
Pagi hari, Aliando bergegas mencari ke tempat- tempat yang menurutnya didatangi oleh Alisha. Namun hasilnya nihil. Ia juga sudah meminta bantuan ketiga sahabatnya dan pihak-pihak yang bisa diharapkan bantuannya. Namun belum ada hasil dari pencarian mereka.
"Cha, kamu dimana?" gumam Aliando. Dia duduk di motornya di pinggir danau, sambil mengutak-atik ponsel milik Alisha, berharap bisa mendapatkan sebuah petunjuk.
Dia membaca semua chat di aplikasi hijau, juga memperhatikan status-status, tak ada yang aneh, hingga saat ia melihat log panggilan, ia memperhatikan sebuah nomor tak dikenal.
Waktu yang tertera, selisih dua menit sebelum Alisha menghubungi Aliando terakhir kali. Itu berarti Alisha menghubungi Aliando setelah menerima panggilan dari nomor asing tersebut.
Segera Aliando melakukan panggilan, namun sayang, nomor yang dituju tidak aktif.
"Siapa sebenarnya orang yang menghubungi kamu hari itu, Cha,"
π΅
"Jadi lo serius ga lapor polisi, ini udah hari kedua menghilangnya Alisha lho?" tanya Rafael pada Aliando. Saat ini mereka berempat sedang berada di rumah panggung Aliando. Sudah sejak subuh mereka berempat berkumpul.
"Nggak, tapi aku udah minta tolong sama om Riko," jawab Aliando.
"Om Riko? Emm ... Om nya Benni yang intel itu, kan?" tebak Robby.
"Iya, gue ma Aliando udah menghubungi om Riko," sahut Benni, "Dan, kalian juga jangan khawatir, Om Arsyad juga sudah minta bantuan sama detektif," lanjutnya.
"Oh, baguslah kalo gitu, tapi menurut feel elo, Al, Alisha kabur atau diculik?" tanya Rafael lagi.
"Diculik," jawab Aliando.
"Lo yakin?" tanya Rafael terkejut, tidak terkecuali Benni dan Robby.
"Feel aku mengatakan seperti itu, tapi aku belum menemukan motif apapun penyebab kenapa Alisha diculik dan siapa orang yang memungkinkan bisa menculiknya," jelas Aliando.
"Apa kalian pernah punya masalah ma orang lain? atau mungkin diantara kalian berdua pernah menyinggung seseorang?" tanya Rafael.
"Kalau secara sengaja menyinggung seseorang, kayaknya gak pernah, tapi nggak tahu kalau ada orang yang tersakiti oleh kami secara tidak disengaja," jawab Aliando.
"Iya juga sih," Robby mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hape Alisha udah diselidiki?" tanya Rafael.
"Iya, ada satu nomer asing, tapi saat aku hubungi, tidak aktif, aku juga sudah menyerahkan nomer ini pada om Riko, tapi belum ada balasan apapun,"
"Wah, itu patut dicurigai," komentar Robby.
"Iya bener, kita tunggu aja hasil penyelidikan om Riko," kata Benni.
"Eh, atau mungkin, seperti biasanya, pelaku penculikan ini adalah fans gilanya elo," ungkap Robby kemudian.
"Atau ... mungkin kali ini, penggemar diam-diamnya Alisha," Rafael ikut-ikutan menebak.
"Nah bisa jadi itu, kita kan gak pernah tahu jika Alisha itu sebenarnya banyak penggemarnya, karena selama ini dia sudah di sabotase sama Al, nah, begitu Aliando lulus, berarti kan Alisha sendirian di sekolah, maka para penggemarnya mulai bergerak dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan," Robby membuat kesimpulan.
__ADS_1
"Hei, tunggu tunggu, ada seseorang yang menurut aku memang butuh ekstra perhatian," kata Aliando spontan.
"Maksudnya?" tanya Rafael, Robby, dan Benni hampir bersamaan.
"Fahri! kenapa aku bisa melupakannya ya?" kata Aliando sedikit bergumam.
"Siapa Fahri?" tanya Benni, seakan mewakili rasa penasaran di hatinya dan di hati Rafael dan juga Robby.
"Anak pindahan, sekelas dengan Alisha, dia itu selalu menganggap Alisha adalah pacarnya yang saat ini hilang ingatan," jelas Aliando.
"Wah, gimana mungkin bisa kayak gitu?" Robby bingung.
"Itu dia, bahkan dia bisa menunjukkan foto-foto seorang gadis yang mirip dengan Alisha," kata Aliando.
"Kayaknya kita harus tanyain dia deh," usul Rafael.
Aliando melihat jam di pergelangan tangannya ya segera mengingat sesuatu.
"Eh, kalian aku tinggal ya, aku sekarang harus ke sekolah menemui Fahri, sekalian aku juga harus ngajar, dari kemarin aku nggak ngajar," kata Aliando pada ketiga sahabatnya itu.
"Ya udah, kalau gitu nanti kita kumpul lagi aja, kita bertiga juga bisa ke kampus dulu, pulang dari kampus, kita ketemuan di tempat biasa, gimana?" kata Robby.
"Di kantin sekolah aja," usul Benni.
"Terserah mau kumpul dimana, kalian atur aja yang penting sekarang aku mau siap-siap dulu ke sekolah," kata Aliando sebelum bangkit untuk bersiap berangkat ke sekolah.
π΅
"Ya sudah kalau kamu nggak tahu," kata Aliando sambil pergi, ia sama sekali tidak ingin memperpanjang masalah.
"Eh, tunggu!" cegah Fahri sambil mencengkram tangan Aliando.
"Apa terjadi sesuatu? Dari kemarin Alisha tidak berangkat sekolah," tebak Fahri curiga.
"Bukan urusan kamu!"
"Aku berhak tau!" tegas Fahri.
"Hegh, siapa kamu? kamu bukan siapa-siapanya!"
"Lalu, kamu siapanya? ngakunya pacar, tapi gak bisa jaga dia, bahkan tidak tau keberadaannya," sindir Fahri.
"Tau apa kamu! kamu gak tau apa-apa,"
"Okke, aku memang gak tau apa-apa, tapi aku ingin tau, apa Alisha hilang?" tanya Fahri.
Aliando terdiam dan sama sekali tidak bermaksud menjawab pertanyaan Fahri.
"Okke, kalau lo nggak mau jawab, hanya saja ... jangan-jangan ....," Fahri terdiam, dia tidak meneruskan kalimatnya, dia hanya bisa melihat Aliando, sehingga keduanya saling bertatapan.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aliando.
"Bukan apa-apa, gue hanya de javu, gue keingetan saat Dhea tiba-tiba saja menghilang karena hanya sebuah kesalahpahaman, apa sebelumnya kalian juga terjadi salah paham?" tanya Fahri menyelidik.
Aliando tetap diam dia memang membenarkan jika sebelumnya antara Alisha dengan dirinya terjadi sebuah "kesalahpahaman".
"Kalo memang iya, mungkin saja dia adalah satu orang yang sama, karena sikapnya dalam menyelesaikan masalah, lebih memilih melarikan diri,"
"Oh," kata Aliando ringan dan terasa datar. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fahri, dan ia pun memilih meninggalkan Fahri.
π΅
"Gimana Mas Al, sudah ada kabar dari Alisha?" kata Naira kepada Aliando saat pulang sekolah, mereka duduk bersama di koridor depan kelas.
"Belum, Ra," jawab Aliando dengan perasaan yang masih tidak karuan.
"Aku udah nanya-nanya ke temen sekelas, tapi mereka juga nggak ada yang tahu, Mas,"
"Iya gak papa, Ra , makasih ya,"
"Apa mas Al, ada masalah ma Alisha?"
"Sebenernya, dibilang masalah juga bukan, karena yang terjadi hanyalah cerita lama yang membuat kacau,"
Naira menganggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Aliando, ia juga tidak ingin bertanya lebih jauh.
"Dia memang suka kabur jika ada masalah, tapi aku gak yakin kalo kesalahpahaman yang ini membuat dia kabur, kalau kabur pun pasti hapenya dia bawa," jelas Aliando.
"Apa dalam dua hari ini ada orang yang menghubungi dia?" tanya Naira.
"Tidak ada sama sekali, dia hanya memiliki sedikit nomer kontak, tidak lebih dari lima puluh orang,"
"Oh sedikit banget,"
"Iya, kayaknya Alisha bukan orang yang suka menyimpan nomer orang lain yang tidak terlalu dekat dengannya,"
"Introvert juga ya," Naira menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Eh, aku mau ke kantin, Ra, kita ke sana ya, apa mau ikut, teman-temanku sudah menunggu," kata Aliando yang baru saja membaca pesan dari Rafael tentang keberadaannya bersama Benni dan Robby di kantin sekolah.
"Sebenarnya, aku ada ekskul tapi masih setengah jam lagi, ya udah, aku ikut kesana deh," kata Naira menyetujui ajakan Aliando.
Rupanya, meski jam pelajaran di sekolah sudah usai, namun, kantin masih saja ramai. Beberapa siswa masih bersantai menikmati jajanannya.
Aliando memperkenalkan Naira kepada ketiga sahabatnya. Ah, ada rasa yang berbeda di hati Rafael saat menjabat tangan Naira. Pertemuan pertama dengan pandangan yang saling memikat satu sama lain diantara keduanya.
Obrolan pun berlanjut, terutama membahas tentang keberadaan Alisha.
"Jadi bener kan Alisha hilang?" tebak seseorang yang sejak tadi menguping pembicaraan kelimanya, ia menghampiri meja mereka.
__ADS_1
π»π»π»π»π»