
"Mana kuncinya, biar aku simpan dulu tas ini lalu pulang, kamu istirahatlah," kata Aliando pada Alisha. Saat ini, mereka berada di depan rumah kontrakan Alisha.
Alisha hanya diam, ia seakan memikirkan sesuatu.
"Bang, hmm ...," Alisha menghentikan kalimatnya.
"Ada apa, hm?" tanya Aliando seperti ada yang mengganjal di hati Alisha.
"Bang, aku mau pulang ke rumah Abang sekarang, kita udahan aja perjanjiannya ya," kata Alisha.
Aliando berbinar mendengar keputusan Alisha.
"Serius, Cha?" tanya Aliando merasa surprise.
"Iya, aku ingin bareng Abang," ucap Alisha dengan nada manja.
"Ya udah, ayo kita pulang," kata Aliando bahagia. Hatinya merasa lebih tenang, karena tidak harus meninggalkan Alisha sendirian di rumah kontrakannya. Terlebih sampai saat ini, dia tidak tahu siapa orang yang mengikuti mereka.
π΅
"Lho, kok ke sini, Bang?" tanya Alisha. Ia merasa bingung, karena rute yang dilalui oleh taksi ang mereka tumpangi tidak mengarah ke rumah Aliando.
"Iya, kita ke rumah papah," jawab Aliando. "Gak papa kan?"
"Iya, gak papa banget, bukankah aku juga dari dulu pengen tau papah,"
"Lho, kamu kan udah tau papah,"
"Iya, tapi kan, kita taunya secara gak jelas, rasanya kayak dikerjain Abang ma papah," kata Alisha menggerutu.
"Gak ada yang ngerjain kamu, Cha, murni, semua terjadi begitu aja, ternyata kamu yang udah lebih dulu kenal papah sebelum aku mengenalkannya sama kamu,"
"Ah, jadi gak enak lagi, keingetan mamah," kata Alisha, mengingat perkenalannya dengan Arsyad karena harus menyelidiki Vanya yang ternyata ibunya.
"Sudah, sudah, gak usah kamu inget lagi, ya," kata Aliando menenangkan istrinya itu.
"Abang gak kecewa sama aku yang anaknya mamah?"
"Aku mencintai kamu, karena kamu, Cha, apapun kamu, siapapun kamu, bagaimanapun kamu!" tegas Aliando.
"Ingat itu, okke!" lanjutnya sambil mengusap pucuk kepala Alisha.
Alisha mengangguk penuh rasa syukur dan bahagia.
π΅
"Den Al, senengnya, Den Al ke sini lagi, kali ini nginep kan ya," sapa bi Titi saat Aliando dan Alisha tiba di rumah pak Arsyad. Mereka sudah masuk ke dalam ruang tamu.
"Iya, Bi," jawab Aliando.
"Eh, ini siapa neng cantik? Apa ini ya, yang katanya istri den Al?" tanya bi Titi saat melihat Alisha.
"Iya, Bi," jawab Aliando lagi.
"Alisha, Bi," ucap Alisha sambil mencium punggung tangan bi Titi.
"Eh," Bi Titi menarik tangannya sungkan.
__ADS_1
"Cantik banget, awalnya bibi gak percaya kalo Den Al udah nikah, taunya beneran,"
"Cantik kan, Bi," kata Aliando menegaskan.
"Cantik banget, cocok sama den Al yang ganteng,"
Alisha dan Aliando hanya saling lirik dan tersenyum.
"Papah mana, Bi?" tanya Aliando kemudian.
"Papah den Al udah dua hari ini pulangnya malam terus, kemarin, jam dua belas malam, sebelumnya, jam sebelas, kalo malem ini, bibi gak tau," jelas bi Titi.
"Lagi ada lemburan ya?" kata Aliando seperti bergumam.
"Mungkin, Den, bibi gak terlalu paham, oh ya udah Den, istirahat dulu, bibi siapkan makan,"
"Gak usah, Bi, kita udah makan, kita ke kamar aja, sambil tunggu papah," kata Aliando.
π΅
"Wah, ini kamar Abang?" tanya Alisha merasa takjub dengan kamar Aliando. Kamar dengan ukuran yang cukup luas, warna abu-abu mendominasi.
"Hm, ternyata gak berubah, empat tahun gak pernah masuk kamar ini!" kata Aliando sambil memindai sekeliling.
"Semenjak Abang tinggalkan, apa seperti ini suasananya?" tanya Alisha.
"Iya, warna cat, letak tempat tidur, lemari dan semuanya, masih sama," jawab Aliando dengan perasaan yang tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata.
Alisha menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sementara, Aliando berbaring di tempat tidur, pandangannya lurus ke langit-langit, pikirannya menerawang, masa lalu itu melintas dalam ingatannya.
"Sini, Cha," kata Aliando meminta Alisha untuk ikut berbaring di sampingnya.
"Ini pertama kalinya, kan, kamu tidur di tempat tidurku?"
"Siapa bilang? yang di rumah pak Aman itu kan tempat tidur Abang juga? Itu yang pertama kalinya,"
"Maksudku di sini, Cha,"
"Iyalah, kan, Abang juga baru ngajakin aku ke sini,"
"Iya, maaf, baru sempet,"
"Karna udah damai sama papah kan? Coba kalo belum, gak mungkin juga hari ini kita ke sini," kata Alisha sambil memposisikan diri menghadap ke arah Aliando.
Kedua mata mereka bertemu, saling menatap dengan perasaan yang membuncah, seakan mereka sedang merasakan kerinduan yang mendalam.
Aliando mendekatkan wajahnya ke wajah Alisha, sementara gadis itu hanya diam saja, ia sedang bersiap menerima apa yang akan dilakukan oleh Aliando. Termasuk saat Aliando mencium lembut bibirnya.
"B a ang,," panggil Alisha lirih.
Ia melepas ciumannya saat tangan Aliando mengelus lembut punggung Alisha.
"Ada apa, hm?" tanya Aliando sedikit terkejut, karena Alisha melepas ciumannya.
"Kita belum sholat Isya, Bang,"
"Terus?" tanya Aliando pura-pura tak mengerti.
__ADS_1
"Iya, maksudnya jangan kebablasan, cukup kiss aja,"
"Hahaha, selalu saja, otak kamu ini ngeres, emang aku mau ngelakukan apa, hm?"
"Lebih dari kiss,"
"Hah?" Aliando mengerutkan keningnya.
"Iya, soalnya tangan Abang mulai aktif bergerilya,".
"Hahaha, memang kamu mau melakukannya lagi,"
Alisha tersipu mendengar perkataan Aliando, ia mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Emang gak papa?" tanya Aliando memastikan.
βAbang tau, imanku gak setebal yang Abang kira, jika Abang menggoda, aku akan tergoda, jika Abang menginginkannya, begitu pun aku,"
"Ah, ya udah, ayok kita sholat," ajak Aliando. Ia menarik tangan Alisha.
"Sholat dimana, Bang?" tanya Alisha. Ia merasa aneh saat Aliando membawanya keluar kamar.
"Kita sholat di tempat sholat, ini tempat pertama dan terakhir aku jadi imam mamah, gak tau kenapa mamah tiba-tiba ingin aku menjadi imam sholatnya waktu Isya, padahal biasanya mamah selalu berjamaah dengan papah,"
Alisha tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Aku ... nggak mau kalau ini, jadi sholat pertama dan terakhir kita di tempat sholat ini," ucap Alisha hati-hati. Terlintas di pikirannya hal buruk, ia khawatir, jika ini pun sholat yang Isya yang terakhir bersama Aliando.
"Hei, ini kan bukan pertama kalinya aku jadi imam sholat kamu,"
"Ah iya ya, bener juga," kata Alisha dengan ekspresi wajah yang tenang.
π΅
Alisha dan Aliando telah menyelesaikan sholat Isyanya, dan saat ini mereka sedang duduk di sofa ruang keluarga menikmati minuman hangat sambil menonton televisi.
"Eh, Bang, rumah segede ini cuma papah? apa gak kesepian?" tanya Alisha sambil menyeruput teh hangatnya.
"Pasti kesepian, tapi mau gimana lagi," jawab Aliando sambil menyalakan televisi.
"Wah, kok pas banget, pas disetel adegannya disensor," komentar Alisha saat melihat ke arah televisi, dimana tayangannya saat itu si pemeran utama laki-laki hendak mencium pemeran utama perempuan.
"Ah, iya, gimana kalo kita lanjutkan yang tadi," goda Aliando sambil menyimpan remote televisi ke meja. Kemudian ia melirik Alisha dengan tatapan yang membuat merinding.
"Aih, tatapan Abang sangat meresahkan!" seru Alisha sambil menyeruput kembali teh hangatnya.
Aliando segera mengambil cangkir berisi teh hangat yang dipegang Alisha sesaat setelah Alisha selesai menyeruput isinya. Kemudian ia meletakkannya di atas meja.
"Abang mau apa?"
"Minum teh," kata Aliando langsung meraup bibir mungil Alisha.
Gadis itu tak menolak, ia membiarkannya, bahkan turut menikmati, hingga tubuhnya berbaring di sofa.
"Ekhemm!"
__ADS_1
...π»π»π»π»π»...