
Pagi itu, sekolah kedatangan beberapa polisi, juga beberapa orang tua, kemungkinan besar orang tua dari Nikita dan teman-temannya, juga orang tua Zoya dan Melly. Sementara untuk wali dari Alisha, pak Idrislah yang mendampinginya.
Alisha keluar dari ruang kepala sekolah. Dia hanya dimintai keterangan oleh pihak polisi.
"Maafkan saya, Pak!" ucap Alisha, ia meminta maaf pada pak Idris saat di koridor dekat ruang kepala sekolah.
"Tidak papa, kamu memang perlu membela diri,"
"Terus gimana, Pak?"
"Gak papa, urusan ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian, kasus bullying dan penyebaran videonya akan diusut, semua masuk ranah hukum,"
"Tapi mbak Nikita dan teman-temannya udah kelas dua belas, apa gak kasihan ya kalo harus dikeluarkan?"
"Dari tim psikolog sekolah, sebaiknya memang tetep sekolah sambil mendapatkan pembinaan, namun penyelesaian kasus hukumnya tetap dijalankan,"
"Apa bisa seperti itu?"
"Bisa, tapi kayaknya Nikita dan teman-temannya kena mental, mereka mungkin malu untuk kembali ke sekolah,"
"Trus gimana, Pak?"
"Udah, itu urusan sekolah, kamu sekarang kembali ke kelas ya!" perintah pak Idris.
"Iya, Pak, makasih ya,"
Pada akhirnya, kasus pembullyan diurus pihak sekolah dan kepolisian. Nikita dan teman-temannya memilih tidak kembali ke sekolah. Mereka malu. Walau bagaimana pun, perbuatan mereka memang tidak dibenarkan. Namun, dari kejadian ini ada hikmahnya, karena Salsa tidak lagi 'merundung' Alisha. Ia sudah bisa menerima kehadirannya, terlebih Salsa pernah ditolong oleh Alisha ketika hampir tertabrak mobil.
"Ayo, kita dukung pasangan Al kuadrat, Aliando dan Alisha," ucap Salsa pada Alianers.
"Bener, mereka pasangan yang serasi, tampan, dan cantik, mereka hebat! Pada jago bela diri!" ujar Lila. Yang kemudian di-iyakan oleh yang lain. Mereka sangat setuju.
Mulai saat itulah, Alilo dan Alianers bubar. Tidak ada lagi fans club Aliando, yang ada hanya Al lovers. Ah, ntah sampai kapan mereka mengidolakan Aliando dan Alisha, hanya saja, kemungkinan terbesar mereka akan mengidolakan pasangan Al, hingga Aliando lulus kelas dua belas.
☘️
"Mau ngapain ke rumah sakit?" tanya Aliando pada Alisha siang itu di koridor sekolah. Ada rasa khawatir terlintas di benaknya, takut jika Alisha sakit.
"Mau jenguk temen!"
"Oh, siapa?Teman yang mana?" Curiga Aliando. Selama ini, yang ia tahu, tidak ada teman yang dekat dengan Alisha yang sedang sakit.
"Gak perlu tau, yang jelas aku mau pergi sendiri!"
"Gak, ayo aku antar!"
"Gak mau!"
"Gak usah ngeyel, Cha!"
"Kamu yang jangan maksa aku!"
"Pokoknya, tunggu di sini! Aku ambil motor dulu!"
Aliando segera menuju tempat parkir namun tanpa sepengetahuan Aliando, Alisha justru memilih sembunyi. Ponselnya ia non aktifkan, sengaja agar Aliando tidak bisa menghubunginya.
"Ya,Tuhan, ini anak emang nekat! Siapa sih yang mau dia jenguk?" gumam hati Aliando. Ia sudah berlari kesana kemari mencari Alisha, perasaannya kali ini bukan hanya khawatir, tapi juga curiga dan kesal.
☘️
"Makasih, Sha, kamu udah mau kesini!" sambut seorang cowok di depan gerbang sebuah rumah sakit. Dia Rafael, beberapa hari yang lalu, ia sengaja mengirim chat pada Alisha. Bertanya kabar dan menceritakan masalahnya dengan Aliando.
Alisha tidak terlalu peduli darimana Rafael mengetahui nomer ponselnya. Toh, teman sekelas Alisha sudah pada tahu semua, bisa jadi dia bertanya pada mereka.
"Kamu Rafael?" tanya Alisha memastikan. Selama ber-chat melalui aplikasi hijau, Alisha memang sama sekali tidak tahu Rafael seperti apa, walaupun mereka satu sekolah.
"Iya, aku Rafael! Aliando gak tau kan kamu ke sini?" tanyanya kemudian, sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
"Nggak, aku ke sini sendiri, naik taksi!"
"Lalu Aliando?"
__ADS_1
"Ntah!"
Rafael terdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa? kok malah bengong?"
"Maafin aku!" ucap Rafael dengan nada yang terdengar berat dan tertahan.
"Buat apa?"
"Karna memintamu ke sini! Mungkin saja kalian akan bertengkar!"
"Gak masalah, yang penting aku udah bisa ke sini!" kata Alisha sangat mengerti.
"Dia gak curiga kan?" tanya Rafael.
"Jelas curiga lah, kemana-mana aku selalu bersamanya, sekarang, aku tiba-tiba harus pergi sendirian!"
"Iya juga sih, dan kalau dia tau kamu nemuin aku, wah bakal lebih bahaya!"
"Iyalah, aku sudah tau itu, apalagi kalo aku setuju kita berangkat bareng dari sekolah ke sini, lalu Aliando melihatnya, bisa terjadi perang antara kamu dan Aliando!"
"Iya, untung, kamu gak setuju, dan nyaranin aku pergi lebih dulu kesini!"
"Nah, tuh tau!" ujar Alisha.
"Ah, ya udah! Ayo kita ke kamar rawat Nayna, tapi mungkin dia masih tidur, Sha!" kata Rafael pada Alisha. Ia mengajak gadis itu menemui Nayna yang berada di kamar perawatan.
"Raf ... kamu udah dateng?" suara seorang gadis terdengar lembut, ia terbaring lemah, ada selang di hidungnya, infus di tangan kanannya. Menurut cerita Rafael, Nayna masuk rumah sakit karena harus menjalani pengobatan dan perawatan kanker darah yang dideritanya.
Hari ini, Alisha memang sengaja ke rumah sakit untuk memenuhi permintaan Nayna yang ingin bertemu dengannya.
"Iya, ini aku, aku bawa seseorang yang sangat ingin kamu temui!" kata Rafael membuat gadis itu mengangguk lemah.
"Ya udah, aku keluar dulu ya!" pamit Rafael, kemudian memberi kode pada Alisha, kalau Alisha harus bersikap lebih sabar dan lembut pada Nayna.
"Apa kamu Alisha?" tanya Nayna setelah Rafael keluar dari kamar. Suaranya begitu pelan, namun Alisha masih bisa mendengarnya.
"Bener kamu pacarnya Aliando?"
"Iya!"
"Berarti bener, dia memang sudah punya pacar," gumam Nayna.
"Bolehkah aku minta sesuatu ma kamu?" tanya Nayna pada Alisha. Dari wajahnya terpancar permohonan, dan ia sangat berharap jika Alisha mau mengabulkannya.
"Ada apa?"
"Berjanjilah untuk mengabulkannya,"
"Tergantung apa permintaan kamu!"
"Aku ingin bersama Al,"
"Maksudnya?" tanya Alisha sambil mengernyitkan keningnya.
"Lepasin Al,"
"Eh, permintaan apa itu?" Alisha bingung.
"Aku minta Al untuk menemaniku di saat-saat terakhir hidupku!" pinta Nayna.
Alisha terdiam.
"Aku ingin bisa merasakannya, bersama dengan orang yang kita cintai!"
"Tapi Aliando bukan barang yang bisa diserahkan gitu aja!"
"Tolong, aku ga meminta dia untuk aku miliki, aku hanya minta ijin ma kamu, agar dia bisa menemaniku!"
Alisha mulai mengerti apa yang diinginkan oleh Nayna.
__ADS_1
"Menemani sampai kapan?"
"Selama sisa hidupku!"
"Apa?" Alisha terkejut "Kamu tau, banyak pasien leukimia bisa berhasil sembuh ... Dan kalau itu terjadi berarti Aliando harus bersama dengan kamu selama waktu hidupmu?"
Kali ini Nayna terdiam. Ia tahu jika leukimia yang dideritanya bisa disembuhkan, namun baginya, untuk apa hidup jika orang yang dicintai tidak bersamanya. Hanya akan ada kehampaan.
"Bersemangatlah untuk hidup, ga usah nyerah lawan penyakit cuma gara-gara cowok, kasihan orang tuamu,"
Nayna masih diam.
"Kamu tau, kalaupun sekarang aku ijinkan dan serahkan Aliando sama kamu, apa Aliandonya mau dan setuju?"
"Untuk itulah aku minta sama kamu bujuk Aliando,"
"Aliando nggak bisa dipaksa,"
"Aku tahu, tapi ... Siapa tahu dengan bujuk rayu kamu, Aliando bisa luluh dan mengikuti kata-kata kamu,"
"Aku nggak yakin bisa merayunya, karena hidup Aliando adalah dengan dirinya sendiri! Dia berbuat sesuatu tergantung feelnya,"
"Aku mohon, cobalah!"
Mendengar permohonan Nayna yang terlalu memaksa justru malah membuat Alisha merasa ilfeel, ia ingat, kalau Aliando sangat tidak menyukai gadis yang berada di hadapannya ini. Sok lembut.
"Maaf yah, aku juga gak bisa dipaksa orangnya, dan nggak usahlah sakitmu dijadikan alasan untuk menarik simpati orang lain, fokuslah pada kesembuhanmu,"
"Eh, maaf, kamu tersinggung ya dengan permintaan aku?"
"Menurutmu?"
"Aku paham, tapi aku hanya ingin merasakan, bisa bersamanya,"
"Dan aku juga udah bilang, walau aku ijinkan, apa Aliando mau?"
"Tolonglah, sebentar saja, mungkin seminggu, eh, tidak, aku minta sehari saja!"
Alisha menarik nafas panjang. Rasanya sia-sia ia berbicara dengan gadis ini.
"Ah, aku pulang dulu ya, kayaknya pembicaraan kita nggak akan ada titik temu, aku pamit ya, semoga cepat sembuh!"
"Tunggu, Sha!"
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Apakah Alisha akhirnya mau memenuhi permintaan konyol Nayna ya?
Bagaimana ya dengan Aliando yang pusing mencari Alisha?
kakak readers, sehat selalu yaaaaa🤗🤗🤗
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai kak readers jangan lupa mampir juga ke novel karya sahabatku kak CovieVy, dijamin seru judulnya Akhir Pernikahan Dini
jangan lupa vote like komment ya😘😘😘
Blurb
Seperti biasanya, Bang Alan pulang kerja ketika Azan Subuh mulai menggema. Saat itu pula aku mulai bekerja mengais rezeki sebagai buruh cuci, pakaian para tetangga.
Sebelum mencuci pakaian orang lain, aku memprioritaskan mencuci pakaian keluargaku sendiri. Namun, aku sungguh dikejutkan oleh benda keramat dari kantong celana yang digunakan suamiku tadi malam.
Benda itu merupakan sebuah bekas bungkus ****** yang dulu sering aku lihat di televisi. Ini milik siapa? Kenapa ada di kantong celana milik suamiku?
...Happy Reading yaaa😘😘😘...
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1