
19
"Ah,, aku terlalu berharap lebih pada Amanda. Kenapa aku bisa berpikir seperti itu?" ucap Daniel kecewa.
Mendengar jawaban Amanda, membuat Daniel merasa kecewa. Pasalnya, Daniel juga berharap kalau Amanda adalah gadis kecil itu.
Diperjalanan menuju rumah, Amanda dan Daniel saling diam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Setelah sampai rumah, Amanda hendak langsung pergi ke kamarnya. Namun ditahan oleh Diva.
"Tunggu" cegah Diva pada Amanda agar tidak menaiki tangga
Amanda membalikkan tubuhnya.
"Ini" Diva memberikan sebuah undangan.
"Apa ini tante?" tanya Amanda tidak mengerti.
"Itu undangan dari kakek sahabat Daniel yang berulang tahun ke-70. Kakeknya Sonia" jawab Diva. "Keluarga Aiden akan pergi. Karna kamu dikenal sebagai tunangannya anak saya, jadi kamu juga harus ikut. Tidak bagus jika kamu tidak ikut. Nama baik keluarga Aiden akan tercemar karna kamu. Mereka akan beranggapan kalau tunangan keluarga Aiden tidak menghargai undangan mereka" jelas Diva.
Belum sempat Amanda mengatakan sepatah kata, Diva langsung pergi ke kamarnya. Melihat Diva pergi ke kamar, Amanda juga pergi ke kamarnya.
"Hah,, kenapa harus pesta lagi?" keluh Amanda menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
"Aku tidak suka menghadiri pesta. Terakhir kali aku menghadiri pesta, aku hampir saja dipermalukan. Entah apa yang akan terjadi besok padaku dipesta. Apalagi kakek Sonia. Aku tidak mau bertemu dengan wanita pembual iti. Aku harap, tidak ada kejadian yang aneh-aneh menimpa padaku" ucap Amanda meratapi nasibnya.
Setelah puas peratapi nasibnya, Amanda pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti baju. Setelah mengganti baju, Amanda pergi ke bawah untuk membawa air minum. Karna botol air di kamarnya sudah habis.
Saat berada di dapur, Amanda tak sengaja bertemu dengan Daniel. Setelah kejadian tadi, Amanda jadi gugup saat bertemu dengan Daniel.
Amanda berdiri di depan kulkas yang terbuka. Daniel berjalan mendekat pada Amanda.
"Tu-tuan, kau di sini?" tanya Amanda mengusir rasa gugupnya.
"Iya" jawab Daniel.
Daniel mendekat ke arah Amanda. Tangan Daniel maju ke depan Amanda. Amanda memejamkan matanya melihat Daniel berulah seperti itu.
Namun setelah beberapa saat, Amanda tidak merasakan apapun. Amanda membuka matanya. Dia melihat Daniel sedang menuangkan air ke gelas dari botol besar. Rupanya tangan Daniel terulur untuk mengambil botol air besar yang berada di dalam kulkas. Dan itu tepat berada di belakang Amanda.
Amanda geram dengan apa yang dia pikirkan. Amanda berpikir Daniel akan melakukan hal yang tidak pantas padanya.
Untuk menyembunyikan rasa malunya, Amanda segera pamit dan pergi kembali ke dalam kamarnya.
"Tuan, saya kembali ke kamar duluan" pamit Amanda.
Sebelum Daniel menjawab, Amanda sudah pergi duluan.
"Heheheh.." Daniel tertawa saat Amanda sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat senang melihat wajah Amanda yang gugup seperti tadi. Ingin rasanya Daniel mencubit pipi Amanda karna saking gemasnya.
"Ah.." geram Amanda prustasi. "Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku bisa berpikir seperti itu? Aku malu pada diriku sendiri. Entah bagaimana aku bisa bertemu dengan tuan Daniel besok" lanjut Amanda.
Untuk mengusir rasa malunya, Amanda memutuskan untuk tidur. Namun matanya sangat sulit untuk terpejam. Amanda terus teringat pada kejadian di dapur.
...***...
Keesokan harinya, Amanda menghadiri pesta bersama keluarga Aiden. Kali ini Amanda memakai gaun berwarna navy yang dihiasi dengan pertama yang berkilau.
Ditambah dengan kalung yang menghias leher jenjang Amanda. Rambut Amanda diurai dan bagian depan rambutnya diikat ke belakang dengan menyisakan beberapa helai dibagian samping untuk pemanis. Hal itu membuat Amanda terlihat sangat cantik. Amanda menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Gaun Amanda yang terlihat sederhana, jika dipakai oleh Amanda, akan terlihat sangat berkelas.
"Dengar, jangan melalukan apapun yang bisa membuat keluarga Aiden dipermalukan" ucap Diva memberi leringatan pada Amanda.
Amanda menganggukkan kepalanya.
"Siapa juga yang mau mempermalukan keluarga Aiden" gumam Amanda.
"Apa kamu bilang?" tanya Diva yang mendengar gumaman Amanda.
"Ah, aku tidak mengatakan apapun" jawab Amanda.
"Huh.. awas saja kamu" dengus Diva.
Keluarga Aiden menghampiri kakek sahabat Daniel untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Amanda juga melakukan hal yang sama.
Sonia melihat Amanda datang kepesta kakeknya. Sonia terlihat tidak suka padanya. Apalagi melihat penampilan Amanda yang menjadi pusat perhatian. Sonia tidak mau kalah dari Amanda. Karna nyatanya, Amanda lagi-lagi tampil lebih cantik dari Sonia.
"Aku kira dia tidak akan datang. Ternyata dugaanku salah" gumam Sonia sambil memperhatikan Amanda yang sedang berbicara dengan keluarga Aiden dan juga kakek Sonia.
"Siapa yang kau maksud?" tanya teman Sonia (teman A).
"Dia" jawab Sonia menunjuk Amanda.
"Siapa dia? Oh,, apakah dia adalah wanita yang dikabarkan menjadi tunangan Daniel?" tebak teman B.
Sonia menganggukkan kepalanya.
"Siapa namanya?" tanya teman A.
"Amanda" jawab Sonia.
"Amanda?" ulang teman A.
"Ya, kau benar" jawab Sonia.
"Aku dengar dia cukup tangguh" ucap teman C yang tiba-tiba datang dari arah belakang bersama teman D (C dan D seorang pria).
"Benarkah?" tanya teman A tidak percaya.
"Ya itu benar. Dihari pertamanya bekerja, dia sudah bisa menaklukan aktor muda yang terkenal dengan sikap arogannya. Yaitu Gavin" jawab C.
"Saat dipesta aniversary perusahaan Daniel, dia bermain piano dengan sangat bagus. Dia membuat kau malu di depan semua orang" timpal D.
"Diamlah kau" geram Sonia.
"Dan kemarin, aku dengar dia mengadukan Mayang ketua sekretaris itu pada Daniel. Dia membuat Mayang meminta maaf padanya atas titahan Daniel" ucap C.
"Ya,, ya,, terus saja memuji gadis kampung itu. Lihat saja, kali ini aku akan membalas perbuatannya tempo hari padaku" ucap Sonia.
Sonia memikirkan sebuah cara untuk menjatuhkan Amanda dihadapan semua orang.
"Bagaimana kalo kita beri dia sedikit pelajaran?" usul Sonia.
"Hem,, boleh juga" setuju teman A, B, C, dan D.
"Kita lihat, apakah kali ini dia bisa lolos atau tidak" ucap Amanda.
Ke-5 orang itu tersenyum licik.
__ADS_1
Pesta baru berjalan kurang lebih 30 menit, namun Amanda sudah sangat bosan. Amanda ingin pergi ke atap untuk merileks kan badannya.
"Permisi" ucap Amanda pada seorang pelayan.
"Ya, nona" balas pelayan itu dengan ramah.
"Di mana tangga untuk menuju ke atap?" tanya Amanda.
"Di sebelah sana nona" jawab pelayan itu.
"Baiklah terima kasih" ucap Amanda.
"Sama-sama nona" balas pelayan itu.
Saat Amanda hendak menaiki tangga, tiba-tiba dia dihadang oleh Sonia dan teman-temannya.
"Hai Amanda" sapa Sonia.
"Aduh,, kenapa aku harus bertemu dengan dia?" tanya Amanda dalam hati.
"Hai juga" balas Amanda.
"Kita bertemu lagi. Dan itupun disebuah pesta" ujar Sonia.
"Ya. Sungguh, dunia ini sangat sempit ya" balas Amanda.
"Ah, iya. Kenalkan, merea adalah sahabatku dan juga Daniel" ucap A.
Semua orang memperkenalkan diri pada Amanda. Amanda juga memperkenalkan dirinya.
"Malas sekali aku bersalaman dengan mereka" ucap Amanda dalam hati.
"Lihatlah, aku mempunyai cincin berlian yang sangat mahal. Kalian tau, cincin ini limited edition" ucap Sonia memamerkan cincin yang ada di jarinya.
Amanda tidak memperdulikan Sonia yang sedang memamerkan cincinnya. Lagi-lagi Sonia melakukan hal yang sama seperti dipesta sebelumnya. Sonia memamerkan apa yang dia punya. Amanda meninggalkan Sonia dan teman-temannya. Amanda tidak mau mendengar bualan dari Sonia. Amanda memilih pergi ke atap.
Setelah beberapa lama di atap, Amanda turun kembali dan bergabung dipesta. Setelah turun, Amanda malah dituduh sebagai pencuri.
"Dia. Dia lah orang yang telah mencuri cincinku" tiduh Sonia pada Amanda.
Semua orang menatap Amanda. Amanda tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Sonia. Cincin apa yang dimaksud olehnya? Amanda hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi.
"Apakah kau yang mencuri cincin Sonia?" tanya teman B.
Amanda mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Di mana kau menyembunyikan cincin itu?" tanya teman C.
"Kenapa kau mencuri cincinnya?" tanya D.
"Apa kau menginginkan cincin milik Sonia?" tanya A.
"Apa ini? Kenapa aku diintrogasi seperti seorang pencuri? Aku baru saja turun ke sini" ucap Amanda dalam hati.
Amanda mengamati situasi.
"Ah,, aku mengerti sekarang. Rupanya mereka ingin menjebakku sebagai seorang pencuri.." Amanda mengerti permainan yang Sonia dan teman-temannya lakukan.
Mendengar kejadian tersebut, kakek Sonia datang. Sonia mulai berekting sedih pada kakek.
__ADS_1
"Kakek,, cincinku hilang.." adu Sonia sambil menunjukan wajah sedihnya. "Dia yang sudah mencurinya" tuduh Sonia.
"Apakah benar kau yang mencuri cincin milik cucuku Sonia, Amanda?" tanya kakek sahabat Daniel.