
93
Daniel bingung melihat layar komputer di depannya.
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" gumam Daniel.
Daniel meraih ponselnya lalu menekan tombol panggilan pada Rio.
"Hallo tuan!" sapa Rio.
"Rio, saya ingin kamu menyelidiki kenapa gosip saya dan Amanda menghilang begitu saja" ucap Daniel.
"Baik tuan" balas Rio.
Panggilan pun berakhir.
"Kenapa bisa seperti ini?" Daniel heran dengan apa yang terjadi.
Di sisi lain, Amanda mendapat telpon dari Tio.
"Ya, Tio" ucap Amanda.
"Aku sudah menghapus semua gosip tentangmu dan Daniel"
"Hah,, baguslah. Terima kasih. Kau sudah banyak membantuku"
"Tidak masalah. Jika kau perlu sesuatu lagi, katakan saja. Aku akan langsung membantumu"
"Baiklah,, aku sangat beruntung memiliki teman sepertimu"
"Aku tau itu" kekeh Tio.
Panggilan pun berakhir.
Amanda berasa lega. Satu urusannya sudah selesai. Kini dia bisa melanjutkan pekerjaannya dengan tenang. Amanda mengatur jadwal untuk pergi kelokasi syuting dan mengatur untuk konferensi pers dengan para reporter.
Amanda sibuk bekerja sampai dia lupa waktu. Hari sudah semakin gelap. Amanda masih sibuk bekerja. Pikirannya masih pokus pasa proyek perhiasan yang dipegangnya. Sampai dia tersadar oleh telpon dari Daniel.
"Hallo!" sapa Daniel.
"Ya, tuan" balas Amanda.
"Ayo pergi ke rumah kakek" ajak Daniel.
"Memang sudah pukul berapa sekarang?" tanya Amanda.
Amanda melihat jam di tangannya.
"Oh,, ya ampun. Pukul 8! Kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu" gumam Amanda yang masih terdengar oleh Daniel.
"Karna kamu terlaku pokus bekerja. Sekarang kamu beresin barang-barang kamu. Aku akan menjemputmu ke ruanganmu sekarang" ujar Daniel.
"Hm,, baik tuan" balas Amanda.
Panggilan pun berakhir.
Amanda segera mematikan komputernya dan membereskan barangnya. Malam ini dia ada jadwal makan malam bersama Bagas. Calon mertuanya.
"Heheh.." Amanda terkekeh mengingat Daniel mengatakan dia adalah calon menantu pada kakeknya.
Daniel masuk ke dalam ruangan Amanda. Amanda tidak menyadari kedatangan Daniel. Dia sibuk dengan lamunannya. Daniel heran melihat Amanda senyum-senyum yang sendiri. Seketika jiwa GR Daniel keluar.
"Kau tidak perlu membayangkanku seperti itu" ujar Daniel membuyarkan lamunan Amanda.
"Eh, tuan! Sejak kapan kau di sini?" tanya Amanda terlonjak kaget.
"Sejak kau membayangkanku" jawab Daniel.
"Hem,, kau sangat GR"
"Aku tidak GR. Memang itu kenyataannya"
"Terserah tuan saja.."
__ADS_1
"Kalo kau sudah siap, ayo kita berangkat"
"Sudah kok, ayo tuan"
Amanda dan Daniel melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun baru satu langkah, mereka terhenti oleh ponsel Daniel yang berdering. Daniel melihat siapa yang menelponnya. Dan ternyata Rio lah yang menelponnya.
"Ya, Rio" ucap Daniel.
"Tuan, aku sudah menemukan penyebab gosip-gosip itu menghilang" ujar Rio.
"Apa penyebabnya?"
"Hacker-lah yang sudah menghapusnya"
"Hacker?"
"Ya, tuan"
"Hm,, baiklah. Terima kasih"
"Sama-sama tuan"
Panggilan pun berakhir.
Amanda sedikit terkejut saat mendengar kata hacker. Amanda yakin pasti Daniel mencari tau kenapa gosip tentang mereka hilang tanpa jejak.
Namun setelah memdapat informasi dari Rio, Daniel tidak mengatakan apa pun. Hal itu membuat Amanda tenang.
"Ayo kita berangkat" ajak Daniel.
"Ya, tuan" Amanda menganggukkan kepalanya.
Amanda dan Daniel pergi ke rumah Bagas menggunakan mobil Daniel. 30 menit kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Bagas.
Bagas menyambut kedatangan Amanda dan Daniel di ruang keluarga.
"Kalian lama sekali" ujar Bagas terdengar sedikit kecewa.
"Hm,, kalo begitu, ayo kita langsung makan" ajak Bagas.
"Baik kek" balas Amanda.
Amanda, Daniel dan Bagas sudah duduk di meja makan. Mereka bersiap untuk makan.
"Amanda, makan yang banyak ya. Kau harus jaga kesehatanmu. Jangan sampai sakit. Ini langkah awal menjadi menantu kakek" ujar Bagas menatap Amanda.
"Baik kek" balas Amanda.
"Kau tidak boleh sungkan. Sebentar lagi kau akan menikah dengan Daniel dan menjadi keluarga kakek"
"Iya kek, aku tidak akan sungkan lagi" Amanda tersenyum.
Ketiganya mulai makan.
"Hm,, tapi kakek merasa ada yang harus diperbaiki dari kalian" ujar Bagas.
"Apa itu kek?" tanya Daniel penasaran.
"Hubungan kalian terlalu lambat. Agar memlercepat hubungan kalian, malam ini kalian harus menginap di sini. Kakek tidak menerim penolakan"
Daniel menatap Amanda. Tanpa bertanya pada Amanda, Daniel menyetujui ucapan kakeknya itu.
"Baik kek. Kami akan menginap di sini" setuju Daniel.
Amanda mengerutkan keningnya lalu tersenyum pada Bagas. Dia juga tidak bisa menolak ucapan Bagas.
Ketiganya melanjutkan proses makan.
Amanda sedikit heran dengan menu makanan yang tersedia. Banyak makanan bergizi yang ada di atas meja. Biasanya tidak seperti ini.
"Kek, apa kakek kurang sehat?" tanya Amanda.
"Tidak. Kakek baik-baik saja. Memang kenapa?" jawab Bagas diakhiri dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Em,, aku hanya sedikit heran dengan menu makanan kali ini" cengir Amanda.
"Oh,, hahah,, kakek memang sengaja menyuruh orang menyiapkan makanan ini. Kakek mau cucu dan calon menantu kakek sehat" jelas Bagas.
"Yang kakek lakukan benar. Kakek tau, Daniel sangatlah lemah. Dia perlu makanan bergizi" ejek Amanda pada Daniel.
Daniel menghentikan makannya dan menatap Amanda yang mengejeknya. Daniel menaikkan alisnya sebelah.
"Aku sangat lemah? Baiklah,, kau tidak akan tau setelah kau mencobanya" balas Daniel.
Amanda terpaku di tempatnya. Dia tau arah pembicaraan Daniel ke mana.
Setelah makan malam, Bagas mengobrol sebentar dengan Amanda dan Daniel. Setelah mengobrol Bagas menyuruh Amanda dan Daniel beristirahat.
"Daniel, bawa Amanda ke kamarmu" titah Bagas.
"Kek, kenapa harus ke kamar Daniel? Aku tidur di kamar tamu saja kek" tanya Amanda.
"Tidak bisa Amanda. Semua kamar tamu sedang dalam pebaikan. Jadi tidak bisa di gunakan. Lagi pula, mana pantas menantu keluarga ini tidur di kamar tau rumah mertuanya sendiri. Itu tidak pantas" jelas Bagas.
"Tapi kek, apa tidak ada kamar lain?" tanya Amanda lagi.
"Tidak ada" jawab Bagas. "Sudah cepat istirahat, ini sudah malam" titah Bagas.
Bagas menuntun Amanda dan Daniel ke kamar Daniel.
"Ayo masuk" ucap Bagas membukakan pintu kamar Daniel.
Amanda terp*ksa masuk ke dalam kamar. Sementara Daniel dia suka rela masuk ke dalam kamarnya.
"Selamat beristirahat"
Bagas menutup pintu kamar Daniel dan menguncinya dari luar.
Bagas tersenyum setelah mengunci pintu kamar Daniel.
Amanda sangat gugup saat berada di dalam satu kamar bersama Daniel. Memang dia juga sebelumnya sudah pernah satu kamar bersama Daniel, tapi saat itu dia sedang tidak sadar. Amanda bingung harus berbuat apa. Jika dia keluar, dia yakin Bagas akan kembali memasukannya ke dalam kamar. Kini dia hanya bisa pasrah dan menunggu sampai hari esok.
Amanda mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang ada di kamar Daniel. Sementara Daniel duduk di ujung ranjang. Dia menatap Amanda yang sedang berpikir.
Amanda memyadari kalo sedari tadi Daniel terus menatapnya. Amanda menatap Daniel balik.
"Kenapa kau menatapku?" tanya Daniel.
"Apa! Aku menatapmu? Jelas-jelas kau lah yang sedang menatapku. Bukan aku yang sedang menatapmu" balas Amanda.
"Heh,, bilang saja kau sedang menggodaku"
"Aku menggodamu? Tuan,, kau GR sekali. Aku sedamg berpikir bagaimana cara keluar dari kamar ini"
"Jangan memikirkan hal itu. Itu hanya akan sia-sia. Kau tidak akan bisa keluar tanpa seizin dari kakek"
"Huh.." Amanda membuang nafas panjang.
Daniel bangkit dari duduknya dan beralih duduk di samping Amanda.
"Kau tau, hari ini kau sangat menakjubkan"
"Ya,, aku tau tuan. Kau sudah berulang kali mengatakan itu padaku"
"Baiklah,, untuk itu kau harus diberi hadiah"
"Hadiah?"
"Ya, hadiah istimewa"
Hah,, Daniel mulai merayu Amanda. Dah ya,, maaf hari ini cuma up 1 bab
Terus dukung Amanda dan Daniel ya,,
Jaga kesehata kalian karna kita sudah mulai berpuasa
Jaga imun dan iman
__ADS_1