
Sementara itu, di sebuah kota di luar negeri.
"Ini dia! Ini ibumu yang menjual kamu pada kami!" kata seorang wanita paruh baya saat melihat sebuah tayangan berita online di ponselnya. Ia menunjukkan ponsel tersebut pada seorang gadis yang sedang berlatih bela diri.
"Ini ....?" gadis itu tak percaya dengan yang dilihatnya di ponsel. "Muncikari?" tanyanya kemudian. Dia Dhea Wijaya.
"Aku tau, ibu kamu emang ga bener, mana ada ibu yang tega jual anaknya, tapi yang jelas, wanita cantik ini adalah ibu kamu, dan aku gak mungkin salah mengenalinya, aku masih ingat kecantikan dan keangkuhannya,"
"Maksud mamah?" tanya Dhea pada ibu angkatnya itu, Arianty.
"Sebelum melahirkan dia sudah menjual kamu, dia bekerjasama dengan dokter yang melakukan operasi, entah bagaimana keadaan ayahmu, kayaknya dia emang bener-bener gak ngerti kelakuan istrinya,"
Dhea terdiam.
"Apa kamu masih marah sama mamah dan papah?"
"Nggak, Mah, aku udah ngerti dan gak nyalahin mamah juga papah! Aku tau kalian memang menginginkan seorang anak, dan aku sangat berterimakasih!"
"Kamu emang anak mamah!"
Dhea tersenyum.
π΅
Arsyad, Aliando dan Alisha menyempatkan untuk pergi ke rumah tahanan, ingin mengetahui keadaan Vanya.
Rupanya, wanita yang menjadi ibu dari Alisha ini sama sekali tidak memperlihatkan penyesalan. Ia malah tidak menerima kehadiran ketiganya dengan baik.
"Pergilah! Aku gak ingin ngelihat kalian!" kata Vanya saat itu.
"Kamu keterlaluan, Vanya!" ungkap Arsyad.
Pada akhirnya, ketiganya pulang dengan perasaan menyesal karena mereka sudah membuang-buang waktu untuk mengunjungi Vanya.
"Kamu pasti kecewa," kata Aliando pada Alisha. Saat ini keduanya sedang berbaring di tempat tidur sembari menatap langit-langit kamar di rumah panggung milik Aliando.
"Iyakah? Apa bener aku kecewa? Rasanya sudah terlalu banyak aku kecewa sama bu Vanya, sampai-sampai aku sudah tidak bisa membedakannya, apakah perasaanku ini kecewa, kasihan atau benci atau mungkin jijik!" jelas Alisha yang berbaring berbantalkan lengan Aliando.
"Ya sudah, gak usah dipikirin, aku anggap kamu gak kecewa, okke!"
Alisha mengangguk sambil tersenyum. Saat ini perasaannya lebih tenang. Meskipun ia selalu merasa sendiri, tanpa keluarga, nyatanya ia memiliki suami yang sangat perhatian dan begitu menyayanginya.
π΅
"Ya Tuhan, mas Al?" ucap Naira terkejut. Ia menutup mulutnya saat melihat Aliando berdiri di depan kelas. Bahkan siswa putri yang lain ada yang teriak bahagia, seakan bertemu idola.
Sementara Alisha yang duduk di samping Naira tak kalah terkejut. Matanya membelalak tak percaya.
"Hah, ada angin apa kak Ando ke kelas?" gumam bathin Alisha sembari mengingat-ingat, apakah ada peristiwa penting? Ataukah Alisha berbuat salah ataukah ada urusan dengan Fahri? Semua terkaan itu melintas di pikirannya dan membuat hati tidak tenang.
"Selamat pagi semuanya," sapa Aliando ramah. Senyumnya luar biasa menyilaukan, membuat sebagian siswa di kelas terutama yang putri tak hentinya mengagumi dan terpana kepadanya.p
"Pagiii ...," jawab semua yang berada di dalam kelas.
Alisha dan Naira melirik saling pandang. Di hati keduanya penuh tanya. Menerka-nerka apa maksud kedatangan Aliando ke kelasnya.
"Mungkin sebagian sudah ada yang mengenal saya, tapi tidak ada salahnya, agar lebih akrab, sebaiknya saya memperkenalkan diri," jelas Aliando.
__ADS_1
Semua terdiam, serius memperhatikan Aliando.
"Saya Aliando, alumni sekolah Garuda tahun kemarin, dan mulai pagi ini, saya akan menggantikan Pak Helmi untuk sementara waktu,"
Semua wajah yang ada di kelas terlihat terkejut, tidak terkecuali Alisha.
"Ya ampun, yang bener aja, Abang bakal ngajar di sini?" gumam bathin Alisha tak percaya.
"Jadi, kalian pasti sudah tau bagaimana keadaan pak Helmi, selama beliau tidak bisa melaksanakan tugas mengajar dikarenakan sedang dalam masa penyembuhan pasca kecelakaan, maka ke depannya, pelajaran sains akan saya ampu ... Untuk itu, saya mohon kerjasamanya," jelas Aliando dengan senyuman yang penuh percaya diri.
Semua siswa putri menjerit kegirangan, mereka bahagia karena akan belajar bersama dengan idola mereka.
"Wah, jadi kita manggilnya apa dong ... masa pak guru," celetuk salah satu siswa yang memiliki rambut panjang berponi.
"Masih terlalu imut kali, untuk dipanggil pak guru," kata siswa yang duduk tepat di belakang Alisha.
"Kakak guru aja," celetuk satu lagi siswa putri yang berkepang satu duduk di barisan tengah.
"Boleh, silahkan panggil apa aja, yang penting nyaman dan sopan," kata Aliando.
Hati Alisha tak karuan, ia benar-benar tidak nyaman dengan keberadaan Aliando di kelas. Padahal Aliando sendiri sama sekali tidak memperlihatkan kekhawatiran apapun, dan dengan sangat percaya diri, Aliando menyampaikan materi sains sesuai yang diarahkan oleh bu Laila, partner kerja pak Helmi.
Beberapa kali Aliando mencuri pandang ke arah Alisha dan dia sangat menikmati keadaan Alisha yang salah tingkah dan canggung. Senyum kecilnya selalu terbit, bahkan dia sudah tidak sabar ingin menggoda istrinya itu.
"Okke, pembelajaran telah selesai, jika memang sudah tidak ada yang ditanyakan, maka, kita akhiri sampai di sini dulu, untuk tugasnya jangan lupa ... silahkan dikerjakan halaman seratus dua puluh dua,"
"Yaah," keluh hampir siswa di kelas seakan merasa keberatan mendapatkan tugas.
"Hanya dua soal saja, silahkan dikerjakan sesuai materi yang tadi sudah saya sampaikan, jika nanti ada kesulitan, kita bisa diskusikan pada pertemuan berikutnya, terimakasih, selamat pagi menjelang siang semuanya," kata Aliando menutup sesi pelajaran pagi itu.
π΅
"Ada masalah apa, kenapa kamu tiba-tiba ngechat aku, ingin pulang duluan? Padahal aku kan sudah bilang tunggu aku, aku masih ada urusan di ruang guru," ujar Aliando sambil duduk di samping Alisha di bibir tempat tidur.
"Kenapa Abang ngelakuin ini?" tanya Alisha sambil meletakkan ponselnya di samping bantal.
"Maksudnya?" tanya Aliando tak mengerti.
"Kenapa Abang tiba-tiba ngajar? Apa sebegitu khawatirnya kah Abang soal Fahri? Apa Abang gak percaya ma aku?" tanya Alisha dengan mode kesal.
Aliando tersenyum, ia mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Alisha.
"Kenapa kamu kepikiran seperti itu? Emang orang bisa sembarangan ngajar? Cha, aku ngajar itu khusus diminta sama kepala sekolah untuk menggantikan pak Helmi yang sedang proses penyembuhan karena kecelakaan,"
"Bohong, kenapa Abang gak bilang ma aku?"
"Sengaja, biar surprise,"
"Ya, dan Abang sukses bikin aku terkejut nyampe salah tingkah," kata Alisha sambil bangun kemudian duduk menghadap Aliando.
"Iya, dan aku sangat menyukai ekspresi wajah kamu saat kamu ngelihat aku di depan kelas, kamu sangat menggemaskan, Cha," kata Aliando sambil mencubit lembut kedua pipi Alisha.
"Aw sakit Bang," Alisha menyingkirkan kedua tangan Aliando kemudian mengusap kedua pipinya.
"Lagian Cha, aku gak mungkin melakukan hal konyol cuma karena Fahri ... Apa aku secemburu itu sama Fahri? Asal kamu tau, dibandingkan dengan obsesi dia ke kamu, aku lebih mempercayai kamu," kata Aliando sambil mengusap pucuk kepala Alisha.
Alisha tertegun. Ah, betapa sempitnya ia berpikir mengenai alasan Aliando mengajar.
__ADS_1
"Kenapa? kok malah jadi diem?" tanya Aliando kini. Ia bangkit dari duduknya bermaksud untuk mengganti pakaian. Namun dengan cepat Alisha memeluknya, sehingga Aliando mengurungkan niatnya berdiri dan duduk kembali.
"Ada apa?"
"Kalo Abang ngajar, emang gak ganggu kuliah Abang?" tanya Alisha.
"Enggak, jadwalnya disesuaikan, mapel sains kan, guru pengampu ada lima, gak ada pak Helmi berkurang satu, jadi, ketika sekolah meminta aku untuk membantu, mereka juga sudah menyiapkan skenario jadwal mengajar yang sesuai dengan jadwal kuliahku,"
Alisha mengangguk.
"Tau nggak, Cha, betapa bahagianya aku, ketika akhirnya aku bisa mengajar di kelas kamu," ungkap Aliando.
"Wah, Abang seneng banget, tapi ... sumpah deh Bang, aku gak nyaman banget!" jelas Alisha.
"Gak papa, nanti kita akan terbiasa!" kata Aliando, "Dan siap-siap aja, belajar bareng aku!" lanjutnya.
Alisha langsung menampilkan mode cemberut. Matanya penuh kekhawatiran akan hal-hal yang mungkin saja bisa terjadi selama pembelajaran.
"Gak usah mikir aneh-aneh," kata Aliando sambil mengetuk pelan kening Alisha.
"Eh," Alisha tersadar, ia pun mengusap keningnya.
"Oya Bang, eh, nggak, kakak guru ...." panggil Alisha dengan tatapan menggoda.
"Apa? perasaanku jadi gak enak deh, mau minta apa, hm?" tanya Aliando yang mengerti dengan tatapan menggoda Alisha.
"Ntar ngerjain tugas aku ya," mohon Alisha dengan wajah dibuat seimut mungkin. Ia kemudian mendekap Aliando dengan erat.
"Gak bisa! Kamu kerjakan sendiri! kalo kamu gak bisa, baru tanya aku!" kata Aliando sambil berusaha melepaskan pelukan Alisha, sehingga Alisha kembali duduk di hadapan Aliando.
"Oh, ayolah, kakak guru, adikmu ini lagi lelah otaknya," kata Alisha memelas, ia menepuk sendiri kepalanya.
"Cium dulu aku nan ....mmmph," ucapan Aliando terpotong saat tiba-tiba Alisha mencium bibirnya cepat.
"Clear! Aku sudah nyium Abang, jadi, nanti Abang yang ngerjain tugasnya,"
"Hei, berani banget murid nyium gurunya, ini namanya nyogok,"
"Wah, malah nyalahin adik murid, bukannya tadi kakak guru yang minta cium?"
"Tetep saja, aku gak akan ngerjain tugas kamu!"
"Hish, Abang bohong!" kata Alisha mencubit lengan Aliando.
Aliando hanya tersenyum, ia benar-benar gemas dengan tingkah Alisha.
π΅
Pada akhirnya semuanya pun berjalan seperti seharusnya. Meskipun pada awalnya terasa canggung, akhirnya Alisha dan Aliando mulai terbiasa di dalam kelas bersama, sebagai guru dan murid.
Hubungan keduanya pun tak banyak yang tahu, Aliando sudah tidak lagi bekerja di kantin Alifia. Sementara Fahri, masih saja berusaha mendekati Alisha di luar pengetahuannya Aliando.
Namun sayang, di saat Fahri terus berusaha mendekati Alisha, Aliando justru semakin sibuk, tidak hanya mengajar di kelas, tapi dia juga ikut menjadi pembimbing beberapa siswa yang mengikuti Olimpiade Sains.
"Cemburu ya?" tanya Fahri pada Alisha.
π»π»π»π»π»
__ADS_1