Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
105. titik terang


__ADS_3

Dhea tersenyum. Matanya memindai wajah Aliando.


"Sempurna, ternyata adikku pintar memilih pasangan," komentar Dhea.


"Tunggu! Jadi, Alisha sudah menikah?" tanya Fahri terkejut.


"Iya," jawab Rafael.


"Bukannya dia masih sekolah?" tanya Fahri.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Dhea kali ini.


"Maksud kamu, Alisha hamil duluan gitu?" terka Robby tanpa basa-basi, seakan ia tahu apa yang ada di pikiran Dhea.


Dhea mengangguk.


"Oh, tenanglah, saudara iparmu ini adalah orang baik dan sangat bertanggung jawab, Alisha juga adalah gadis baik-baik, mereka menikah beberapa bulan yang lalu saat kenaikan kelas, mungkin sampai sekarang Alisha masih gadis," jelas Robby yang akhirnya dia sudah tau jika Alisha tidak hamil dan pernikahan mereka murni karena cinta.


"Tapi pihak sekolah tidak ada yang tahu kecuali sebagian kecil saja," tambah Robby.


Dhea dan Fahri saling bertatapan, pikiran keduanya menerawang ke masa lalu, pada perbuatan bodoh mereka yang melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan.


"Lalu dimana Alisha sekarang, kayaknya ... kalian sedang mencari keberadaannya," tebak Dhea.


"Sudah dua hari ini menghilang," jawab Rafael.


"Kami sedang mencarinya," kata Benni.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi, semua saling pandang penasaran ponsel milik siapa yang berdering.


Aliando segera membuka tas yang di bawanya, ternyata ponsel milik Alisha sedang menyala. Sebuah nomer asing, yang tempo hari sempat menghubungi Alisha.


"Nomer ini, akhirnya menghubungi," gumam Aliando.


"Sha, kamu dimana? kenapa dua hari ini gak masuk sekolah? Kamu gak apa-apa kan?" tanya si penelepon dari sebrang, terdengar suara seorang gadis.


"Maaf, ini siapa?" tanya Aliando.


Si penelepon tidak langsung menjawab, sepertinya ia tengah mengingat-ingat suara siapa yang menjadi lawan bicaranya.


"Ini mas Al?" tanya gadis yang di sebrang memastikan tebakannya.


"Iya," jawab Aliando singkat.


"Ini aku, Salsa,"


"Salsa? Jadi, kamu yang menghubungi Alisha dua hari yang lalu?"


"Iya, mas Al, apa Alisha baik-baik saja?"


"Tidak tau, dia gak ada, pergi semenjak dua hari yang lalu,"


"Ya Tuhan, apa Arga sudah menculiknya?"


"Arga?"


"Iya,"

__ADS_1


"Bukannya dia dekat denganmu?"


"Awalnya, aku kira seperti itu, tapi, aku baru saja sadar, jika sebenarnya, aku hanya dijadikan alat agar dia bisa mendekati Alisha,"


"Apa?"


"Iya, dia terus mencari informasi mengenai Alisha, tapi aku tidak tahu apa maksud dibalik rencananya,"


"Jadi maksud kamu, menghilangnya Alisha ada hubungannya dengan Arga?"


"Bisa jadi, aku ga terlalu yakin, hanya saja, terakhir aku menelepon Alisha, meminta dia agar berhati-hati terhadap Arga, dan jangan pernah pergi sendirian,"


"Okke, makasih infonya ... Oh iya, kenapa nomer kamu kemarin tidak aktif?"


"Hapenya tiba-tiba rusak, ini baru selesai di servis,"


"Oh ya sudah, nanti jika kamu punya info apapun termasuk kabar dari Arga, tolong hubungi aku," pinta Aliando sambil mengakhiri percakapannya dengan Salsa.


☘️


"Ada informasi?" tanya Benni.


"Iya, menurut Salsa, mungkin saja menghilangnya Alisha ada hubungannya dengan Arga," jawab Aliando.


"Siapa Arga?" tanya Rafael.


"Kami juga tidak terlalu kenal, hanya pernah bertemu sekali atau dua kali," jelas Aliando, ia ingat, yang ia tahu, pertemuan dirinya dengan Arga hanya pada saat lelaki itu menolong Salsa dan pada saat dia bertarung dengan Samudera di sasana bela diri milik Arga.


"Lalu apa hubungannya dia dengan Alisha?" tanya Robby.


Aliando menggeleng, sambil menatap luar, ia memperhatikan jalanan yang basah karena hujan.


"Tunggu, Pak," cegah Aliando sambil memegang erat pundak seorang lelaki paruh baya. Pria itu berbalik dan menatap Aliando, raut wajahnya menunjukkan rasa terkejut.


"Aku tahu Anda, Pak, Anda adalah orang yang selalu mengikuti istriku beberapa waktu lalu saat di kota T,"


Pria itu terdiam, ia membenarkan apa yang diucapkan oleh Aliando.


"Kenapa Anda mengikutinya? Apa tujuannya?" tanya Aliando penuh penekanan.


"I-i iya, kamu bener, itu sebelum aku mengalami kecelakaan,"


"Katakan, kenapa Anda mengikuti istri saya?"


"Ada yang menyuruh saya,"


"Siapa?"


"Seseorang tanpa nama,"


"Jangan bohong, Pak, tolonglah, beri saya informasi, karena sekarang istri saya hilang,"


"Apa jangan-jangan mereka sudah mendapatkannya?" gumam pria paruh baya itu.


"Apa maksud Bapak?"


"Baiklah, jujur saja, aku hanya membantu teman, menggantikannya sementara, karena saat itu dia harus menemani istrinya yang lahiran tapi terus meninggal dunia, jadi dia tidak bisa bekerja, sebab sedang berduka,"

__ADS_1


"Dia bekerja pada siapa?" tanya Aliando.


"Tidak tahu, tapi seingatku orang yang memberi perintah namanya tuan Armadon, terakhir kali aku mengikuti kalian sampai kota ini, di sebuah rumah megah, saat itulah aku mengalami kecelakaan, proses penyembuhanku butuh waktu tiga bulan,"


"Oh, Bapak kecelakaan? Pantas saja, saya tidak pernah melihat lagi Bapak mengikuti Alisha,"


"Ya, aku kecelakaan cukup parah, aku tidak punya siapa-siapa, hanya temanku itulah yang membantuku saat- saat terakhir masa pemulihan,"


"Tunggu, apa Anda sempat memberitahukan keberadaan kami?"


"Jujur, ya, sekitar tiga hari yang lalu, saat aku keluar dari rumah sakit,"


Aliando menarik nafas panjang dia menyugar rambut depannya.


"Ya Tuhan, berarti benar Alisha diculik,"


"Maafkan aku, kalau aku memberitahukan tentang kalian pada temanku, tapi jujur saja, itu sebagai balas budi aku kepadanya,"


"Tak apa-apa, Pak, tapi bolehkah aku menghubungi teman Bapak itu?"


"Dia sudah kembali ke kota tempat tuan Armadon tinggal,"


"Dimana itu?


"Aku tidak tahu, identitas tuan Armadon aku sendiri tidak begitu paham, Maaf aku tidak bisa memberimu info lebih banyak, karena orang ini sangat-sangat misterius,"


"Oh iya gak papa, Pak, boleh saya minta nomer Bapak, atau teman Bapak itu?"


"Oh, baiklah, ini nomerku dan ini nomer temenku, tapi sudah dua hari ini, nomernya tidak aktif, nanti kamu coba saja," kata pria paruh baya itu sambil memperlihatkan nomer ponsel miliknya dan juga teman yang dimaksudkan.


☘️


"Ada apa, Al? siapa bapak itu?" tanya Rafael. Sebelumnya, kelima orang yang ada di warung memang memperhatikan saat Aliando dan lelaki paruh baya itu saling berbicara.


"Dia orang yang pernah membuntuti Alisha," jawab Aliando.


"Jadi sebenarnya sudah sejak lama Alisa diincar orang dan keberadaannya terancam," kata Benni membuat kesimpulan.


"Ya sejak Ayahnya masih hidup makanya mereka selalu berpindah-pindah tempat dari kota satu ke kota lainnya," jelas Aliando.


"Mungkin saja yang menculik Alisha adalah orang yang sama dengan orang yang mengincarku," ujar Dhea.


Kelimanya menatap Dhea serius, namun hanya satu tatapan yang dia perhatikan yaitu tatapan milik Fahri.


"Iya, aku menghilang, karena aku harus ke tempat yang aman, karena ada orang yang mengejarku dan ingin membunuhku," jelas Dhea seakan menjawab pertanyaan yang melintas di mata Fahri.


"Jadi, kamu pergi bukan karena menghindariku?" tanya Fahri.


"Bukan, hari dimana kita bertengkar, hari itulah, aku hampir dibunuh, awalnya aku kira dia preman, tapi saat aku sembunyi, aku tau dia bukan preman, karena ada sebuah mobil mewah yang mengampirinya, kemudian membawanya pergi,"


"Lalu selama ini kamu dimana?" tanya Fahri lagi.


"Aku di luar negri, aku kembali tadinya hanya ingin menemui ibuku, itu saja, tapi ternyata sekarang aku tau kalau aku punya adik,"


"Aku rasa kasus penculikan Alisha dan penyerangan terhadapmu saling terkait," kata Aliando.


"Tapi siapa? dan apa motifnya?" tanya Dhea.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2