
"Kamu gak boleh ikut campur urusanku, dan aku berhak dengan kebebasanku! Intinya, jangan pernah menghalangi atau berbuat sesuatu yang bisa merusak semua kegiatanku," Alisha mengajukan satu syarat untuk hubungan mereka.
"Okke, itu aja?"
"Ada lagi, kamu harus tau, kalo aku akan menuruti perintah kamu, jika aku merasa mau dan harus! Kalo aku gak mau, kamu gak boleh maksa aku!"
"Tidak bisa! kamu harus nurut aku dan jangan seenaknya!"
"Aku gak mau!"
"Aku tidak menerima penolakan, Cha,"
"Nah, itu dia, kamu suka maksa, aku gak suka!"
"Nanti kamu akan suka! Itu demi kebaikan kita, makanya kamu harus nurut!"
"Ah, rasanya percuma tadi ajuin syarat," ungkap Alisha.
"Gada yang percuma, Cha, yang penting aku tau apa yang kamu mau, dan kamu tau apa yang aku mau! Mari kita lakukan, sesuai feel, okke!"
"Emang, apa yang kamu mau?" tanya Alisha.
"Aku gak nerima penolakan, dan ketika itu sudah feel, aku gak butuh persetujuanmu untuk melakukannya, walau menurutmu itu sangat sensitif dan privasi!"
Alisha merinding, ia langsung mengeratkan jaketnya, memiringkan tubuh membuat jarak, agar tidak terlalu dekat dengan Aliando.
"Hahaha, dasar omes!" komentar Aliando sambil mengetuk kening Alisha dengan ujung telunjuknya.
"Aku gak akan nyentuh kamu, Cha!" imbuhnya.
"Aish, apanya gak akan nyentuh? Tadi aja megang, meluk, gendong? Padahal, ini aja baru hari pertama, masih ada ... Mmm, kurang lebih seratus lima puluh hari bersama kamu, satu semester lah!"
"Ah, iya bener, seratus lima puluh hari, hampir satu semester, atau malah mungkin kurang dari itu, sekitar empat bulan lagi aku udah ujian kelulusan! Tapi aku mau kamu jadi pasanganku selamanya, meskipun aku udah lulus, kamu tetep jadi pacar aku!"
"Gak mau, biasanya kalo pacaran itu bakal aneh-aneh, dan yang aku tau, suka sampai pada tahap yang tidak seharusnya, kayak suami istri gitu!"
"Hahaha, dasar ngeres! Tapi aku suka kewaspadaanmu! Nih, dengerin ya, Cha, kamu emang pacar aku, tapi aku gak akan ngerusak pacar aku!"
"Aku gak yakin," ucap Alisha penuh selidik.
"Hahaha, Cha, Cha, kalo aku nekat melakukan itu, kamu pasti akan bertindak lebih nekat! Kamu tipe orang yang mengambil resiko apapun, asalkan itu baik menurut kamu!" jelas Aliando, seakan ia sudah sangat mengerti kepribadian Alisha yang barbar dan nekat.
"Maksudnya?"
"Cha, kamu itu, gak aku apa-apain aja, kamu lompat dari motor, gimana kalo aku apa-apain kamu?"
Alisha memicingkan matanya melirik Aliando.
"Ga usah horor gitu, Cha! Nggemesin tau!" Aliando terkekeh.
"Kamu aneh," kata Alisha sambil mengalihkan pandangannya kembali ke danau.
"Kamu, kamu, panggil aku dengan panggilan yang spesial, lagian aku lebih tua dari kamu! Aku aja manggil kamu Icha! "
"Ah, untuk apa? Lagian aku gak suka panggilan yang kamu berikan!"
"Bukannya kalo pacaran punya panggilan khusus ya?"
"Lebay, kita kan hanya main-main, aku hanya akan bersandiwara jadi pacar kamu sampai kamu lulus kan?"
"Gak, Cha, ini bukan permainan atau sandiwara, ini juga bukan pacar sementara, kita pacar beneran,"
__ADS_1
"What, kamu serius? Bagaimana mungkin pacaran penuh kungkungan dan sikap otoriter?"
"Aku gak otoriter, Cha! Aku demokratis! aku bebasin kamu mau ngapain aja! Kamu tau layangan? Seperti itulah kamu, kamu boleh kesana kesini, tapi tetep aku megang kamu!"
"Aneh, gila! Aku gak mau!"
"Terserah! Pokoknya kita pacaran!" tegas Aliando.
"Ntar kamu nyesel kalo udah tau aku sebenernya!" kata Alisha.
"Gak akan!"
"Beneran?" tanya Alisha sangsi.
"Hmm,"
"Karna udah sesuai feel?" terka Alisha.
"Iya, Cha,"
"Ya udah terserah!"
Aliando tersenyum, karena akhirnya Alisha menyerah.
"Eh, kamu kan pacar aku ya, kamu nggak ada inisiatif apa, ngajakin aku makan? Aku laper," keluh Alisha.
Aliando makin mengembangkan senyumnya.
"Ayo, Cinta, kita pergi dari sini, kamu mau makan apa, hm?" kata Aliando sambil berdiri, tangannya terulur agar bisa membantu Alisha berdiri.
"Aku pengen bebek bakar, ntar minta dibungkus juga ya, buat di rumah!" kata Alisha tak sungkan menerima uluran tangan Aliando.
โ๏ธ
"Ini bukan rumahku, aku cuma ngontrak!"
"Kamu sendirian?"
"Iya! Tunggu di luar dan jangan masuk!" perintah Alisha pada Aliando.
"Aku kan pacar kamu, masa gak boleh masuk?"
"Kamu hanya pacar, bukan suami aku! Understand?"
Aliando mengembangkan senyumnya. Ia suka dengan sikap tegas Alisha.
"Aku pamit aja ya, ntar malam aku ke sini lagi, ngembaliin motor kamu!"
"Okke! Hati-hati ya!"
"Gak ada salam perpisahan kah?"
"Salam perpisahan seperti apa?"
"Cium kek,"
"Gak da! pulang sana!" usir Alisha sama sekali tidak romantis.
Aliando terkekeh gemas.
"Aku pulang ya!" ucapnya sambil mengacak rambut Alisha.
__ADS_1
Diam-diam sepeninggal Aliando, Alisha tersenyum sendiri.
โ๏ธ
Menjalani peran sebagai pacar Aliando memang memiliki tantangan tersendiri. Sudah satu minggu ini Alisha melakukannya dengan sangat apik.
Sampai-sampai, jika ada yang berusaha mencelakai Alisha saat berpapasan di koridor, seperti didoronglah, ditabraklah, atau sampai ditarik rambutnya, Alisha akan bersikap cuek.
Masih bisa dihadapi, itu menurutnya, Alisha masih santai, bahkan dia suka tak peduli kalau dirinya harus jatuh. Toh, bisa bangun lagi. Yang penting tidak ada yang luka.
"Udah, dorongnya? Makasih ya," atau, "Udah nabraknya? udah jambaknya? Makasih yaaaa," hanya itu yang diucapkan olah Alisha kepada orang-orang yang menabrak, mendorong atau menjambak. Ia memang sengaja tidak ingin membalas, karena baginya hal itu hanya membuang-buang waktu dan tenaga.
Wajah cantik, senyum manis, sikap yang cool itu yang ditunjukkan oleh Alisha, membuat para siswa banyak yang mengagumi, tapi tidak sedikit juga yang iri bahkan julid.
"Eh," Alisha terkejut ketika ada tangan yang tiba-tiba menggenggamnya saat dia dan Melly menuju kantin.
"Sudah ku bilang, jangan pergi sendiri, kita harus selalu bareng," kata Aliando sambil mengeratkan genggaman tangannya.
"Hei, gak lihat? aku bareng Melly lho! trus, emangnya kamu ga punya temen apa, sampai harus nemenin aku ke kantin?" tanya Alisha.
"Gak usah nolak, Cha, ikuti aja, kamu akan aman," kata Aliando.
"Iya, bener, Sha, nurut aja sama mas Al," kata Melly.
Pada akhirnya Alisha menurut. Ia malas berdebat. Aliando mengetahui semua yang terjadi pada Alisha meskipun gadis itu tidak pernah menceritakannya.
"Maaf, aku ga bisa selalu melindungimu," ucap Aliando pada Alisha saat mereka mulai menikmati makanan.
"Gak papa, kita juga gak seharusnya terus bersama, kan?"
"Tapi aku tau apa yang mereka lakukan sama kamu,"
"Aku juga tau kalo kamu pasti dapet cerita dari Melly, kan?" kata Alisha sambil melirik ke arah Melly. Sementara Melly hanya terkekeh, "Gak usah jadi CCTV, aku gak papa," ujar Alisha menenangkan hati Aliando
"Andai aku punya bukti, aku bisa aja ngelabrak anak-anak itu," tegas Aliando.
"Gak usah, wajar lah, mereka kan fans gilamu! Andai ada kamu, mereka juga ga berbuat aneh-aneh,"
"Tapi aku mengkhawatirkanmu, dan aku gak bisa selalu disampingmu," ujar Aliando.
Alisha hanya menganggukkan kepalanya. Dia merasa tidak ada masalah.
Di lain hari, Alisha pernah sengaja disiram segelas jus strawberry oleh Nikita, dengan alasan tidak sengaja, atau pernah juga terjatuh gara-gara dihalangi langkah kakinya hingga dia tersandung dan jatuh. Namun, dengan santainya dan tak mau ambil pusing, Alisha cuek saja, karena tak ada yang luka.
"Kenapa gak lo lawan sih?" kata Melly gemas, karena hari itu Alisha menahannya agar tidak membalas perbuatan yang sengaja mencelakai Alisha.
"Gak papa, ntar mereka diem dan bosen sendiri, gak usah dilayani, gak penting! Selagi mereka gak maen fisik, bully siksa, it's okay! Bagi aku, ini sih cuma kekanak-kanakan, terlalu enteng! Aku udah ngalamin yang lebih dari ini!"
"Lo suka dibully, Sha?"
"Bertahan atau mati, kamu pilih mana?"
"Eh, istilah apaan itu?"
Alisha mengangkat bahunya. Ia membiarkan Melly dengan kebingungannya.
...๐ป๐ป๐ป...
Hai kak readers
sehat selalu yaaaa
__ADS_1
makasih udah baca, makasih like vote n komentarnya....
lopyuol๐๐๐