
119
Selesai sarapan, Amanda, Daniel dan Darma berkumpul di taman belakang ditemani dengan jus Jeruk buatan Amanda. Mereka berkumpul untuk lebih mengenal satu sama lain. Mungkin lebih tepatnya Daniel yang harus lebih mengenal Darma.
"Hari ini apa jadwalmu?" tanya Darma pada Daniel sambil menyeruput jusnya.
"Em,, pukul 08.30 aku ada pertemuan dengan tuan Willi di daerah N" jawab Daniel.
"Kau mau langsung bekerja?" tanya Amanda.
"Iya" jawab Daniel.
"Tapi kau baru saja sampai kemarin" protes Amanda.
"Aku hanya akan menandatangai sebuah kesepakan kerja. Tidak akan sampai 1 jam. Setelah itu aku akan mengajakmu jalan-jalan" jelas Daniel.
Daniel beralih menatap Darma.
"Kek, aku ingin meminta izin pada kakek. Aku mau mengajak Amanda jalan-jalan. Bolehkan kek?" Daniel meminta izin pada Darma.
"Boleh, silahkan saja. Tapi ingat, kau harus menjaga cucuku ini dengan baik" balas Darma memberi persyaratan.
"Siap kek" setuju Daniel.
Singkat cerita, Amandan dan Daniel sudah siap untuk pergi. Perjalanan menuju daerah N cukup jauh, memakan waktu sampai 1 jam. Mereka berangkat menggunakan mobil Daniel, namun disupiri oleh Luis. Jika Daniel yang menyetir, mungkin mereka akan nyasar.
Seharian Amanda menemani Daniel. Sesuai dengan ucapan Daniel, setelah pekerjaannya selesai, mereka akan jalan-jalan. Amanda dan Daniel mengunjungi tempat yang bagus di daerah sana. Tentu saja dengan saran dari Luis. Karna Luis sudah puluhan tahun tinggal di sana.
Pukul 20.00 Amanda dan Daniel baru kembali. Amanda tertidur di dalam mobil. Daniel menggendong Amanda untuk masuk. Dia membawa Amanda ke kamarnya. Daniel menatap wajah cantik Amanda. Daniel masih teguh pada pendiriannya. Dia yakin kalo Amanda adalah Tari. Daniel akan berusaha mencaritau masalalu Amanda.
Daniel keluar dari kamar Amanda. Saat dia berbalik, dia dikejutkan oleh Darma yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Ah.." pekik Daniel memegang dadanya.
"Sut.." Darma menempelkan jari di bibirnya.
"Kakek, kau mengagetkanku" ujar Daniel.
"Hahah.." Darma tertawa. "Amanda sudah tidur?" tanya Darma.
"Sudah kek. Sepertinya dia kecapean" jawab Daniel.
Darma menganggukkan kepalanya.
Daniel menatap Darma dengan meneliti. Darma heran kenapa Daniel menatapnya seperti itu.
"Sepertinya aku pernah melihat kakek" ujar Daniel.
"Kemarin kau melihatku dan sekarang kau sedang melihatku" balas Darma.
"Tidak. Aku merasa pernah melihatmu disuatu tempat"
"Kabar berita"
"Tidak kek. Aku pernah melihatmu disuatu tempat. Aku yakin itu. Tapi aku tidak ingat di mana itu"
Darma tersenyum tipis.
"Ikut kedenganku" ucap Darma.
__ADS_1
Daniel mengikuti langkah Darma. Darma membawa Daniel ke ruang bacanya. Daniel disuruh duduk dan menunggunya sebentar.
Daniel mengamati ruang baca Darma. Banyak sekali buku tentang bisnis yang Darma koleksi. Mulai dari dalam negri, hingga luar negri. Darma mengoleksi ribuan buku ahli bisnis terdahulu yang sukses.
Tak lama Darma pun datang sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang. Daniel penasaran apa isi dari kotak itu.
Darma dan Daniel duduk saling berhadapan.
"Kotak apa ini kek?" tanya Daniel penasaran.
"Bukalah" balas Darma.
Daniel membuka kotak itu. Daniel mendapati foto-foto dan koran. Daniel mengambil salah satu foto yang ada di sana.
"Apakah ini Amanda kek?" tanya Daniel dan diangguki oleh Darma.
Daniel memperhatikan wajah Amanda saat masih kecil.
"Tunggu" gumam Daniel. "Aku tau wajah ini. Aku tau wajah ini kek. Ini Tari, gadis di masa kecilku" papar Daniel.
Darma menganggukkan kepalanya.
"Lihat koran yang ada di dalam sana" titah Darma.
Daniel melihat 2 koran yang ada di dalam kotak itu.
"Cucu 2 pengusaha sukses diculik oleh sekelompok mafia. Ke-2 keluarga berusaha menyelamatkan mereka" ucap Daniel membaca salah satu koran.
Daniel melihat taun produksi koran. Koran itu diproduksi belasan tahun lalu. Taun di mana dia diculik bersama dengan Tari.
Daniel mengambil koran yang satunya lagi kemudian membacanya.
"Aiden,, nama keluargaku" gumam Daniel.
Daniel menaruh koran itu di atas meja. Dia memegang kepalanya yang sedikit sakit. Daniel mencoba mengingat masa lalu saat dia melihat Darma.
Daniel mulai mengingatnya. Dalam ingat Daniel, saat itu dia melihat Darma yang sedang panik sambil beteriak untuk terus mencari Tari. Akhirnya Daniel mengingat itu.
"Jadi, Amanda adalah Tari kek?" Daniel memastikan sangkaannya.
"Ya. Dia adalah Tari. Gadis yang dulu menyelamatkanmu"
Daniel memejamkan matanya mendengar jawaban Darma. Ternyata benar dugaannya, Tari adalah Amanda. Dan Amanda adalah Tari.
"Tapi kek, bagaimana Amanda bisa tidak ingat padaku? Dia juga tidak mengingat masa kecilnya" tanya Daniel.
"Kau juga tau Amanda jatuh ke jurang. Saat itu, aku berusaha menemukannya. Jurang itu terlalu dalam. Butuh waktu 3 hari untuk menemukan Amanda. Saat Amanda ditemukan, dia sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri tapi beruntungnya dia masih hidup. Entah bagaimana caranya dia bertahan hidup dengan keadannya saat itu" Darma memberi jeda sejenak dalam ceritanya.
Daniel mendengarkan cerita darma dengan serius.
"Lihat map yang ada dikotak itu" titah Darma.
"Map?" gumam Daniel. Daniel mengambil map yang ada di dalam kotak. Lalu dia membukanya.
"Laporan rumah sakit?"
"Ya" jawab Darma.
"Setelah menemukan Amanda, aku langsung membawanya ke rumah sakit. Saat itu Amanda terluka parah di kepalanya. Otak belakangnya terbentur dengan keras. Namun dokter memastikan kalo saat itu Amanda tidak langsung jatuh ke dasar. Tapi dia sempat terjatuh di atas dahan pohon. Namun karna saat itu hujan, dahan pohon itu licin, sehingga Amanda jatuh ke dasar.
__ADS_1
Dokter memberitahukan kalo Amanda koma. Amanda koma selama 5 tahun. Aku sudah kehilangan harapanku saat Amanda tak kunjung bangun. Namun saat usianya 10 tahun, dia sadar. Tapi dia tidak mengingat apa pun. Dokter memfonis Amanda terkena amnesia. Amanda bisa saja ingat sekarang, besok, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, bahkan dia juga bisa saja tidak mengingat untuk selamanya"
Darma mengambil tissu. Dia tak kuasa menahan tangisnya saat mengingat masalalu. Daniel hanya menundukkan kepalanya saja. Dia merasakan apa yang Darma rasakan.
"Dokter bilang, kondisi Amanda masih sangat lemah. Aku tidak boleh membuatnya teringat pada 5 tahun yang lalu. Itu sebabnya panggilan Tari diganti menjadi Amanda. 5 tahun itu sangat sulit untukku. Banyak berita yang tidak baik tentang keluargaku dan keluarga kakekmu. Kami memutuskan untuk menutup kasus itu dari media. Dan sebelum Amanda ditemukan, kau dan kakekmu sudah keluar dari kampung ini. Kami tidak menyangka, perayaan yang kami adakan akan menjadi targedi yang tak bisa kami lupakan"
Darma menghembuskan nafasnya setelah bercerita panjang lebar.
"Kek, kenapa kakekku membawaku sebelum Amanda di temukan?" tanya Daniel.
"Saat itu mentalmu sangat lemah. Kau mengalami syok berat. Itu sebabnya kakekmu membawamu pergi"
Daniel terdia.
"Hiks,, hiks.." terdengar isakan dari Daniel.
Darma bingung menatap Daniel.
"Maaf kek, ini semua karnaku" sesal Daniel.
"Apa yang kau katakan?"
"Jika saat itu aku tidak lemah, mungkin Amanda tidak akan seoerti ini. Dia tidak akan kehilangan ingatannya. Ini semua karnaku. Seharusnya aku yang menjaganya. Tapi aku malah membahayakan nyawanya" Daniel menangis di hadapan Darma.
"Kakek tidak pernah menyalahkanmu akan hal itu. Kakek percaya, setiap kejadian memiliki maksud tersendiri" balas Darma.
Tiba-tiba saja Amanda masuk kedalam ruang baca. Darma kaget saat Amanda tiba-tiba masuk. Darma takut pembicaraannya dengan Daniel di dengar oleh Amanda.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Amanda yang terlihat baru bangun tidur.
"Sayang, bukankah kau sudah tidur?" tanya Darma menyembunyikan rasa gugupnya.
"Aku terbangun karna haus kek" jawab Amanda sambil berjalan mendekat.
Amanda melihat Daniel yang tertunduk.
"Tuan, ada apa denganmu? Kenapa kau menundukkan kepalamu?" tanya Daniel.
Daniel buru-buru mengusap air matanya dan menatap Amanda.
"Tidak, aku tidak papa" jawab Daniel.
"Tuan, kau menangis?" tanya Amanda saat melihat mata Daniel yang me-merah. Dia langsung duduk di sebelah Daniel.
"Tidak, aku tidak mengangis" jawab Daniel.
"Kakek, kenapa tuan Daniel menangis?" tanya Amanda khawatir.
"Dia.." Darma bingung harus menjawab apa pada Amanda.
"Aku menangis karna aku terharu mendengar perjuangan kakekmu dalam berbisnis" jawab Daniel.
Amanda menatap Darma, dan Darma hanya tersenyum. Amanda juga tau bagaimana perjuangan kakeknya dalam berbisnis. Mungkin jika dia mendengar cerita tentang Darma lagi, dia juga akan menangis.
"Aku pikir kau kenapa" balas Amanda lega.
Daniel menatap Amanda. Daniel merasa bersalah pada Amanda. Dia kembali menangis saat menatap wajah Amanda. Kini Daniel memeluk Amanda dan menangis dipelukannya. Amanda bingung apa yang terjadi pads Daniel.
Darma hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Amanda dan Daniel. Darma tau, saat ini Daniel butuh dukungan dari Amanda. Karna setelah sekian lama mencari, akhirnya Daniel menemukan Tari yang tiada lain dan tiada bukan adalah Amanda.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak