
"Kak Ando?" Alisha terkejut, kala ia mendapati Aliando sudah berdiri didepan pagar rumahnya.
"Ini kan baru jam enam, kok udah kesini?" tanya Alisha heran. Semalam Aliando memang berniat mengantarkannya ke sekolah seperti biasa, karena hari ini kelas sepuluh dan sebelas sudah kembali ke sekolah setelah kelas dua belas melaksanakan ujian.
"Gak boleh ya? Ni aku bawakan sarapan! Kamu pasti mau keluar nyari sarapan kan?" tanya Aliando.
"Iya,"
"Ya udah kita sarapan bareng ya! trus aku antar kamu ke sekolah!"
Alisha mengangguk dan menurut. Kemudian keduanya pun sarapan nasi uduk yang dibawakan oleh Aliando di teras seperti biasanya. Sampai detik ini, Alisha belum mengijinkan Aliando masuk rumahnya. Sambil menikmati sarapannya, ia memperhatikan Aliando dengan seksama.
"Hei, apa kenyang hanya dengan menatapku seperti itu?" tanya Aliando. Ia menyadari jika gadis cantiknya itu sedang memperhatikannya dengan begitu intens.
Alisha salah tingkah, diam-diam dia memang mencuri tatap, tapi bukan untuk memperhatikan betapa tampannya wajah Aliando, melainkan lebih pada keadaannya yang masih sama seperti semalam.
"Wajahku memang sudah tampan, apalagi? Ada yang salah?" ujar Aliando penuh percaya diri.
"Abang dari semalam gak pulang ya?" selidik Alisha tanpa menjawab pertanyaan Aliando.
Lelaki itu menghentikan makannya, kemudian minum beberapa teguk air putih hangat dari gelas yang sebelumnya disediakan oleh Alisha.
"Aku sudah janji akan menjagamu!" jawab Aliando.
"Ya Tuhan, tapi gak mesti jadi satpam semalaman jaga depan rumah juga kan, Bang?"
"Buat aku gak masalah! Memastikan kamu aman, itu lebih penting buatku!"
"Tapi sudah ada pak Mamat yang ngejaga!"
"Pak Mamat kan tanggung jawabnya untuk semua keamanan komplek, dan aku hanya untuk kamu!"
"Berarti kamu belum tidur ya, Bang?"
"Tenang aja, setelah memastikan kamu nyampe sekolah aku akan pulang dan istirahat, nanti kalo udah waktunya pulang, aku jemput lagi!"
Alisha menarik nafas panjang, cowok tampannya ini memang tidak bisa dibantah.
"Bang, bisa gak, aku dibiarkan mandiri?"
"Tidak!"
"Plis, kalo kamu kayak gini, aku juga yang gak enak! Janganlah menyiksa diri!"
"Hei, gak ada yang tersiksa, aku melakukannya dengan sangat bahagia,"
"Jangan jadi bodoh karena khawatir, Bang!"
__ADS_1
"Terserah, walaupun aku tau kamu punya bela diri, tapi tetap saja, perempuan itu tak sebanding dengan laki-laki!"
Alisha terdiam, ia memang punya bela diri namun ia memang belum pernah melawan laki-laki. Bahkan kalau dia ingat tentang Samudra yang juga memiliki bela diri, belum tentu juga ia bisa menghadapinya dengan mudah.
"Sudah, gak usah nolak, pokoknya kamu adalah tanggung jawab ku! Keputusan yang aku buat adalah untuk kebaikanmu! Sekarang, makanlah!" perintah Aliando.
Seketika itu juga Alisha menurut, menghabiskan sarapannya. Percuma juga membantah, karena pada akhirnya hanya keputusan Aliando lah yang mutlak dilaksanakan.
☘️
"Kabari jika nanti terjadi sesuatu!" kata Aliando sesaat setelah mereka sampai di tempat parkir sekolah. Aliando memang sangat mengkhawatirkan gadisnya itu setelah ada postingan 'Cabe' di medsos sekolah. Harapannya semua berjalan normal dan tidak ada lagi yang memfitnahnya.
"Iya, Bang!" Alisha mengiyakan tanpa ingin memperpanjang.
"Abang juga istirahat ya, jaga kesehatan," imbuhnya saat melihat mata Aliando kemerahan.
"Iya, Cinta!" Aliando bahagia mendapatkan perhatian kecil dari Alisha dan itu membuatnya menjadi begitu bersemangat.
Mereka berpisah, hanya dengan tersenyum dan melambaikan tangan mereka.
Belum genap langkah Alisha menuju kelasnya, hampir semua siswa di koridor menatapnya dan berbisik-bisik. Bahkan beberapa ada bisikan yang mampir jelas terdengar di telinga Alisha.
"Ya ampun, masih punya muka,"
"Iya, gak punya malu dia,"
"Ya jelaslah gak punya malu, orang urat malunya kan udah putus,"
☘️
"Ada apa Alisha, kok ke ruang guru?" tanya pak Raka ketika Alisha di ruang guru. Sebelum masuk kelas, Alisha memang memilih menuju ruang guru.
"Nyari Bapak,"
"Ada perlu apa?"
"Hmm, sebenarnya inisiatif aja, Pak, saya langsung ke sini, karena pasti saya akan dipanggil soal postingan di medsos sekolah,“
"Oh, itu, nggak lah, itu hanya keusilan temanmu saja, dan itu tidak membuktikan apa-apa, yang menyebarkannya, pelakunya, sudah kami tindaklanjuti hari itu juga, pihak sekolah sudah langsung tegas!"
Alisha tak percaya mendengarnya, namun hatinya sangat bahagia.
"Untuk kali ini, yang menyebar fitnah, dan perusak nama baik merupakan bagian dari tindak kejahatan di sekolah, maka sekolah kemarin langsung gerak cepat,"
"Jadi intinya, saya bebas, Pak?"
"Iya bebas, tapi hati-hati ya, lagian, kenapa kamu bisa dengan bapak-bapak itu?"
__ADS_1
"Hanya makan, membicarakan kerjaan,"
"Kamu bekerja?" tanya pak Raka yang mendapatkan anggukan dari Alisha.
"Tapi bukan cabe kan?"
"Bukan lah, Pak, saya juga jaga diri kok,"
"Oke, bapak percaya, kalo kamu gadis baik-baik, apalagi walinya pak Idris,"
Alisha mengernyitkan keningnya bingung, dia tidak pernah tahu, jika pak Idris adalah walinya. Memang iya, ketika dia masuk ke sekolah Garuda sendirian, semua terasa mudah prosesnya, tanpa tahu alur pendaftaran murid pindahan, tiba-tiba dikabarkan jika dia sudah menjadi resmi menjadi siswa di sekolah Garuda.
Kini, dia merasa jika semua kemudahan itu, ada hubungannya dengan pak Idris, tapi kenapa bisa pak Idris yang mengurusi dia? padahal mereka saja baru bertemu saat Alisha sudah berada di sekolah. Ada sesuatu yang aneh yang Alisha rasakan.
"Boleh tau, Pak, siapa pelakunya?"
"Melly, bapak gak habis pikir, kenapa Melly lagi Melly lagi yang memfitnah kamu?"
"Gak tau, Pak, saya juga nggak tahu kenapa Melly bisa sebenci itu sama saya, padahal, kita duduk sebangku," jelas Alisha. Semenjak kasus fitnah pencurian itu, mereka memang masih duduk bersama, tapi tidak terlalu saling peduli.
"Ya sudah, sekarang kamu bisa tenang, karena Melly sudah tidak di sekolah ini lagi," terang pak Raka.
"Dikeluarkan, Pak?"
"Iya,"
"Wah, kok sanksinya berat banget, Pak, kasihan kan Melly,"
"Udah resiko, kasus fitnah uda beberapa kali dia lakukan, dan sudah ada pembinaan masih juga dilakukan, dia tidak jera, maka kami kembalikan pada orang tuanya,"
Alisha mengerti. Ia pun tak lagi banyak bertanya, dan memilih untuk ke kelasnya.
☘️
Sudah sejam dia menunggu Aliando di dekat pos penjaga sekolah. Dia merasa aneh, bagaimana mungkin Aliando melupakan untuk menjemputnya. Pesannya tak ada yang di balas, hanya tanda ceklis satu, di telepon pun tak nada masuk. Cemas. Karena ini bukanlah Aliando yang biasanya, yang selalu siap saat dibutuhkan, yang selalu ada sebelum diminta.
"Kemana sih kak Ando? biasanya dia udah standby di parkiran, atau gak, pasti tepat waktu, gak pernahnya dia terlambat dan membuat aku menunggu kayak gini? Apa dia sengaja? atau dia ketiduran? Pasti hapenya lagi lowbat, semalam kan dia gak pulang, pasti hapenya mati," gumam Alisha dalam hatinya, meskipun perasaannya tidak tenang, namun dia tetap berpikiran positif.
Akhirnya Alisha memutuskan ke rumah Aliando. Dia menggunakan taksi online yang sudah dipesan sebelumnya.
"Hah, kak Andonya gak ada, Mak?" Alisha terkejut saat mendengar jawaban dari mak Leha jika Aliando tidak ada di rumah.
"Iya, neng, dari semalam gak pulang!" jelas mak Leha lagi.
"Ya ampun, kak Ando kamu dimana?" gumam Alisha panik.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1