Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
101. Menghilang


__ADS_3

"Maksudnya?" Alisha menghentikan langkah kakinya, ia berbalik menatap Soraya.


"Aliando menikahimu karna kasihan dan rasa bersalah,"


Alisha memberikan tatapan penasarannya, ia masih berdiri tanpa berkeinginan duduk.


"Apakah kamu kalau Aliando adalah anak Aliandra?"


"Iya, saya tau,"


"Aliandra adalah orang yang menolak menikah dengan ayahmu tepat saat acara pernikahannya, ayahmu dicampakkan begitu saja dihadapan para tamu, dan keluarga besarmu yang mendapat malu, sampai saat ini memusuhi keluarga kita," cerita Soraya.


"Apa?" Alisha mengernyitkan keningnya, ia terkejut mendengar cerita yang disampaikan oleh Soraya.


🌡


Saat ini Alisha sedang duduk sendiri di sebuah halte bus dekat rumah makan tempat tadi dia bertemu dengan orang tua Michelle. Ia memikirkan semua yang Soraya katakan padanya tentang hubungan ayahnya dan ibunya Aliando di masa lalu.


Hatinya gamang dan sedikit merasakan nyeri. Ingin menangis, namun tak bisa, bahkan ia sendiri tidak bisa menggambarkan suasana hatinya. Hanya hujan yang seakan memahami perasaannya saat ini.


Alisha segera mengangkat telepon, menerima panggilan dari Aliando.


"Halo, Cha, hapeku di silent, aku gak tau kalo kamu telepon, tadi aku masih di kelas, ini baru selesai, ada apa? kamu dimana?" ujar Aliando dari sebrang memulai percakapan. Ia melakukan pangggilan setelah melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Alisha di layar ponselnya.


"Bang, aku mau tanya sesuatu," kata Alisha tanpa menjawab pertanyaan Aliando tentang keberadaannya saat ini.


"Ada apa?" tanya Aliando yang merasakan jika apa yang akan ditanyakan oleh Alisha adalah sesuatu yang penting.


"Apa benar Abang mengetahui tentang kisah orang tua kita di masa lalu?" tanya Alisha terdengar jelas penuh penasaran.


Aliando tidak langsung menjawabnya, dia sempat tertegun, terkejut dan memikirkan darimana Alisha mengetahui tentang hubungan kedua orang tuanya di masa lalu.


"Halo, Bang, kok diem aja," tanya Alisha.


"Eh iya, Cha," Aliando segera tersadar sesaat setelah Alisha menegurnya dari seberang.


"Kenapa Abang kok diam? jawab aku, Bang ... Apa sebenarnya Abang tahu hubungan papah sama mamanya Abang?" tanya Alisha mengulang pertanyaan.


"Iya, aku tahu ... Kamu di mana sekarang? Biar aku jemput," Aliando mulai mode khawatir.


"Sejak kapan?" tanya Alisha.


"Semalam sebelum aku melamar kamu waktu subuh, nenek dan kakek yang cerita," jawab Aliando tegas namun hatinya mulai merasakan kepanikan.


"Benarkah keluarga kita bermusuhan, Bang?"


Aliando benar-benar panik, ia semakin khawatir jika Alisha berpikiran negatif tentang keluarganya yang mengakibatkan akan berimbas pada hubungan pernikahan keduanya.


"Bukan bermusuhan tapi hanya terjadi salah paham," jawab Aliando sangat hati-hati.

__ADS_1


"Sekarang beritahu aku, kamu dimana, hm?" kata Aliando cemas, dia yakin jika saat ini, perasaan Alisha dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Aku di halte, dekat rumah makan Jasmine," jawab Alisha.


"Tunggu aku! Jangan kemana-mana, dan jangan berpikir yang tidak-tidak, aku bisa jelaskan nanti, kita bicarakan ini kalau sudah ketemu, ya," kata Aliando dengan nada bergegas.


"Tunggu dulu, Bang," cegah Alisha sehingga Aliando urung mengakhiri percakapannya.


"Ada apa?" tanya Aliando.


"Satu lagi pertanyaan,"


"Bisa nanti?"


"Nggak, aku pengen nanya sekarang,"


"Ya udah, apa?"


"Apa benar Abang menikahiku, karena rasa kasihan dan rasa bersalah atas perlakuan mamah Abang kepada papahku?" tanya Alisha dengan nada terdengar berat.


"Tidak, tidak seperti itu! Aku menikahimu karena aku mencintai kamu, tulus mencintai kamu, Cha!" tegas Aliando. Perasaannya semakin tak karuan.


"Kamu tetap disitu! Tunggu aku ya," kata Aliando cepat, dan ia pun mengakhiri panggilannya.


Alisha diam. Ia mematikan ponselnya.


Pandangannya kosong menatap jalanan yang basah karena hujan. Sesungguhnya, ia benar-benar memikirkan kata-kata Soraya yang mengatakan bahwa Aliando menikahinya hanya karena kasihan dan menebus rasa bersalah ibunya, dan hal itu membuat Alisha merasa dibohongi dan tidak dihargai.


🌡


Hanya ada sebuah ponsel yang tidak asing tergeletak di bangku halte Aliando pun segera turun dari motornya dan mengambil ponsel tersebut.


"Cha, kamu kemana?" gumam Aliando sambil menggenggam ponsel milik Alisha. Dia melirik ke sekeliling, suasana tampak sunyi. Hanya ada tiga orang pejalan kaki yang mengenakan payung. Kendaraan yang melintas pun hanya satu dua mobil saja.


Rupanya, karena cuaca hujan mengakibatkan hanya sedikit orang yang menggunakan jalan.


Aliando menyugar rambutnya, hatinya diliputi kecemasan, pikirannya tidak karuan.


Dia duduk di bangku halte. Mengingat apa saja yang sudah dia katakan sebelumnya di telepon, mungkin saja ada perkataan yang membuat Alisha sakit hati, hingga akhirnya, sampai pada sebuah kesimpulan terburuk jika Alisha kemudian memutuskan pergi meninggalkannya karena merasa dibohongi selama ini.


"Ah, rasanya tidak mungkin, Alisha pergi," gumam hati Aliando.


"Tapi kamu pergi kemana, Cha?" Aliando bermonolog.


"Kamu gak mungkin pergi ninggalin aku, Cha, kita sudah pernah berjanji untuk tidak saling meninggalkan," kata Aliando.


Beberapa kali jika ada masalah, Alisha memang selalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Aliando, akan tetapi, semenjak keduanya telah 'bersatu' sikap Alisha seakan memantapkan dirinya untuk tidak akan pergi lagi meninggalkan Aliando jika terjadi masalah.


Aliando menarik nafas panjang. Ia berusaha dan tetap berpikiran positif. Namun sesungguhnya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada secuil ketakutan akan hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi.

__ADS_1


🌡


"Mas Al? tumben, ada apa?" tanya Naira setengah terkejut, ketika ia tahu siapa yang berdiri di hadapannya.


"Apa Alisha ada disini?" tanya Aliando.


"Nggak, gak ada, memangnya ada apa mas?"


"Gak papa, tapi dia belum pulang, barang kali aja dia lagi main di sini,"


"Tadi pulang sekolah, Alisha sih bilangnya mau ketemuan ma orang tuanya Michelle,"


"Orang tua Michelle?" Aliando mengernyitkan keningnya. Ia seperti mendapatkan informasi penting.


"Iya, katanya dia sepupu mas Al?"


"Iya sih, tapi buat apa?"


"Oh, kalau itu, aku juga nggak tahu, Alisha nggak cerita apa-apa,"


"Iya, nggak apa-apa, aku ngerti, tapi dia ada ngehubungin kamu nggak?"


"Nggak," jawab Naira singkat.


"Eh, ya ampun, aku lupa,"


"Kenapa,"


"Nih, ponselnya ada di aku," kata Aliando sambil memperlihatkan ponsel Alisha yang memang dari tadi sedang dipegangnya.


"Wah, bener-bener teledor, masa ponsel bisa ditinggal kayak gini," komentar Naira.


Aliando tersenyum kecil.


"Oh ya udah Ra, makasih ya, nanti kalo semisal kamu tahu soal Alisha tolong kabari aku,"


"Iya, Mas, tenang aja,"


🌡


Aliando kembali ke rumah, tanpa menghiraukan sapaan mak Leha. Ia membaringkan tubuhnya, berusaha tenang di tengah kepanikannya.


"Cha, seharusnya kamu tidak pergi," Aliando mulai bermonolog.


"Cha, sebenarnya kamu dimana? Apa kali ini kamu benar-benar kecewa? Sungguh, aku gak bermaksud membohongi kamu, aku cuma tidak ingin menceritakan buruknya hubungan orang tua kita di masa lalu," Aliando masih berbicara sendiri.


"Cha, seharusnya, masa lalu orang tua kita tidak menjadi masalah buat kita, seharusnya kita bisa lebih baik lagi menyikapinya," gumam Aliando lagi setelah diam sesaat merenung.


"Cha, dimanapun kamu, semoga kamu baik-baik saja," Hati Aliando terasa perih.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2