
Alisha dan Aliando sedang berada di rumah sakit. Menjenguk Melly. Menurut kabar, dia jadi korban begal. Jelas, kabar ini sangat mengejutkan. Pasalnya, tidak pernah terdengar berita tentang begal di kota ini.
"Ya, Allah, Melly," Alisha tidak mampu mengucapkan kata-kata lainnya lagi. Ia melihat Melly terbaring dengan muka yang penuh lebam. Aliando dan ibunya Melly menunggu di luar, karena Melly ingin berbicara empat mata dengan Alisha.
"Lo puas kan, Sha?"
"Ada apa Mel? Aku gak paham,"
"Bukannya lo udah tau akibat dari ilmu wening mingkem?"
Alisha terdiam mencerna perkataan Melly.
"Maksud kamu? Jangan bilang, kamu yang melakukannya?" terka Alisha.
Ia sebenarnya tidak yakin jika itu karena ilmu wening mingkem yang digunakan pak Idris, karena pak Raka sempat bilang, jika pak Idris tidak jadi menggunakannya, hanya menggertak agar semua siswa merasa khawatir terlebih bagi siswa yang mencuri.
Jadi, Sabtu kemarin, semua siswa di kelas Alisha memang dipanggil satu per satu ke ruangan pak Idris. Selama di ruangan hanya diminta untuk minum air putih yang telah disediakan. Seolah-olah, itu adalah air yang jika diminum oleh orang yang mencuri akan ada efeknya.
"Kemarin Sabtu, gue udah jujur sama pak Idris, jadi, gue gak minum airnya, tapi ternyata berefek juga buat gue, pasti lo menggunakan ilmu itu kan?" Melly mulai bercerita.
"Nggak Mel, aku bersumpah,"
Tiba-tiba Melly menangis. Ia merasa sangat bersalah, karena selain telah memfitnah Alisha mencuri, ia juga menuduhnya menggunakan ilmu wening mingkem.
"Kenapa, Mel?" tanya Alisha.
"Maafin gue, Sha,"
"Gak papa, aku gak merasa dirugikan kok,"
"Bukan itu, Sha, gue temen yang jahat, gue berpura-pura baik sama elo,"
"Maksud kamu?"
"Jujur aja, gue suka mas Al dari SMP, gue memang ngikutin dia sampai sekarang, gue kecewa karena dia ternyata udah punya pacar ...."
"Oh itu ... aku udah tau kok,"
"Elo tau?" tanya Melly sambil mengusap air matanya.
Alisha mengangguk. Ia memang bisa merasakannya sejak pertama kali Melly menceritakan tentang Aliando. Ia tahu jika Melly menyukai Aliando dari cara Melly bercerita.
"Gue gak suka elo, Sha, gue kerjasama ma Nikita, buat ngejebak elo, dengan ngefitnah kalo elo ngebully Zoya, trus, fitnah elo yang mencuri ... semua itu dilakukan agar elo gak tenang, dan keluar dari sekolah,"
Alisha terdiam, ada kecewa di hatinya yang sulit sekali dia ungkapkan.
"Maafkan gue, Sha, gue salah,"
Alisha mengangguk, wajahnya datar. Jujur, hatinya sangat kecewa.
"Tadinya, gue kira ini merupakan efek dari ilmu wening mingkem, di siksa orang, tapi gue sadar, kalo ini karma buat gue,"
Alisha masih diam.
"Sebenarnya ... gue seperti ini, adalah perbuatan Nikita, dia gila, Sha, elo harus hati-hati,"
Alisha terkejut. Sebenarnya, ketika pertama kali melihat kondisi Melly, ia memang tahu jika itu bukan perbuatan begal, dan ternyata kecurigaannya benar.
"Bukannya kalian kerjasama? lalu kenapa kamu dipukuli?"
"Dia gak terima kegagalan, Zoya juga waktu itu kena imbas, tapi tidak separah gue, karna dia hanya diam saja tidak melakukan perlawanan, jadi Nikita dengan cepat mengampuninya,"
"Sementara kamu melawannya?" tanya Alisha.
"Iya, gue ngelawan dan akhirnya dikeroyok,"
Alisha tidak habis pikir, kenapa ada cewek seperti Nikita.
"Nikita menggila semenjak ada elo, Sha,"
Alisha mengernyitkan keningnya mencoba memahami perkataan Melly.
__ADS_1
"Dulu, sebelum ada elo, dia adalah kakak tingkat yang baik dan manis, yaaa walau mungkin itu hanya sebagai imej aja biar bisa pas jika bersanding dengan mas Al,"
Alisha hanya bisa diam, ia tidak dapat memberikan komentar. Bibirnya seakan sulit untuk berbicara. Untunglah, Aliando datang, kemudian mengajaknya pulang.
โ๏ธ
"Ada apa, hm?" tanya Aliando. Ia merasa jika gadis cantiknya itu sedang memikirkan sesuatu yang membuat perasaannya tidak nyaman.
Saat ini, mereka sedang duduk di pinggir danau, tempat 'kebersamaan' mereka pertama kali.
"Kenapa tiba-tiba ingin kesini?" tanyanya lagi.
"Pingin lihat angsa," kilah Alisha.
"Lihatlah angsanya, tapi kamu ga bisa nutupin perasaan gundah kamu,"
"Sok tau,"
"Tapi, emang bener, kan?"
"Apa kamu punya seorang teman? atau mungkin beberapa teman?"
"Punya,"
"Apa kamu percaya sama temen kamu?"
"Tidak! Aku hanya percaya pada diriku sendiri!" jawab Aliando tegas.
Alisha terkejut mendengar jawaban itu.
"Wah, pantesan kamu selalu sendirian, ternyata emang kamu gak punya temen, atau mungkin ga ada yang sanggup berteman dengan kamu, karena kamu aneh!" komentar Alisha.
"Ck, otak kamu ini emang perlu dibersihin! Jangan suka su'udzon, Cha!" ucap Aliando.
"Tapi, selama sebulan aku sekolah dan bareng kamu, aku ga pernah lihat kamu bareng temen kamu,"
"Berteman tidak harus bersama, kan?"
"Iya sih, tapi apa temen-temen kamu menjauh karna sifat otoriter kamu? pemaksa, egois, aneh?" terka Alisha.
"Ish, aku bukan muji kamu,"
"Terserah, tapi yang jelas temen-temenku bukan menjauh, tapi aku lah yang memberi batasan!"
"Kenapa?"
"Ingin aja!"
"Berarti, ga ada temen yang kamu percayai ya?"
"Aku hanya percaya pada diriku, terutama feel aku,"
"Ah iya, feel," Alisha mengangguk, "Apa kamu gak takut, kalo feel kamu salah?"
"Selama ini feel aku gak pernah salah! Termasuk feel aku sama kamu,"
"Apa kamu percaya sama aku? Sampai-sampai aku dijadiin pacar sama kamu?" tanya Alisha.
"Sudah kubilang aku hanya percaya pada feel aku,"
"Berarti kamu gak percaya sama aku?"
"Percaya," jawab Aliando tegas.
"Lho, bukannya kamu hanya percaya sama feel kamu?"
"Iya, karena feel aku bilang, kalo aku percaya kamu,"
"Aduh, pusing, otakku gak nyampe dengan cara pandang kamu!" kata Alisha sambil memegang keningnya seperti orang yang sakit kepala.
"Ya udah, gak usah dipikirin, kasihan otak kamu terlalu bekerja keras!" kata Aliando merasa lucu dan gemas pada Alisha.
__ADS_1
Alisha mengerucutkan bibirnya.
"Lalu kalo kamu, apa kamu punya teman?" tanya Aliando kini.
"Punya!" jawab Alisha.
"Apa kamu percaya sama temanmu?"
"Seharusnya memang seperti itu, kan?'
Aliando terdiam, menatap Alisha dengan tatapan menyelidik.
"Tapi kayaknya kamu sedang diuji soal kepercayaan pada temen!"
Alisha menarik nafasnya sangat berat, lalu melepasnya, sesaat membuat perasaan lega pada dirinya.
"Ternyata sulit menemukan teman yang benar-benar tulus!" ujar Alisha kecewa.
"Hmm, kamu bener, bahkan ketika aku mencintaimu pun, aku juga gak tulus, karna aku ingin kamu juga mencintaiku," ujar Aliando.
"Hei ... cinta? gimana aku bisa cinta kamu? Aku aja masih ragu dengan semua ini! Emangnya kamu itu beneran cinta sama aku?" tukas Alisha.
"Tentu, Cha!"
"Aku masih gak percaya!"
"Kayaknya, kamu bener-bener krisis kepercayaan deh!" komentar Aliando.
"Bisa jadi, bahkan aku juga gak percaya sama hubungan kita ini, apa iya sih kita pacaran?"
"Jadi, sebulan ini kamu masih gak percaya sama cinta aku dan hubungan kita?"
"Jelas nggak lah, bukannya kamu juga membolehkan untuk aku gak percaya?"
"Ya, terserah, tapi sekali lagi, aku yakinkan kamu, kalo aku sungguh-sungguh cinta kamu dan hubungan kita ini real! Bukan mainan!"
"Maaf, aku masih gak percaya!"
"Gak papa!"
"Kamu ga marah?"
"Ngapain marah? feel aku mengatakan gak perlu! Aku yakin suatu hari nanti kamu akan percaya,"
"Ya kita lihat aja, sambil nunggu bukti dari cinta kamu!"
Aliando tersenyum. Pandangannya beralih ke arah danau.
"Apa kamu pernah percaya pada seseorang?" tanya Aliando.
"Pernah,"
"Siapa?"
"Ayahku! Satu-satunya orang yang tulus!"
"Lalu dimana ayahmu?"
"Sudah meninggal, dan, setelah ayahku gak ada, aku harus hidup sendiri ...," Alisha menjeda kalimatnya. "Awalnya aku gak percaya pada dunia, aku takut menghadapinya, tapi aku ubah cara pandang ku, mau kita percaya atau tidak, dunia akan selalu seperti ini, kita lah yang harus bisa bertahan dan yakin!"
"Kamu bener!" Aliando setuju. "Lalu ibu kamu?" tanyanya kemudian.
"Aku gak tau dia dimana, aku gak ingat kalau aku punya ibu, satu yang aku rasakan tentang ibu, aku sangat membencinya!"
Aliando melirik Alisha dengan tatapan serius dan tak percaya.
...๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป...
Halo kak readers
sehat selalu ya.
__ADS_1
makasih udah baca n dukung
lopyuol๐๐๐