
Setelah acara selesai, ucapan selamat pun berdatangan kepada Aliando dari para guru maupun rekan seangkatan, dan tentu saja Aliando menerimanya dengan perasaan dan wajah yang datar dan senyum yang dipaksakan.
Hanya kepada orang-orang tertentu yang ia rasa tulus, baru ia bisa melepas senyum indahnya selebihnya hanya senyuman biasa.
Pak Aman memilih kembali ke rumah lebih dahulu, karena akan membantu mak Leha. Dia tidak ingin berlama-lama menunggu Aliando di sekolah hanya untuk mendapatkan ucapan selamat.
Berbeda halnya dengan Alisha, dia masih setia menunggu Aliando di bangku taman sekolah di bawah pohon beringin bersama Rafael, Robby dan Benni. Mereka sedang asyik mengambil gambar, bahkan teman-teman yang lain pun sama. Mereka tidak menyia-nyiakan untuk mengabadikan kesempatan yang datang satu kali seumur hidup, dan tidak akan pernah terulang.
Sementara, Aliando masih belum keluar dari ruang guru. Entah ada acara perpisahan apalagi antara Aliando dan para guru di sana.
Setelah akhirnya menunggu cukup lama, Aliando pun datang dengan wajah ditekuk. Seakan tidak ada yang membuatnya bahagia.
"Hei, kenapa cemberut kayak gitu?" tanya Alisha menyambut kedatangan Aliando.
"Biasa lah, Sha, apalagi kalau bukan wejangan-wejangan buat masa depannya, serta kenang-kenangan dari guru-guru yang mengidolakannya," jawab Robby sekenanya. Namun memang kenyataannya seperti itu.
"Bagus dong, kok malah cemberut? tersenyumlah!" kata Alisha sambil menarik tangan Aliando agar duduk di sampingnya.
"Eh tunggu, tetap dengan posisi kalian! Aku foto!" kata Benni yang melihat posisi Aliando dan Alisha begitu pas berdampingan, sangat serasi.
Aliando hanya tersenyum kecil, ini adalah kali pertama dia foto berdua dengan Alisha. Entah kenapa ada perasaan yang aneh, begitu pun dengan Alisha, padahal mereka sudah sering bersama, namun saat akan diambil gambarnya, keduanya terlihat salah tingkah.
"Ya ampun kalian ini, kaku banget sih, senyumnya mana? kayak pasangan yang baru dijodohin!" Benni protes karena ternyata hasil gambarnya tidak terlalu memuaskan, padahal posisi Alisha dan Aliando saat ini sudah sangat dekat.
"Kalian gak bisa gitu berekspresi yang all out? luapkan rasa bahagia kalian," kata Benni lagi.
"Jadi curiga neh, jangan-jangan kalian gak pernah foto berdua?" sela Robby sambil memperhatikan gambar di ponsel Benni. Sementara Rafael hanya tersenyum melihat aksi para sahabatnya.
"Berikan padaku!" perintah Aliando. "Aku ingin melihatnya!" sambungnya.
"Nih, aku kirim ya," kata Benni sambil mengirimkan foto foto tersebut ke ponsel Aliando.
__ADS_1
Dengan segera Aliando membuka ponselnya, dan Alisha dengan cepat ikut melihat hasil jepretan Benni.
Benar-benar kaku, Alisha saja dibuatnya heran, kenapa wajah mereka di foto terlihat begitu tegang dan tampak malu-malu. Tidak ada ekspresi kebahagiaan yang romantis.
"Ya ampun, datar banget!" ucap Alisha sambil terkekeh.
"Ambil ulang gambarnya, mas Ben!" pinta Alisha pada Benni.
"Gak usah, biar seperti ini, aku suka!" kata Aliando tegas.
"Ih, ambil ulang, kita buat gaya dan ekspresi yang lebih bagus," kata Alisha memohon pada Aliando agar mau diambil gambar sekali lagi.
"Gak usah maksa, Sha, percuma lo maksain Al buat foto! Dia itu bukan fotogenik, dia akan kaku setiap kali lihat kamera," kata Rafael yang cukup memahami sikap Aliando.
"Benarkah?" Alisha tak percaya.
"Ah, iya bener, kalo kita foto dengan dia, wajah dia benar-benar kaku gak ada ekspresi, selalu seperti itu," Benni menambahi.
"Wah, baru tau!" kata Alisha sambil melirik Aliando. Pantas saja, di galeri ponsel milik Aliando, sama sekali tidak ada fotonya sendiri. Ternyata, dia tidak bisa berfoto apalagi berselfie ria.
"Apa? Gak usah lihat-lihat, mata kamu itu udah ngejek aku, Cha!" kata Aliando yang merasa tersudutkan.
Alisha tergelak, ia tidak tahu jika Aliando sebegitu kakunya saat di foto.
"Lho tapi dia ini seorang idola, kan? Lalu gimana dia bisa berfoto dengan fansnya?" tanya Alisha heran.
"Mana ada dia mau foto, Sha, para fansnya itu hanya bisa mengambil gambar tanpa disadari olehnya,"
Alisha tersenyum.
"Eh, tapi tunggu dulu, di foto ini bukan cuma Al yang kaku, tapi lo juga, Sha, jangan-jangan lo juga sama lagi, fobia kamera," kata Robby yang dibenarkan oleh Rafael ndan Benni.
__ADS_1
"Eh, sembarangan, ngatain orang fobia! nggak ya! itu karena tadi aku belum siap aja," kata Alisha berbohong padahal kenyataannya, ekspresi dia memang kaku, meskipun bukan karena takut kamera, karena sebenarnya, dia sedang menutupi perasaan geroginya yang harus melakukan foto berdua di hadapan teman-teman Aliando.
"Ya udah, kalo gitu kita ambil gambar berlima, yuk," usul Robby.
"Lah, bagaimana dengan kak Ando, katanya dia takut kamera?" kata Alisha bingung, sudah tahu Aliando tidak bisa berfoto, tapi Robby malah mengusulkan untuk foto berlima.
"Gak papa, paling dia wajahnya datar!" kata Benni, yang disetujui oleh Robby dan Rafael.
Akhirnya mereka pun berfoto ria, dengan berbagai macam gaya dan ekspresi, kecuali Aliando tentunya, karena dia hanya diam, wajahnya datar, kaku, tanpa ekspresi, untuk tersenyum pun terasa sulit. Benar-benar terlihat tegang jika berhadapan dengan kamera.
Selalu seperti itu, mereka akan tetap melakukan foto bersama meskipun tahu Aliando tidak memiliki ekspresi. Mereka tidak pernah mempermasalahkan hal itu, yang penting momen kebersamaannya tetap bisa diabadikan.
"Aih, ini lucu banget sih," Alisha mencoba memperhatikan foto yang ada di ponsel Benni.
"Bang, senyum dikit bisa gak, kayak gini kan jadi jelek kesannya!" protes Alisha pada Aliando.
"Gak! Itu hanya foto, Cha, tetap saja yang asli lebih baik! Kamu lihatin aku aja!" kata Aliando penuh percaya diri. Dan hal itu membuat Alisha dan ketiga kawan Aliando hanya menggelengkan kepala. Namun, mereka tetap saja berfoto ria meskipun Aliando masih dengan wajah datarnya.
Sayang sekali, acara foto-foto mereka harus terganggu dengan kedatangan sepuluh orang siswi cantik, rekan seangkatan Aliando. Mereka juga ingin foto bersama dengan Aliando, tidak peduli dengan keberadaan Alisha, yang sebenarnya mereka tahu jika Alisha adalah pacar Aliando. Tapi mau bagaimana lagi, sekali seumur hidup, belum tentu juga berikutnya mereka bisa bertemu dengan Aliando apalagi sampai foto bersama.
Aliando yang memang tidak bisa berfoto, hanya memohon bantuan pada Alisha, Robby, Rafael dan Benni untuk menghalau para siswi cantik tersebut.
Tapi jangan salah, mereka masih termasuk fans gilanya Aliando, pertahanan Benni, Robby dan Rafael tidak bisa menghalangi mereka untuk berfoto dengan Aliando.
"Boleh ambil foto tapi dengan kita sekalian!" usul Robby pada siswa-siswi tersebut.
"Haish, siapa sih lo! Kita maunya Al, hanya Al," ucap salah seorang siswi yang mengenakan kebaya bernuansa merah muda.
"Ayo, Cha, kita pergi!" ajak Aliando akhirnya, ia memilih untuk pergi dari tempat itu sambil menarik tangan Alisha. Ia benar-benar tidak peduli dengan para siswi tersebut.
"Hei, tunggu!!"
__ADS_1
...π»π»π»π»π»...