Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
22. Prasangka Aliando


__ADS_3

Aliando menutup kepala dengan hoddie jaketnya. Ia mencari aman, mencuri dengar, tanpa harus terlihat oleh Alisha. Sehingga, akhirnya ia melihat Alisha keluar dari kamar tersebut .


Aliando sengaja mengikuti gadis itu namun dengan cara yang tersembunyi agar Alisha tidak curiga.


"Cha!" panggil Aliando saat ia menghentikan motornya tepat dihadapan Alisha yang sedang meneteskan air matanya karena membaca pesan dari Aliando.


"Kak Ando!" Alisha terkejut.


Ia segera menghapus air matanya, saat Aliando turun dan mendekatinya.


"Akhirnya aku menemukan kamu, kamu gak papa?" tanya Aliando sambil memeluk Alisha.


Sesaat Alisha hanya mematung, ia bingung harus menjawab apa? dan bagaimana Aliando bisa menemukannya malam-malam seperti ini, pikirannya seakan bekerja keras untuk menjawab semua pertanyaan yang ada dalam hatinya.


Tapi ia tidak peduli, tangisnya tadi adalah tangis harunya pada Aliando. Ia membalas pelukan Aliando lebih erat dari yang dilakukan cowok tampan itu kepadanya.


Ia menjawab pertanyaan cowok tampannya itu, dengan menganggukkan kepalanya di dada Aliando.


"Syukurlah kamu ga kenapa-kenapa, aku sangat khawatir, karena sampai jam segini kamu belum pulang ke rumah,"


"Kamu nyari aku, Bang?" tanya Alisha sambil menatap wajah Aliando, namun ia tidak melepaskan pelukannya.


"Iya, seharian nunggu kamu di rumah, pesan gak dibales, telfon gak diangkat, lalu aku mencarimu, untunglah aku menemukanmu di sini!" bohongnya pada Alisha. Ia tidak ingin gadis cantiknya itu mengetahui jika seharian ini dia mengikutinya.


"Maaf," ucap Alisha singkat. Ia pun kembali membenamkan kepalanya di dada Aliando. Ah, entah kenapa rasanya nyaman sekali berada di pelukan Aliando.


"Apa begini caranya, Cha, kamu terlihat manis, dan memelukku? apa kamu merasa bersalah telah menghianatiku?" gumam Aliando sambil membelai rambut Alisha. Hatinya memang sakit, namun rasa sayangnya pada Alisha sangat besar dan mendalam, dia tidak sanggup harus hidup tanpa Alisha. Untuk itulah ia tetap dengan perasaannya dan lebih memilih rasa cinta pada gadis cantiknya itu.


"Pekerjaanmu ini kuanggap bukan pengkhianatan, Cha, aku sayang kamu, pelan-pelan bersamaku, kamu tidak harus bekerja seperti ini lagi, Cha, aku pastikan itu," tegas Aliando dalam hati.


"Andai kamu tahu, aku habis dari hotel dengan seorang pria, mungkin kamu tidak akan bersikap seperti ini kak Ando! Kamu pasti akan marah! Maaf," Kali ini Alisha yang bergumam dalam hatinya.


"Lalu kenapa kamu nangis, hm?" tanya Aliando melepas dekapannya, namun ia masih memegang kedua lengan Alisha.


"Gak papa!"


"Jangan bohong, ceritalah!"


"Ayo, Cha, ceritalah, aku nggak apa-apa, jujur aja, apa kamu menangis gara-gara tidak jadi melayani pria itu?" tanya Aliando dalam hati. Saat ini ia memang tidak ingin gadisnya itu tahu jika sebenarnya ia sudah mengetahui pekerjaannya.


"Karena baca pesan kamu!" jawab Alisha jujur.


"Eh?" Aliando malah bingung, jawaban yang diberikan Alisha di luar dugaannya.


"Pesan? kenapa dengan pesanku?" tanyanya kemudian.


"Pesan dan panggilan kamu banyak banget, bikin sakit di sini!" kata Alisha sambil menepuk pelan dadanya sendiri.


"Kenapa sakit, hm?" tanya Aliando penuh selidik. Pikirannya menjawab jika Alisha sakit hati karena merasa bersalah telah mengkhianatinya.


"Sakit yang bikin bahagia,"


"Maksudnya?"


"Aku terharu, aku makasih sama Tuhan, di saat aku kehilangan papah, aku dipertemukan dengan kamu dalam hidup aku, meskipun kamu tidak mungkin bersikap seperti papah!'


Hati Aliando mendadak berdebar kencang dengan rasa bahagia yang luar biasa membuncah.

__ADS_1


"Apa kamu bahagia?" tanya Aliando berbinar.


Alisha mengangguk.


"Apa kamu sudah mencintai aku?" tanyanya lagi dengan rasa penasaran yang begitu dalam.


Alisha menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahunya. Ia tidak tahu akan perasaannya ini, ia belum bisa memastikannya, apakah ia benar-benar cinta atau hanya sebatas nyaman bersama Aliando.


Cowok itu tak peduli dengan jawaban Alisha. Yang ia tahu saat ini, gadisnya itu perlahan telah membuka hati untuknya.


"Aku tidak peduli kamu suka aku atau tidak, yang jelas aku mencintaimu, dan kamu adalah calon istriku, ingat itu!" kata Aliando sangat yakin.


"Tapi ...."


"Gak ada tapi, aku ga butuh persetujuanmu, dan ingat, aku gak nerima penolakan! Okke?" tegas Aliando.


Alisha pun mengangguk. Entahlah kali ini ia hanya ingin patuh dengan apa yang Aliando katakan.


"Ayo kita pulang," kata Aliando sambil melepas jaketnya, kemudian mengikatnya di pinggang Alisha.


"Kenapa rok kamu pendek gini? apa gak dingin?" tanya Aliando.


Alisha kikuk.


"Ya Tuhan, apakah kak Ando nyangka yang aneh-aneh tentang aku? malem-malem, pake rok pendek, deket hotel lagi? apa kak Ando curiga?" gumam bathin Alisha cemas.


"Sudah!" ucapnya setelah selesai mengikat, "Jangan lagi pake rok pendek ya," perintahnya tegas.


Alisha hanya mengangguk dengan pikirannya yang penuh kekhawatiran. Ia takut Aliando akan berpikiran negatif tentangnya. Walaupun sebenarnya Aliando sudah berpikiran negatif tentang Alisha.


Selama perjalanan, Alisha tak melepas dekapannya, entahlah, rasanya dia hanya ingin seperti itu, mendekap lelaki yang telah membuatnya merasakan sesuatu yang indah dan unik di hatinya untuk pertama kalinya.


Aliando pun diam dalam keheningan. Ia merasakan kehangatan yang begitu indah. Meskipun rasa sakit itu masih ada namun ia memilih untuk mengabaikannya.


"Ayo, Cha, udah nyampe," kata Aliando setelah tiba di depan warung bakso pak Aman.


"Lho, kok ke sini?" tanya Alisha heran.


"Kamu di sini aja, aku nggak enak sama tetangga kompleks rumah kamu kalau kamu pulang tengah malam seperti ini, kalau di sini ada mak Leha jadi orang-orang juga nggak akan curiga, okke?"


Alisha mengerti apa yang dipikirkan oleh Aliando. Ia pun menurut. Warung bakso pak Aman memang cukup luas, bagian depan untuk berjualan, dan bagian belakangnya terdapat dua buah kamar tidur, dua kamar mandi, sebuah ruang istirahat/ruang keluarga, juga terdapat dapur, dan di halaman paling belakang terdapat rumah panggung milik Aliando.


"Tidurlah, di sini," perintah Aliando pada Alisha sambil meletakkan sebuah kaos dan celana training di kasur.


"Ganti pakaianmu, dan lekaslah tidur,"


"Lalu, kamu dimana?" tanya Alisha, karena di kamar Aliando hanya ada satu tempat tidur, meskipun kasurnya cukup besar namun ia juga tidak menginginkan untuk tidur bersama dengan Aliando.


"Aku bisa dimana aja! sudah, gak usah pikirin aku,"


Alisha kembali mengangguk, sambil mengambil kaos dan celana training yang ada di atas kasur.


Hanya sepuluh menit untuk bersih-bersih dan Alisha pun keluar dari kamar mandi.


Aliando tersenyum melihat Alisha dengan kaos dan celana training yang dipakainya,


"Kenapa ketawa?" tanya Alisha bingung dengan tatapan yang diperlihatkan oleh Aliando kepadanya.

__ADS_1


"Kebesaran ya, makanya, punya badan itu digedein," komentar Aliando.


"Ih, ini udah badan paling ideal, tau nggak?"


"Iya, iya," Aliando menyetujui, ia tidak ingin berdebat. Walaupun hatinya berkata, "Ideal tapi sudah di cicip sana sini," gumamnya dalam hati.


"Nih, diminum susu hangatnya," perintah Aliando sambil menyerahkan segelas susu hangat buatannya.


"Tau banget sih, kalau aku suka minum susu sebelum tidur," kata Alisha kemudian menerima segelas susu hangat yang diberikan oleh Aliando.


"Apa yang aku nggak tahu tentang kamu? bukannya selama ini, aku sering nganterin kamu belanja?" kata Aliando kemudian.


Alisha tersenyum, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Aliando. Kemudian gadis itu duduk di pinggir tempat tidur dan meminum susunya.


Aliando duduk di sampingnya, memperhatikan bagaimana gadis itu minum. Sangat menggemaskan.


"Tidurlah, kamu perlu istirahat," kata Aliando sembari mengambil gelas dari tangan Alisha yang telah habis isinya.


Alisha mengangguk.


"Aku tinggal ya, buat kamu nyaman,"


Aliando kini bangkit kemudian mengacak kecil kepala Alisha.


Lagi, Alisha mengangguk. Ia benar-benar merasakan perasaan yang indah dan nyaman.


"Kak Ando!" panggil Alisha saat Aliando membuka pintu kamar.


"Apa?"


Alisha bangkit kemudian berlari dan mendekap Aliando sangat erat.


"Makasih, makasih udah cinta aku!" ucap Alisha sembari membenamkan kepalanya di dada Aliando dan merasakan kehangatan tubuhnya. Nyaman, itu yang ia rasakan.


Aliando membalas pelukan itu, tangan satunya yang tidak memegang gelas membelai lembut rambut Alisha.


"Hmm, tidurlah!" ucap Aliando sambil mengecup pucuk kepala Alisha.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Halo kak readers


Semoga pikiran Aliando salah ya... dan segera terjawab apa pekerjaan sebenarnya Alisha.


makasih yaa udah baca. semoga tetap terhibur ya


sehat selalu kak readers. 😘😘😘


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Halo kak readers mampir juga yuks ke novel sahabatku kak Nophie judulnya Suamiku Kekasih Mamaku, pokoknya seru n kereeen bgt, jgn lupa dukungan buat authornya yaaa.... 😘😘😘



Happy Reading yaaa😘😘😘


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2