
88
Amanda sedang melihat komentar dari masyarakat. 99,9% huj*tan dan perundungan. Momentar baik untuk Amanda tidak terlihat satu pun, sudah tertimbun oleh komentar pedas.
Besok adalah hari di mana wawancara Mayang secara besar-besaran. Akan banyak reporter yang datang. Amanda sangat menantikan hari besok. Dia ingin tau bagaimana reaksi Mayang dan para reporter.
Kring,, ponsel Amanda berdering menandakan panggilan masuk. Amanda melihat siapa nama pemanggil itu. Rupanya Tio lah yang memanggilnya.
"Hallo" Amanda mengangkat panggilan itu.
"Hai Amanda, apa kabarmu? Aku lihat sepertinya makin banyak yang memujimu" tanya Tio berbasa-basi.
"Ah,, sudahlah. Apa ada hasil?"
"Ya, tentu saja. Untuk apa aku menelponmu jika tidka ada hasil"
"Lalu bagaimana?"
"Aku sudah selesai melakukan penyelidikan pada Mayang"
"Bagus"
"Aku akan mengirimkannya padamu"
"Hm,, ya"
panggilan pun berakhir.
Amanda menerima bukti dari Tio. Amanda hendak melihat bukti itu, tapi tiba-tiba Daniel masuk ke ruangan Amanda tanpa permisi.
"Tuan, kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?" protes Amanda karna Daniel sembarangan masuk.
"Kenapa? Perusahaan ini milikku, yang berarti pintu ini juga milikku" balas Daniel santai.
Awalnya Daniel ingin menghibur Amanda karna komentar pedas terhadapnya semakin menjadi. Namun Daniel mengurungkan niatnya karna dia melihat Amanda begitu tenang seperti tidak terjadi masalah apa pun.
"Bagaimana jika aku sedang mengganti baju?" tanya Amanda.
"Maka aku akan senang. Itu bonus untukku" cengir Daniel.
"Ih,, kau m*s*m" Amanda membulatkan matanya sempurna.
"Dengar, kau tidak mungkin mengganti baju di perusahaan. Jika benar, kau pasti akan mengunci pintu" jelas Daniel.
"Hm,, untuk apa kau ke sini?"
"Untuk memberimu hukuman" jawab Daniel.
"Hukuman apa tuan? Kau selalu memberiku hukuman tanpa aku membuat kesalahan"
"Kau lupa saat di pantry?"
"Ti-tidak. Aku merasa tidak punya kesalahan"
"Berhenti pura-pura tidak ingat"
"Ah,, tuan, sudahlah. Lupakan hukuma itu. Itu hanya kesalahan kecil"
__ADS_1
"Jika aku membiarkan kesalahan kecil, maka akan terjadi kesalahan besar. Aku tidak mau kau melakukan kesalahan besar sampai aku harus memberimu hukuman istimewa"
"Hukumam istimewa?" gumam Amanda.
Amanda termenung memikirkan apa itu hukuman istimewa. Tanpa Amanda sadari, Daniel mendekat ke arah Amanda yang sedang termenung.
Tiba-tiba Daniel memutar kursi Amanda. Amanda kaget saat Daniel memutar kursinya. Wajah Daniel sudah di depan wajah Amanda.
"Em,, tuan, pergilah. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan" us*r Amansa.
Daniel memegang kepala Amanda dan mengusapnya dengan lembut.
Cup.
Daniel menc*um kepala Amanda dengan lembut. Amanda memegang kepalanya dan menatap Daniel dengan bingung.
"Aku yakin kau bisa melewati ini semua. Kita akan melawati ini bersama-sama" ujar Daniel.
Daniel melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Amanda.
Amanda tidak bisa berkata-kata. Lidahnya seakan kelu mendengar ucapan Daniel yang sangat manis. Amanda tersenyum mengingat ucapan Daniel.
Sedetik kemudian, Amanda tersadar kembali. Dia lupa belum melihat bukti yang dikirimkan oleh Tio. Amanda kembali menelpon Tio.
"Ya" balas Tio.
"Apa benar semua ini?" tanya Amanda.
"Tentu saja. Aku bahkan sudah tidak heran melihat bukti itu" balas Tio.
"Kau puas?"
"Ya, tentu saja aku puas. Aku sangat puas dengan bukti yang kau berikan"
"Aku senang mendengarnya"
"Terima kasih"
"Santai saja"
panggilan pun berakhir.
Keesokan Harinya.
Banyak reporter yang hadir di lobi rumah sakit. Mereka datang untuk mewawancarai Mayang secara langsung. Ini seperti konferensi pers. Namun tujuannya untuk menj*tuhkan Amanda.
Para reporter mulai bertanya pada Mayang.
"Nona Mayang, benarkah nona Amanda mencoba memb*nuhmu?"
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Apakah kau dan nona Amanda bermus*han?"
"Apa nona Amanda memiliki d*ndam padamu?"
"Kenapa kau tidak melawan saat nona Amanda meny*rangmu?"
__ADS_1
"Setelah melakukan itu, apa nona Amanda memperdulikanmu?"
"Apa dia pernah menjengukmu?"
"Apa dia tau keadaanmu sekarang?"
Mayang berpura-pura terlihat menyedihkan. Dia menunjukkan tatapan sedih dan terdzolimi.
"Baiklah. Aku akan menjelaskan semuanya pada kalian" ujar Mayang.
Para reporter diam dan mendengarkan Mayang berbicara.
"Ya, Amanda mencoba memb*nuhku. Dia berusaha untuk menc*lakaiku. Aku tidak tau kenapa dia melakukan itu. Sepertinya dia tidak suka padaku. Tapi aku tidak pernah berbuat salah padanya. Malah dialah yang selalu berusaha menyusahkanku dan memfitnahku. Bahkan aku dipecat dari pekerjaanku karna dia. Amanda menjebakku. Sehingga aku dipecat" Mayang memberi jeda pada penjelasannya.
Kemudian Mayang bersikap tegar.
"Aku sudah melupakan semua itu. Aku memaafkannya meskipun dia tidak meminta maaf padaku. Tapi entah kenapa dia berusa untuk memb*nuhku. Aku mencoba memaafkannya, tapi dia malah memulai masalah baru. Dan masalah ini sangat fatal. Aku sangat bersyukur karna aku masih bisa selamat" lanjut Mayang.
"Ya semua yang dikatakan nona Mayang itu benar" timpal Oliv.
Oliv dan Dandra hadir di situ mendampingi Mayang.
"Aku melihat kejadian di saat Amanda mencoba memb*nuh Mayang. Aku adalah saksinya" ujar Oliv.
"Tapi bagaimana jika ini hanya settingan saja?" tanya salah satu reporter.
"Untuk apa Mayang melakukan ini? Dia tidak mungkin mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk hal seperti ini?" balas Oliv.
"Ha,, benar juga" gumam semua reporter.
Para reporter mulai memarahi Amanda dan memberikan kata-kata k*sar.
"Dia memang wanita tidak punya hati"
"Dia sudah g*la"
"Benar, seharusnya dia dimasukan ke rumah sakit g*la"
"Dia harus dipenjara seumur hidup"
"Dia bahkan tidak pantas untuk hidup"
Mereka semua mendukung Mayang.
Di saat ini, Amanda datang ke rumah sakit. Semua mata tertuju padanya.
Terima kasih sudah mampir😊
Maaf ya author beberapa hari ini gak up🙏🏼
Seharusnya bab ini up kemarin, tapi author gak tau kenapa review bab ini lama. Jadi subuh- subuh author rombak sedikit.
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
Terus dukung Amanda dan Daniel ya😉
Salam hangat dari author😁
__ADS_1