
Di sudut pusat kota di sebuah kafe, seorang pria menggenggam ponselnya dengan sangat erat setelah melihat video yang berdurasi beberapa detik saja. Ia memutarnya berulang, dan ini sudah yang ke sekian kalinya.
Sebuah video yang menayangkan ketika Alisha berciuman dengan Aliando di gazebo sekolah saat hujan. Hatinya penuh amarah, emosinya begitu memuncak. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi siang.
"Dasar jallanng! Ternyata, setelah kamu pergi, kamu sudah menjadi liar, kamu bukan lagi gadis baik-baik," ucap pria itu sarkas dengan tatapan lurus penuh dendam. Fahri.
"Lihat saja, aku pasti mendapatkan kamu kembali!" tegasnya.
π΅
Bel istirahat berbunyi, guru di depan kelas pun menutup pembelajaran. Namun Alisha dari tadi yang memang duduk di bagian belakang masih saja diam melamun, sementara tangannya yang memegang pulpen sedang mencoret-coret buku tulinya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Naira yang duduk di sampingnya. tangannya memegang pundak Alisha.
"Dari tadi ngelamun mulu!" lanjutnya berkomentar.
"Eh, gak ada apa-apa," kata Alisha menutupi tentang lamunannya bagaimana semalam akhirnya Michelle dan Vanya keluar dari rumah Arsyad. Tidak ada perasaan sedih, namun dia cukup menyesal karena setelah bertahun-tahun, dia dipertemukan kembali dengan ibu kandung yang tidak menyayangi dirinya.
"Gak ada apa-apa gimana? Dari tadi kamu coret-coret buku, nyampe bel istirahat dan guru keluar aja, kamu gak tau kan?" tanya Naira dengan nada protes.
Alisha tersenyum tanpa ingin menanggapi lebih jauh, karena pada kenyataannya memang ia sedang melamun.
"Eh, Sha, kamu nyadar ga, kamu dari tadi dilihatin Fahri," kata Naira cepat.
"Gak," ujar Alisha singkat.
"Oh iya yah, kamu kan lagi ngelamun, mana ngeh," kata Naira.
Alisha mengangkat kedua bahunya tak peduli.
"Tau gak, tatapannya ngeri, penuh kekecewaan dan sakit hati juga amarah,"
"Ughh, lengkap amat, bener-bener ngeri deh, jadi takuuut," kata Alisha dengan nada bercanda.
"Serius, Sha," ujar Naira.
"Iya-iya, aku juga serius, Ra,"
"Ah, kamu mana perhatian, asal kamu tau, ya, tatapannya itu, kayak cowok yang sedang diselingkuhi ceweknya
"Hahah, bisa aja, mana ada, kamu sendiri kan tau Fahri murid baru disini! kita baru kenal," kata Alisha.
"Ya udah kalo gak percaya, kita ke kantin aja yuk," ajak Naira yang disetujui oleh Alisha. Ia ingat, semalam, Aliando menyuruhnya jika waktu istirahat, untuk makan di kantin.
π΅
Alisha dan Naira menuju kios Alifia. Tidak seperti biasanya, suasana di tempat itu begitu ramai, bahakan ada yang saling dorong tidak tertib dalam antrian.
"Ya Tuhan, kak Ando," kata Alisha dengan perasaan terkejutnya.
__ADS_1
"Ternyata ini penyebabnya, sampai para siswi begitu ribut," ucapnya dalam hati.
"Lihat tuh, Sha, mas Al, udah jadi alumni aja, masih banyak fans yang menggila," komentar Naira.
Alisha menarik nafas panjang sambil mengangkat kedua bahunya.
"Wah, resiko jadi istri sang idola," komentar Naira asal.
"Hush, diem, gak ada yang tau kalo abang itu suami aku,"
"Ups, iya-iya, sorry, tapi kamu harus hati-hati, Sha, lihat aja tuh, padahal dia udah bukan lagi apa-apa di sini, tapi masih aja ada penggemarnya,"
"Begitulah, kak Ando, pesonanya di mana-mana,"
π΅
"Hai, ini pesenannya," kata Aliando secara tiba-tiba pada Alisha. Dia menyerahkan siomay dan jus mangga.
Alisha merasa aneh, karena sebenarnya, dirinya belum memesan sama sekali, bahkan posisinya saat ini masih sedang dalam antrian bersama Naira.
Tapi karena tidak ingin terjadi keributan, Alisha segera mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh Aliando sebelumnya, kemudian mencari tempat duduk dan meninggalkan Naira dalam antrian.
"Ugh, enak banget, udah dilayani cintanya," gerutu Naira saat dia mendekati Alisha yang sedang menikmati makanannya. Dia kemudian duduk di hadapan Alisha. Di tangannya sudah ada makanan yang dibelinya setelah antri yang cukup lama.
Alisha melebarkan senyumannya.
"Aku juga gak tau kalo abang udah nyiapin buat aku," kata Alisha.
"Kamu bener, aku juga gak nyangka abang- melakukan hal ini,"
"Duh, kalo mas Al gak bucin ma kamu, gak mungkin dia mau ngelakuin ini demi kamu," komentar Naira.
Alisha tersenyum. Hatinya terenyuh dengan apa yang dikatakan Naira. Semalam, Aliando memang sempat mengatakan jika mereka akan bertemu di sekolah dan memberikan kejutan. Ternyata inilah yang dimaksudkan olehnya.
"Aku boleh gabung kan?" tanya Fahri sambil meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja. Dia langsung duduk di samping Naira sehingga posisinya berhadapan langsung dengan Alisha.
Meskipun tidak terlalu ada pembicaraan diantara ketiganya, namun suasana canggung tak terelakkan lagi, apalagi saat Fahri dengan sengaja mengusap sudut bibir Alisha menggunakan tisu.
"Bumbu kacangnya tuh, belepotan," kata Fahri tanpa memedulikan reaksi Alisha. Kaku. Tatapannya langsung beralih ke kios Alifia. Benar saja, Aliando sedang melihat ke arahnya dengan tatapan yang tak biasa.
"Duh, masalah ni," gumam bathin Alisha.
"Ra, aku ke toilet dulu ya, kamu bayarin ini, okke," kata Alisha dengan memberi tatapan isyarat yang bisa dipahami oleh Naira jika Alisha sedang menghindari Fahri.
"Okke, tenang aja," jawab Naira.
π΅
"Kamu marah soal tadi, Sha?" tanya Fahri ketika di kelas. Ia menghampiri Alisha yang tengah ngobrol dengan Naira, sesaat ketika pergantian jam pelajaran.
__ADS_1
Alisha dan Naira menghentikan obrolannya, keduanya langsung memandang Fahri dengan perasaan canggung.
"Soal apa?" tanya Alisha berpura-pura tidak mengerti maksud pembicaraan Fahri.
"Soal aku mengusap bibir kamu,"
"Marah sih enggak, cuma aku merasa aneh aja, kita itu bukan teman dekat dan kita baru aja kenal, dan asal kamu tau, semua teman-teman laki-laki aku gak pernah melakukan hal seperti itu padaku,"
"Iya bener, aku aja yang teman perempuan gak pernah kayak gitu, paling cuma ngasih tau aja kalo mulutnya belepotan," Naira ikut berkomentar.
"Maaf, aku hanya ingin mencoba mengakrabkan diri saja," ujar Fahri.
"Tapi, kamu tidak harus melakukan seperti itu kan, itu akan menimbulkan kesan yang tidak-tidak di mata orag lain," tegas Alisha.
"Iya bener, menurut aku, yang bisa melakukan seperti itu tuh orang yang benar-benar dekat, kayak pacar misalnya, sementara, kamu kan bukan apa-apanya Alisha," komentar Naira.
"Maaf, ya ... itu tadi, alasanku ... Cuma ingin akrab aja, soalnya, aku merasa sudah deket ma Alisha," jelas Fahri.
"Eh, maaf ya, tapi Alisha sudah punya cowok, harusnya kamu nanya dulu dong, jadi biar gak ada salah paham," kata Naira.
"Aku kan baru di sini, jadi aku gak tau status Alisha,"
"Iya, makanya nanya!" ujar Naira dengan perasaan jengkel.
"Okke okke, maafin aku ya, Sha, dan ngomong-ngomong, beneran kamu udah punya pacar?"
"Iya," jawab Alisha singkat dan tegas.
"Bukan cuma pacaran, tapi udah tunangan, jadi, kamu gak bisa macem-macem, apalagi sampai jadi petunor," jelas Naira pada Fahri.
Alisha dan Fahri menatap Naira sedikit bingung.
"Kenapa kalian natap kayak gitu?" tanya Naira merasa aneh dengan tatapan Alisha dan Fahri.
"Petunor?" tanya Fahri tidak mengerti maksud Naira.
"Perebuta tunangan orang, masa gitu aja harus dijelasin," jelas Naira sambil menepuk keningnya sendiri.
"Gak papa, yang nikah aja bisa cerai apalagi cuma tunangan, asal Alisha kasih aku kesempatan, aku bisa mendapatkannya," kata Fahri sangat percaya diri.
"Nggak usah percaya diri, karena aku nggak akan ngasih kesempatan apapun sama kamu," tegas Alisha.
"Jangan khawatir, Sha, meskipun kamu ngomong kayak gitu, tapi aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan kamu!" kata Fahri penuh keyakinan.
"Eh Ri, nggak cuma sama kamu aja tapi sama orang lain juga, aku memang gak akan pernah ngasih kesempatan apapun," tegas Alisha sekali lagi.
"Iya, Ri, gak usah aneh-aneh dan bertindak gak sopan, kamu masih baru lho, kamu gak tau kan siapa pacarnya?" tanya Naira.
"Siapa? ketua geng? ketua mafia? anak presiden?" tanya Fahri dengan nada menantang dan menyepelekan.
__ADS_1
π»π»π»π»π»