Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
41. Hamil?


__ADS_3

Alisha hanya menarik nafas panjang. Sebenarnya, ia juga pantang pergi jika masalah belum selesai, namun, saat ini dia sedang tidak baik-baik saja perasaannya.


"Jadi, katakan, ada apa, hm?" tanya Aliando akhirnya, ia tidak sabar menunggu penjelasan dari Alisha.


"Abang gak nyadar apa?"


"Soal apa? apa ada yang salah?"


"Iya!"


"Apa kesalahan yang aku perbuat, sampai kamu kayak gini, hm?"


"Kenapa kamu gak menghindar waktu dicium cewek tadi?"


Aliando tergelak seketika.


"Gak usah ketawa! Gak ada yang lucu!" tegas Alisha, membuat Aliando seketika itu juga menghentikan tertawanya.


"Maf, maaf, ya mau gimana, dia spontan langsung nyosor, dan aku gak bisa menghindar!"


"Ah, dasar cowok, bilang aja seneng!"


"Enggak, Cha, beneran!"


"Lalu kenapa kamu gak bisa menghindar?"


"Mana aku tau kalo dia bakal nyium aku?"


"Meskipun gak tau, seharusnya kamu cepet tanggap dan menghindar begitu dia mulai mendekat! Mana insting bela diri kamu? bukannya kalo ada bahaya, kamu bisa tau pergerakan musuh! dan dengan sigap kamu bisa reflek menghindar!" jelas Alisha.


Mendengar penjelasan Alisha, Aliando hanya bisa menahan tawa, ia tidak ingin mood Alisha semakin rusak. Untung saja, pikirannya segera menangkap maksud dari Alisha. Ah, cewek memang bisa sepeka itu, bahkan hal-hal kecil bisa dihubung-hubungkannya, insting bela diri menghindari bahaya musuh dengan menghindari bahaya orang yang akan mencium? Lihat kan, hal yang seperti ini pun bisa jadi masalah.


"Maaf, kita cuci ya pipinya, pake sabun, dicucinya sampai tujuh kali basuhan, hingga kembali bersih dan wangi!" usul Aliando.


"Gak lucu!" Alisha masih cemberut.


"Kan, salah lagi, terus aku harus gimana? soal yang tadi aku gak bisa menghindar, aku minta maaf, tapi karena ini sudah terjadi mari kita lakukan sesuatu agar noda yang tak terlihat di sini bisa suci lagi!" kata Aliando sambil menunjuk pipinya yang tadi dicium oleh siswi ketiga.


Alisha masih diam. Malas untuk berkomentar.


Melihat Alisha hanya diam saja, Aliando pun segera mengambil tanah segenggaman tangan.


"Ayo, ikut aku!" ajaknya pada Alisha dengan nada setengah memerintah, lalu ia membawanya ke wastafel yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


Meskipun dengan perasaan yang bingung, Alisha tetap mengikuti langkah kaki Aliando.


"Abang mau apa?" tanya Alisha.


Aliando hanya diam, ia menjawab pertanyaan Alisha dengan isyarat gerakan. Tangan kirinya membuka keran, lalu kepala Aliando menunduk agar pipinya yang tadi terkena ciuman bisa kena aliran air, kemudian tangan kirinya menggosok pipi tersebut.


Kemudian tangan kanannya yang menggenggam tanah, menggosokkan tanah tersebut yang sebelumnya sudah dibasahi air, ke pipinya, lalu membilasnya beberapa kali, hingga genap tujuh kali basuhan dan salah satunya menggunakan tanah.


Alisha menutup mulutnya menahan tawa.

__ADS_1


"Ya ampun, Bang, kayak abis dijilat anjing aja, emangnya najis gede ya?" kata Alisha yang akhirnya tertawa juga.


"Mungkin lebih dari itu, gimana, sekarang udah suci, kan?"


"Heheh, iya, iya!" kata Alisha mengangguk. Ia mendekati Aliando dan menarik lengan Aliando.


"Ya udah, ayok sekarang kita ke pak Aman, makan bakso!" kata Alisha masih dengan senyumannya. Ia mengajak Aliando segera ke tempat parkir.


Aliando pun mengiyakan. Ia tersenyum bahagia, ah, begitu mudah membuat mood Alisha kembali menjadi baik.


"Jadi ... Alifia itu siapa?" tanya Alisha, pasalnya ia lupa untuk menanyakannya pada Robby, Rafael, dan Benni.


Aliando melirik Alisha sekilas.


"Dia adikku, Cha!" jawab Aliando.


"Oh, yang meninggal di usianya yang baru seminggu itu?"


"Iya, sejak Alifia meninggal, mamah sakit, lalu menyusul Alifia!"


"Eh, maaf malah bikin kamu inget mamah,"


"Tenang aja, Cha! Sekarang aku udah punya kamu, kamu udah ngisi kekosongan di sini!" kata Aliando sambil memegang dada dengan telapak tangannya.


"Semoga ya, Bang, semoga aku tidak mengecewakanmu!" ucap Alisha dalam hati. Ia memberikan senyuman terbaiknya.


"Maaf ya, Bang, aku mau nanya sesuatu, boleh nggak?"


"Apa?"


"Iya, emang apaan, Cha?"


"Abang gak kangen papah?" tanya Alisha hati-hati, "Abang, gak pengen gitu ngasih tahu kelulusan Abang sama papah?" tanyanya lagi.


"Nggak, tapi abis ini aku berencana membawamu ke tempat nenek, di sana aku akan mengajak kamu ke suatu tempat, kamu mau kan?" tanya Aliando. Kini mereka sudah berada di tempat parkir. Aliando mengambil helm yang biasa dipakai Alisha kemudian memasangkannya di kepala Alisha. Seperti biasanya memang begitu, Aliando kerap melakukan hal-hal kecil dan sederhana yang membuat Alisha merasa sangat dihargai dan disayang oleh Aliando.


Alisha mengangguk, menyetujui ajakan Aliando.


"Makasih!" ucap Alisha, ia tersenyum saat Aliando memasangkan helm di kepalanya.


☘️


"Apa sebelumnya dia begini?" tanya Benni pada Aliando saat mereka tengah menikmati bakso.


"Maksudnya?" Aliando tak mengerti dengan pertanyaan Benni yang tiba-tiba. Alisha saat ini memang sedang ke toilet, ia tiba-tiba merasa mual saat makan bakso. Seleranya hilang, padahal tadi dia yang ikut bersemangat untuk makan bakso.


"Iya, apa dia tidak terlalu menyukai bakso?" tanya Benni memperjelas.


"Suka, suka banget malah," jawab Aliando.


"Lalu, kenapa sekarang, dia tiba-tiba muntah? pasti ada sesuatu yang gak beres," tegas Benni. Sontak saja, Aliando, Rafael, dan Robby memandang ke arah Benni dengan pandangan yang serius, terlihat sekali di wajah mereka, jika mereka meminta penjelasan yang masuk akal.


"Maksud gue, kalian tau gak, cewek, kalo udah muntah-muntah tandanya apa?" tanya Benni hati-hati.

__ADS_1


"Maksud lo? Dung gitu?" Robby mencoba memperjelas hingga membuat Aliando tersedak.


"Eh, yang bener kalo ngomong, jangan asal!" Rafael mencoba menenangkan suasana.


"Kita lihat aja, biasanya kalo orang lagi hamil apa yang disukai jadi kebalikannya, bawaannya mual dan tidak berselera, waktu kakak gue hamil anak pertama kayak gitu, nyusahin warga serumah, makan mual gak makan makin gak karuan, di kasih makanan favorit, eh, bilangnya enek," jelas Benni.


Aliando hanya diam mendengarkan Beni dengan seksama. Entahlah, apa yang Benni katakan sangat mengganggu pikirannya. Alisha mual karena hamil? Mungkin saja, ada benarnya.


Dua hari yang lalu, dia sempat melihat Alisha berbicara dengan seorang pria di sebuah kafe, sepertinya itu kafe tempat biasanya mereka bertemu, dan orang itu adalah orang yang sama, yang beberapa waktu lalu terlihat berdua dengan Alisha. Namun, waktu dua hari kemarin itu, Alisha keluar dari kafe dengan raut wajah yang sedih.


Ah, entahlah, Aliando ketika itu tidak sampai berpikiran ke arah sana, mungkin saja, Alisha sedang meminta pertanggungjawaban, atau mungkin saja dia sedang curhat, siapa tau pria itu adalah muncikarinya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Aliando dalam hatinya.


"Apa kalian pernah melakukannya, Al?" tanya Robby hati-hati.


Aliando langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Robby. Ia mengerti arah pembicaraan Robby.


"Jangan-jangan ...." Robby menghentikan ucapannya, melihat Aliando, Benni dan Rafael yang menatapnya horor.


"Kamu mau bilang apa?" tanya Aliando. "Katakan aja!" lanjutnya.


"Itu, hasil main dia ma orang, mungkin orangnya lupa pakai pengaman, atau dia gak pake pencegah kehamilan," kata Robby berprasangka buruk.


"Aww" Robby mengaduh karena sebuah sumpit tepat mengenai kepalanya.


"Apaan sih Ben?" protes Robby pada Benni yang tadi melemparkan sumpit.


"Kalo ngomong difilter!" ujar Benni.


Aliando tersenyum tipis, ia tahu jika teman-temannya masih mencurigai Alisha sebagai gadis cabe-cabean.


"Em, jangan marah Al, ini cuma dugaan gue aja," kata Robby yang mengerti maksud Benni melemparkan sumpit.


"Gak papa, aku ngerti kok!" kata Aliando bersikap tenang.


Akhirnya Alisha datang sambil memegang dadanya. Kemudian ia mengambil tisu dan mengelap mulutnya, lalu duduk kembali di tempatnya tadi di samping Aliando.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Aliando sambil melirik Alisha.


"Gak papa," jawab Alisha singkat.


"Kenapa? Ada apa? kamu gak suka baksonya?" tanya Aliando lagi.


"Enggak gitu, bakso ini enak, tapi aku gak tau tiba-tiba aja ngerasa mual, rasanya pusing,"


"Tapi, kamu belum makan, mau makan apa, hm?"


"Gak ada! Ini buat kamu ya, aku enek," kata Alisha sambil menyerahkan tetelan lemak sapi ke mangkok Aliando.


Aliando pun mengangguk. Sementara Robby, Rafael dan Benni hanya memperhatikan interaksi diantara keduanya.


Terlihat biasa saja, masih romantis, memperlihatkan sebagai pasangan yang tanpa ada masalah.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2