
"Kamu gak papa?" tanya Aliando.
Awalnya Aliando berpikir Alisha terpaksa melakukannya karena hal itu merupakan kewajibannya. Namun, mendengar jawaban Alisha, ia merasa lebih tenang.
"Abang jangan khawatir, sebelum masa janji kita berakhir, aku udah nyiapin kok,"
"Maksudnya?" Aliando tak mengerti.
"Aku dikasih resep aman ma bu Syifa, beliau kan bidan,"
"Maksud kamu?" Aliando memahami jika yang dimaksudkan resep dari bu Syifa itu adalah pencegah kehamilan di usia dini.
Alisha mengangguk, membenarkan apa yang ada di pikiran Aliando.
"Entar kalo kita udah siap punya anak, barulah resep itu tidak digunakan," kata Alisha.
Aliando menarik napas panjangnya merasa lega.
"Jadi, aku tuh udah menggunakannya sebelum perjanjian kita berakhir, jika nanti khilaf karena saling kangen, kan, udah ga masalah lagi,"
Aliando tersenyum. Ia tahu, selama perjanjian yang sembilan belas hari itu, sebenarnya, Alisha juga merindukannya.
"Jadi, kamu juga sebenarnya merindukan aku kan?" tanya Aliando memastikan.
"Tentu saja, walaupun aku menghukum Abang, tapi aku tetap kangen, aku hanya marah dan kecewa sama Abang," kata Alisha.
"Maaf ya, udah bikin kamu kecewa," ucap Aliando penuh penyesalan.
"Dan jujur aja, Bang, jika masa perjanjian kita berakhir, trus, kita udah bareng lagi, aku juga takut khilaf, makanya aku minta resep ma bu Syifa,"
"Kamu khilaf?" tanya Aliando sambil tersenyum. Ia tak percaya jika Alisha bisa khilaf kepadanya.
"Iya lah, aku tuh menikah sama cowok paling pinter, gagah, dan tampan, masa iya aku gak tergoda, aku jelas menginginkan Abang," kata Alisha sangat percaya diri.
Aliando melebarkan senyumannya, ia merasa gembira dengan kejujuran Alisha tentang perasaannya.
"Sini! Kapanpun kamu mau, kamu bisa menikmati aku!" kata Aliando sambil menarik tubuh Alisha dan memeluknya.
"Haish, kayak makanan aja!"
"Ah, iya, ngomongin makanan, aku lapar, Cha, kita cari makan yuk!" ajak Aliando.
"Ayok, aku tau di kota ini tempat sarapan yang enak, aku dan papah suka kesana, sejak subuh udah jualan!" Alisha memberi ide.
Aliando setuju. Ia pun kemudian segera bersiap. Begitu pun dengan Alisha.
"Eh, kenapa Abang lihatin aku kayak gitu?" tanya Alisha ketika dia memoleskan sedikit pelembab bibir di bibir mungilnya yang indah. Saat ini dia sedang duduk di bibir tempat tidur, sementara Aliando sedang berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan bagaimana istrinya itu berdandan.
"Cantik!" jawab Aliando sambil tersenyum.
Alisha tersenyum mendengar jawaban yang merupakan pujian untuknya itu. Padahal, tidak ada yang berubah, Alisha tidak pandai berdandan, cukup menggunakan pelembab dan bedak di wajah serta pelembab bibir untuk bibir mungilnya.
"Makin hari kamu makin cantik, Cha," puji Aliando merasa gemas.
"Abang juga makin tampan," kata Alisha sambil berdiri kemudian mendekat ke arah Aliando.
"Ayok, Bang!" ucapnya sambil menggenggam tangan Aliando dan menariknya.
"Ada apa, Bang?" tanya Alisha sambil melirik Aliando, ia merasa aneh, karena suaminya itu seakan menahan langkah.
__ADS_1
Tanpa memberikan jawaban, Aliando justru segera meraih tengkuk Alisha kemudian mendaratkan ciuman di bibir indah Alisha.
"Kamu menggoda ku, Cha!" kata Aliando setelah melepas ciumannya. Ia memang sudah terpana dan tergoda ingin mencium bibir Alisha saat Alisha memoleskan pelembab bibir.
"Aku gak jadi makan ah, Bang!"
"Kenapa?" Aliando merasa heran dengan komentar Alisha.
"Soalnya, Abang udah kasih sarapan termanis pagi ini!"
"Hahaha, mana ada urusan perut bisa digantikan dengan ciuman, yang ada hanya kelaparan, ayok, aku penasaran dengan tempat sarapan favorit kamu ma papah, aku udah gak sabar pengen makan di sana!"
"Tunggu, Bang!" kali ini Alisha yang sepertinya enggan untuk melangkah.
"Ada apa?" tanya Aliando heran.
"Abang nunduk dulu deh!" pinta Alisha.
Aliando pun menuruti apa yang diminta oleh
istrinya itu. Ia menundukkan kepalanya hingga wajahnya berhadapan tepat beberapa senti dengan wajah Alisha.
Alisha menatap wajahnya, kedua tangannya mnangkup wajah tampan itu, kemudian ia mencium bibir suaminya itu. Hanya tiga detik. Tapi mereka cukup menikmatinya.
"Aku minta makanan pembuka," kata Alisha sambil nyengir.
Aliando hanya tersenyum.
"Kenapa cuma sedikit?" tanya Aliando.
"Ntar kekenyangan!" jawab Alisha sekenanya.
Mereka pun akhirnya menuju tempat makan untuk sarapan menggunakan becak, keduanya terlihat sangat bahagia. Mereka juga sama sekali tidak melepas genggaman tangan selama di becak bahkan Alisha tak segan-segan menyandarkan kepala di lengan Aliando. Sementara Aliando sendiri pun beberapa kali mendaratkan ciuman ke pucuk kepala Alisha.
"Aku bahagia banget Bang, makasih," ucap Alisha tulus.
"Aku juga, Cha, aku sangat bahagia, mungkin, orang yang paling bahagia saat ini adalah aku,"
"Emh, mulai ... kepedean,"
Aliando tergelak.
"Kamu bener-bener menggemaskan, Cha,"
"Abang juga, Abang sangat menggemaskan," kata Alisha sambil mencubit pipi Aliando.
"Aww, Cha, sakit, Cha!" kata Alisha.
"Uuuh, sakit ya," goda Alisha, tangannya terulur untuk mengusap pipi Aliando, "Kalo yang ini pasti ga sakit," kata Alisha sambil mencium pipi Aliando lembut dan dalam. Namun hanya sebentar.
"Wah, aku mau lagi boleh ga?" tanya Aliando sambil melirik Alisha.
"Sini!" ucap Alisha tanpa pikir panjang.
Dan saat dia hendak mencium pipi Aliando, secepat kilat juga lah Aliando menghadapkan wajahnya ke depan wajah Alisha, sehingga bibir Alisha justru malah menyentuh bibir Aliando.
"Eh, Abang, modus,"
"Gak papa, soalnya aku suka,"
__ADS_1
"Emang Abang gak malu apa?"
"Malu kenapa?"
"Malu sama bapak tukang becak," bisik Alisha di telinga Aliando, agar tukang becak tidak mendengarnya.
"Gak papa, aku sengaja ingin nunjukin kemesraanku pada dunia,"
"Lebay,"
"Beneran, Cha, aku ingin memperlihatkan betapa aku bahagia memiliki mu!"
"Gombal!"
"Gak papa aku gak maksa kamu untuk percaya kok!"
"Tumben, biasanya Abang suka maksa,"
Aliando hanya tergelakta, ia benar-benar merasa gemas dengan Alisha.
Akhirnya, mereka pun tiba di tempat sarapan yang dimaksud.
"Neng Alisha, datang juga, udah lama bapak gak lihat neng, katanya pindah?" tanya pak Tora penjual sarapan langganan Alisha. Ia mengantarkan pesanan Alisha dan Aliando.
"Iya, Pak, udah pindah, gimana kabar bapak dan keluarga?"
"Alhamdulillah baik, ini siapa neng?" tanya pak Tora sambil melirik Aliando.
"Ini suami saya, Pak,"
"Hah, neng Alisha udah nikah?"
"Iya, kenalin nih Pak, ini kak Ando,"
Pak Tora dan Aliando pun saling berjabat tangan.
"Wah tampannya," puji pak Tora. Alisha tersipu, ia senang mendengar pujian pak Tora pada suaminya itu. Sementara Aliando hanya bersikap biasa, wajahnya datar, dia terlihat sangat cuek sambil menikmati sarapannya.
"Bapak ikut seneng, neng sekarang ada yang jaga," komentar pak Tora.
"Iya, Pak,"
"Neng, mau lama disini?" tanya pak Tora.
"Nggak, Pak, kami cuma mau main aja, abis ziarah ke makam papah kemarin, nanti juga mau pulang,"
"Oh, iya," ucap pak Tora dengan wajah seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa, Pak?" tanya Alisha merasa heran.
"Gak papa, lanjutkan aja makannya," jawab pak Tora.
"Jangan bikin penasaran, Pak,"
"Mmm," pak Tora seakan ragu untuk menceritakannya.
"Sebaiknya neng memang harus segera pulang, jangan lama-lama disini," kata pak Tora pasti, dari nadanya terdengar kekhawatiran.
"Memang ada apa, Pak?" tanya Alisha.
__ADS_1
...π»π»π»π»π»...