
Kamar ini terasa berubah seperti berada di dalam kamar Aliando. Suasananya menghangat.
Rasa sesak di dada Aliando tidak dapat dibendung lagi. Ia benar-benar merasa kecewa dengan sikap Alisha. Saat ini Aliando dan Alisha sedang duduk di bibir tempat tidur.
"Kenapa kamu pergi-pergi lagi, hah? Apa yang harus aku lakukan agar kamu yakin kalo aku cinta kamu," kata Aliando pada Alisha.
Alisha diam dengan tatapan takut-takut.
"Kamu butuh bukti yang seperti apa, Cha?" tanya Aliando.
Alisha makin diam. Ia hanya bisa menatap Aliando dengan tatapan yang tertahan. Kosong dan sulit diartikan.
"Okke, kalo kamu gak bisa jawab, aku kasih bukti kesungguhan ku, biar kamu ga pergi lagi!" kata Aliando penuh ancaman, membuat Alisha semakin tidak berkutik.
Aliando mendorong tubuh Alisha hingga tubuhnya terlentang di kasur. Kemudian ia menarik helai pakaian yang menutupi tubuh Alisha dengan cara kasar. Tak ada perlawanan, gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu hanya diam sambil menggeleng, menahan tubuh Aliando yang sudah di atasnya seakan ia tidak ingin diperlakukan kasar oleh Aliando.
Namun, ia hanya bisa pasrah, ketika Aliando mulai mengeksplor tubuh Alisha. Ia hanya diam dan menangis, air matanya tak berhenti mengalir.
Aliando akhirnya menghentikan pergulatan yang tak jelas itu, ketika mendengar rintihan dari bibir Alisha. Perasaan penuh sesal pun hadir menyelubungi relung hatinya, ia justru malah merasa sakit karena telah membuat gadis yang dicintainya menangis.
Walaupun sebenarnya sah saja jika dia melakukannya pada Alisha, bukankah mereka adalah sepasang suami istri. Namun, alangkah bahagianya, jika hal itu dilakukan di saat keduanya siap dan memang sama-sama menginginkannya. Apalagi ini adalah yang pertama buat mereka.
"Maaf!" ucap Aliando singkat.
"Abang jahat!" gumam Alisha lirih penuh rasa kecewa dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Entah darimana asalnya pisau kecil itu, hingga Alisha bisa menyayat nadi di pergelangan tangannya.
*
"Agh, Tidak!" spontan kata ini keluar dari mulut Aliando. Ia membuka matanya. Terkejut. Degup jantungnya berdetak tak karuan. Ternyata itu hanyalah mimpi saat ia tertidur di bis ketika menyusul Alisha ke kota T.
Pandangannya beralih, melihat jendela kaca bis, rupanya hujan masih saja turun, hingga tetesannya mengalir membasahi kaca jendela.
"Ya Tuhan, Alhamdulillah, cuma mimpi, kamu jangan pergi, Cha, kamu gak bisa ninggalin aku!" gumam hati Aliando sambil menahan rasa sakit di hatinya karena mimpi yang dialaminya, walau sebentar namun terasa sangat nyata.
*
Bayangan mimpi saat di bis, tiba-tiba saja muncul dalam ingatan Aliando, sesaat setelah ia mengungkapkan ingin meminta haknya sebagai suami malam ini. Tidak, ia tidak mungkin melakukannya, ia tidak mungkin memaksa Alisha apalagi dalam keadaan Alisha yang seperti ini. Jauh di dalam hatinya, ia ingin melakukan hal itu penuh kebahagiaan bukan paksaan dan tekanan.
Alisha sempat terkejut dengan permintaan Aliando, tapi ia menyadari, saat ini ia adalah seorang istri, harus menurut pada suami selagi dalam syariat, itu kata Aliando tadi ketika mereka di teras warung.
__ADS_1
"A-bang se-rius?" tanya Alisha terbata dan tertahan.
"Kenapa? belum siap?" tanya Aliando.
"Di sini?" Alisha berusaha memastikan, akankah mereka melakukannya di kamar penginapan ini?
"Mau di mana lagi,"
"Se-ka-rang?" Alisha mencoba meyakinkan, bukan Aliando, lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri.
"Mau kapan lagi?"
Alisha menelan salivanya sangat berat. Nafasnya tak beraturan.
Aliando menyadari kegugupan yang terpancar di wajah Alisha. Ia hanya tersenyum.
"Tidurlah, dan jangan coba-coba kabur," kata Aliando akhirnya.
Cowok cool itu mengusap lembut pipi istrinya.
"Jadi, yang A-bang min-ta gi-mana?" tanya Alisha hati-hati.
"Akan aku tagih nanti kalo kita sudah siap, sekarang tidurlah, ingat, kamu berhutang ya, jadi jangan menghindar,"
π΅
"Abaaang, emmh ...," igau Alisha dalam tidurnya.
Aliando terbangun, ia merasa terganggu dengan suara Alisha yang memanggil namanya. Mimpi apa sampai memanggil-manggil namanya, pikir Aliando saat itu. Namun, dia malah panik, ketika dipegangnya suhu tubuh Alisha begitu dingin. Tubuh Alisha terlihat menggigil, wajahnya pucat. Bibirnya mulai membiru.
"Ya Tuhan, Cha, kamu kenapa," panik Aliando, ia segera menarik tangan Alisha, kemudian mengusap-usapnya.
"Kamu kena hipotermia, Cha?" cemas Aliando.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" gumam Aliando.
Ia menarik nafas panjang, Sebelum tidur memang ia telah menyuruh Alisha mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Namun Alisha menolak dengan alasan sudah kering.
Padahal andaikata Aliando mengetahui jika Alisha cukup lama membiarkan dirinya terguyur air hujan sudah tentu ia akan memaksa Alisha untuk mengganti pakaiannya, bila perlu ia yang akan menggantinya.
__ADS_1
Ya, saat Alisha berdiam di teras warung itu, ia sengaja duduk di bibir teras, membiarkan tubuhnya terguyur air hujan cukup lama, sampai hujan mulai mengecil barulah Alisha memundurkan diri bersandar di sudut teras, hingga bajunya mengering dengan sendirinya.
Aliando meraba pergelangan tangan Alisha, denyut nadinya terasa lemah dan tidak beraturan.
"Ya Alloh, selamatkan Alisha," gumam hati Aliando. Ia pun segera melepas pakaian Alisha dengan hati-hati.
"Ya ampun, bisa-bisanya yang seperti ini dibilang kering," gumam Aliando sambil merasakan pakaian Alisha yang masih lembab.
Ia tidak peduli jika nanti Alisha akan marah. Hanya satu yang ada dalam benaknya saat ini, yaitu menyelamatkan istri tersayangnya dari hipotermia.
"Bertahanlah, Cha, jangan tinggalin aku," ucap Aliando semakin cemas, ada butiran bening keluar dari kelopak matanya.
Setelah melepas pakaian Alisha, Aliando segera membungkusnya dengan selimut yang tersedia di situ. Kemudian, ia mendekap Alisha. Sayangnya, tidak berhasil, karena beberapa menit berlalu, Alisha masih menggigil.
Aliando berinisiatif untuk memberikan pertolongan melalui skin to skin contact (kontak kulit ke kulit). Ia segera melepas pakaiannya, membuka selimut yang tadi membungkus tubuh Alisha, kemudian ia tidur berbaring di samping istrinya itu.
Satu tangannya terulur menjadi bantalan untuk kepala Alisha, dan satu tangannya lagi mendekap erat tubuh Alisha, kemudian ia membungkus diri bersama istrinya itu menggunakan selimut sehingga ia bisa dengan baik mentransfer panas tubuhnya pada istrinya tersayangnya.
Aliando merasa bersalah, kenapa tadi dia tidak memaksa Alisha untuk mengganti pakaiannya, juga tidak memaksa Alisha untuk makan dengan benar, hanya tiga suap yang masuk ke mulutnya saat makan malam tadi. Andai kata dia tadi memaksa Alisha, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Cemas dan takut kehilangan begitu terasa di sudut hatinya. Ada rasa nyeri yang tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Ia benar-benar semakin bersalah karena tidak bisa menjaga Alisha dengan baik.
Ah, ternyata dia sungguh rapuh, air matanya kembali menetes.
"Cha, aku gak mau kehilangan kamu, ya Alloh, kumohon, selamatkanlah Alisha,"
...π»π»π»π»π»...
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak MinNami, pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa.
Judul : My Beautiful Venus
Ini blurbnya:
Virendra Aryan, seorang Jenderal yang begitu tampan, pintar dan tegas. Sosoknya yang mempesona membuat banyak kaum hawa menyimpan kagum padanya.
Namun, siapa yang menyangka keputusan sang Jenderal yang ingin menikahi gadis muda berusia 18 tahun.
__ADS_1
Akankah kisah mereka berakhir bahagia atau justru berakhir tragis mengingat sosok Jenderal Virendra yang memiliki banyak musuh?