
"Baiklah Mas, kali ini saja saya membantu Mas-nya, saya gak enak sama yang di dalam," kata seorang perawat perempuan pada Aliando.
"Iya, mbak, terima kasih banyak, karena sudah membantu saya agar bisa berdamai dengan istri saya dan keluarganya," ucap Aliando tulus.
Semenjak Aliando mengetahui jika Alisha berada di dalam kamar rawat Adrian, ia terus berusaha dengan berbagai macam cara, membujuk perawat yang selalu mengunjungi kamar rawat Adrian, agar bisa membantunya.
Sebagai contoh, ia meminta perawat tersebut untuk memberikan ponsel kepada Alisha secara diam-diam, dengan alasan Alisha adalah istrinya yang sedang marah kepadanya, dan keadaannya saat ini, keluarga si istri menolak mentah-mentah kedatangan Aliando.
"Iya Mas, saya ngerti, lagian kasihan juga lihat Mas-nya, udah ada di sini tapi ga bisa ketemu ma istrinya, tapi ... beneran Mas-nya uda nikah? Kok muda banget,"
"Iya, Mba, kami nikah muda,"
"Ah, sayang banget,"
"Maksudnya?" Aliando tidak mengerti.
"Iya mas-nya kan ganteng, muda, eh udah nikah, kalo gak, aku mau daftar jadi pacar Mas,"
Aliando mengusap tengkuknya beberapa kali karena kikuk, sambil menampilkan senyum tipisnya, speechless.
π΅
"Cha, saat aku sampe halte tempo hari, kamu udah gak ada, hape kamu tertinggal di halte depan rumah makan Jasmine, aku sangat mengkhawatirkanmu, aku harap kamu baik-baik aja, Cha,"
"Setelah aku nyari kamu, akhirnya, aku tau kamu ada di rumah sakit ini,"
"Sekarang, aku ada di rumah sakit ini, aku ingin ketemu kamu, aku kangen banget,"
Itulah pesan yang Aliando kirimkan melalui aplikasi hijau. Ia sangat berharap Alisha segera membalasnya.
π΅
Alisha tersenyum kecil saat membaca pesan dari Aliando, ada rasa haru dan rindu yang menggebu di hatinya, sehingga tanpa sadar air mata itu pun membasahi pipinya.
Alisha memang baru bisa mengaktifkan ponsel yang beberapa waktu lalu diberikan oleh perawat yang diberi pesan oleh Aliando secara diam-diam.
Ia mencuri kesempatan agar tidak diketahui oleh Shafiya dan siapapun yang berada di kamar rawat tersebut.
"Abang, aku percaya kalo Abang akan menemukanku, aku juga kangen banget, aku akan cari cara agar bisa keluar, Abang tunggu kabar dari aku," balas Alisha pada Aliando melalui pesan di ponselnya.
π΅
Alisha mengendap-endap, sembunyi menghindari penjaga yang diutus oleh Shafiya untuk menemaninya ke kafetaria rumah sakit.
Ia menggunakan kesempatan untuk bisa lepas dari pengawasan penjaga tersebut. Ia mengintip di balik pintu, memastikan keadaannya aman untuk ia bisa melarikan diri dan segera ke tempat pertemuan yang sudah dijanjikannya kepada Aliando, yaitu taman dekat tempat parkir di bagian utara rumah sakit.
Namun sayang, sepandai-pandainya ia bersembunyi, akhirnya keberadaannya diketahui juga, karena sebuah tangan mencengkram lengannya.
__ADS_1
"Lepasin!" kata Alisha tegas, sambil berusaha melepas paksa tangannya dari cengkramannya, bahkan ia bersiap untuk menyerang orang tersebut.
"Tenanglah, Cha, ini aku,"
Ah, ternyata orang yang mencengkram lengan Alisha adalah Aliando. Betapa Alisha merasa begitu bahagia. Wajahnya berbinar dan berseri.
"Abang!" ucap Alisha setengah berteriak. Ia segera mendekap Aliando sangat erat.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Aliando masih dalam dekapan Alisha. Tangannya membelai lembut rambut istri yang dirindukannya selama beberapa hari ini dan mencium wanginya.
Alisha mengangguk, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.
"Sini!" kata Aliando sambil menarik lengan Alisha kemudian berlari dan bersembunyi di balik lorong kecil dekat kafetaria rumah sakit, karena mendengar suara beberapa orang mencari Alisha.
Tubuh keduanya saling berhimpitan, menahan dan mengatur nafas, agar tidak menimbulkan suara yang bisa didengar orang lain.
Tak lama setelah dirasa orang-orang yang mencari Alisha pergi, keduanya mulai menetralkan nafas sehingga detak jantung perlahan normal kembali.
Alisha yang tadinya menunduk dan menempelkan kepalanya di dada Aliando, kemudian menengadahkan wajahnya, memperhatikan wajah tampan Aliando, tatapannya masuk ke dalam mata jernih milik suaminya itu. Hatinya membuncah, dan debaran indah itupun hadir bergejolak tak karuan.
"Aku kangen Abang, Abang baik-baik aja kan?" tanya Alisha dengan suara pelan dan kedua tangannya melingkar di tubuh Aliando.
Aliando hanya terdiam, namun tatapannya mengisyaratkan jika dia baik-baik saja, bahkan netra jernih itu menunjukkan betapa dia begitu merindukan istrinya tersebut, ia pun tak kuasa dan tak mampu lagi menahan apa yang sedang dirasakannya.
Segera ia mendaratkan sebuah ciuman manis di bibir Alisha. Meskipun terkejut, namun gadis itu langsung menyambutnya dengan menutup mata. Penuh kehangatan dan kelembutan. Mereka menikmati segala kerinduan yang ada saat ini.
"Aku baik-baik aja, Cha," kata Aliando kemudian ia kembali mendekap Alisha.
"Aku bahagia karena kamu juga baik-baik aja," ucap Aliando sambil mengeratkan dekapannya.
π΅
"Kamu gak marah kan, Cha," kata Aliando mencari kepastian tanggapan Alisha tentang orang tua mereka.
Saat ini Aliando dan Alisha sedang berbincang di tempat yang mereka rasa aman dari para penjaga yang mencari Alisha.
"Soal orang tua kita, aku ga masalah, Bang, itu urusan mereka dan itu adalah masa lalu, hanya saja ... yang bikin aku kepikiran, tentang perasaan abang sama aku, apakah cinta Abang didasari karena rasa bersalah akan perbuatan mamah ataukah murni dari hati Abang?"
"Menurut kamu?" tanya Aliando.
"Aku berharap, Abang cinta karena murni dari hati Abang, tapi ... kalaupun Abang cinta aku karena rasa bersalah, aku gak peduli, yang penting sekarang Abang milik aku," kata Alisha penuh percaya diri.
Tak
Aliando menyentil kening Alisha pelan.
"Jangan berpikir yang aneh, kamu kan tau, aku lebih dulu mencintai kamu, sebelum kamu mencintai aku, bahkan sebelum aku tau tentang orang tua kita," jelas Aliando sangat meyakinkan.
__ADS_1
Alisha tersenyum penuh kebahagiaan. Ia benar-benar bersyukur bisa dicintai oleh Aliando. Rasanya semakin terharu saat Aliando kemudian mengusap kepala Alisha.
"Ayo, Bang, kita pergi dari sini," ajak Alisha sambil menggenggam tangan Aliando.
Aliando kembali terdiam. Ia memberikan tatapan yang serius.
"Kenapa? Abang gak mau?" tanya Alisha agak heran.
"Ini saatnya, Cha, kita damaikan keluarga kita, apa kamu setuju?"
Kali ini Alisha yang terdiam dan memberikan tatapan penuh tanya.
"Ajak aku bertemu dengan nenek kamu, kita sudahi kebencian keluarga kamu pada keluargaku, apa kamu mau?" tanya Aliando memastikan.
Alisha mengalihkan pandangannya, ia tidak lagi menatap Aliando. Otaknya berpikir, mencerna apa yang diucapkan oleh Aliando. Nyatanya, niat yang diungkapkan oleh Aliando adalah sesuatu yang baik.
"Abang berani?" tanya Alisha ragu.
"Harus dihadapi, kan?" ujar Aliando dengan nada yang terdengar penuh kemantapan hati.
"Abang gak tau keluargaku,"
"Maka kenalkan aku dengan mereka, kamu gak takut kan?"
"Bersama Abang gak ada yang aku takutkan, tapi aku khawatir,"
"Khawatir kenapa?"
"Keluargaku adalah keluarga mafia, Bang, mereka tidak seperti yang Abang kira, apalagi dengan om Don,"
"Kenapa dengan dia?"
"Dialah yang mengendalikan keluarga ini setelah kakek sakit, dia sepupu papah," jelas Alisha. Kemudian ia pun melanjutkan cerita yang ia pahami selama beberapa hari tinggal bersama Shafiya, neneknya.
"Abang sekarang paham, kan? Nenek juga sangat membenci kakek Khaidar dan nek Maryam, apa mungkin dia bisa menerima Abang?" Alisha sangat tidak yakin.
"Kita gak akan tau kalau belum mencobanya,"
"Tapi, Bang, apa Abang yakin?" Alisha masih ragu-ragu.
"Tenanglah ... Ayo! Sekarang kita menemui nenek,"
Alisha menarik nafas panjang. Seakan melepas semua beban pikirannya. Namun, akhirnya dia pun menyetujuinya dengan berat hati.
π΅
Akhirnya, di sinilah Aliando dan Alisha berdiri di hadapan Shafiya. Hening, saat Alisha telah mengenalkan Aliando pada Shafiya.
__ADS_1
π»π»π»π»π»