Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
60. hukuman indah (rindu)


__ADS_3

Alisha terus melangkahkan kakinya. Namun Aliando mengejar langkahnya, menarik tangan gadis itu sehingga ia berbalik.


"Jangan pergi, pliss, aku mencintai kamu, Cha! Aku sangat menyayangimu!" ucap Aliando sambil mendekap Alisha dengan sangat erat.


Alisha hanya mematung tanpa membalas dekapan Aliando. Ada basah terasa di pundaknya karena Aliando menangis.


Gadis itu memejamkan matanya.


"Biarkan aku pergi, sebelum kamu semakin dalam mencintai aku sebagai istri kamu, kita belum terlalu lama menikah, jadi, kita akan cepat terbiasa lagi untuk hidup sendiri,"


"Alisha, jangan katakan itu, pikirkan dan rasakan, kita masih saling mencintai,"


"Aku gak yakin dengan perasaanku saat ini, aku rasa hidup sendiri lebih baik,"


"Tidak, kita akan selalu bersama," ucap Aliando kukuh.


"Lepaskan!" Alisha berontak.


"Tidak akan!" Aliando semakin mengeratkan dekapannya, ia bener-benar tidak ingin melepasnya.


Alisha diam memberi jeda, hingga Aliando melonggarkan dekapannya, pada saat itulah, Alisha membanting tubuh Aliando.


Sakit, namun Aliando segera bangkit, ia mencengkram tangan Alisha yang akan mengambil ransel, namun dengan cepat pula Alisha menangkisnya, kemudian dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Aliando, hingga cowok itu jatuh tersungkur.


Aliando tak menyerah, ia pun berusaha menangkap Alisha, namun selalu saja Alisha berhasil melepaskan diri, meskipun harus dengan mengeluarkan jurus bela diri yang dikuasainya.


Akhirnya perkelahian diantara suami istri itu tak terelakkan lagi, walaupun Aliando hanya menghindar dan berusaha bertahan tanpa mengeluarkan jurus bela dirinya.


Bahkan seringnya, ia menahan serangan Alisha baik itu pukulan atau tendangan dengan cara yang cantik. Bagaimana tidak, dia selalu saja berhasil mencuri cium wajah istrinya saat berkelahi. Itu terasa lucu serta menggemaskan. Benar-benar Alisha dibuat salah tingkah, dan bagi Aliando hal itu sangat mengasyikkan.


Awalnya, Alisha merasa risih dan menampilkan wajah cemberut ketika Aliando berhasil mencium pipinya sehingga membuat dia justru bersemangat untuk menghadapi Aliando. Tapi lama kelamaan, lelah itu hadir, karena Aliando bukan lawan yang mudah dihadapi.


Padahal, tidak ada perlawanan yang pasti dari Aliando, ia hanya menghindar, bertahan, dan menangkap tubuh Alisha, mendekap dan menciumnya.


Ah, benar-benar perlawanan yang indah bukan? Bahkan terakhir, saat Alisha sudah lelah, ia seakan pasrah menerima perlakuan Aliando yang mendekap tubuhnya kemudian mencium lembut bibirnya.


Alisha memejamkan matanya, ada kehangatan yang menjalar di tubuhnya. Walau bagaimanapun, dia juga sangat menyukai dan merindukan sikap lembut Aliando ini.


"Maafkan aku, Cha, aku menyesal, aku salah, maafkan aku, ya," kata Aliando setelah melepas ciumannya. Ia sempat menyatukan keningnya dengan kening Alisha.


Sementara, Alisha masih berupaya untuk menetralisir perasaannya, nafasnya masih tak beraturan, ia menghirup oksigen sebanyak mungkin.


"Kamu jahat banget," ucap Alisha dengan tatapan tajamnya.


"Aku tau, aku jahat, kamu boleh hukum aku apa aja, asal jangan berpisah, kamu gak boleh pergi,"


"Aku akan tetep pergi, anggap aja tadi ciuman perpisahan," kata Alisha masih mode marah. Walaupun sebenarnya, jauh didalam hati Alisha, ia bertolak belakang dengan ucapannya.


"Aku cium lagi, lho, biar gak jadi ciuman terakhir," goda Aliando.


"Gak usah macem-macem," kata Alisha penuh ancaman.

__ADS_1


"Aku sayang kamu Cha, tanpa alasan, hanya cinta," kata Aliando akhirnya, sambil merapikan rambut Alisha ke belakang telinganya.


Ah, ada yang berdesir di hati Alisha. Gadis itu sempat terhanyut perasaan. Namun, secepatnya ia tepis.


"Aku tetap akan pergi! kita rehat dulu, aku perlu menenangkan diri, aku butuh waktu untuk berpikir, apakah pernikahan ini sebaiknya diteruskan atau tidak!" kata Alisha.


"Baiklah, tapi beritahu aku, kamu tinggal dimana?"


Alisha terdiam, ia pun menarik nafasnya.


"Di kontrakan," jawab Alisha singkat.


"Bener ya,"


"Iya," jawab Alisha sambil menganggukkan kepala.


"Berapa lama?"


"Entah," jawab Alisha singkat.


"Jangan lama-lama ya, Cha,"


"Sesuka hati aku lah,"


"Kalo aku rindu gimana?"


"Gatau, itu urusan kamu!"


"Gak untuk saat ini, kalo ternyata aku kangen, berarti aku cari kamu!"


"Bener ya?" tanya Aliando memastikan.


"Hmm," jawab Alisha datar.


"Apa aku boleh mengunjungi mu?"


"Gak boleh,"


"Ayolah, Cha!" mohon Aliando dengan wajah memelas, membuat hati Alisha merasa tidak tega melihatnya.


"Tergantung mood aku, kalo aku ijinkan, maka kita ketemuan,"


"What? kayak pacaran lagi gitu? kita kan udah nikah, Cha, seharusnya kita bersama terus," protes Aliando.


"Terserah, kalo kamu gak mau, aku juga gak masalah,"


"Ah iya iya, baiklah, aku setuju, tapi aku boleh kan ngehubungi kamu," pinta Aliando.


"Gak boleh, aku males bales pesan dan males ngangkat telfon,"


"Duh, aku bisa mati karena rindu, Cha,"

__ADS_1


"Emang aku pikirin,"


"Ih tega, masa istri kayak gitu?"


"Istri yang udah kamu sakiti dan boongin? toh aku istri durhaka ini, lepasin aku aja, jadi kamu bisa cari cewek yang lebih baik lagi!"


Aliando terdiam. Lagi-lagi dia merasa bersalah dengan kejadian ini.


"Iya, maaf ya," ucap Aliando, ia tidak ingin memperpanjang masalah. Ia akan berusaha ikut aturan main istrinya itu.


"Tapi, pliss, balas lah pesan ku tiga kali sehari aja ya,"


"Hah?"


"Iya, tiga kali sehari, kayak minum obat,"


"Maksudnya?"


"Biar rindu aku ada obatnya, kamu balas ya pesan ku, pagi satu kali, siang satu kali, malam satu kali, mau kan, pliss?" ucap Aliando penuh permohonan.


"Aku gak bisa janji, kita lihat aja nanti,"


"Pokoknya kamu harus balas, kalo nggak, aku akan datang ke rumah kamu, dan memaksa kamu pulang,"


"Apa?" Alisha mulai meninggi lagi.


"Iya, dan pada saat itu, kamu gak bisa nolak, karena aku gak terima penolakan juga aku gak butuh persetujuan kamu,"


"Mulai, kan, kamu senengnya maksa, kalo kayak gitu, kamu akan kehilangan aku selamanya,"


"Dan sebelum itu terjadi, aku akan mencegahnya, kamu adalah bagian dari hidup aku, maka aku akan mempertahankannya, aku gak akan biarkan kamu pergi,"


"Terserah! yang jelas hari ini aku pergi,"


"Okke, aku anggap ini masa healing kamu, dan ini juga hukuman buat aku,"


"Hukuman?"


"Iya, hukuman atas kesalahanku, aku dihukum untuk tidak bertemu kamu, jadi aku terima konsekuensi ini," kata Aliando.


"Mana ada hukuman ringan kayak gini,"


"Hei, kamu biarkan aku menanggung rindu sendirian, itu penyiksaan, Cha, dan sangat berat buat ngejalaninya, waktu kita pacaran aja, kita masih berbalas pesan, kita masih bisa melakukan panggilan video, tapi sekarang, kamu membatasinya, bukankah ini merupakan siksaan istri pada suaminya?"


Ah, lihatlah wajah kekanakan yang ditunjukkan Aliando saat ini, ia begitu lucu dan menggemaskan. Sebenarnya, Alisha ingin tertawa, namun ia sengaja menahannya.


"Siapa suruh jadi suami pembohong, gak percaya sama istri malah percaya ma orang, buat fitnah hamil segala, bikin malu istrinya di hadapan kakek, nenek, dan pak Idris," Alisha kembali sakit hati jika mengingat hal itu, betapa dia merasa harga dirinya direndahkan.


"Ah, iya iya, maaf, aku salah, aku minta maaf, jangan diungkit lagi ya," kata Aliando merasa tidak enak hati.


"Ya sudah, aku pergi!" kata Alisha kemudian pergi, namun kali ini Aliando tidak menghalanginya. Ia memang sengaja membiarkan gadis cantiknya itu pergi, karena menurutnya, istrinya itu memang butuh waktu untuk menenangkan diri hingga bisa menerima hal ini, dan mengerti bahwa yang dilakukan Aliando adalah untuknya, dan merupakan cinta sejatinya yang tulus.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2