CINTA DALAM 3 BULAN

CINTA DALAM 3 BULAN
Mengupas Udang


__ADS_3

29


"Pelayan, ambilkan sumpit untuk menantuku ini" titah Bagas.


Pelayan menganggukan perintah Bagas.


Sonia hendak duduk di kursi yang berada di samping Bagas. Namun Bagas lebih dulu meminta Amanda untuk duduk di sampingnya.


"Amanda sini. Kau duduk di sampingku" ucap Bagas.


Amanda mengangguki ucapan Bagas. Amanda duduk di samping Bagas. Amanda tersenyum pada Sonia. Sonia merasa kesal pada senyuman Amanda. Daniel juga duduk di samping Amanda.


Bagas memeluk kembali anjingnya. Bagas memandang Amanda dengan tulus sebagai ucapan terima kasih yang tidak bisa diungkapkan.


"Amanda, kakek sangat berterima kasih padamu. Jika tidak ada kau, mungkin seumur hidup kakek tidak akan tenang sampai menemukan anjing ini" tutur Bagas.


"Tidak kakek. Aku hanya kebetulan saja menemukan anjing itu. Mungkin ini sudah takdir. Aku beruntung karna aku menemukan anjing itu. Aku sangat suka pada anjing kek. Aku senang karna bisa menyentuh dan bermain dengan anjing kakek" balas Amanda.


Bagas tersenyum pada Amanda. Amanda pun membalas senyuman Bagas.


Entah sudah berapa tingkat kemarahan Sonia. Setiap saat Bagas selalu membela dan memuji Amanda. Bahkan sampai sekarang, Bagas masih memuji Amanda.


"Kenapa sih, kakek sangat peduli pada gadis kampung itu? Apa coba yang dilihatnya dari gadis kampung itu? Kalo soal cantik, jelas aku yang lebih cantik daripada dia. Kaya? Aku lebih kaya dari dia. Dia itu jauh di bawahku" pikir Sonia dalam hati.


Di mata Bagas, Amanda tidak bisa dibandingkan dengan Sonia. Sonia hanyalah bagian terkecil dari wanita yang hanya menginginkan harta dan kepuasan saja.


"Ayo kita makan" ajak Bagas.


Semua orang mulai makan.


Daniel mengupaskan udang untuk Amanda.


"Ini, makanlah" ucap Daniel memberikan udang yang sudah dikupas olehnya. "Aku tidak suka makan udang. Jadi kau makanlah" lanjut Daniel.


Amanda melihat Daniel yang mengupas udang dengan tergesa-gesa. Dia merasa sedikit aneh pada tindakan Daniel.


"Kenapa tuan Daniel terlihat terburu-buru? Aneh sekali melihat dia mengupas udang untuku" tanya Amanda di dalam hatinya.


Amanda diam sambil menerima udang yang sudah dikupas oleh Daniel.


"Ah,, mungkin ini cara untuk berterima kasih padaku karma sudah menemukan anjing kakek. Tapi ini juga bisa bentuk perhatiannya padaku" pikir Amanda.


Amanda tersenyum.


"Terima kasih Daniel" ucap Amanda pada Daniel.


"Sama-sama" balas Daniel. "Sekarang ayo makan" ucap Daniel.


"Ya. Aku akan makan semua udang yang sudah kau kupaskan" ucap Amanda. "Tapi kau juga harus makan" lanjutnya.

__ADS_1


"Tentu saja" balas Daniel.


Amanda dan Daniel saling tersenyum. Saat ini mereka tidak merasa kalau mereka sedang berpura-pura akrab. Mereka menjalani peran sebagai pasangan yang sudah bertunangan dengan alami.


Di sisi lain, Sonia sedang sekarat karena marah. Dia merasa dipermainkan oleh Daniel.


"Apa ini? Kenapa Daniel bersemangat sekali saat makan? Jelas tadi saat aku mengupaskan udang untuknya dia merasa jijik. Tapi sekarang? Dia malah mengupaskan udang untuk Amanda dengan senang hati. Apa-apaan ini Daniel? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa kau telah mencintai Amanda?" pikir Sonia dengan marah.


Menit demi menit pun berlalu. Kini semua orang sudah selesai dengan makanan mereka.


"Em,, kakek merasa ngantuk" ucap Bagas.


"Kalo begitu kakek sebaiknya tidur" balas Amanda.


"Iya kek. Sebaiknya kakek tidur saja. Lagi pula, aku dan Amanda akan pulang" timpal Daniel.


"Kenapa kalian harus pulang?" tanya Bagas.


"Aku masih ada pekerjaan kek" jawab Daniel.


"Menginap saja di sini" pinta Bagas.


"Lain kali saja kek" tolak Daniel.


"Iya kek. Nanti kalau ada waktu, kami pasti akan menginap di sini" timpal Amanda.


"Hem,, baiklah" balas Bagas.


"Iya. Kalian hati-hati di jalan ya.." ucap Bagas.


Daniel dan Amanda menganggukkan kepalanya.


"Kek, Sonia juga pamit ya" ucap Sonia.


"Iya" balas Bagas dengan acuh.


Sonia hendak berucap lagi, namun Bagas memilih pokus pada Amanda.


"Eh,, kakek ini tega banget sih sama aku.." rengek Sonia dalam hati.


Sebelum pergi, Amanda dan Daniep memeluk Bagas terlebih dahulu sebagai ucapan perpisahan.


Bagas pergi ke kamarnya. Daniel dan Amanda, serta Sonia pergi ke luar. Sonia pergi duluan karna masih marah atas semua yang terjadi padanya. Entah ke mana dia pergi. Yang jelas, Daniel dan Amanda tidak mau tau ke mana dia pergi.


"Kamu pulang aja duluan. Aku ada urusan sebentar di perusahaan" ucap Daniel.


"Tuan, aku ingin pergi ke mal" ucap Amanda.


"Untuk apa?" tanya Daniel heran.

__ADS_1


"Kau pikir untuk apa orang pergi ke mal? Aku mau berbelanja tuan" jawab Amanda.


"Kalo gitu, kamu diantar sopir. Aku akan naik taxi" ucap Daniel.


"Tidak. Aku saja yang naik taxi. Sebaiknya kau pergi dengan sopir" tolak Amanda.


"Tidak. Bagaimana jika kau tersesar?" tolak serta tanya Daniel.


"Tidak tuan. Sedikit lebihnya aku sudah tau jalan di kota ini. Kau tidak perlu khawatir" jawab Amanda.


Daniel memandang Amanda.


"Lagi pula,, sekarangkan ada penunjuk jalan. Jadi kau tidak perlu khawatir" jelas Amanda.


"Baiklah. Tapi jika ada apa-apa, telpon aku" ucap Daniel.


"Iya.." balas Amanda.


Daniel pergi ke perusahaan. Sementara Amanda pergi ke mal untuk berbelanja. Karena akan ada acara dengan Gavin, Amanda berpikir untuk membeli baju baru.


Saat sampai di maal, Amanda teringat pakaian yang dia rancang. Dia ingin mencobanya. Amanda berjalan menuju tempat salah satu butik yang ada di mal itu.


Setelah mencari, akhirnya Amanda menemukan baju rancangannya. Baju itu terlihat sangat cantik. Amanda mengambil baju itu. Dia hendak pergi ke ruang ganti. Namun langkahnya terhenti oleh seorang pelayan butik.


"Maaf nona, anda tidak bisa mencoba pakaian ini" cegah pelayan butik itu tidak mengizinkan Amanda mencoba pakaiannya.


Amanda merasa jijik. Bagaimana bisa dia tidak diizinkan mencoba baju rancangannya sendiri? Jelas tidak akan berat banginya untuk membeli seluruh butik dengan uangnya sendiri.


Pelayan itu memang tidak menghargai seorang konsumen yang sedang berbelanja.


Karna malas berdebat, Amanda mengeluarkan black card miliknya. Amanda secara terang-terangan membeli baju itu di depan pelayan itu.


Seketika pelayan itu merubah sikapnya pada Amanda. Pelayan itu berubah menjadi lebih sopan pada Amanda.


"Silahkan nona, ruang gantinya sebelah sini. Mari saya antar" ucap pelayan itu dengan ramah.


Pelayan itu menuntun Amanda. Dan Amanda mengikuti arahan jalan dari pelayan itu.


Amanda mencoba baju rancangannya. Terlepas dari desain, pengerjaan dan kainnya, gaun ini sangat bagus.


"Sempurna" ucap Amanda melihat dirinya dipantulan cermin.


Untuk lebih jelas, Amanda ke luar untuk bercermin dicermin yang lebih besar. Baru saja Amanda ke luar, dia melihat Sonia datang bersama seseorang. Rupanya orang yang menemani Sonia adalah pacarnya.


Sonia datang untuk membeli baju rancangan terbaru dari Amanda.


"Maaf nona, tapi baju itu sudah dibeli oleh seseorang" ucap pelayan butik.


"Apa? Bagaimana bisa? Siap yang sudah membelinya?" tanya Sonia tidak terima.

__ADS_1


"Nona itu yang sudah membelinya" jawab pelaan itu sambil mengarahkan tangannya pada Amanda.


Sonia dan Amanda salinh bertatapan. Sonia menatap Amanda dengan marah dan kesal. Sementara Amanda menatap Sonia dengan dingin.


__ADS_2