
"Aku lapar, Cha, makan dulu di Pak Dullah ya, kamu yang traktir, dompetku gak tau dimana!" pinta Aliando.
"Kasihannyaaa ... dari kemarin gak makan ya," kata Alisha sambil melepas dekapannya.
"Iya, terakhir makan, waktu sarapan bareng kamu!"
"Tapi kamu kok punya tenaga buat ngalahin Sam?"
"Itu beda cerita, Cha, saat tadi ... tenagaku adalah kamu,"
"Waaa ... kalau gitu lihatin aku aja sampai kenyang!" goda Alisha.
"Aish, anak ini ... Sekarang, kalo cuma liatin kamu, aku jadi makin laper, Cha!" kata Aliando sambil mendorong kepala Alisha dengan telunjuknya.
"Iya, iya, Bang, ini!" kata Alisha sambil mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya, lalu memberikannya pada Aliando.
"Hei, kok ada di kamu?" tanya Aliando heran, karena dompet dan ponsel miliknya ada di tas Alisha.
"Iya, aku yang minta sama Sam, pake maksa, untung aja dia ngasih, katanya, buat apa barang-baranag kamu, padahal dia aja nelfon pake hape kamu! Gak modal!"
"Benarkah?"
"Iya, aku heran, emang kamu gak pake kunci atau sandi gitu? kok dia bisa buka ponsel kamu, Bang?"
"Entah, aku pakai sandi dan sidik jari, mungkin dia bisa nebak, atau menggunakan sidik jariku, mana ku ingat, aku kan pingsan karena dibius,"
"Trus, ini kenapa yang jadi layar kunci kok gambarku? gak punya foto lain?"
"Gak punya!" jawab Aliando singkat.
"Masa sih?" Alisha tak percaya.
"Iya, Cha!"
"Beneran?"
"Bener, Cha!"
"Eh ngomong-ngomong, apa sandinya, Bang? Boleh aku buka? ada rahasianya nggak?"
"Tanggal lahir," jawab Aliando.
"Oh, mungkin Sam lihat tanggal lahir dari kartu pengenal kamu yang ada di dompet, Bang, jadi dia tau kata sandinya,"
"Atau mungkin juga bukan, coba kamu buka aja!" kata Aliando.
Alisha mengingat kapan ulang tahun Aliando, hari dimana Alisha menginap di rumahnya dan paginya Aliando membawa Alisha ke rumah nenek Maryam.
Alisha mencoba menekan tombol angka dengan tanggal lahir Aliando.
"Eh, kok salah," Alisha bingung. Ia pun mencobanya sekali lagi. Hasilnya masih sama.
"Kok bisa salah sih Bang?"
"Ada nggak, tanggal lahir yang kamu ingat selain tanggal lahirku?" tanya Aliando
"Ya adalah, tanggal lahir papah, tanggal lahir aku, eh, tunggu dulu!" Alisha seperti menemukan jawaban. Ia segera menekan tombol angka sesuai tanggal lahirnya. Berhasil terbuka.
"Hah, kamu pakai tanggal lahirku?"
"Ya, dan kemungkinan besar, Sam pasti tau tanggal lahir mu!"
"Ya, Tuhan, kok bisa ya?"
__ADS_1
"Kamu tau, laki-laki sejati kalo udah cinta, dia pasti tulus, dia pasti akan mengutamakan pasangannya, dia akan setia, dan aku salah satunya, aku mencintaimu, dan mungkin Sam juga begitu mencintaimu! Hingga dia hafal betul tanggal lahir kamu!"
"Mungkin, tapi cara dia mencintai ku termasuk yang salah!"
"Wah, ternyata calon istriku ini memang istimewa, banyak yang mencintainya, ada Aidyn yang mencintai sampai akhir hayat, dan ada Sam yang mencintai dengan cara yang luar biasa,"
"Apa itu? masa yang seperti itu istimewa, sama sekali gak ada istimewa-istimewanya!"
"Tentu saja istimewa, Cha! Tapi orang yang mencintaimu dengan cara yang super istimewa hanya aku!"
"Haa, iyalah iya!" kata Alisha malas berdebat. Ia sengaja mengalah, dan cara Alisha mengalah itulah yang membuat Aliando semakin menyukainya, sungguh menggemaskan.
βοΈ
Saat ini Alisha dan Aliando tengah menikmati bebek bakar di warung pak Dullah. Duduk lesehan di bagian pojok warung.
"Kenapa ngelihatin kayak gitu, Cha?" tanya Aliando heran. Tidak biasanya, Alisha memperhatikan dia seperti itu.
"Seneng aja, bisa lihat kak Ando hari ini!"
"Masih kangen aku?"
"Iya! biarin aku lihatin abang ya, sebagai ganti kemarin aku dibiarin seharian semalaman juga!"
Aliando tersenyum mendengar alasan Alisha. Ia benar-benar sangat menyukainya saat Alisha bersikap manja. Apalagi sekarang, Alisha mulai tidak ragu menunjukkan perasaannya.
"Habiskan dulu makananmu! nanti baru lihatin aku lagi!"
"Aku udah kenyang, Bang!"
"Eh, mana ada? Biasanya kamu menghabiskan bebek kamu, kenapa ini nggak?"
"Selera aku ilang, Bang, kayaknya cukup liatin abang, aku udah kenyang!"
"Ck, ga usah gombal, kamu juga seharian belum makan, kan?"
"Aku habiskan ya," pinta Aliando.
"Abang masih kurang?" tanya Alisha, ia merasa heran, padahal Aliando telah menghabiskan dua porsi bebek bakar.
"Mubadzir, Cha," kata Aliando sambil menarik piring makan Alisha kemudian memakan sisa nasi dan bebek bakar milik Alisha, padahal makanan miliknya saja masih belum habis.
Alisha pun tersenyum, ia senang, Aliando tidak pilih-pilih makanan saat bersamanya.
π΅
"Apa ini, Bang?" tanya Alisha. Sambil menunggu Aliando menghabiskan makanannya, ia membuka galeri di ponsel Aliando.
"Apa?" tanya Aliando masih belum paham maksud dari pertanyaan Alisha.
"Ini kenapa di galeri hanya ada foto aku? Mana foto kamu? atau foto yang lain?"
"Gak ada yang bisa mengisi galeri fotoku kecuali orang teristimewa!"
"Wah, abang bener-bener cinta banget ya ma aku?"
"Ya ampun, kamu masih meragukanku?" tanya Aliando sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan ragu, cuma gak yakin,"
"Ck, apa bedanya? Lihat, aku udah bonyok kayak gini kamu masih gak percayakah?" tanya Aliando sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Heee, iya iya, aku percaya, tapi ... Ini kapan kamu ambil gambarnya?" tanya Alisha sambil terus memperhatikan foto-fotonya yang ada di ponsel Aliando.
__ADS_1
"Kapanpun, saat aku lihat kamu, dan aku ingin mengambil gambarmu!"
"Ish, ini pelanggaran HAM namanya, ngambil gambar orang gak pake ijin," protes Alisha.
"Emang kalo aku ijin dulu, kamu bakal ngijinin? pasti nggak kan?" ujar Aliando cuek.
"Iya seh, tapi semua jepretan kamu bagus, Bang, semuanya cakep-cakep,"
"Bukan jepretan ku yang bagus, tapi objeknya, jadi bagaimanapun aku ngambil, mau posisi seperti apa, dan seperti apapun gaya kamu, kamu akan terlihat cantik dan istimewa"
Alisha tersipu, ia terlihat salah tingkah.
"Coba sini, hapenya, aku lihatin foto yang paling aku sukai diantara yang aku suka!" kata Aliando meminta ponselnya, dan Alisha langsung menyerahkan ke atas telapak tangannya.
Aliando mencari-cari gambar Alisha di ponsel dengan tangan kirinya, kemudian setelah menemukan gambar yang dimaksud, ia pun memperlihatkannya pada Alisha.
"Ya ampun, Bang, yang bener aja, lagi tidur di foto kayak gini sih!" protes Alisha sambil melihat fotonya yang sedang tidur saat menonton film Brave di rumah Aliando. Wajah lembutnya sedikit tertutup anak rambut. Walaupun terpejam, matanya tampak indah dengan bulu mata yang lentik. Bibirnya mungil seperti tersenyum, dan semuanya sangat menarik perhatian Aliando malam itu.
"Tapi kamu imut banget, Cha! Tidurnya kamu begitu imut, bangunnya kamu begitu menggemaskan!"
"Aih, pasti ini yang membuat Sam cemburu banget, katanya kamu lebay, segalanya di hape kamu adalah aku,"
"Karena aku belum bisa memilikimu seutuhnya,"
"Jangan bilang kamu ngefans aku?"
"Bukan ngefans, Cha, tapi cinta,"
"Tapi kamu gak macem-macem kan ama foto aku, pikiranmu gak liar kan?"
"Ya, ampun, kamu tuh pikirannya yang liar, jelek, dan kemana-mana," kata Aliando sambil mengetuk kening Alisha.
"Ya gimana dong, aku takutnya kamu saiko, terlalu terobsesi sama aku, mulai dari sandi hape, gambar layar kunci dan beranda dan isi galerinya semua aku! Sampai Sam aja bilang gini: ini hape kamu apa Aliando?"
"Aku hanya mencintaimu, Cha, terserah orang mengartikan apa, tapi aku hanya ingin membahagiakanmu dan melindungimu, itu saja,"
Alisha hanya bisa tersenyum, hatinya terharu dengan setiap kata yang Aliando ucapkan. Ah, betapa bersyukurnya ia bisa bertemu dan bersama dengan seorang Aliando.
"Sekarang coba lihat hapemu, apa ada gambarku?" tanya Aliando sambil meminta ponsel Alisha.
Alisha salah tingkah, karena di ponselnya sama sekali tidak ada gambar Aliando.
"Ah, sudahlah, gak papa, ngelihat wajah kamu, aku sudah tau jawabannya, pasti kamu gak punya kan?"
"Eh kamu gak marah?" Alisha heran.
"Gak lah, yang penting aku tau, kalau aku selalu ada dalam hati dan pikiranmu!"
"Kenapa bisa yakin?"
"Feel, Cha, dan feel aku gak pernah salah!"
"Kalau seperti itu, kenapa kamu banyak-banyakin foto aku di hape kamu? bukankah aku sudah ada di hati dan pikiranmu?"
"Itu buat jaga-jaga, Cha,"
"Maksudnya?"
"Jika suatu saat aku tidak sengaja lupa sama kamu, aku akan tau siapa orang yang harus selalu aku ingat, kamu, kamu, dan kamu!"
"Kalo aku yang lupa?" tanya Alisha.
"Maka aku yang akan mengingatkanmu,"
__ADS_1
Hati Alisha semakin terharu dan berbunga, betapa beruntungnya dia bisa bersama Aliando. Lihatlah, Aliando begitu mengistimewakannya. Nama panggil di ponselnya saja "Alisha_ku" sementara dia hanya memberi nama panggilan "Bang Dodo". Ah, betapanya dia merasa bersalah pada Aliando, karena belum bisa membalas cinta Aliando yang begitu istimewa.
...π»π»π»π»π»...