
83
Daniel menjalankan mobilnya menuju ke perusahaan. Daniel terus saja memikirkan Amanda. Ada rasa tak rela saat tau Amanda memiliki janji dengan Farrel. Ya,, meskipun itu menyangkut pekerjaan.
Daniel menepikan mobilnya dipinggir jalan. Dia meraih ponselnya dari jas yang dia pakai. Dia mencari nomor seseorang. Setelah menemukannya Daniel melakukan panggilan dengan orang itu.
"Hallo!" ucap Daniel.
"Ya, tuan" balas Rio.
Ya, orang yang ditelpon Daniel adalah Rio. Asistennya.
"Cari keberadaan Amanda. Aku mau dalam 5 menit kau sudah mengetahui di mana dia berada" titah Daniel.
"Bukankah beberapa menit lalu nona Amanda bersama anda?" tanya Rio bingung.
"Lakukan saja perintahku" balas Daniel kemudian mematikan telponnya.
Rio bingung dengan ucapan tuannya itu. Baru saja doa keluar dengan Amanda. Tapi dia sudah menyuruh untuk mencari Amanda. Dan lagi,, dia hanya memberi waktu 5 menit.
Bukankah Daniel tau kalo dia sedang mengurus masalah yang menjerat Amanda. Kepala Rio sangat berat memikirkan itu semua. Sungguh, bos nya itu sudah hilang akal.
5 menit kemudian Daniel sudah mengetahui letak dan keberadaan Amanda. Tentunya informasi yang dia dapatkan berasal dari Rio sang asisten pribadinya.
Daniel memutar balikkan mobilnya. Dia menuju lokasi yang dia terima. Secepat mungkin Daniel melaju menuju restoran.
"Amanda berada di mobil Farrel" gumam Daniel. "Dan dia menuju ke sebuah restoran" lanjut Daniel.
Daniel menginjak pedal gas mobilnya dan segera menuju restoran.
Farrel membawa Amanda ke sebuh restoran mewah. Di tidak memperbolehkan siapa pun masuk ke ruangan yang dia tempati, karna dia sudah membooking ruangan itu.
"Ayo, masuklah" ucap Farrel.
"Terima kasih" balas Amanda.
Amanda masuk ke dalam ruangan. Tak ada semangat yang terpancar. Hanya ada rasa lelah dan cemburu dan gelisah saja. Bayangan Daniel bersama Sonia semalam terus berputar di kepala Amanda. Entah apa yang mereka lakukan. Amanda hanya bisa memendam kekesalannya tanpa bisa meluapkan.
Di ruang itu, terdapat satu beja dan 2 kursi. Sudah jelas sekali kalo itu untuk 2 orang. Amanda duduk disalah satu kursi itu.
Farrel duduk di kursi yang satunya lagi. Mereka duduk saling berhadapan. Farrel dapat melihat kegelisahan di wajah Amanda. Farrel pikir Amanda gelisah karna kasus yang sedang dia alami. Tapi Farrel salah besar. Amanda sama sekali tidak mengkhawatirkan kasus yang menjeratnya.
Farrel mencoba bersikap perduli pada Amanda.
"Amanda" ujar Farrel.
Amanda menatap Farrel.
"Dengar, kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu ada di sisimu" ucap Farrel menggenggam tangan Amanda menyalurkan kekuatannya.
Amanda menatap Farrel.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan membiarkanmu terkena masalah. Aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tidak akan sekali pun berpaling darimu" tutur Farrel.
"Ekhem.." Amanda berdehem kecil.
"Ya, terima kasih" balas Amanda.
Amanda melepaskan genggaman Farrel dari tangannya. Farrel menatap tangannya yang dilepaskan oleh Amanda.
"Oh iya, Maaf karna lagi-lagi syuting harus tertunda gara-gara aku" Amanda mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia mulai membicarakan masalah pekerjaan.
"Tidak papa" balas Farrel.
"Aku akan menjadwalkan ulang syuting. Tapi jika sudah melebihi batas waktu, aku akan mengambil gambar yang sudah ada saja. Aku tidak mau membuang waktu semua orang. Bagaimana menurutmu?" ucap Amanda.
__ADS_1
Farrel kembali meraih tangan Amanda.
"Amanda, kumohon. Tolong jangan membicarakan pekerjaan. Kita nikmati waktu ini. Waktu ini milik kita berdua. Lebih baik kita membicara tentang kita" ucap Farrel.
Amanda menatap Farrel lekat. Waktu kita? Hah,, apa yang dipikirkan Farrel? Farrel berharap makan malam ini adalah sebuah kencan sepasang kekasih?
Daniel sudah sampai di restoran itu. Ekspresi Daniel terlihat sangat marah saat melihat Farrel memegang tangan Amanda. Hal itu terlihat romantis bagi Daniel. Dia tidak terima jika ada laki-laki lain yang bersikap romantis pada Amanda.
Daniel hendak masuk dan menemui Amanda. Langkahnya terhenti saat petugas menghentikannya dan melarangnya masuk.
"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk" cegah petugas iu.
"Kenapa?" tanya Daniel.
"Ruangan ini sudah dibooking oleh tuan Farrel"
"Aku tidak peduli. Aku tetap ingin masuk"
"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk"
"Ada apa ini?" tanya manager restoran datang untuk melihat keributan yang terjadi.
"Ini bos, tuan ini mem*ksa untuk masuk padahal ruangan ini sudah dibooking" jawab petugas restoran itu.
Manager itu terkejut melihat Daniel.
"Tuan Daniel" ujar manager itu. "Suatu kehormatan kau berkunjung ke restoran kami" manager itu terlihat menghormati Daniel.
"Hm.."
"Maaf atas ucapan petugas ini. Dia masih baru di sini. Jadi dia belum terlalu menguasai tugasnya"
"Hm.."
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku mau masuk ke ruangan itu"
Manager melihat ke dalam ruangan. Ada sedikit keraguan di hatinya. Namun dia segera buang keraguan itu.
"Tentu saja tuan. silahkan. Tidak ada yang melarangmu"
Daniel langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Bos, kenapa kau membiarkan dia masuk? Padahal ruangan itu sudah dibooking oleh selebriti terkenal, yaitu Farrel" tanya petugas hotel heran.
"Diam kau. Kau tidak tau siapa dia?"
"Tidak. Memang siapa dia?"
"Dia adalah Daniel Aiden"
"Hah! Daniel Aiden? Presdir kaya dan terkenal itu?"
"Hm.."
"Tampan sekali"
"Dengar, kita tidak boleh menyinggung tuan Daniel. Jika kita menyinggungnya, kita tidak akan bisa hidup dengan aman"
"Baik bos"
Daniel melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah Farrel dan Amanda. Daniel langsung melepaskan tangan Farrel dari tangan Amanda.
"Daniel" ujar Farrel.
__ADS_1
"Tuan Daniel" ujar Amanda.
Farrel dan Amanda sama-sama terkejut saat melihat kedatangan Daniel.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Daniel menahan amarah.
"Kami sedang mendiskusikan pekerjaan" jawab Farrel.
"Pekerjaan? Apa berpegangan tangan juga termasuk pekerjaan?" sargah Daniel.
"Tidak Nil, kau salah sangka"
"Salah sangka gimana? Aku melihatnya sendiri. Kau mencoba merayu tunanganku"
"Kami sedang membicarakan pekerjaan Nil"
"Ah, bacot kau"
Daniel menarik tangan Amanda dan mengajak pergi. Namun tangan Amanda terasa berat karna dia tidak menuruti Daniel.
"Ayo kita pulang" ajak Daniel.
"Tidak tuan. Aku tidak mau pulang" tolak Amanda.
"Kenapa? Apa kau mau berduaan dengan dia? Apa kau tidak mau aku mengganggu momen mesra kalian?"
Amanda mengerutkan keningnya.
"Tuan, apa yang kau katakan?"
"Jangan beralasan lagi. Ayo kita pulang"
"Tidak. Aku tidak mau pulang"
"Ayo kita pulang"
"Tidak tuan"
"Amanda Batari, kau adalah tunanganku. Kau harus menuruti perkataanku" Daniel mengingatkan Amanda kalo dia adalah tunangannya.
"Tuan, pertunangan ini hanya sebatas kontrak. Kau tidak mengatur kehidupanku. Setelah kontrak ini berakhir, pertunangan kita juga berakhir" jelas Amanda.
Amanda mengatakan itu sebagai tanda kemarahannya.
Mendengar kata kontrak, membuat Farrel bahagia. Ada setitik harapan untuknya agar bisa hidup bersama Amanda dan memilikinya sepenuhnya.
Daniel tersenyum getir. Setelah apa yang mereka lalui, Amanda masih mengingat kontrak itu.
Tak ada yang berucap dari ketiga orang itu.
"Farrel, sebaiknya kau pulang" ucap Amanda pada Farrel.
"Bagaimana denganmu?" tanya Farrel khawatir.
"Kau tidak perlua khawatir. Aku baik-baik saja. Aku bisa menyelesaikan masalahku bersama tuan Daniel" balas Amanda.
"Baiklah, kalo begitu aku pulang. Tapi ingat, jika ada apa-apa kau harus segera menghubungiku"
"Iya" balas Amanda.
Farrel dari restoran itu. Kini di ruangan itu hanya ada Amanda dan Daniel.
Daniel menatap Amanda dengan lekat. Daniel melihat raut wajah marah pada Amanda. Dia tau Amanda memgatakan itu karna masih marah padanya.
Perlahan Daniel mendekat ke arah Amanda. Melihat pergerakan Daniel, Amanda memundurkan tubuhnya menjauhi Daniel. Punggung Amanda sudah menempel pada dinding. Kini dia tidak bisa ke mana pun. Dia terkunci oleh tubuh kokoh Daniel.
__ADS_1