
Aliando menatap layar ponselnya. Sudah empat puluh lima menit Alisha tidak juga membalas pesannya, sejak gadisnya itu masuk ke hotel.
"Pliiiis, Alisha, jawab pesanku!" teriak Aliando seperti putus asa.
Saat ini dia sedang duduk di kafe yang letaknya di seberang hotel. Hatinya kalut dan pikirannya buntu. Sudah tiga cangkir cappucino hangat yang dia habiskan, dan ini adalah yang keempat kali dia memesannya. Padahal sebelumnya, meskipun banyak masalah, dia tidak pernah sekacau ini.
Perasaan Aliando benar-benar berantakan. Pikirannya melayang kemana-mana. Apa mungkin, Alisha terlibat dalam prosol (prostitusi online)?
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" ucapnya sambil menyugar rambutnya ke belakang, kemudian meremasnya kuat-kuat.
"Tidak! tidak mungkin dia berbuat seperti itu! feel aku mengatakan dia masih gadis yang baik-baik!" pikiran Aliando berubah mencoba menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk.
"Ayo, Cha, diangkat!" ucap Aliando frustasi. Sudah panggilan yang ke sekian, namun tak ada juga jawaban dari Alisha.
"Sebenernya apa yang kamu lakukan di dalam sana, haghh?" tanyanya yang tidak mungkin di jawab oleh Alisha. Tatapannya ke arah hotel yang ada di seberang, begitu tajam dan seakan siap menerkam.
"Cha, cha, kenapa kamu harus kerja seperti itu?" Aliando masih bergumam tidak jelas.
"Masih ada kan pekerjaan yang halal? ya Tuhan, aku ga bisa percaya, aku gak bisa terima!"
"Aku harus gimana, Tuhan? Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah sangat mencintainya,"
"Apa aku mencintai gadis yang salah? yang sudah rusak? gadis yang tidak ada kehormatan dan kesuciannya?" kali ini Aliando bergumam dalam hatinya.
"Haruskah aku mencintai gadis seperti ini?" ucapnya dengan nada sangat pelan, hanya dia yang bisa mendengarnya.
"Inikah yang kamu bilang aku akan menyesal jika sudah mengetahui diri kamu?" kembali bathinnya bersuara.
"Cha, udah berapa orang yang tidur dengan kamu?" dengan polosnya otak Aliando memikirkan sampai ke arah sana.
"Tapi, kalau kamu gadis seperti itu kenapa kamu bersikap seakan kamu gadis baik-baik, tidak mau dipegang, dicium, dipeluk?Apa akunya tidak layak, apa aku kurang duitnya? apa aku bukan tipemu yang om om?" hatinya masih bergumam. Ada rasa sakit yang benar-benar tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Pertama kali mencinta, pertama kali disakiti, dan sayangnya aku sudah sangat mencintainya," ratapnya dalam hati.
Lagi, dia menghabiskan cappucinonya, namun rasanya sudah malas untuk kembali memesannya.
Kini tatapannya kembali fokus pada layar ponsel, masih sama, tak ada balasan pesan.
Dia mencoba sekali lagi untuk menghubungi Alisha, namun tetap saja tidak ada respon apapun.
Aliando menjatuhkan kepalanya ke meja. Rasanya ada beban yang tidak bisa diangkatnya.
Sesaat mata terpejam, bayangan-bayangan Alisha yang ceria, yang penuh kehangatan, dan yang cuek.
__ADS_1
Ia pun kembali menegakkan tubuhnya bersandar di sandaran kursinya. Ia mengambil udara dalam-dalam, ia yakin feelnya tidak salah. Alisha adalah gadis yang baik, yang perlu di lindungi dan ia perhatikan.
"Cha, apapun kamu, aku janji akan selalu menyayangimu, aku siap menerima bagaimanapun keadaan kamu! Aku tidak peduli seperti apa kamu," putus Aliando akhirnya.
Rasa sayangnya sudah tertanam dan mengakar terlalu dalam, dan Aliando sama sekali tidak ingin melepas Alisha apapun keadaannya.
"Kamu adalah milikku, Cha! Tuhan sudah memberi kamu untuk melengkapi hidupku," ucapnya lirih sambil menarik nafas panjangnya sekali lagi.
Aliando pun mengembangkan senyumannya, setelah akhirnya ia bisa menata hati untuk bisa menerima keadaan Alisha.
βοΈ
Alisha keluar dari hotel, ia segera masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya beberapa saat lalu di depan hotel. Kali ini pakaiannya sudah berganti. Bukan lagi pakaian yang biasa dia pakai, tapi lebih dari itu, pakaian cenderung minim, pakaian yang cukup seksi menurut Aliando.
Aliando menahan diri untuk tidak mengikutinya, hingga ia mengetahui keberadaan Alisha melalui GPS.
Entahlah, saat ini justru Aliando merasa sangat khawatir. Malam itu, ia segera ke lokasi yang ditunjukkan oleh GPS. Sebuah hotel bintang lima.
"Ya ampun, hotel lagi? Kamu kuat maen berapa kali, Cha?" pikiran Aliando kali ini ke mana-mana, dia benar-benar tidak mengerti apa yang dilakukan Alisha.
"Kamu membuatku gila, Cha!" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
Ia melangkah pasti, masuk ke dalam hotel. Bertanya pada resepsionis tentang Alisha, yang ia sendiri sudah tahu bahwa tidak akan semudah itu ia dapatkan jawaban. Mana ada resepsionis mau memberitahukan begitu saja tentang tamu hotelnya?
Hari sudah semakin malam, tiba-tiba dia melihat seorang wanita paruh baya, berjalan tergesa, bertanya pada resepsionis kamar
dua ratus tiga.
"Oh, Nyonya? Icha ya?" ujar resepsionis pada wanita tersebut.
Sontak Aliando terkejut mendengar nama Icha disebut oleh resepsionis, ia langsung mengalihkan fokusnya untuk memperhatikan apa yang dibicarakan oleh wanita dan resepsionis tersebut. "Ini kuncinya, Nyonya, silahkan!"
"Oke, terima kasih!" ujar wanita itu sambil berlalu dengan sangat tergesa menuju kamar yang dimaksud.
Mendengar orang lain menyebutkan nama Icha, membuat Aliando merasakan hal yang lain, aaada getaran yang tak biasa di hatinya. Ia tahu, bahwa panggilan 'Icha' tidak hanya satu di dunia ini. Namun, entah kenapa, pikiran dan hati Aliando kali ini, seakan memerintahkannya untuk mengikuti wanita paruh baya tersebut.
Benar saja, ketika pintu kamar terbuka, tampaklah Alisha beserta seorang pria paruh baya. Mereka terlihat terkejut. Untung saja Alisha masih memakai pakaian lengkap. Sementara si pria tengah mengenakan bathrobe (handuk kimono), seperti habis mandi.
"Oh, jadi ini kelakuanmu ya, Mas, kalau di luar kota? bersenang-senang dengan jallanng!" ucapnya tanpa basa basi.
"Jadi, selama ini, kamu nggak lagi nyentuh aku, enggak mau lagi berhubungan dengan aku, karena kamu lebih senang jajan di luar, iya!!" ucap wanita itu makin nyalang.
Alisha dan pria itu sama-sama mematung, namun wajah Alisha datar seperti tidak merasa bersalah, sedangkan si pria itu bingung gelagapan, kerena jelas apa yang dilakukannya adalah hal yang salah.
__ADS_1
"Lihat! kamu sudah ketangkap basah! Dan kamu jallanng, pergi dari sini!" usir wanita itu pada Alisha.
Tanpa pikir panjang, gadis itu segera mengambil tasnya kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut. Ia segera berlari keluar hotel, melihat ke kanan dan ke kiri. Tak ada satupun taksi, karena memang dia belum memesan taksi.
Akhirnya, ia pun memutuskan untuk berjalan kaki sambil membuka ponselnya, bermaksud untuk memesan taksi online.
Ia menarik nafas panjangnya, ada seratus satu panggilan tak terjawab dari Aliando. Ia memang sengaja tidak mengangkat panggilan darinya, walaupun ponselnya dalam mode hening, tapi getaran di ponsel masih bisa ia rasakan. Selama seharian ini, ia memang sengaja mengabaikan Aliando.
"Maafkan aku, kak Ando...," ucapnya lirih.
Kemudian ia membuka chat di aplikasi hijaunya
ada banyak pesan dari Aliando.
"Cha, kamu dimana?"
"Cha, angkat teleponku!"
"Cha, plis, jangan gini!"
"Aku minta maaf soal tadi siang!"
"Mari kita bicara lagi,"
Itu sebagian diantara pesan yang dikirimkan Aliando kepadanya. Terakhir, ada chat yang dikirim sekitar empat puluh menit yang lalu.
"Cha, kamu dimana? udah kerjanya? pulangnya aku jemput ya?"
Alisha yang pikirannya saat ini sedang tak karuan, hanya bisa terenyuh dan terharu membaca seluruh isi pesan yang dikirimkan oleh Aliando sampai beberapa waktu yang lalu.
"Ya, Tuhan, baik banget kak Ando, terima kasih, Tuhan, telah menghadirkan kak Aliando dalam hidupku itu," doanya sambil meneteskan air mata.
...π»π»π»π»π»...
Yaaaa Aliando galau neh... kacau.... semoga Alisha baik-baik saja ya...
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
Oiya sambil nunggu Alisha pulang ke rumahnya, ada rekomendasi novel bagus neh, pokoknya bagus banget karya sahabatku kak Mphoon, judulnya Ketulusan Hati Seorang Istri... cuss ah, mampir yuks...
pokoknya kereeen bgt. jangan lupa dukungan buat kak authornya ya..... πππ
__ADS_1
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...