Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
45. Resmi


__ADS_3

"Gimana, Al, jadinya kapan? Hari ini?" tanya pak RT pada Aliando.


"Nggak, Pak, kemungkinan minggu depan, setelah Alisha ujian kenaikan kelas," jawab Aliando.


Ternyata, dari semalam, setelah dari rumah nek Maryam, ia berada di poskamling komplek perumahan tempat tinggal Alisha. Ia membicarakan perihal tentang pernikahan dengan pak RT setempat, yang kebetulan, tadi malam mendapat jadwal tugas jaga malam bersama dua warga lain.


"Oh, iya, itu lebih baik, gitu ya Alisha, bapak pasti datang ke acara pernikahan kalian, syukurlah, akhirnya kalian menikah, demi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, karena kalian juga sudah jadi bahan gunjingan,"


"Oh, iya, Pak, maafin kami!" kata Alisha merasa bersalah.


"Tenang aja, kalian kan sudah akan menikah, jadi kami tenang, ya kan pak Mamat?" ujar pak RT meminta persetujuan dari pak Mamat.


"Iya, Pak RT, bener itu! Untung saya tau dari awal kalo Aliando ini calon suaminya Alisha!" jelas pak Mamat.


Alisha sempat tak percaya, ternyata Aliando sudah sejak awal mengenalkan dirinya sebagai calon suami. Benar-benar di luar dugaan.


"Hmm ... daasar seenaknya," gerutu Alisha dalam hati.


☘️


Test di hari terakhir baru saja selesai dilaksanakan. Tanpa Alisha harus menunggu, Aliando sudah standby di tempat parkir.


"Gimana testnya, hm?" tanya Aliando sambil memasangkan helm di kepala Alisha.


"Hmm, lumayan,"


"Tapi bisa kan?"


"Bisa, pokoknya jangan sampai sia-sia belajar semalaman!" kata Alisha.


"Tapi kamu tidur kan?" tanya Aliando memastikan.


Alisha hanya menganggukkan kepalanya, entahlah dia tidak yakin jika semalam itu dia tidur dengan nyenyak, karena yang dia tahu, dia tidur sambil duduk, dengan kepala di atas meja. Sekitar jam tiga pagi, barulah dia tidur di kasur.


"Kita makan dulu ya, trus nganter kamu ke rumah buat packing," usul Aliando.


"Emang bakalan lama ya di neneknya?"


"Terserah kamu, paling nggak, tiga hari lah disana!"


Alisha terdiam, ia hanya mematung tanpa ada niatan untuk naik ke atas motor.


"Ada apa, hm?" tanya Aliando melihat keraguan di mata Alisha.


"Apa Abang yakin kita menikah besok?"


"Yakin, insyaaAlloh, kenapa? kamu masih ragu?"


"Aku takut, aku gak bisa bayangin jadi seorang istri!"


"Gak usah dibayangin, besok dijalani aja!"


"Tapi aku takut!"


"Gak usah takut, aku akan bersama kamu! Okke,"

__ADS_1


Alisha menganggukkan kepalanya perlahan


☘️


"Kamu kenapa?" tanya Aliando sesaat setelah melajukan mobilnya. Ia memperhatikan wajah Alisha berbeda, tampak lebih pucat tidak seperti biasanya. Padahal tadi saat makan siang masih terlihat baik-baik saja.


"Gak tau ini, kok rada mual begitu nyium bau mobil,"


Aliando melirik sekilas mendengar jawaban Alisha. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Kemungkinan mual itu terjadi karena Alisha tengah hamil di trisemeter pertama.


"Kita ke rumah sakit dulu ya, periksa!"


"Aih, gak perlu! aku coba tidur aja ya!"


"Yakin?"


"Iya, Bang!"


"Ya sudah, tidurlah!"


"Gak papa gak ditemeni?" tanya Alisha.


"Gak papa, Cha, tidurlah, buat diri kamu nyaman, kita jalannya santai aja ya!"


Alisha mengangguk, kemudian memejamkan matanya.


"Ya Tuhan, benarkah Alisha hamil? Apapun keadaannya ya Alloh, sehatkanlah dia," gumam bathin Aliando.


☘️


Maryam dan Haidar sudah menyambut kedatangan Alisha dan Aliando. Semua tampak baik, bahkan ada beberapa orang sibuk membereskan rumah. Sepertinya, memang akan diadakan pesta.


"Beristirahatlah, setelah ini, kita makan malam, ya," kata nek Maryam penuh rasa sayang membuat hati Alisha merasa sangat nyaman.


Apalagi sejak dia tiba, Alisha diperlakukan sangat lembut dan hati-hati.


"Iya, Nek, makasih!"


"Kamu gak papa, kan? tadi kata Aliando kamu sempet mual saat di mobil,"


"Iya, Nek, ga tau kenapa," jawab Alisha sambil mengusap tengkuknya.


"Ya sudah, gak usah kamu pikirkan ya, yang penting sekarang kamu istirahat ya," ucap nek Maryam, ia sangat mengerti dengan keadaan Alisha yang 'sedang hamil' menurutnya.


"Iya, Nek, makasih," ucap Alisha.


"Maafkan, Al ya," ucap nek Maryam, sambil membelai rambut Alisha.


"Untuk apa, Nek? Kenapa Nenek minta maaf soal Bang Aliando?"


"Karna perbuatan dia, akhirnya kalian harus menikah, padahal nenek hanya nyuruh dia jaga kamu, malah ...." Maryam menghentikan ucapannya. Hatinya masih merasakan sakit dan kecewa karena dalam pikirannya saat ini Aliando telah menghamili Alisha.


"Bang Al, ingin menjagaku dengan cara yang halal, Nek, dan aku setuju," ucap Alisha tanpa beban. Ia tidak pernah berpikir jika Maryam justru menyangka dia sedang hamil.


"Ah, ya sudah, kamu istirahat aja ya,"

__ADS_1


Alisha mengangguk.


☘️


Keesokan harinya, acara pernikahan berlangsung pukul sepuluh, para tetangga diundang oleh nek Maryam.


Alisha tidak menyangka, ternyata acara yang katanya sederhana, namun banyak juga yang datang, apalagi ada pak Idris, pak Haikal, ketiga sahabat Aliando, pak Aman, mak Leha, Opun, pak RT dan pak Haji Aiman, imam masjid di kompleks perumahan tempat tinggal Alisha, serta ustadz Musa, imam masjid di dekat tempat tinggal pak Aman turut hadir.


Suasana begitu khidmat ketika Aliando mengucapkan ijab kabul. Hanya dalam satu kali tarikan nafas, ia mengucapkan kalimat sakral itu dengan sangat lantang. Hingga berakhir dengan sambutan dari para saksi yang mengatakan 'Sah'.


Aliando menarik nafas panjangnya. Ia merasa lega dan bahagia karena akhirnya gadis impiannya telah menjadi pasangan halalnya.


Alisha hanya meneteskan air matanya. Ada keharuan dan perasaan lain yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Apalagi saat Aliando menyematkan kembali cincin yang berbeda di jari manis tangan satunya. Kemudian Alisha mencium punggung tangan Aliando, yang di sambut dengan kecupan lembut di kening Alisha yang dilakukan Aliando dengan sangat bahagia.


Kedua pasangan yang baru saja resmi itu begitu bahagia meskipun terlihat sedikit malu-malu. Meskipun tidak duduk di kursi pelaminan, namun keduanya cukup menikmati dan mensyukuri moment sakral ini.


☘️


Alisha masih membersihkan riasan make up di wajahnya, dia masih tidak menyangka jika dia sudah menikah, dan statusnya saat ini adalah sebagai istri Aliando. Bagaikan mimpi dan dia masih saja mempertanyakan kebenaran tentang pernikahan ini dalam hatinya.


"Biar aku bantu, sini," kata Aliando menghampiri Alisha yang sedang duduk menghadap cermin meja rias.


"Eh, sejak kapan Abang masuk? kok gak kedengeran langkah kakinya? jangan bilang jurus ninjanya digunakan!"


"Hahaha, Cha, Cha, yang bener aja, masa nemuin istri sendiri pake jurus ninja segala,"


Alisha tersipu, ia masih merasa aneh dan asing dengan kata 'istri'.


"Abis, aku gak ngedenger Abang buka pintu, langkah kakinya aja gak kedengeran,"


"Itu karena kamu terlalu fokus ngehapus make up kamu! Udah selesai?"


"Udah," ucap Alisha sambil memperlihatkan wajahnya yang polos tanpa make up.


"Sangat cantik! Tadi kamu terlihat begitu luar biasa, cantik kamu istimewa, Cha, tapi aku lebih menyukai kamu yang natural seperti ini, lebih fresh,"


"Ini muji apa ngerayu?"


"Apapun, yang jelas, sekarang kita sudah halal".


Alisha mengangguk.


"Tamunya masih ada, Bang?" tanya Alisha kemudian.


"Kalo tetangga udah pada pulang, tinggal yang jauh, mungkin sore baru pulang,"


"Temen-temen Abang juga?"


"Mereka bertiga mau nginep di sini! Udah lama gak nginep di sini,"


Alisha mengangguk lagi.


"Eh, Abang bawa apa itu?" tanya Alisha yang baru menyadari jika di tangan Aliando ada sebuah kotak yang cantik.


"Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas, istriku,"

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2