
Aliando menarik nafas panjang. Ia ingat siapa wanita ini. Wanita yang menggrebek suaminya bersama Alisha malam itu di hotel.
"Iya, Bu, saya suami Alisha," kata Aliando sambil tersenyum tipis.
"Wah, berarti kamu melihat Alisha bareng suami saya di kamar hotel?"
"Iya,"
"Maafkan saya, tapi kamu gak curiga atau marah ke Alisha kan?"
"Tidak! Saya hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja,"
"Saya gak nyangka, kalau Alisha sudah menikah, rasanya, kalian masih terlalu muda, dan beruntungnya Alisha punya suami seperti kamu baik, tampan, dan melindungi,"
Aliando hanya tersenyum kecil.
"Ya sudah, maaf atas kekacauan ini, kami pamit, sekali lagi saya ucapkan terimakasih Alisha dan semuanya kami minta maaf," pamit Elia sambil menarik tangan Mia, sehingga mereka pun meninggalkan meja makan Alisha.
"Oh jangan-jangan, mas juga nyewa jasa dia untuk menyelidiki aku," ujar Vanya pada Arsyad sambil menunjuk Alisha yang bajunya sedang dilap dengan tisu oleh Aliando.
"Iya, dia dan timnya, karena aku gak ada waktu buat menyelidiki kamu!"
"Mas keterlaluan, tau gak!"
"Kamu yang keterlaluan!" Arsyad tidak mau kalah. "Kamu hancurkan kepercayaanku!" imbuhnya.
Vanya kebingungan, nyatanya dia memang bersalah.
"Kamu suka Alex kan, dan kamu sudah bosan sama aku, maka aku akan mengabulkan permintaan kamu!" kata Arsyad.
"Maafkan aku, Mas, aku menyesal,"
"Sudah ku maafkan, tapi kita tidak perlu lagi bersama, aku tidak membutuhkan seorang pengkhianat,"
"Mas gak bisa giniin aku," rengek Vanya.
"Udah lah, Bu, gak usah ngerengek, papah udah gak mau sama kamu, gak usah maksa, apa yang kamu tanam maka itu yang kamu tuai," kata Alisha sangat jelas.
"Eh, kamu gak usah ikut campur ya, ini urusan keluarga saya," ujar Vanya bernada tinggi.
"Dia menantu papah, kalo tante tau, dan tante sekarang bukan apa-apanya papah," kata Aliando membela Alisha.
"Halah belagu," komentar Vanya.
"Udah, kamu pergi dari sini, sebelum aku panggilkan satpam," perintah Arsyad pada Vanya.
"Nggak, aku nggak akan pergi sebelum kamu membiarkan aku kembali ke rumah," mohon Vanya.
"Itu tidak akan pernah terjadi Vanya," kata Arsyad.
"Kumohon Mas, please,"
__ADS_1
"Menyedihkan sekali sih, nggak punya malu, ngemis-ngemis sama orang yang sudah kamu khianati," ujar Alisha menohok.
"Diam kamu!"
"Apa? Sayang banget orang sebaik papah dapetin wanita kayak kamu," ucap Alisha tegas.
"Eh, kamu anak kecil nggak usah ngomong sembarangan, ya,"
"Udahlah, Bu, mau gimana pun Ibu udah nggak layak dengan papah," kata Alisha dengan nada datarnya.
"Eh, nggak usah belagu kamu, kamu cuma baru jadi menantunya aja! kamu bukan apa-apa!" Vanya makin meninggi.
"Aku memang bukan siapa-siapa, tapi aku bukan seorang pengkhianat,"
"Kurang ajar! jaga ucapan kamu!" marah Vanya sambil menunjuk Alisha yang duduk tepat di hadapannya.
"Lho! Itu kenyataan kan, apa namanya kalo wanita bersuami, pergi dan tidur dengan pria lain?"
"Sialan!" Vanya hampir menampar pipi Alisha kalau saja Alisha tidak menahannya, ia mencengkram kuat-kuat lengan Vanya.
"Aw, lepasin, dasar gila!" Vanya memberontak, meminta Alisha untuk melepaskan cengkraman di lengannya.
"Kamu gak bisa nampar saya! MEGANG SAYA SAJA KAMU GAK PUNYA HAK BU VANYA EMERALDA!" tegas Alisha sambil melepas tangan Vanya seperti membuangnya.
Ketiganya terkejut, bagaimana Alisha bisa tau nama lengkap Vanya, padahal Arsyad sama sekali tidak pernah memberitahunya, bahkan Aliando sendiri yang statusnya sebagai anak tiri sama sekali tidak pernah mengetahui nama lengkap Vanya.
"Cha!" panggil Aliando sambil memegang pundak Alisha, mencoba menenangkan hati istrinya itu.
"AKU, ICHA ... ANAK PAPAH REYNALDI, YANG KAMU TINGGALKAN SEJAK USIAKU TIGA TAHUN, YANG KEHADIRANNYA SAJA, TIDAK PERNAH KAMU HARAPKAN SAMA SEKALI!"
Vanya, Aliando dan Arsyad terkejut dengan semua kata-kata Alisha.
"Apa? Hm, Kamu Kaget? Kamu Gak Nyangka Kalo Kamu Bakal Ketemu Anak Kandung Kamu? Ah, Tidak, Kamu Gak Pernah Nganggap Aku Ada, Gak Pernah Ngakuin Aku Anak ...," Alisha menjeda sesaat kalimatnya.
"Tapi aku bersyukur dengan keadaan seperti ini, aku juga nggak mau punya ibu kandung kayak kamu, aku malu tau nggak,"
"Ka-mu A-li-sha Le-an-dra?" tanya Vanya terbata. Jujur saja, dia memang sangat terkejut.
"Masih ingat?" tanya Alisha sinis.
"Ini ibu kamu, Cha?" tanya Aliando. pada Alisha.
Alisha tidak menjawab. Ia melayangkan pandangan tajamnya ke arah Vanya.
Vanya terdiam memperhatikan wajah Alisha. Wajah cantik perpaduan antara wajah milik Reynaldi dan dirinya. Bahkan ia bisa merasakan seperti melihat dirinya saat masih usia remaja. Ah, kenapa dia tidak menyadarinya dari tadi?
"Oh, kamu masih hidup ya, kayaknya kamu baik-baik aja, gimana keadaan ayahmu? masih susah kah hidupnya?" tanya Vanya tanpa merasakan kerinduan sedikitpun pada Alisha, bahkan yang ada hanya ingin memojokkan Alisha dan ayahnya.
Aliando dan Arsyad terkejut dengan pertanyaan Vanya. Jangankan memeluk Alisha karena lama tidak bertemu, menanyakan keadaannya saja tidak. Padahal jelas Alisha adalah anak kandungnya.
"Aku dan papah, hidup sangat bahagia tanpa kamu!"
__ADS_1
"Baguslah," kata Vanya enteng.
Tiba-tiba datang seorang wanita menampar pipi Vanya, jelas saja semua yang ada di situ terkejut.
"Eh, sial! kamu siapa? kenapa nampar aku?" protes Vanya langsung berdiri hendak membalas tamparan pada wanita itu.
Namun sayang sekali, rupanya bodyguard wanita tersebut langsung menghalangi.
"Dasar jallang, pelakor! aku istri Alex!" kata wanita tersebut.
"Oh, kamu!" ucap Vanya tidak merasa takut, ia mencoba kembali untuk membalas tamparan dari wanita itu. Keributan pun terjadi.
Arsyad segera berdiri, mencoba menenangkan suasana. Namun, tidak bisa. Kedua wanita itu berkelahi, hingga akhirnya mereka ditangani oleh pihak keamanan setempat.
Arsyad sudah tidak peduli dengan Vanya, ia tidak ingin ikut campur dengan masalah yang menimpa wanita itu. Yang saat ini ia khawatirkan adalah keadaan Alisha.
Semenjak tadi, Alisha hanya diam dan menangis. Ada sesak dan nyeri di hatinya yang sulit dia keluarkan.
"Kita pulang ya," ajak Aliando pada Alisha.
"Iya, sebaiknya kita pulang, di rumah bisa lebih tenang," kata Arsyad.
"Ayo, Cha," ajak Aliando lagi, nadanya penuh kehati-hatian.
"Dia ibu kandungku, Bang, yang kata abang aku harus berdamai dengannya? Abang lihat kan? bahkan dari nada bicaranya saja, dia sama sekali tidak merindukan aku? Haruskah aku menganggapnya ibu? dia hanya orang yang mengandung dan melahirkan aku," isak Alisha pada Aliando.
Aliando tak kuasa melihat tekanan dan kesedihan yang dirasakan oleh Alisha. Ia segera meraih kepala Alisha dan menariknya masuk ke dalam dekapan di dadanya.
"Tak usah berdamai dengannya, cukup do'akan kebaikan saja buat dia, Alloh Maha Tahu, Alloh tahu yang terbaik buat kita," kata Aliando sambil mengusap punggung Alisha.
...π»π»π»π»π»...
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Mphoon, pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa.
Judul : Keikhlasan Hati Seorang Istri
Ini blurbnya:
Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Akibat tekanan yang cukup besar dari orang tua suaminya, akhirnya Suci berdoa dan berserah diri kepada Pencipta-Nya. Hingga akhirnya Suci mendapatkan pencerahan dan memiliki solusinya sendiri.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Suci sudah berusaha ikhlas untuk merelakan sang suami tercinta supaya mencari pendamping baru untuk segera memberikan cucu kepada keluarga Dimas yang selalu menuntut anak dari Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?
__ADS_1