Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
85. kembali ke sekolah (1)


__ADS_3

"Aku gak papa, Bang, Abang pulanglah!" kata Alisha berusaha menenangkan Aliando, dan memang pada kenyataannya, Alisha baik-baik saja. Cowok yang menabraknya sudah berlalu.


"Ck, hari pertama tanpa aku, belum lepas dari pandanganku, kamu udah celaka,"


"Celaka apanya, Bang? Aku hanya tidak sengaja jatuh, gak ada yang buat aku luka," tegas Alisha. Ia tahu jika suaminya itu khawatir yang berlebihan.


"Ah iya, belum apa-apa aja, sudah ada cowok yang deket-deket, apalagi kamu sok ramah,"


"Lho, wajar Bang, masa mau marah-marah?"


"Seharusnya seperti itu, dia kan udah nabrak kamu, kamu harusnya marah,"


"Itu bukan sengaja Bang,".


"Sama aja!"


"Beda, Bang!"


"Terserah!" ucap Aliando singkat. Ia malas berdebat. Wajahnya terlihat penuh kesal. Namun bagi Alisha, justru itu adalah wajah menggemaskan.


"Iya, iya Abang, aku hanya mencoba bersikap biasa,"


"Kamu gak boleh menatap cowok dengan tatapan seperti tadi,"


"Emang natap aku kayak apa?"


"Sok mengagumi,"


"Wajar, Bang, mata ini juga tau ada yang bening, cowok ganteng baru masuk sekolah ini,"


"Apa kamu bilang?" tanya Aliando.


"Apa? yang mana?"


"Kamu bilang cowok tadi apa?"


"Oh, ganteng,"


"Hmh, bisa-bisanya memuji laki-laki lain di depan suaminya,"


"Hah, iya iya, maaf," ucap Alisha, ia akhirnya menyadari jika sebenarnya Aliando sedang cemburu.


"Tapi, gak ada yang bisa ngalahin ketampanan Abang," kata Alisha sambil melirik Aliando dan memindai wajahnya. Bibirnya tersenyum menggoda Aliando yang sedang cemberut.


"Abang marah?" tanya Alisha hati-hati.


"Gak!"


"Abang cemburu?" tanya Alisha lagi.

__ADS_1


"Menurutmu?"


"Menurutku ... Abang gak lagi cemburu,"


Aliando melirik gemas. Ia tahu, jika Alisha sedang menggodanya. Mana ada, cemburu dikatakan tidak, padahal jelas-jelas hatinya saat ini sedang kesal karena cemburu.


"Ah, iya iya, Abang cemburu!" kata Alisha cengengesan mencoba mencairkan suasana.


"Gak lucu, Cha," tegas Aliando.


Cup


Alisha tiba-tiba mengecup pipi Aliando sekilas.


Cowok tampan itu terkejut, namun ia sangat menyukainya.


"Wah, kamu berani nyium aku di tempat umum, Cha,"


"Gak papa, gak ada yang lihat, lagian ama suami sendiri ini,"


"Hmh, sekarang, kamu bilang gitu, tadi pas digendong kamu protes,"


"Iya iya, maafin aku ya, Bang,"


"Baiklah, kali ini aku maafkan, tapi satu syarat, kamu tidak boleh menatap kagum kepada cowok lain lebih dari dua detik,"


"Hah, yang benar aja, Bang,"


"Lah, kalau memperhatikan pak guru yang sedang menjelaskan materi gimana?"


"Kalau bukan menatap kagum, silakan lama gak papa, seperti memperhatikan pak guru yang sedang menerangkan di kelas, itu it's oke,"


"Wah, Abang cemburunya kebangetan,"


"Aku gak peduli, pokoknya, kamu harus nurut, nggak boleh nolak,"


Alisha menarik napas panjang.


"Pokoknya kalo kamu mau menatap kagum orang lain tidak boleh lebih dari dua detik, ingat itu ya!" tegas Aliando.


"Gak bisa nambah, Bang?" goda Alisha.


"Gak! kamu itu, boleh menatap kagum selama tiga detik lebih, hanya padaku seorang,"


Alisha tersenyum sambil menutup mulutnya, ia tidak menyangka betapa posesifnya suaminya itu. "Iya iya, Abang, aku hanya akan melihat cowok tampan sebanyak dua detik saja, karena jika lebih dari itu, aku hanya akan menatap ketampanan suamiku seorang," kata Alisha sambil menepuk lembut dada Aliando.


Aliando tersenyum gemas.


"Sudah, sana, sudah pada baris di lapangan," kata Aliando memerintah.

__ADS_1


"Iya, aku pamit ya, Bang," kata Alisha sambil mengecup punggung tangan Aliando.


"Hmm," kata Aliando sambil mengusap pucuk kepala Alisha.


🌡


Hujan. Hari pertama sekolah yang cukup dingin. Setelah apel pagi tadi, cuaca begitu sejuk bahkan sebelum masuk kelas, terasa gerimis halus turun. Sehingga tidak perlu berpayah kepanasan karena cahaya matahari.


Alisha memandang keluar jendela kaca kelasnya, saat ini hujan turun sangat deras hingga keadaan sekitar dalam jarak pandang beberapa meter tidak cukup terlihat jelas. Hanya samar-samar seperti kabut tertutup lebatnya hujan.


"Hmmh, kenapa aku merindukan Abang ya?" tanya Alisha dalam hati.


"Kira-kira, Abang sedang apa saat ini?" imbuhnya masih dalam hati.


Pikirannya menerawang tidak jelas. Apalagi sejak tadi Aliando tidak mengangkat teleponnya, juga tidak membalas pesannya.


"Jangan-jangan di rumah, dia sedang diganggu Michelle," gumamnya kali ini dengan prasangka tidak karuannya.


"Hai, gak nyangka ternyata kita sekelas," kata cowok bertubuh atletis yang pagi tadi menabraknya di depan pintu gerbang. Namanya Fahri. Alisha memang sempat terkejut dengan kehadirannya saat tadi pagi ia memperkenalkan diri di depan kelas.


Alisha hanya melirik sekilas ke arah Fahri yang tiba-tiba datang menghampiri dan duduk di kursi sebelahnya, tersenyum kecil, kemudian kembali memandangi hujan di balik jendela.


"Kamu sendirian?" tanya Fahri.


Alisha saat ini memang sedang duduk sendiri. Naira yang teman sebangkunya sedang ke toilet dan belum kembali.


Saat ini, para guru sedang meeting. Jadi suasana kelas memang tidak terlalu terkondisikan dengan baik. Ada yang bermain game melalui ponsel mereka, ada yang saling bergosip, ada yang membaca novel, ada juga yang memilih menyendiri menatap hujan, itu Alisha.


"Eh, nggak, kan ada kamu, sebelumnya ada Naira," jawab Alisha sambil melirik kembali Fahri. Hanya sekilas, ia ingat betul, jika dia tidak diijinkan menatap laki-laki lain lebih dari dua detik.


"Siapa nama kamu? Kita belum kenalan kan?" tanya Fahri.


"Aku Alisha, tanpa berkenalan resmi kayak gini juga, sebenarnya lama-lama kamu bakal tau semua nama temen-temen disini, kita kan sekelas,"


"Kamu bener, tapi aku pengen berkenalan langsung dengan kamu, biar terasa spesialnya?"


"Maksudnya?"


"Kamu cewek spesial, kamu sangat menarik, dan kamu adalah cewek cantik pertama yang aku temui di sekolah ini, aku sangat suka, ini adalah hari keberuntunganku pertama kali masuk sekolah ini,"


Alisha hanya mengangguk, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke jendela. Membiarkan Fahri. Sejujurnya, ia sama sekali tidak menyukai apa yang baru saja Fahri ucapkan. Ia merasa Fahri terlalu percaya diri. Sehingga ia tidak ingin menanggapi lebih jauh, karena menurutnya, itu adalah pujian gombal seorang laki-laki.


Ah, Alisha lupa bagaimana ketika dia pertama kali masuk ke sekolah Garuda, bahkan saat itu Aliando dengan sangat percaya dirinya mengakui dia sebagai pacar. Dan perasaannya saat itu cukup welcome menerima perlakuan Aliando.


Namun, entahlah untuk kali ini, dia benar-benar tidak ingin mendengar pujian dari laki-laki lain. Hanya Aliando. Dia benar-benar jatuh cinta pada Aliando, sehingga, di hati dan pikirannya saat ini pun hanya Aliando.


Dan entah ada apa dengan penglihatannya, ia seperti melihat sosok Aliando di kejauhan, tepatnya di gazebo yang terletak di sudut lapangan upacara, diantara taman bunga mini di sekolahnya.


"Abang," panggilnya lirih. Ia mencoba mempertajam pandangan ke objek yang dimaksud. Meskipun keadaan sekitar memang membuat jarak pandang tidak terlalu jelas, ia tetap meyakinkan dirinya, jika orang yang dilihatnya adalah benar Aliando.

__ADS_1


"Maaf, permisi!" kata Alisha dengan perasaan campur aduk.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2