
102
Wajah Carline memucat. Dia jadi gugup menghadapi Amanda.
Amanda melangkah dengan lambat mendekati Carline.
"Bisa kau jelaskan asal majalah itu?" tanya Amanda mendekat. Tangannya disilang ke dada tatapannya yang dingin membuat Amanda terlihat mengerikan.
Carline jadi jiper berhadapan dengan Amanda. Perlahan dia memundurkan tubuhnya.
"A-ada studio yang mengeluarkan majalah ini. Dan sudah banyak orang yang melihat majalah ini" jawab Carline.
"Oh,, jadi sudah banyak yang melihat rupanya" ujar Amanda.
Amanda merebut majalah yang ada di tangan Carline. Amanda mengacungkan majalahnya ke atas.
"Apa kalian semua sudah melihat majalah ini?" tanya Amanda.
Semua orang diam.
"Ya. Kalian sudah melihat majalah ini" Amanda menjawab pertanyaannya sendiri.
"Kami belum pernah melihat majalah itu" saut salah seorang.
"Jangan bohong kalian. Lalu apa yang sedang kalian lihat? Bukankah sekarang kalian sedang melihat majalah ini? Itu artinya kalian sudah melihat majalah ini" jelas Amanda.
Carlin tertawa kecil. Sesak di dadanya sedikit berkurang saat mendengar ucapan Amanda yang menurutnya tidak berguna.
"Percuma kau melakukan itu Amanda. Kau hanya membuang waktu semua orang. Kau mengatakan hal yang tidak berguna" ujar Carline.
"Mereka memang sudah melihat majalah ini. Tapi apa mereka mengetahui asal majalah ini?" tanya Amanda.
Deg. Carline kembali tertegun.
"Sudah kubilang itu dari studio. Kenapa kau masih tidak mengerti?" protes Carline.
"Iya, tapi studio apa? Katakan nama studio itu. Supaya semuanya jelas. Aku juga sangat ingin tau nama studio itu" desak Amanda.
Carline bingung harus menjawab apa.
"Bisa saja kau yang mengada-ngada nona Amanda" ujar salah satu reporter.
Amanda menatap dengan bengis.
__ADS_1
"Dengar, majalah ini juga bisa aku jadikan sebagai bukti" ujar Amanda.
"Bukti apa?"
Amanda mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah majalah.
"Lihat, ini adalah majalah perhiasan DARAY. Di sini tertulis nama studio penerbit sekaligus pemilik hak paten perhiasan ini" Amanda menjukkan majalahnya pada semua orang.
"Jika dibandingkan dengan dengan majalah milik nona Carline, jelas sudah terlihat perbedaannya. Pada majalah nona Carline, tidak terdapat nama studio penerbit majalah. Dan tidak mungkin suatu majalah tidak memiliki nama penerbitnya" jelas Amanda.
"Dan sudah hadir di tengah-tengah kita penerbit majalah perhiasan DARAY" Amanda mempersilahkan seseorang untuo naik ke atas panggung.
Seoang pria berusia 30+ naik ke atas panggung. Dia menghadap ke semua orang.
"Perkenalkan, nama saya Radit. Saya adalah pemilik studio majalah perhiasan DARAY. Nona Carline sudah melakukan plagiarisme pada hak cipta saya" ujar Radit.
"Heh, kau bilang aku yang melakukan plagiarisme? Apa kau bercanda? Jika benar, maka aku minta bukti" tantang Carline pada Radit.
"Saya sudah mendaptarkan hak paten 1 tahun yang lalu" balas Radit.
Radit menunjukkan sertifikat hak paten.
"Kau pikir aku bodoh? Perhiasan ini baru saja di luncurkan. Dan kau sudah memiliki hak paten 1 tahun yang lalu? Bagaimana itu? Aku tidak mengerti" Carline berusaha mempersulit Radit.
"Nona Carline, bukankah kau seorang desainer perusahaan?" tanya Radit.
"Kalo begitu, kau pasti tau suatu proyek tidak akan bisa selesai hanya dalam kurun waktu 1 atau 2 bulan. Paling sebentar 6 bulan baru selesai. Proyek ini bukan proyek biasa. Bukan restoran, supermarket, hotel atau yang lain. Ini adalah proyek perhiasan. Sebelum proyek ini selesai, saya sudah mendaftarkan hak paten. Jadi jika ada yang menyerupai dengan perhiasan ini, maka dia adalah seorang plagiat" jelas Radit panjang × lebar.
Carlime menatap Radit tanpa kata. Lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku akan menuntutmu nona Carline, atas nama tindakan plagiarisme pada hak patenku" tegas Radit.
Carline berusaha bertahan dari ucapan Radit. Tapi dia mulai murka karna semua orang mulai berpaling darinya. Mereka mulai berpihak pada Amanda.
"Aku rasa penjelasan pak Radit masuk akalc
"Berarti yang dikatakan nona Carline itu bohong"
"Nona Carline lah bersalah"
"Pertinya nasibnya akan seperti nona Mayang"
"Ah,, aku tau. Dia pasti mengikuti jejak nona Mayang. Dia sama bodohnya dengan nona Mayang.
__ADS_1
Semua orang mulai menghuhat, mengh*na, dan menyalahkan Carline.
"Oh,, aku tau. Berarti bukan hanya nona Carline yang melakukam plagiarisme. Tapi tuan Daniel juga terlah melakukan plagiarisme"
"Ah,, kau benar sekali" balas reporter lain.
Reporter akan mulai menjatuhkan Daniel, tapi dengan cepat Radit menyangkalnyal.
"Tidak! Tuan Daniel tidak melakukan plagiat. Saya sudah memberi izin pada tuan Daniel. Jadi tuan Daniel tidak menjiplak dan melakukan plagiarisme" sangkal Radit.
Radit menunjukkan surat perjanjian bersama Daniel.
Daniel tidak tahu menahu rencana yang Amanda jalankan. Dia tidak menyangka Amanda bisa sehebat dan selicik ini.
"Sempurna. Dia sudah sangat cocok sebagai nyonya Daniel Aiden" batin Daniel.
Daniel tambah mengagumi Amanda.
Para reporter mulai ingin mewawancarai Carline. Tapi Carline malah hendak kabur dari sana. Untung Ada Daniel yang sedari tadi di bawah panggung. Dia dengan sigap menghadang Carline dan menyeretnya kembali ke atas panggung.
Daniel menghempaskan tubuh Carline ke hadapan Amanda.
Semua gerakan Daniel tak luput dari perhatian paraa repoter.
"Cepat minta maaf" titah Daniel dengan dingin.
"Tidak mau. Aku tidak bersalah. Untuk apa aku meminfa maaf?" tolak Carline.
"Minta maaf" Daniel mengulangi perintahnya.
"Tidak mau" kekeh Carline.
"MINTA MAAF!" teriak Daniel dengan penuh tekanan.
Semua orang terkejut dengan teriakan Daniel. Mereka dapat meliha ketegasan sekaligus kemarahan dari Daniel. Karna banyak reporter, Amanda segera menghampiri Daniel untuk menenangkan amarahnya. Amanda tau pasti saat ini Daniel sedang sangat marah.
Amanda memegang tubuh Daniel dan mengusap dadanya dengan lembut.
"Tuan,, kendalikan amarahmu. Di sini banyak reporter. Jangan biarkan reporter menulis hal yang tidak-tidak tentangmu" bisik Amanda.
"Aku tidak bisa diam lagi. Dari tadi aku sudah cukup sabar mendengarkan. Aku tidak bisa menahannya lagi" balas Daniel.
"Tuan,, kumohon,, demi aku" memelas Amanda.
__ADS_1
Amanda menjukkan wajah baby pacenya. Daniel tidak bisa tidak luluh hatinya saat melihat wajah baby pace Amanda.
"Hm,, baiklah" pasrah Daniel.