Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
44. lamaran subuh


__ADS_3

"Iya, tunggu!" Alisha bergegas ke ruang depan untuk membuka pintu. Tak biasanya ada suara ketukan pintu di subuh hari. Untung saja, dia sudah selesai menunaikan ritual wajibnya.


"Kak Ando?" Alisha terkejut. Ia tidak menyangka Aliando datang di waktu subuh, biasanya dia akan datang jam enam pagi, tapi hari ini tampak begitu berbeda.


"Ada apa?" tanya Alisha tanpa mempersilahkan Aliando masuk.


"Aku sangat mencintai kamu, aku sayang kamu, dan aku akan menjaga kamu!" ucap Aliando sambil memeluk Alisha erat.


"Hei! ada apa sih?" tanya Alisha, namun ia membiarkan Aliando mendekapnya.


"Apa kamu udah sembuh?" tanya Aliando sambil melepaskan dekapannya.


"Lumayan, udah lebih baik dari semalam!" jawab Alisha.


Aliando memegang kening Alisha. Semua baik-baik saja.


"Ada apa, Bang?" tanya Alisha masih terheran dengan kedatangan Aliando.


"Boleh aku tagih hadiah kamu?"


"Apa maksudnya?"


"Kita menikah ya, dan jangan ditolak," ucap Aliando sambil menyematkan sebuah cincin emas yang sangat cantik dan elegan di jari manis Alisha. Pas, cincin itu benar-benar sesuai ukurannya dengan jari manis Alisha. Cincin yang sangat indah yang sudah Aliando siapkan semenjak ia melamar Alisha tempo hari.


Alisha bingung, ada apalagi ini? Kenapa Aliando kembali mengungkit perihal pernikahan, padahal, ia merasa, terakhir kali membahas pernikahan, saat Aliando ulang tahun. Alisha setuju menikah, disaat dirinya sudah siap. Namun, sepertinya kali ini, ada sesuatu yang mendesak dan harus segera dilakukan. Seakan Aliando meminta pertolongan padanya, sama seperti ketika Aliando meminta agar Alisha menjadi pacarnya.


"Kak Ando, aku masih sekolah," ucap Alisha tegas.


"Aku tau! Aku gak akan ganggu sekolah kamu, aku hanya ingin menjagamu dengan cara yang halal! Plis, jangan tolak aku!"


"Dua hari lagi aku test kenaikan kelas, masa nikah sih, aku harus belajar, Bang,"


"Kita nikah selesai kamu test, okke,"


"Kamu yakin dengan keputusanmu? Aku belum tentu yang terbaik buat kamu! Di luaran sana, ada yang cantik, ada yang baik, ada yang cocok buat kamu, Bang,"


"Tapi tidak ada yang bisa membuat feel aku begitu yakin! hanya kamu, Cha! Ijinkan aku untuk menjagamu," ucap Aliando.


"Aneh, ada orang mau jaga aja, maksa, padahal tinggal jaga aja kan." kata Alisha setengah menggerutu.


"Tapi aku punya hati, punya akal, punya nafsu, kalo aku khilaf gimana? terkadang imanku gak setebal yang kamu kira!" kata Aliando santai.


"Pa-an sih, Bang! jangan bikin aku merinding subuh-subuh kayak gini!"


"Hahaha, tenang aja, Cha, aku baru aja abis sholat, jadi masih inget Tuhan, gak tau kalo aku udah lupa!"


"Jadi intinya kamu mau jaga aku atau gimana? kok kayaknya, aku malah harus hati-hati sama kamu, Bang,"

__ADS_1


Aliando tersenyum.


"Aku akan jaga kamu dengan cara yang halal, kamu mau kan?" tanya Aliando sekali lagi.


Alisha menarik nafas panjangnya.


"Tapi, aku bingung gimana caranya jadi seorang istri apalagi seorang ibu! Hiiii ... aku gak bisa bayangin, Bang!"


"Sampai kapanpun kamu gak akan pernah siap, Cha," kata Aliando, ia cukup tahu perasaan dan pikiran Alisha tentang pernikahan. Ada sebuah trauma dan krisis kepercayaan terhadap pasangan hidup, bahkan mungkin sampai pada titik tidak percaya akan adanya hubungan sejati dalam pernikahan.


"Kalau gitu, kamu jangan maksa aku!" tegas Alisha.


"Pokoknya kita menikah! aku gak butuh persetujuanmu, dan aku gak terima penolakan!"


"Lho kok gitu sih, nikah itu kan gak main-main, semua harus dipersiapkan dan dipertimbangkan dengan mateng, karna untuk selamanya, gak kayak pacaran, yang bisa kapanpun putus!"


"Jadi menurutmu, pacaran kita selama ini tujuannya putus gitu?"


"Iya! Kalo kamu udah lulus, maka berakhir lah hubungan kita!"


"Ya Tuhan, kenapa kamu mikirnya kayak gitu! Apa kamu gak pernah ngerasain atau ngelihat keseriusan aku?" tanya Aliando.


"Ngelihat! tapi aku takut untuk percaya, aku takut kamu bikin aku sakit hati dan tidak ada harganya,"


"Gak akan, Cha!"


"Kamu tau, Bang, aku takut ... kamu pergi ninggalin aku, setelah aku memberikan hatiku dan hidupku sepenuhnya,"


"Tapi bisa saja terjadi, kan?"


"Okke kalo kamu gak percaya, dan kalo memang menurut kamu pacaran bisa putus, mari kita putus!"


Alisha terkejut dengan pernyataan Aliando, ternyata memang benar, Aliando dengan mudahnya mengatakan putus. Kini, wajah Alisha sudah memerah, hatinya merasakan sakit, dadanya menahan sesak teramat, hingga menghirup udara pun rasanya sulit.


"Kan, kamu memang gak bisa dipercaya!" ucap Alisha lirih sambil menahan air mata yang hampir saja keluar dari kelopak matanya.


"Ayo kita menikah, Cha, untuk selamanya, dan tak akan ada kata putus!" ajak Aliando tegas.


Ah, Aliando memang ahli memporak-porandakan perasaan Alisha, sampai akhirnya, ia juga yang mengembalikan perasaan gadis itu sangat rapi.


"Kamu kenapa mainin perasaan aku pagi ini?" tanya Alisha sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.


"Apa kamu takut kalo hubungan kita berakhir?"


Alisha mengangguk sambil terisak.


"Maaf, aku hanya ingin menunjukkan kalau pacaran kita memang akan berakhir, tapi berakhir ke pelaminan, dan ini adalah tujuan aku menjadikanmu pacar, Cha!" kata Aliando sambil memeluk Alisha untuk menenangkannya.

__ADS_1


Kali ini Alisha membalas pelukannya. Keduanya saling menikmati perasaan hangat dalam hati mereka.


"Jadi, kita menikah ya!" kata Aliando sambil melepaskan pelukannya, kemudian memandang lekat kedua mata lentik Alisha, mencari kesungguhan didalamnya.


Alisha menganggukkan kepalanya, menandakan ia setuju untuk menikah dengan Aliando.


"Tapi ada syaratnya," kata Alisha.


"Apa, hm?"


"Kalau aku gak bisa jadi istri yang baik, kamu jangan marah!"


Aliando tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu juga, kalo aku ga bisa jadi suami yang baik, jangan kecewa ya,"


"Gak bisa, kamu gak boleh mengecewakan aku,"


Ah, lihatlah, betapa egoisnya Alisha, namun Aliando sama sekali tidak mempermasalahkannya, ia suka dengan cara Alisha mengungkapkan keinginannya.


"Ah, iya, oke, oke, aku akan jadi suami dan ayah yang terbaik buat kamu dan anak-anak kita!"


"Eh, aku gak mau punya anak sekarang, kamu kan bilang, gak akan ganggu sekolahku, kita juga masih bisa kuliah, kalo aku punya anak, aku pasti cuma jagain anak, aku gak mau,"


"Heheh, iya, Cha, aku gak maksa kamu, kita akan memiliki anak, jika kita sudah siap,"


"Dan ...," Alisha menghentikan ucapannya. Pandangannya ia alihkan ke bunga-bunga yang ada di teras.


"Apa?" tanya Aliando melihat keraguan Alisha untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. "Aku ... aku bingung, kalo jadi istri itu gimana, Bang? Hiiiiii aku belum siap!" ucap Alisha sambil menggeleng dan memejamkan matanya. Telapak tangannya memukul pelan kepala beberapa kali. Ia tidak bisa membayangkan menghadapi malam pertama dan malam-malam berikutnya sebagai seorang suami istri.


"Aww!" Alisha membuka matanya kemudian mengusap keningnya karena diketuk oleh Aliando. "Kenapa sih, Bang?" protes Alisha.


"Kamu mikir apa, hm? bersihin tuh otaknya! Gak usah ngeres!"


"Heee, apalagi sih, Bang, kalo udah suami istri kan pasti ada malam pertama, malam kedua dan malam-malam berikutnya!"


"Emh, dasar omes ... omes," kata Aliando sambil mengetuk lagi kening Alisha beberapa kali.


"Aku kan udah bilang, soal itu tunggu kamu siap," imbuhnya.


"Emang kamu kuat nunggu? kalo nyampe tiga tahun atau beberapa tahun ke depan gimana?"


"Terserah, kapanpun kamu siap!"


"Tapi, sayang, kalo ternyata ... imanku juga, mungkin gak setebal yang kamu kira, gimana, Bang?"


"Hahaha, ya sudah gak papa, yang penting kita sudah halal," kata Aliando sambil tergelak, ia justru merasa gemas sendiri dengan ucapan gadis cantiknya itu.

__ADS_1


Tiba-tiba pak Mamat penjaga komplek dan pak RT datang ke rumah Alisha.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2