Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
81. Di hidup aku, hanya kamu


__ADS_3

"Beberapa hari yang lalu ada orang yang nyari Neng, dia nanyain tentang Neng, tapi karena memang bapak gak tau, ya ... Bapak tidak bisa menjelaskan apa-apa,"


"Terus, kenapa bapak nyuruh saya untuk segera pulang, emang Bapak tau siapa dia?" tanya Alisha.


"Bapak gak tau dia, tapi bapak merasa gak enak saat ngelihat dia," jelas pak Tora.


Alisha melirik sekilas Aliando, seakan meminta saran ataupun komentar.


"Memang orangnya seperti apa, Pak?" tanya Aliando kini.


"Itu dia, Bapak ga sempet foto, tapi orangnya gagah, mobilnya bagus," jelas pak Tora.


"Kenapa Bapak punya perasaan gak enak?" tanya Aliando lagi.


"Karena sudah beberapa kali ada orang yang datang tanya-tanya tentang neng dan ayahnya neng, bahkan setelah kepergian ayahnya neng, rumah neng sempet ada yang menggeledah, untung neng udah pindah," cerita pak Tora. Ia tahu persis bagaimana keadaan rumah Alisha yang digeledah orang waktu itu, yang dianggap sebagai perampokan.


Alisha dan Aliando kembali saling pandang.


"Merampok disaat rumah kosong dan pemiliknya memang sudah tidak di situ?" Itu yang ada dalam benak mereka.


"Yang terakhir nanya-nanya soal Neng, orangnya pake mobil bagus, sehari yang lalu," kata pak Tora memberi informasi.


Alisha dan Aliando terdiam, berusaha mencerna semua cerita pak Tora.


"Eh, ya udah Neng, bapak tinggal dulu," pamit pak Tora saat melihat ada pembeli datang ke warung makannya.


Alisha mengangguk, mempersilahkan pak Tora melayani pembeli. Kemudian dia pun kembali terdiam, seakan hilang seleranya untuk sarapan.


"Makanlah, bukannya abis ini kamu mau nunjukin gua seratus pintu?" ujar Aliando sambil memastikan jika istrinya itu baik-baik saja.


"Dah kenyang, Bang,"


"Kapan kamu makan, dari tadi hanya diaduk-aduk nasinya, sini, aku suap ya," kata Aliando sambil menyuapkan nasi ke mulut Alisha.


"Abang yakin mau ke sana?" tanya Alisha sambil mengunyah nasi yang sudah ada di mulutnya.


"Kenapa ga yakin? Aku penasaran, gua seratus pintu yang kamu bilang itu,"


"Tapi kan pak Tora bilang kita harus segera pergi dari sini,"


"Gak papa, mumpung ada di sini, lagian yang nyari kamu kan ga tau kalo kamu disini hari ini! Mau kan, kita kencan hari ini di kota ini," kata Aliando penuh semangat, membuat hati Alisha merasa lebih tenang.


Alisha mengangguk dan tersenyum. Ia merasa yakin, jika ia akan aman bersama Aliando.


"Bang, tapi gua itu gelap," komentar Alisha. Ia mulai berpikir untuk tidak ke gua tersebut.

__ADS_1


"Emangnya dulu kamu masuk gua itu gimana?"


"Waktu bareng Aidyn dan temen-temen,"


"Tapi jadi masuk kan?"


"Jadi, tapi tetep aja takut, nyampe aku pegang tangan Ella kenceng banget,"


"Kenapa gak megang Aidyn?"


"Aku bakal lebih takut, di tempat gelap gitu sama cowok ... kalo sama papah aku mau,"


"Ya udah nanti aku akan megangin kamu terus, eh, nggak, aku bakal dekap kamu yang erat,"


Alisha tersenyum.


"Kalo sama aku, kamu gak akan takut kan?" tanya Aliando.


"Takut," jawab Alisha sekenanya.


"Lho, kok?" Aliando protes.


"Takut kalo harus jauh-jauh," kata Alisha sambil nyengir.


Setelah sarapan dan dirasa suasana cukup terang, mereka pun memutuskan untuk segera ke tempat wisata yang dimaksud 'gua seratus pintu'.


Sebuah gua dengan mulut gua yang besar, namun semakin ke dalam akan menemukan banyak lorong, setiap lorong berbeda suasananya. Gua ini seperti labirin banyak lorong yang bisa kita lewati, tinggal memilihnya.


Jika terus menelusurinya, akan bertemu lorong-lorong yang seperti terowongan, berjalan menurun kadang menanjak, ada yang dipenuhi stalaktit, stalakmit ada juga keduanya, kalau beruntung ada yang dipenuhi batu-batu kristal.


Ada juga lorong yang masih dialiri air sungai, atau lorong yang berujung dengan danau kecil di dalamnya.


Sebenarnya banyak lorong yang berujung buntu, namun tidak sedikit lorong yang berujung mulut gua yang lain, seperti pintu keluar gua dari arah lain.


Makanya, masyarakat setempat menamakan gua itu adalah gua dengan seratus pintu, dan mereka mempercayai jika lorong yang kita pilih saat pertama kali masuk, ujungnya seperti apa menentukan nasib orang yang melaluinya.


"Wah, sudah banyak yang berubah," kata Alisha. Ia menyadari beberapa perubahan di sekitar gua. Semua tidak lain dari hasil kreasi tangan manusia yang melestarikannya. Bahkan di dalam gua sendiri sudah terpasang lampu-lampu yang menerangi lorong.


"Udah gak takut kan? Sudah ada penerangnya di dalam," kata Aliando.


"Iya, tapi tetep aja, Abang gak boleh jauh-jauh dariku,"


"Iya, gak mungkin aku jauh dari kamu! Ayo masuk! lalu kita pilih lorong," ajak Aliando. Namun, entah bagaimana, tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu, seperti ada seseorang yang sedang mengawasi keduanya. Ia sedikit melirik ke arah samping, namun tak menemukan siapa-siapa.


Akhirnya, ia mencoba bersikap biasa, agar Alisha tidak curiga dan khawatir.

__ADS_1


"Ayo," kata Alisha sambil mengangguk, ia sangat yakin untuk melalui lorong yang akan dipilihnya bersama Aliando bahkan ia tidak menyadari jika Aliando sedang dalam mode waspada.


"Waktu kamu dan Aidyn, pilih lorong mana?" tanya Aliando mengalihkan fokus, meski mata dan hatinya terus siaga.


"Aku, Aidyn dan teman-teman, Bang," Alisha mencoba mengkonfirmasi.


"Iya, iya, maksudnya itu,"


"Lupa! Tapi seingatku, kita berakhir di danau kecil, dan tidak menemukan pintu keluar, lalu kita kembali deh menyusuri jalan sebelumnya,"


"Kalo gitu, kita pilih ini," kata Aliando sambil menunjuk satu lorong,


"Bang, aku takut," kata Alisha, sambil mengeratkan genggamannya. Karena ternyata untuk bagian lorong-lorong belum terpasang lampu.


"Kita pakai senter ya," kata Aliando sambil mengaktifkan mode senter di ponsel.


Alisha mengangguk semangat.


"Nih, kamu pegang hapenya," kata Aliando sambil menyerahkan ponsel ke tangan Alisha. Kemudian ia jongkok di hadapan Alisha, agar Alisha mau naik ke atas punggungnya.


"Aku jalan aja, Bang," tolak Alisha.


"Cepat! Gak usah nolak!" perintah Aliando sambil kedua tangannya terulur ke belakang mengenai kedua kaki Alisha, sehingga dia pun berada di atas punggung Aliando dan mendekapnya.


"Abang gak berat?" tanya Alisha sambil melirik wajah Aliando.


"Kamu enteng banget, Cha!" komentar Aliando.


"Mmuach, tapi Abang suka kan," kata Alisha sambil mengecup pipi Aliando.


"Hmm, suka, suka banget,"


"Abang, jangan tinggalin aku ya," kata Alisha tiba-tiba. Entah kenapa dia sangat tidak ingin kehilangan Aliando.


"Kamu yang suka ninggalin aku, Cha," kata Aliando protes.


"Aku takut Abang ninggalin aku, daripada sakit hati, mending aku duluan yang ninggalin Abang,"


"Trus kamu gak peduli dengan perasaanku?" protes Aliando.


"Abang kan cowok pinter, gagah, tampan ... Abang pasti bakal cepet move on, Abang dikelilingi cewek-cewek cantik, Abang pasti gak akan kesepian ... Kalo aku, kan, memang sudah biasa sendirian,"


"Ssst, sudah, jangan ngomong lagi, aku gak suka kamu ngomong seperti itu, kamu sekarang istriku, sekarang sampai nanti, ingat itu! Gak ada wanita sebelum kamu maupun sesudah kamu, paham? Di hidup aku, hanya kamu, Cha! Andai kamu pergi, aku akan mencari dan menemukanmu!" tegas Aliando.


...🌻🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2