Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
57. Kamu dimana, Cha?


__ADS_3

Aliando merasa aneh, Alisha tidak dapat dihubungi, padahal pagi tadi, dia sudah berjanji akan menjemputnya saat pulang sekolah. Tapi nyatanya, sudah setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda Alisha datang menghampirinya ke tempat parkir. Bahkan saat ini tempat parkir sudah hampir kosong.


Sudah beberapa kali Aliando melakukan panggilan, namun tak ada jawaban, pesan pun tidak terbaca.


"Ya Tuhan, kamu dimana, Cha?" gumam Aliando. Ia memutuskan untuk mencarinya di kelas Alisha. Namun Alisha tak ada di kelasnya, sementara suasana koridor sudah sepi, ia pun mencari ke lapangan tempat voli dan basket, juga tak ada.


Hampir putus asa karena cemas, ia pun menuju ke pos penjaga sekolah. Berharap bisa mendapatkan informasi dari pak Ujang penjaga sekolah.


"Oh, si neng cantik?" pak Ujang mengangguk-anggukkan kepalanya saat melihat foto yang ditunjukkan boleh Aliando melalui ponselnya.


"Iya, Pak, apa Bapak tadi melihatnya?"


"Sempet ngelihat, jam sepuluh dia keluar dari sekolah,"


"Dengan siapa, Pak?"


"Sendirian,"


"Serius, Pak, sendirian?"


"Iya, kayaknya dia lagi ada masalah deh,"


"Maksud Bapak?"


"Tadi pas si nengnya pergi, wajahnya kayak nahan marah, kesal, dan sedih, kayak yang sakit hati gitu,"


Aliando menarik nafas panjang, meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia merasa jika Alisha menghilang karena sengaja menghindarinya.


"Oh, ya udah, makasih ya, Pak,"


Aliando bergegas kembali ke tempat parkir, kemudian segera mengendarai motornya.


Keluar sekolah dengan perasaan yang gundah dan penuh khawatir.


"Alisha kamu dimana? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Aliando dalam hati.


"Jangan bikin aku cemas, Cha," gumam Aliando lagi.


Hari sudah semakin gelap, Aliando masih terus berkeliling kota mencari keberadaan Alisha. GPS yang dia aktifkan di ponsel Alisha tidak bisa menunjukkan dimana Alisha berada. Sepertinya, memang ponsel Alisha sengaja dinonaktifkan.


Sesuai perintah Aliando, mak Leha sudah menghubungi cowok tampan itu setiap setengah jam sekali guna mengabarkan apakah Alisha sudah pulang atau belum. Dan ini merupakan yang keenam kalinya mak Leha mengatakan jika Alisha belum pulang.


Tak hanya itu saja, Aliando sudah beberapa kali kembali ke rumah kontrakannya Alisha. Namun ia masih juga tidak menemukannya, bahkan terakhir pak Mamat mengatakan jika seharian ia tidak melihatnya masuk komplek.


"Alishanya masih belum kesini, Al!" seru bu Syifa meyakinkan Aliando yang tengah mengetuk pintu rumah kontrakan Alisha. Ia datang menghampiri Aliando.


"Masih belum juga ya, Bu?" tanya Aliando pada bu Syifa. Sudah beberapa kali memang Aliando bertemu dengan bu Syifa hari ini.

__ADS_1


"Iya, saya juga udah coba menghubungi Alisha, tapi tidak bisa, pesan juga ga dibaca,"


"Mungkin, hapenya mati, Bu, kayaknya semalam dia lupa ngecas," bohong Aliando.


"Oh, gitu,"


"Ya udah, Bu, tolong kabari saya ya, jika Alisha malam ini ke sini,"


"Iya pasti! Ibu gak tau masalah kalian, tapi semoga saja kalian bisa menyelesaikan dengan baik,"


Aliando tersenyum tipis mendengar penuturan bu Syifa, bahkan sampai sekarang, dia sendiri tidak tau, apakah ada masalah atau tidak diantara mereka. Jika memang ada masalah, masalah apa? Terakhir bersama, tadi pagi, dan semua masih baik-baik saja.


"Iya, Bu, makasih," ucap Aliando singkat masih dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Ia tidak ingin membela diri dengan mengatakan jika sebenarnya mereka tidak ada masalah, karena pagi tadi mereka memang baik-baik saja.


Namun, ia juga menyadari sesuatu, jika memang tidak terjadi sesuatu tidak mungkin Alisha tiba-tiba menghilang.


"Apa mungkin ada masalah dengan teman-temannya?" tanya Aliando dalam hatinya. Ah, sial, dia sama sekali tidak tahu siapa saja teman Alisha. Tak ada satu pun yang ia kenal.


"Ya udah, Bu, saya permisi dulu,"


"Iya, hati-hati, semoga Alisha segera ditemukan ya, atau dia bisa segera pulang ke rumah,"


Aliando mengangguk.


🌡


"3333" adalah sandi yang selalu mereka gunakan jika ada sesuatu yang urgen terjadi pada salah satu diantara mereka sehingga membutuhkan bantuan dengan segera. Jika, mereka sedang online harus segera menghubungi yang sedang membutuhkan bantuan tersebut sebagai tanda bahwa mereka ada dan siap membantu.


"Ada apa?" tanya Benni, dia langsung memulai panggilan grup, dan semuanya sudah terhubung.


"Alisha hilang," kata Aliando sangat yakin.


"Jangan bercanda, Al!" Benni masih tidak percaya.


"Ini serius, aku juga gak tau dimana dia,"


"Kalian ada masalah?" tanya Rafael.


"Tidak, tadi pagi kami baik-baik saja, aku mengantarnya ke sekolah, tapi pas aku jemput saat pulang, dia udah gak ada,"


"Kok bisa?" tanya Robby masih merasa aneh.


"Iya, dia minta dijemput abis Dzuhur, tapi kata pak Ujang, dia sudah tidak ada di sekolah dari jam sepuluh,"


"Hapenya non aktif?" tanya Robby.


"Ya iya lah, Rob, kalo gak, mana mungkin Al sepanik ini!" sela Rafael.

__ADS_1


"Kalian ada yang kenal temen Alisha gak?"


"Paling si Tio, ketua kelasnya," kata Benni.


"Tau alamatnya? atau nomer yang bisa dihubungi?"


"Harusnya lo punya, Al, dia kan ikut ekstra sepakbola," kata Benni lagi.


"Benarkah?"


"Ya sudah, aku hubungi pelatih dulu, siapa tau punya nomernya, ntar kalian aku hubungi lagi,"


Aliando segera menghubungi Tio, setelah mendapatkan nomer teleponnya dari pelatih sepak bola sekolah.


Tio sempat menceritakan, jika tadi pagi, ada temannya sekelas menanyakan kebenaran tentang pernikahan Alisha.


Aliando menarik nafas panjang, rasanya tidak mungkin jika Alisha menghindari dirinya hanya karena masalah pernikahan, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Alisha tiba-tiba saja menghilang?


"Atau jangan-jangan dia diculik? Don?" terka Aliando dalam hatinya.


"Ah tidak mungkin, kayaknya Don belum mengetahui keberadaan Alisha,"


Aliando benar-benar gusar, ia bahkan tidak berpikir untuk pulang. Dalam benaknya hanya satu yaitu 'menemukan Alisha'.


"Ya ampun, Cha, kamu dimana?" gumam Aliando penuh rasa khawatir.


"Tuhan, lindungi istriku, semoga dia baik-baik saja," lanjutnya bermonolog.


Aliando masih terus mengelilingi kota, berharap menemukan sosok yang dicarinya, tak lupa dia selalu menunggu kabar dari mak Leha, pak Mamat dan bu Syifa.


Namun hingga tengah malam, Alisha masih juga belum ditemukan. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk pulang ke kontrakannya Alisha. Ia sengaja melakukannya, hanya untuk menunggu kedatangan gadis yang seminggu ini sudah resmi menjadi istrinya.


Keadaan rumah masih gelap tak ada lampu yang nyala. Aliando memasukkan motornya ke halaman rumah. Ia duduk di teras dalam kegelapan. Sebenarnya, pak Mamat sudah mengajak Aliando untuk bersamanya di pos jaga, namun cowok tampan itu menolak tawarannya. Ia lebih memilih menunggu Alisha di rumah kontrakan.


Andai saja saat ini bukan tengah malam, tadinya pak Mamat akan memintakan kunci cadangan pada pemilik kontrakan agar Aliando bisa masuk ke dalam rumah, sayang sekali Aliando datang ke rumah itu sekitar pukul setengah tiga pagi.


Suasana hati Aliando saat ini tak menentu, pikirannya kalut. Sampai dia sama sekali belum makan semenjak tahu jika Alisha tidak ada.


"Ya Tuhan, dimanapun dia, lindungilah, dan tolonglah, pertemukan kami kembali dalam. keadaan baik-baik saja, aamiin," doa Aliando dalam hati.


"Cha apa kamu baik-baik saja? Sebenarnya, kamu dimana, Cha?" tanya Aliando yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Tanpa melepas jaket kulitnya, Aliando berbaring di teras, kedua tangannya dilipat sebagai alas kepalanya. Kedua matanya menerawang melihat rembulan yang bulat sempurna beserta bintang-bintang yang menghiasi langit malam.


Tanpa sadar, satu buliran bening menetes dari kedua matanya. Rasanya sesak kehilangan seseorang yang dicintai yang sangat istimewa dan berharga. Serasa separuh jiwanya telah pergi.


"Alishaaa," ucapnya lirih. Dia benar-benar sangat merindukan istrinya itu.


...🌻🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2