
"Nayna meninggal?" tanya Aliando saat Alisha telah memutuskan sambungan teleponnya. Ia bertanya spontan tanpa pikir panjang, ia mengira Nayna yang meninggal, karena sebelumnya, mereka memang sedang membicarakan Nayna.
Alisha menggeleng. Wajahnya tampak pucat. Ia terlihat begitu shock. Ada kesedihan yang mendalam yang coba ia sembunyikan.
"Ada apa? Trus siapa yang meninggal?" tanya Aliando semakin penasaran.
"Aku harus ke kota T, aku harus segera ke sana," kata Alisha dengan wajah datar.
"Ayo, antar aku pulang, trus anter aku ke terminal," ajak Alisha sambil menarik tangan Aliando menuju tempat dimana motor terparkir.
Aliando menurut, ia memilih diam. Ia seakan mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Alisha. Untuk saat ini, biarlah Alisha menata gejolak di hatinya, jika sudah tenang, barulah dia akan meminta Alisha bercerita. Itu yang ada dalam benaknya.
☘️
"Ayo, naik," perintah Aliando pada Alisha setelah gadis itu bersiap. Ia memintanya untuk naik ke mobil saat di depan pagar rumah.
"Eh, mobil siapa ini?" tanya Alisha bingung. Ia memang meminta Aliando mengantarkannya ke terminal, tapi kenapa harus menggunakan mobil?
"Tuh!" jawab Aliando sambil menunjuk pada seseorang yang berdiri dekat motor Aliando.
Alisha mengernyitkan keningnya, ia seperti pernah melihat wajah orang itu.
"Hai, masih ingat?" sapanya sambil tersenyum.
"Ini Opun, Cha, yang di toko hape itu lho!" kata Aliando memberi clue siapa sebenarnya orang yang berdiri tak jauh darinya.
"Oh iya, maaf ya, waktu itu hapenya saya kembalikan, dan makasih karena udah dibolehin uang kembali utuh!" Alisha ingat, ia belum pernah bertemu lagi dengannya, setelah membeli ponsel untuk Tio, karena saat pengembalian ponsel, ia mempercayakannya pada Aliando.
"Gak masalah, toh belum ada dua puluh empat jam, masih aman," jawab Opun santai.
Alisha mengangguk, namun dengan wajah yang masih menyembunyikan kesedihan.
"Kalian cepet pergi, udah siang!" kata Opun.
"Ya udah, kami pergi dulu ya, titip motor!" kata Aliando, kemudian mempersilahkan Alisha untuk masuk ke mobil.
☘️
"Lho, kok bukan ke terminal?" Alisha heran, karena Aliando melewati arah ke terminal.
"Aku antar kamu sampai kota T," kata Aliando sangat meyakinkan.
"Eh, tapi kota T jauh, lima jam dari sini!"
"Gak masalah, yang penting kamu gak pergi sendiri,"
Alisha terharu, ia merasa beruntung dipertemukan dengan seorang Aliando, walaupun sosoknya pemaksa dan seenaknya, namun setelah kebersamaan yang hampir berjalan tiga bulan, Alisha mulai bisa menerimanya, bahkan saat ini dia begitu bersyukur karena bisa dipertemukan dengan sosok yang sedang duduk di sampingnya.
Akan tetapi, tiba-tiba saja ada perasaan lain yang menjalar sampai ke relung hatinya. Ia merasa bersalah, dan semakin memuncak, ketika dia mengingat seseorang di kota T telah meninggal.
Ah, hatinya benar-benar campur aduk.
"Maafkan aku!" gumam Alisha dalam hati. Entah ditujukan kepada siapa, apakah pada Aliando atau pada seseorang di kota T.
Tidak terlalu banyak interaksi selama dalam perjalanan, berbincang pun hanya sekedarnya, itupun jika Aliando bertanya, hanya pertanyaan ringan, selebihnya hanya hening. Aliando sendiri, sengaja tidak ingin menanyakan sebenarnya apa yang sudah terjadi dan siapa yang meninggal. Karena ia merasa jika Alisha tidak siap bercerita untuk saat ini.
☘️
Tiba di kota T, sekitar pukul empat sore, Alisha dan Aliando langsung menuju area pemakaman. Mereka hadir sesaat setelah acara pemakaman. Ada lima orang terakhir yang berjalan keluar area pemakaman.
__ADS_1
Alisha melangkah dengan berat mendekat ke kuburan tersebut, sementara Aliando mengikuti di belakangnya.
"Alisha, kamu datang?" sapa seorang wanita paruh baya. Dia berjalan paling belakang bersama seorang laki-laki yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun. Mereka berpapasan.
"Dia sudah pergi, Sha," ucapnya kemudian sambil terisak.
" Maafkan saya, Tante," kata Alisha sambil mencium punggung tangan wanita itu.
"Gak perlu minta maaf, Sha,"
"Ini salah saya, Tante," tutur Alisha penuh penyesalan.
"Tidak, ini sudah takdir, bukan salah kamu, kami udah ikhlas, kamu juga harus ikhlas,"
Alisha tak mampu membendung air matanya, akhirnya mengalir juga butiran bening di pipinya.
"Doakan dia agar dia mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya," ucap wanita itu lagi sambil memberi kode dengan matanya agar Alisha pergi ke gundukan tanah yang masih basah.
Alisha mengangguk. Ia pun segera mendekati kuburan itu.
Sebuah kuburan baru dengan batu nisan bertuliskan Aidyn Alfandy bin Hafiz Rachman.
Ada sesak dan nyeri terasa di hati Alisha dan saat ini ia sedang menahan tangis, tak percaya jika Aidyn telah meninggal dunia. Sosok yang selama ini selalu menemaninya di kota T.
Alisha menangis sambil memegang dadanya yang tengah merasakan nyeri teramat. Selanjutnya ia duduk sambil meremas tanah kuburan. Menangis, mengenang, dan menyesal. Ia mengingat semua hal saat bersama Aidyn.
Sementara Aliando hanya melafalkan doa untuk Aidyn, kemudian selebihnya ia hanya diam menunggu dan memperhatikan Alisha.
"Udah makin sore, Cha, masih ingin di sini?" tanya Aliando lembut dan sangat hati-hati. Alisha tersadar dari keterdiamannya, ia memperhatikan sekeliling, suasana mulai remang-remang menuju malam.
Gadis itu pun segera bangkit berdiri di samping Aliando, sambil memandang makamnya Aidyn.
Kemudian tanpa banyak bicara, ia berjalan keluar area pemakaman disusul oleh Aliando di belakangnya.
Alisha meminta Aliando mengantarkannya ke rumah Aidyn. Ia ingin menemui keluarga Aidyn untuk turut berbela sungkawa.
"Ayo, ikut masuk," ajak Alisha ketika mereka sudah sampai di depan rumah Aliando, wajah masih terlihat sembab karena menangis.
"Sebaiknya aku tunggu di sini aja ya," kata Aliando sambil turun dari mobil.
Alisha mengangguk. Ia segera masuk ke rumah Aidyn dan dalam waktu kurang lebih 15 menit Alisha pun keluar.
Entah kenapa wajahnya semakin terlihat merah, tangisnya masih juga tak berhenti, sambil mendekat ke arah Aliando cepat-cepat dia menghapus air matanya.
Aliando yang bersandar di sisi mobil menatapnya penuh rasa iba, ia turut merasakan kesedihan Alisha. Cowok tampan itu tidak bodoh, ia mengerti siapa yang ditangisi oleh Alisha, pasti seseorang yang spesial dan sangat menyayangi Alisha.
"Mau pulang sekarang?" tanya Aliando sangat hati-hati "Atau masih mau di sini?" lanjutnya bertanya.
Namun, Alisha malah mendekap Aliando, kemudian menangis di dadanya.
Cowok tampan itu memang terkejut, namun ia memahami jika gadis cantiknya ini butuh sandaran untuk menangis. Perlahan kedua tangannya terulur, lalu tangan kanannya membelai rambut Alisha pelan.
"Menangislah, hingga kamu benar-benar tenang," kata Aliando.
Mendengar ucapan Aliando seperti itu, Alisha justru semakin menangis, air matanya terus keluar hingga membasahi baju Aliando.
Setelah puas menangis, ia pun mengusap mata dan pipinya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku pengen ke makam papah!" ajak Alisha dengan suara serak karena habis menangis. Dari suaranya masih menyisakan sedikit isakan.
__ADS_1
"Yakin?"
Alisha mengangguk sambil mengusap hidungnya yang masih basah, seperti anak kecil.
"Udah mulai malam lho!" kata Aliando memastikan.
"Gak papa, makam papah terang, selalu banyak dikunjungi orang, karena berlokasi dekat makam wali,"
"Ya udah, ayo!" ucap Aliando.
☘️
"Halo, Pah, Chaca datang, Chaca gak sendirian, ini Aliando, dia selalu menemani Chaca, jadi sekarang, Chaca ada temennya," kata Alisha setelah berdoa untuk ayahnya. Alisha dan Aliando tengah duduk di depan makam ayah Alisha.
"Pah, ia menyebalkan, pemaksa, seenaknya juga aneh," imbuhnya.
Aliando yang mendengar perkataan Alisha langsung melirik sambil menggelengkan kepalanya sebentar, ia tidak menyangka jika Alisha akan berkata demikian di hadapan ayahnya walaupun hanya berupa makam.
"Tapi dia pinter, Pah, perhatian ma Chaca, dan juga tampan," lanjutnya.
Aliando kini tersenyum sangat apik, ia senang mendengar kalimat lanjutan yang dikatakan oleh Alisha.
"Hai, Pah, saya Aliando, saya mencintai anak papah, tapi dia gak percaya, malah dia juga belum cinta sama saya," kata Aliando.
Kini Alisha yang melirik Aliando, ia tidak menyangka jika Aliando akan ikut berbicara.
"Pah, ijinkan saya buat jaga Icha selama hidup saya, ya, dan tolong Pah, bilang sama Tuhan, tolong luluhkan hati Icha untuk saya saja," lanjut Aliando.
Alisha langsung memukul lengan Aliando.
"Aww, kenapa mukul, Cha?" tanya Aliando.
"Lihat, Pah, anak papah barbar banget," Adu Aliando, dan sebuah cubitan pun mendarat di pinggang Aliando.
"Aww," Aliando melirik Alisha sekilas. Lalu kembali menghadap ke makam.
"Tapi dia cantik, Pah, saya bener-bener cinta banget ma dia! Restui kami ya, dan tolong bilang juga sama Tuhan, tolong satukan kami dalam ridho-Nya!"
"Hei, enak aja nyuruh-nyuruh papah, berani banget, manggil-manggil dengan sebutan 'papah', siapa yang ngijinin? trus, emangnya kamu siapa?" protes Alisha.
"Aku calon mantunya, calon suami kamu!"
"Lihat, dia aneh kan, Pah?"kata Alisha kini.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Wah Aliando modus, sekalian minta restu rupanya. 🤭🤭🤭
kaka readers sehat selalu yaaaa
...💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝...
Oiya kak readers jangan lupa mampir juga ke novel sahabatku kak Kaka Shan judulnya Bukan Dijodohkan. Pokoknya kereeeen bgt. cuss ah... jangan lupa dukungannya buat author nya yaaaaa vote like komment.
...Happy Reading yaaa😘😘😘...
...💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝...
__ADS_1