudian ia mencium pipi Alisha cukup lama.


Ah, getaran itu kembali terasa diantara keduanya, nafas mereka tak beraturan, ada gejolak yang aneh turut berdesir, antara malu, takut dan bahagia bercampur menjadi satu. Mereka memang pernah berdekapan, tapi dekapan dengan getaran spesial yang indah luar biasa ini baru saja mereka rasakan. Satu kata untuk melukiskannya 'ekstra nyaman'.


Aliando kemudian membalikkan tubuh Alisha, masih dalam dekapannya. Ia menelusuri wajah cantik gadis yang telah resmi menjadi istrinya itu. Satu tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Alisha, lalu ia menaikkan dagu Alisha dan mendekatkan wajahnya.


Dengan cepat Alisha memejamkan mata ketika akhirnya Aliando mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya. Hangat dan lembut. Membuat seluruh sendinya melemas. Kedua tangannya meremas bagian pinggang kaos Aliando. Dia masih belum terbiasa untuk berciuman seperti ini, sementara Aliando seperti sengaja, entah ingin membiasakan diri atau memang karena saat ini ia sangat senang melakukannya.


"Makasih, Bang!" kata Alisha tersipu, sesaat setelah Aliando melepas ciumannya.


"Aku ingin ngasih yang terbaik, kalo menurut kamu masih belum luas, dan ingin lebih kokoh, kita renov rumahnya,"


"Ini udah bagus banget, Bang! kapan Abang renov rumah?"


"Begitu kamu setuju untuk menikah,"


"Dalam seminggu?"


"Cuma nambahin dapur aja, Cha, masa kita mau bareng mak Leha?"


Alisha tersenyum, ia sangat bersyukur, ia tidak menyangka jika Aliando sampai berpikir ke arah sana. Sepertinya, Aliando memang benar-benar telah siap berumahtangga.


"Makasih ya, Bang!" ucap Alisha sekali lagi, ia langsung mendekap Aliando sangat erat, namun hanya sesaat, karena dengan cepat ia melepas dekapannya.

__ADS_1


Kini, ia menangkup kedua pipi Aliando dan memberikan kecupan di kening Aliando sangat dalam kemudian ia juga memberikan ciuman kecil di bibir Aliando sehingga membuat cowok tampan yang telah resmi menjadi suaminya itu berbinar.


"Kamu bener-bener menggemaskan, Cha, I love you more," ucap Aliando pada Alisha sambil memeluknya sangat erat dan mendaratkan beberapa kecupan di pucuk kepala istrinya itu.


"I love you too, Kak Ando!"


☘️


Malam itu, setelah Isya, tanpa sepengetahuan Alisha, puluhan kotak nasi dan souvenir dibagikan kepada tetangga di sekitar kediaman pak Aman, sebagai tasyakuran pernikahan Aliando dan Alisha. Begitu pun untuk para tetangga di komplek perumahan tempat Alisha tinggal.


Banyak yang menduga jika Aliando dan Alisha menikah karena Alisha hamil di luar nikah, namun tidak sedikit juga diantara mereka yang berpositif thinking dan mendukung mereka untuk menikah muda.


"Abang, lihat ini!" Alisha beranjak dari tempat tidur kemudian menghampiri Aliando yang sedang sibuk dengan laptopnya. Ia segera memperlihatkan ponsel yang dipegangnya, agar Aliando membaca pesan yang dimaksud oleh Alisha.


"Ada apa?" tanya Aliando, ia justru hanya melirik sekilas ke arah Alisha, tanpa peduli dengan ponsel yang diperlihatkan oleh gadis itu.


"Bu Syifa, samping rumahku, ngucapin makasih atas tasyakuran pernikahan kita! Ini, lihat, dia kirim foto kotak nasi dan souvenirnya,"


"Oh," ucap Aliando datar.


"Ini bener dari kita? Abang nyiapin tasyakuran?" selidik Alisha. Ia sama sekali tidak mengetahui perihal tasyakuran pernikahannya.


"Tapi emang kita gak ngundang-ngundang banyak orang, kan?"


"Iya, tapi, mereka semua tau kalo kita akan menikah, mereka gak bisa hadir, jadi aku siapkan aja sebagai tasyakuran, yaaa walau sangat sederhana dan seadanya,"


"Ya ampun, Bang, kapan Abang nyiapinnya? Aku kok gak tau?"


"Kamu kan lagi ujian, biar kamu konsentrasi sama ujian kamu, dan soal pernikahan, jadi urusanku semua,"


"Pantesan, kata Abang gak ada acara apa-apa, nyatanya, pas di rumah nenek, meriah juga!" seru Alisha.


"Aku justru ingin banget mengadakan resepsi pernikahan yang meriah, tapi, kamu masih sekolah, maaf ya,"


Alisha hanya mengangguk pelan. Ia tidak menyangka jika Aliando sudah sangat siap dengan pernikahan ini, bahkan dirinya saja, yang seorang perempuan, tidak memikirkan sampai sana.


"Iya, Bang, aku paham, kayak gini aja, ada yang bilang kalo kita nikah itu karna aku hamil duluan, padahal kan, kita murni beneran nikah,"

__ADS_1


Surprise, bagi Aliando, pernyataan Alisha saat ini menegaskan jika dirinya memang sedang tidak hamil.


"Yang penting kitanya, kita buktikan aja ke mereka yang hanya bisa nyinyir dan ghibah," kata Aliando tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Pasti itu, Bang!"


"Tunggu setahun lagi, setelah kamu lulus sekolah, kita umumkan pernikahan kita besar-besaran, mau, kan? Nanti kita adakan resepsi yang meriah,"


"Gak perlu meriah, Bang, kayak gini aja aku udah bersyukur banget ...." Alisha tetiba terdiam, seperti menahan sesuatu di hatinya.


Aliando bisa merasakan hal itu, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah Alisha dengan tatapan seakan bertanya 'Ada apa?'


Namun, Alisha hanya menggelengkan kepalanya, menjawab bahwa 'tidak ada apa-apa'.


"Setelah kamu terima raport, kita ke makam papah ya," ajak Aliando pada Alisha seakan dia paham apa yang ada di pikiran Alisha saat ini.


"Eh? Abang tau apa yang ada dalam pikiranku?"


"Hm,"


"Wah, Abang kayak paranormal,"


"Hanya untuk kamu, aku bisa tau, kalo buat yang lain, aku ga bisa nebak,"


"Emang Abang taunya darimana?"


"Sorot mata kamu, Cha," kata Aliando sambil mengusap pipi Alisha lembut.


"Iya, Bang, aku kangen papah, aku nikah papah ga bisa jadi walinya,"


"Iya, aku tau, aku memang udah niat untuk mengunjungi makam papah, tapi setelah kamu terima raport, biar sekalian liburan,"


"Makasih ya, Bang, i love you so much," ucap Alisha kemudian menghambur mendekap Aliando dan mengecup pipinya.


Aliando mengangguk dengan senyum manisnya yang merekah.


"Sudah, Cha, kayak gini, aku jadi ga fokus buat kerja, aku jadinya ingin bareng kamu," kata Aliando sambil mengeratkan dekapannya. Tatapannya berubah nakal membuat Alisha merinding.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2