
Pandangan Alisha dan Aliando bertemu dari kejauhan, saat gadis itu berjalan menuju tempat parkir, sementara sang cowok idola sedang berdiri di dekat motor Alisha.
Rasa lega terpancar dari wajah Aliando. Wajahnya berbinar bisa melihat Alisha hari ini. Ia segera melangkah menghampiri gadis cantiknya itu.
Namun langkahnya terhenti, saat dilihatnya keadaan Alisha sangat kacau.
"Kamu kenapa? Kenapa ga angkat telfon aku? lalu kenapa keadaan kamu kayak gini? kamu berkelahi?" tanya Aliando penuh kekhawatiran.
Alisha hanya menatap Aliando. Ia merasa tersentuh dengan perhatian cowok tampannya ini.
"Kenapa diem aja, hm?" Aliando menunduk melihat wajah Alisha. Tangannya terulur membelai lembut pipi Alisha. Ia kemudian memindai Alisha dari atas hingga bawah.
"Kamu habis berkelahi?"
"Hanya bermain aja,"
"Ayo kita pulang, bersihkan diri kamu," kata Aliando sambil menarik tangan Alisha menuju motornya.
"Mana kuncinya? Biar aku yang nyetir," pinta Aliando.
"Lho, emang kamu kesini naik apa?" tanya Alisha sambil menyerahkan kunci motornya.
"Taksi!" jawab Aliando singkat.
Mereka pun meninggalkan sekolah. Aliando membawa Alisha ke rumah kontrakannya.
"Kamu darimana? Tumben gak sekolah?" tanya Alisha setelah dia mengganti bajunya, lalu menghampiri Aliando yang sedang duduk lesehan di teras. Ia menyerahkan sebotol air mineral ukuran sedang pada Aliando.
"Kangen ya?" tanya Aliando sambil menerima botol air mineral tersebut, kemudian ia membuka tutup botol dan meminum airnya.
"Eh, jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan," protes Alisha.
"Aku abis ketemu nenek dan kakekku,"
"Oh, kamu masih punya kakek nenek ya?"
"Iya, kapan-kapan aku kenalkan kamu ya,"
"Jauh?"
"Dua jam dari sini!"
Alisha mengangguk.
"Kamu gak kangen aku?"
"Kangen-lah, masa ditinggal pacar ga kangen?"
"Serius?" wajah Aliando berbinar, ia tidak percaya jika gadis cantiknya ini benar-benar merindukannya.
"Iyalah, gada kamu, aku jadi harus naik motor sendiri, tadi aja belanja, aku sendiri, padahal aku udah terbiasa apa-apa ditemeni kamu,"
Aliando tergelak. Ah, ternyata hanya sebatas itu dia dirindukan oleh Alisha.
"Kenapa ketawa?" tanya Alisha bingung.
"Karena kamu hanya merindukan tukang ojekmu!"
"Iyalah, gratis lagi!"
Aliando makin gemas dengan gadis cantiknya itu.
"Ceritakan apa yang terjadi sama kamu di sekolah saat aku gak ada!" tanya Aliando kini, sambil meminum kembali air mineral dari botol yang dipegangnya.
"Gada papa,"
"Kamu dibully?"
"Itu hanya main-main aja, ga perlu tau!"
Aliando terdiam, jika Alisha sudah berkata demikian itu tandanya ia harus mematuhi syarat yang diajukan oleh Alisha untuk tidak ikut campur urusannya.
"Oh iya, kamu sahabatan ma Rafael?" tanya Alisha pada Aliando.
"Kamu tau dia?"
"Nggak, tapi aku ingin tau tentang dia!"
"Dia temanku!"
"Ada masalah dengannya?" Alisha pura-pura menebak.
Aliando tak menjawab, ia hanya melirik gadis cantiknya itu.
"Kamu habis bertemu dengan siapa, hm?" tanya Aliando penasaran, karena Alisha tiba-tiba saja bertanya tentang Rafael.
"Teman-temanmu,"
"Robby? Benni? Rafael?" tanya Aliando.
__ADS_1
"Hanya Robby dan Benni," jawab Alisha.
"Sudah ku bilang, aku membatasi diri dengan mereka,"
"Terutama Rafael?"
"Ketiganya!"
"Kenapa?"
"Karena aku sekarang punya kamu, aku ingin selalu bareng kamu,"
"Bukannya karena feel ya, kamu membatasi diri kamu dengan mereka?"
"Iya, feel aku mengatakan harus memberi jarak pada mereka dan feel aku juga mengatakan harus selalu bersama kamu!"
"Andaikata, feel kamu mengatakan jauhi aku, maka kamu akan menjauh?"
"Itu gak akan terjadi, Cha!" tegas Aliando.
"Kenapa?"
"Karena feel aku ga pernah salah tentang kamu!"
"Sebenarnya apa feel kamu pada aku?"
"Kamu adalah yang terbaik untukku, cinta terbaikku, wanita terbaikku, sahabat terbaikku!"
"Apa itu tidak berlebihan ya? Kamu belum tau aku, kenapa bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Sudah kubilang feel, Cha!"
"Ah, iyalah iya," Alisha menyerah.
"Kalo gitu, apa feel kamu salah tentang teman-temanmu, kenapa kamu memilih menjauh dari mereka?"
"Aku hanya menganggap mereka teman tidak lebih, tapi mereka menganggap kalo kita itu bukan sekedar teman, mungkin istilahnya sahabat ... selama ini, aku memang membiarkan mereka dekat denganku, gak ada ruginya untukku, tapi kalo mereka akhirnya bergantung padaku, itu yang gak boleh,"
"Lalu Rafael?"
"Kayaknya kamu penasaran dengan Rafael?"
"Iya, apa hubungan kalian benar-benar renggang hanya karena Nayna?"
"Oh, ternyata kamu juga tau tentang cewek itu?"
"Apa kamu gada perasaan sama dia?"
"Kenapa?"
"Dia sok lembut, sok manja, sok cari perhatian, cenderung seperti cewek penggoda, terlalu berani menurutku, tapi anehnya Rafael justru tergila-gila sama dia,"
"Apa kamu ngelarang Rafael untuk suka sama dia?"
"Nggak! Aku gak pernah mau ikut campur urusan orang, biarkan saja, dia yang merasakannya!"
"Tapi, apa kamu tau, kalo Nayna suka kamu?"
"Aku tau, gayanya sudah seperti cewek penggoda, dan aku sangat muak,"
"Benarkah? Bukankah wanita yang lembut itu sangat disukai oleh laki-laki ya?"
"Lembut dan sok lembut, beda, Cha!" ujar Aliando penuh penekanan, "Dan aku tidak menyukai keduanya!"
"Hoh, benarkah? Lalu tipe cewek seperti apa yang kamu sukai?"
"Kamu! yang barbar, cuek dan cantik,"
Ah, Aliando berhasil membuat Alisha salah tingkah, wajah gadis itu langsung merona. Jujur saja, ia begitu menyukai apa yang Aliando katakan. Namun, dengan cepat ia berusaha mengendalikan perasaannya.
"Apa kamu lagi ngegombal?" tanya Alisha kemudian.
"Aku serius, tapi terserah kalo kamu meragukan aku,"
"Iyalah, iya, aku percaya," Alisha mengalah.
"Gak usah merasa terpaksa untuk percaya sama aku, Cha!"
"Untuk yang ini aku gak terpaksa, karena aku setuju sama kamu,"
"Apa?"
"Komentarmu tentang aku!" kata Alisha.
"Yang barbar?" tanya Aliando.
"Hmm," Alisha mengangguk.
"Yang cuek?"
__ADS_1
"Mungkin seperti itu!"
"Yang cantik?"
"Nah, itu tepat banget! Penglihatan kamu emang jernih,"
Aliando tergelak.
"Aku baru tau, kalo penglihatan itu jernih, kirain air aja yang jernih!"
Alisha melebarkan senyumnya.
"Senyum kamu manis, Cha!" komentar Aliando membuat hati Alisha semakin berdebar tak beraturan.
"Aduh, kamu jangan ngejek aku terus dong!" kata Alisha mencoba tidak memperlihatkan salah tingkahnya.
"Itu pujian, Cha, bukan ejekan,"
Alisha nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, iya, makasih atas pujiannya, pacarku!" kata Alisha.
Kali ini Aliando yang mengembangkan senyumnya. Ia senang, Alisha lagi-lagi mengakuinya sebagai pacar.
βοΈ
"Sudah siap?" tanya Aliando pada Alisha di parkiran sekolah.
"Udah siaplah, paling juga dipanggil pak Raka dan kepala sekolah!" ujar Alisha santai.
"Yakin?"
"Yakinlah, aku kan harus bertanggungjawab dengan apa yang aku lakukan! Lagian aku yakin aku gak salah, aku hanya membela diri!"
Aliando mengangguk dan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, Aliando meraih kepala Alisha dan mengecup keningnya lembut.
"Ish, gak lihat tempat!" Alisha memukul dada Aliando.
"Gada orang kok! Itu kecupan penyemangat, Cha!"
"Tapi ada CCTV, Bang!"
"Oh, aku melupakan hal itu, mudah-mudahan ga kelihatan dan kalo ketahuan pun ga akan diviralkan oleh orang!"
Alisha memicingkan matanya. Ia merasa tersindir, karena pagi ini, ada video saat dirinya berkelahi dengan Nikita dan ganknya tersebar. Tadi Aliando menunjukkan video tersebut saat menjemputnya di rumah. Tapi sesungguhnya, untuk saat ini bukan itu yang ada di benaknya, karena lagi-lagi hatinya tak karuan saat Aliando mengecup keningnya.
Aliando tergelak melihat wajah Alisha.
"Udah dibilang, Cha, jangan natap horor gitu, jadi gemes tau, mau aku cium lagi?"
"Dasar, katanya ga akan ngerusak, tapi uda sering megang, trus uda cium-cium kening,"
"Itu ciuman sayang, Cha, bukan nafsu, itu adalah kiss penyemangat!" kilah Aliando.
"Whatever lah," Alisha malas berdebat.
βοΈ
Satu sekolah hari itu memang heboh, ada tiga video langsung tersebar, menjadi berita terpanas, dengan topik "membully dan dibully". Tokoh utama Nikita dan ganknya vs Zoya, Melly dan Alisha. Video pertama dengan judul 'Membully gadis tak berdaya' ketika Nikita dan ganknya memukuli Zoya.
Video kedua dengan judul 'Senior merundung junior' ketika Nikita dan ganknya memukuli Melly, sementara video ketiga dengan judul 'Pembully salah sasaran', memperlihatkan dari awal bagaimana Alisha yang hendak dibully justru malah membuat Nikita dan ganknya tak berdaya.
...π»π»π»π»π»...
Gimana ini Alisha ya, ada aja kasusnya..... hmmmm
Ka readers mksh ya dukungannya....
lopyuolβΊβΊβΊ
...ππππππππππππππππ...
Halo kak readers mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Senja_90.pokoknya keren banget ini mah... dijamin seru abis. jangan lupa dukung authornya ya kak readers....
Blurb
Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga. Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.
Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.
Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.
Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?
Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!
...Happy reading yaaaaπππ...
__ADS_1
...ππππππππππππππππ...