Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
8. Incaran fitnah(2)


__ADS_3

"Ada apa, Mel? Kok kayaknya temen-temen pada aneh ma aku?" tanya Alisha pada Melly setelah jam istirahat.


"Tio hilang hape,"


"Trus?" tanya Alisha mencoba untuk mencerna keadaan.


"Udah dalam lima hari ini, temen-temen kita pada kehilangan,"


"Maksudnya?"


"Dari mulai hari Senin, katanya Tina hilang uang dua ratus ribu, Selasa Raisa kehilangan uang tiga ratus ribu, Naira kehilangan jam tangannya yang harganya lumayan mehong"


"Lho, kok bisa?"


"Iya, dia ingetnya waktu terakhir pas wudhu, mau sholat dia simpan di tas,"


"Trus siapa lagi yang kehilangan?"


"Sinta, uang, Gani uang, Jimmy uang, ikhsan jam tangan, dan ini terakhir Tio, hape, kemungkinan ada yang ngambil,"


"Ada pencurian maksudnya?" tanya Alisha yang mendapatkan anggukan dari Melly.


"Trus, udah dilaporkan belum?"


"Udah, sedang di cek CCTV nya,"


"Oh, syukurlah, kalo emang pencurian semoga, bisa ketemu pelakunya,"


"Tapi, Sha, ada yang lihat kamu jam pelajaran olahraga tadi ke kelas," tukas Melly.


"Eh, maksudnya, temen-temen pada curiga ma aku?"


"Iya,"


"Tapi kamu tau kan, tadi aku hanya akan mengganti pakaianku, karena celana olahragaku kena noda darah," jelas Alisha yang mana saat tadi jam pelajaran, dia memang ijin tidak ikut olahraga karena celananya terkena noda darah menstruasi.


"Maaf ya, Sha, tapi kita gak pernah ada kasus kehilangan sebelum kehadiran kamu ke sekolah ini,"


"Wah, jadi ceritanya kamu juga curiga ma aku?"


"Aku harap, aku hanya ikut-ikutan, aku ga bisa nerima kalau kamu terbukti seperti yang dicurigai temen-temen,"


Alisha mengangguk, ia sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Melly.


"Jangan khawatir Mel, Tuhan tau kok siapa yang benar,"


"Ah, leganya," Melly menarik nafas panjang, "Aku seneng, kamu tetep pede, aku yakin kamu bukan pelakunya,"


Alisha hanya tersenyum.


"Dasar pencuri, kalo cuma mau maling ga usah sekolah, ngapain pindah segala ke sekolah ini,"


"Iya, bener-bener sial,"


"Gue kira baik, taunya munafik,"


"Dasar maling... maliiiiing,"


"ngerusak suasana belajar aja,"

__ADS_1


"Cantik-cantik, eh taunya kleptomania,"


"Keluarin aja dari sekolah,"


"Mengganggu saja,"


Chat grup kelas Alisha di aplikasi hijau begitu ramai membicarakan kasus kehilangan, dan yang tersudutkan masih Alisha.


Alisha hanya tersenyum membaca pesan-pesan tersebut.


"Hm kurang kerjaan," gumam Alisha dalam hatinya.


โ˜˜๏ธ


Alisha gemas dengan omongan-omongan tidak jelas tentangnya, semua hanya menyudutkannya. Sungguh Alisha dibuat kesal. Padahal tidak ada bukti apapun yang mengarah pada dirinya, karena setelah CCTV diperiksa, tidak menunjukkan apapun. Sempat ada pemanggilan beberapa siswa yang menjadi korban kehilangan, juga yang menjadi saksi dan Alisha yang menjadi seseorang yang dicurigai, namun tetap saja belum ada titik terang.


Sabtu pagi, setelah berdoa, Alisha meminta ijin pada pak Raka, guru pelajaran Matematika yang juga wali kelas mereka untuk menyampaikan sesuatu.


"Teman-teman, saya masih baru di sini, andai kata ada hal yang tidak berkenan di hati kalian sampaikanlah baik-baik, tidak usah kasak-kusuk di belakang apalagi di grup kelas," Alisha menarik nafas panjangnya.


"Ada hal yang perlu diingat, jangan pernah ghibah, karna sama aja dengan kalian makan bangkai sodara kalian, dan jangan pernah suudzon, ber-tabayyun lah, cari kejelasan, bersihkan pikiran dan mulut kalian, karena sangat berbahaya, mulutmu harimaumu, lidah tak bertulang, jangan menuduh tanpa bukti, jika itu terjadi kalian akan malu sendiri," lanjutnya sangat mantap.


Suasana kelas seketika berubah menjadi hening.


Semua terdiam, terlebih sebelum bel masuk, Alisha memberikan uang ganti pada yang kehilangan.


"Sial, aku harus kehilangan tabungan ini, kalo kayak gini sih, aku harus kerja lagi," gumam hati Alisha waktu itu.


Tiba-tiba Tio mengangkat tangannya. Dia meminta kesempatan untuk berbicara, dan pak Raka mengijinkannya.


"Sha, kamu gak perlu ganti terhadap apa yang tidak kamu lakukan," ucap Tio.


"Tadi dia memberikan semua ini, Pak," kata Tio sambil menunjukkan ponsel baru yang kotaknya masih disegel, lalu uang. Sebelumnya ia memang sengaja mengambil kembali dari teman-teman yang diganti uangnya.


"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya pak Raka kini pada Alisha.


"Gak papa, Pak, sedekah! Saya hanya males aja pak, dikiranya ... saya ga mampu apa, hingga harus mencuri!" kata Alisha bernada sombong.


"Gak perlu, kamu ambil aja, pak Idris sudah menggunakan ilmu wening mingkem," jelas pak Raka. Pak Idris adalah guru agama senior di sekolahnya, ia adalah seorang pemilik panti asuhan dan TPQ. Ia juga terkenal sebagai 'orang pintar' yang mendapatkan karomah, banyak orang yang selalu meminta nasihat dan hikmah pada beliau.


"Apa, Pak? Jangan Pak, kasihan yang benar-benar bersalah, dan gak cuma itu, yang asal tuduh pun, bisa kena akibatnya," kata Alisha terkejut.


"Kamu tau ilmu itu?" pak Raka terheran.


"Iya, bisa aja saya menggunakannya, tapi, saya merasa kasihan sama mereka! Mereka gak akan kuat, Pak,"


Semua yang di kelas semakin terdiam, bahkan tidak sedikit yang tercengang, mereka tidak menyangka jika Alisha mengetahui ilmu yang seperti itu. Mereka mulai sadar, bahwa Alisha tidak bisa diremehkan.


"Ya sudah, kamu duduk, dan ambil kembali ini!" perintah pak Raka sambil menunjuk uang dan ponsel yang ada di atas meja Tio. Karena dengan ilmu wening mingkem, selain orang yang mencuri terungkap, semua barang yang dicuri akan kembali atau minimal ketahuan dimana barang tersebut.


โ˜˜๏ธ


Alisha menyandarkan tubuhnya ke pohon di taman belakang sekolah, matanya terpejam, menikmati halusnya semilir angin yang menerpa wajahnya. Suasana cukup sepi jika jam istirahat. Ia sengaja memilih tempat ini untuk rehat sejenak melepas penat karena teman-teman sekelas.


Tiba-tiba, ada yang hangat terasa di wajah Alisha dan juga aroma parfum yang cukup familiar di hidungnya. Perlahan, ia pun membuka mata.


"Ya Tuhan, bikin kaget aja!" ucap Alisha ketika tahu jika saat ini ada wajah tampan berada beberapa senti di hadapan wajah Alisha.


"Kamu sedang apa, Cantik? Kenapa sendirian disini?" tanya Aliando masih tetap dengan posisinya. Jarak wajah yang sangat dekat.

__ADS_1


"Bisa nggak, kalo wajahnya dipindah dulu baru nanya?"


Aliando tergelak. Ia lalu duduk di samping Alisha.


"Penat, hm?" tanya Aliando.


"Hmm,"


"Lelah?" tanyanya lagi.


"Lumayan," jawab Alisha.


"Masih bisa bertahan dengan sikap temen-temen kamu?"


"Hal sepele, terlalu kekanak-kanakan! Oh, iya, nanti bantu jualin lagi ya,"


"Apa?"


"Hape, tadi Tio ngembaliin, dan akhirnya pak Raka menginstruksikan diambil kembali semuanya,"


"Kenapa ga kamu pake aja?"


"Untuk apa, aku udah punya hape, kebutuhannya sudah terpenuhi,"


"Ya udah, nanti aku kembalikan sama Opun," kata Aliando. Kemarin, Alisha memang meminta bantuan Aliando untuk membeli ponsel, dan Aliando dengan senang hati menolongnya. Ia merasa bahagia, karena Alisha meminta kepadanya, dengan begitu, menurutnya, Alisha percaya dan bergantung kepadanya.


Ia ingat kemarin, saat ingin membantunya, Alisha menolak mati-matian. Sama sekali tidak bisa dipaksa.


"Jangan pernah bertemu aku lagi dan jangan cari aku lagi, karena aku gak akan lagi ada di sekolah!" Itu yang menjadi ancaman Alisha pada Aliando, sehingga jurus andalannya jika "dia tidak menerima penolakan" benar-benar tidak berlaku.


Aliando begitu ketakutan jika Alisha benar-benar meninggalkannya. Karena dia tahu bagaimana nekatnya Alisha.


"Lalu uang-uangnya?" tanya Aliando.


"Sementara ini, ATM-ku nonaktif, aku pakai uang yang ada aja,"


"Beneran kamu baik-baik aja, Cha?"


"Hmm," Alisha mengangguk, "Sebenarnya, kamu udah tau kan jawabannya?"


"Kamu gak baik-baik aja kan, tapi ...." Aliando menghentikan ucapannya. Sementara Alisha melirik Aliando penuh tanya,


"Tapi apa?" tanya Alisha.


"Tapi, karena ada aku, kamu jadi baik-baik saja," canda Aliando.


Alisha tersenyum. Sedikitnya, ia memang membenarkan apa yang dikatakan Aliando.


"Aku benar, kan?" tebak Aliando sangat percaya diri.


"Iyalah, iyaaa, makasih ya," kata Alisha dengan nada seperti seorang kakak memanjakan adiknya yang kecil, "Yang penting, kamu senang lah," imbuhnya.


...๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป...


Love love love


semoga Alisha bisa mengungkapkan perasaannya yaa....


makasih kk readers udah baca. thx buat dukungannya, like, vote n komment .... lopyuol๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2