Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
11. (bukan) Lawan yang bisa diremehkan


__ADS_3

"Awalnya, kami yakin kalo itu hanya cerita bohong Aliando agar bisa terlepas dari kecurigaan Rafael yang menyangka Aliando suka dengan Nayna, karena Rafael suka ma Nayna,"


"Jadi maksud kalian Rafael renggang sama Aliando karena Nayna?"


"Iya, Rafael suka Nayna, Nayna suka Aliando, Aliando suka elo!" ujar Benni.


"Intinya Rafael nggak percaya kalau Aliando tidak memiliki perasaan apapun pada Naina, hingga akhirnya Aliando menjauhi kita semua,"


"Pasti feel-nya memilih untuk menjauh dari kalian, dan untuk Rafael, kayak gada cewek lain aja, dia yang seharusnya bisa mengendalikan perasaan, ngapain masih ngejar cewek yang tidak menyukainya?"


"Ah, susah juga ngomong ma elo, maksud kita, tolong lo satukan lagi Aliando ma Rafael,"


"Aku gak bisa maksa Aliando, kalo ternyata Aliando dan Rafael gak punya itikad bersama lagi, ya udah, ga usah dipaksakan, hanya bikin mudharat aja," tukas Alisha.


Robby dan Benni kembali saling pandang.


"Segala sesuatu ga harus sesuai dengan keinginan kita, kan? So, jalani aja, nikmati, syukuri, kalo kalian gak mampu, serahkan pada Tuhan, termasuk persahabatan kalian, gak usah dipaksain, bantu doa aja ... kalo pun Rafael dan Aliando bisa kembali bersatu belum tentu seperti dulu, iya, kan?" jelas Alisha sehingga Robby dan Benni menganggukkan kepalanya mengerti.


☘️


"Hei, awas!" Alisha berteriak sambil menarik Salsa ke trotoar, ia hampir saja tertabrak mobil.


"Kamu gak papa? Kenapa nyebrang sambil ngelamun? Mana temen-temen kamu?" Alisha memberondong pertanyaan pada Salsa yang sedang mengembalikan kesadaran.


Salsa hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa, karena hatinya masih tidak karuan, ia masih berusaha menetralkan perasaan dari keterkejutannya.


"Ya udah, ga usah dijawab, lain kali hati-hati," kata Alisha. Sementara Salsa hanya diam terpaku menatap Alisha.


"Kamu udah gak papa kan? Aku pergi dulu, ya," ucap Alisha sambil meninggalkan Salsa. Ia memang terburu-buru, hendak ke minimarket yang berada di depan sekolah. Ia ingin membeli beberapa barang yang dibutuhkan.


"Sha, tunggu!" panggil Salsa pada Alisha, membuat gadis itu berbalik.


"Terimakasih," ucap Salsa ragu-ragu.


"Hmm, jangan sungkan," balas Alisha dengan senyum kecilnya.


☘️


Setelah dari minimarket, Alisha bergegas kembali ke sekolah, tepatnya ke tempat parkir, mengambil motor.


Ah, betapa dia benar-benar merindukan Aliando. Dia mulai terbiasa dengan kehadiran cowok tampan itu. Sikap pemaksanya, sikap lembutnya, sikap khawatirnya justru semua itu membuat dia merasa nyaman. Apa seperti ini rasanya kehilangan?


Alisha meletakkan belanjaannya, digantung di atas space pijakan kaki. Ia ingat, ia sama sekali belum pernah ke sekolah sendirian menaiki motornya. Sejak hari pertama di sekolah Garuda, dia sudah bersama Aliando.


"Ada apa sih, tumben kamu ijin gak sekolah," gumam hati Alisha sambil naik ke atas motornya. Sebelum melajukan motor tersebut, ia mengambil ponsel dari dalam tas, kemudian memeriksa aplikasi hijau, berharap ada pesan dari Aliando.


"Hmm, gak ada, kemana ya? tumben banget," gumamnya.


"Hei!" Alisha terkejut, karena ponsel di tangannya, ada yang mengambil.


"Eh, mau apa kalian?" tanya Alisha, setelah tahu siapa yang mengambil ponselnya. Nikita. Dibelakangnya ada tiga orang temannya.


"Kembalikan hapeku!" pinta Alisha.


"Ikut gue, baru hape lo, gue balikin!" kata Nikita.


"Mau kemana?" tanya Alisha berusaha tenang.

__ADS_1


Nikita memberi kode pada salah satu temannya, Vina, dan langsung saja, Vina menarik lengan Alisha.


Santai tapi pasti, Alisha mengikuti keempatnya. Menuju belakang sekolah. Bukan bagian taman, akan tetapi jalan setapak yang buntu. Sebelah kanan tembok pagar yang tinggi, dan sebelah kirinya tembok ruangan kelas. Suasana cukup sepi. Terlebih, memang sudah banyak yang pulang.


"Lo ga bisa apa-apa tanpa Al," ucap Nikita menyepelekan. Ia mendorong tubuh Alisha hingga punggungnya membentur tembok buntu.


"Maksudnya?"


"Kita buat kesepakatan, lo jauhi Al, kalo masih ingin nyaman sekolah di sini,"


Alisha mulai paham kemana arah pembicaraan Nikita. Fix, dia akan dibully.


"Kamu terganggu dengan kehadiran aku?" tanya Alisha.


"Iya! Dan aku udah nyelidikin, kalo kamu dan Al sebelumnya tidak saling kenal!"


"Info darimana?"


"Gue tau, Al sengaja menggunakan elo, agar dia bisa ngehindari gue!"


"Tanpa aku jadi pacar Aliando, kamu emang pantes dihindari,"


"Sialan!" umpat Nikita. Tangannya sudah melayang dan hampir mendarat di pipi mulus Alisha, kalau saja dia tidak sigap menahannya.


"Gak usah main kekerasan," kata Alisha sambil melepas tangan Nikita.


Ternyata dua dari tiga teman Nikita langsung mendekati Alisha, masing-masing dari kedua orang itu memegangi lengannya.


Nikita mendekat, tepat di hadapan Alisha. Tangannya mencengkram kerah baju Alisha.


"Aku gamau, dan aku nggak akan janji," jawab Alisha santai.


"Putusin Al, agar hidup lo di sekolah ini tenang!" kata Nikita kali ini sambil menjambak rambut depan Alisha, sehingga wajahnya mendongak.


"Sudah kubilang, ga usah main kekerasan," tegas Alisha.


"Kenapa? lo takut?"


"Nggak, tapi, kamu jangan sampai nyakitin aku,"


"Justru gue mau lakuin itu!"


Vina menghampiri Nikita, ia menyerahkan gunting. Vina memang dari tadi diam saja, dia tidak sedang memegangi Alisha.


"Mau apa kamu?" tanya Alisha sambil menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh Nikita.


"Menurut lo?" Nikita menyeringai.


"Jangan macem-macem!" ancam Alisha.


"Takut? memohonlah, dan berjanji kalo lo mau mutusin Al!" kata Nikita memberi penawaran.


"Gak akan!" jawab Alisha tegas.


"Kamu lakukan, Vin, buat dia gundul!" perintah Nikita pada Vina, sambil melepas jambakan rambut Alisha.


Vina menyeringai.

__ADS_1


Alisha menggeleng, memberi kode agar Vina jangan menyentuhnya dan jangan menuruti apa yang Nikita perintahkan. Namun, siapa peduli? Vina tetap mendekat pada Alisha. Sementara Nikita menjauh beberapa langkah, sengaja ingin menyaksikan Alisha dipotong rambutnya.


Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Itu milik Alisha yang tadi sempat diambil oleh Nikita.


Di saat mereka terkejut dengan adanya suara dering ponsel, Alisha segera menendang Vina hingga tersungkur. Lalu melepas paksa kedua lengannya dari cengkraman kedua teman Nikita.


"Sial!" umpat Nikita. Dia tidak menyangka jika Alisha bisa menghadapi ketiga temannya. Gegas keempatnya akhirnya mengepung Alisha. Tatapan mereka memburu seperti akan menerkam.


Alisha tetap tenang dan memilih fokus, terlebih ketika satu teman Nikita mulai menyerang bagian kanan Alisha, dengan cepat dia bisa menghindar.


Satu lawan empat, tidak membuat Alisha kewalahan. Nikita dan temannya bukanlah lawan yang harus dia hadapi dengan sulit. Tak ada tenaga ekstra yang harus dikeluarkan Alisha, hanya memainkan jurus dasar ringan yang selama ini diajarkan oleh ayahnya dan guru-guru bela dirinya. Kurang dari tiga menit hingga bisa membuat Nikita dan temannya tak berdaya.


Ya, Alisha memang memiliki ilmu bela diri, bukan hanya satu yang ia kuasai, tapi ada beberapa yang ia kuasai, karena setiap kali pindah, Alisha pasti harus berlatih bela diri dengan guru yang berbeda dan ilmu yang berbeda.


Tidak sia-sia dia menuruti ayahnya, nyatanya, dia memang benar-benar 'aman' seperti yang disampaikan oleh ayahnya.


"Berlatih lah, itu untukmu, kamu harus aman, dan kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri!" itu alasan ayahnya mengapa dia harus mempelajari ilmu bela diri.


Keempatnya tumbang sambil menahan rasa sakit di tubuh mereka.


Nikita yang sudah terkapar, beringsut bersandar ke tembok pagar. Ia memegangi mulutnya yang lebam karena pukulan Vina, dibogem teman sendiri. Sebenarnya pukulan itu Vina tujukan untuk Alisha. Namun karena Alisha bisa menghindar, justru pukulan itu malah mengenai Nikita.


"Sudah kubilang, gak usah pake kekerasan! Intinya jangan pernah buat aku sakit dan terluka, paham?" tegas Alisha pada keempatnya.


"Dan kamu! Gak usah sok jago juga cari masalah!" kata Alisha pada Nikita sambil menatapnya serius, membuat nyali Nikita menjadi ciut.


Alisha segera mengambil ponselnya yang tergeletak di tanah, karena saat penyerangan tadi, ponselnya terjatuh dari saku baju Nikita. Setelahnya, Alisha pun pergi meninggalkan keempatnya.


"Sial!" umpat Nikita. Dia begitu geram, karena baru kali ini bullyannya gagal. Namun, dia menyadari jika Alisha bukanlah lawan yang bisa diremehkan.


Ponsel Alisha kembali berdering, selama perkelahian tadi, suara dering dari ponsel Alisha memang terus berbunyi.


"Bang Dodo" nama yang tertera di layar ponsel Alisha.


Itu panggilan dari Aliando.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Sehat-sehat ya kak readers


makasih atas dukungannya yaaaa😘😘😘


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Halo kak readers mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Putri Nilam Sari. pokoknya keren banget ini mah... dijamin seru abis. jangan lupa dukung authornya ya kak readers....


Blurb


Bercerita tentang manis pahitnya kehidupan seorang wanita cantik bernama Sashi yang harus berjuang membesarkan putranya seorang diri setelah kematian suaminya karena kecelakaan. Sashi yang seorang desainer harus mampu mengelola dan mempertahankan perusahaan peninggalan suaminya dari sifat tamak adik iparnya.


Seiring waktu, Sashi berubah menjadi seorang CEO wanita dan seorang Ibu serta akan menguak misteri kematian suaminya. Apakah ketika semuanya terkuak Sashi masih sendiri, atau ia berhasil menemukan pendamping hidupnya?



...Happy reading yaaaa😘😘😘...


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


__ADS_2