
113
Suatu malam.
Daniel dan Amanda masih berada di perusahaan. Daniel berinisiatif menyusul Amanda dan mengajaknya pulang.
"Apakah masih belum selesai?" tanya Daniel yang sudah masuk ke ruangan Amanda.
"Tuan, kenapa kau selalu masuk begitu saja?" protes Amanda.
"Karna aku suka" balas Daniel asal.
Daniel duduk di kursi yang ada di depan meja Amanda.
"Ayo kita pulang" ajak Daniel.
"Ayo" balas Amanda.
Amanda mematikan komputernya dan membereskan barang-barangnya.
"Kau sudah makan?" tanya Daniel.
"Belum" jawan Amanda.
"Kau itu,, sudahku bilang berapa kali. Kau tidak boleh mengabaikan waktu makanmu. Jangan terlalu pokus bekerja" Daniel menyentil kening Amanda.
"Awh,, sakit tuan" desis Amanda. "Memang kau sendiri sudah makan?" Amanda bertanya balik.
"Belum" cengir Daniel.
"Ih.." Amanda mencubit pelan lengan Daniel.
"Kau harus dihukum karna sudah mencubitku" seringai Daniel.
Amanda membulatkan matanya. Dia tau arti kata hukum bagi Daniel.
"Aduh,, tuan, perutku" Amanda mengaduh kesakitan memegang perutnya.
"Ada apa dengan perutmu?" Daniel berubah khawatir.
"Aku sangat lapar. Aku ingin makan. Aku tidak punya tenaga untuk berjalan" jawab Amanda.
Daniel terdiam. Dia pikir Amanda kenapa, eh taunya dia lapar.
"Ah.." pekik Amanda.
Daniel menggendong Amanda.
"Tuan, turunkan aku"
"Kau bilang kau tidak punya tenaga untuk berjalan. Jadi aku akan menggendongmu sampai mobil"
"Itu tidak perlu tuan. Aku bisa berjalan sendiri"
"Aku akan menggendongmu"
"Tidak, turunkan aku. Bagaimana kalo ada orang yang melihatnya"
"Tidak akan ada. Semua orang sudah pergi"
"Ya sudah, terserah. Aku ini berat. Semua tubuhmu akan sakit nanti"
"Kau tidak berat sama sekali"
Amanda diam tak membantah. Biar saja Daniel memggendongnya. Toh, dia juga nyaman saat digendong Daniel.
Daniel mendudukkan Amanda di kuris sebelah pengemudi.
"Tuan, kita akan makan di mana?" tanya Amanda.
"Bagaimana kalo kita membuat makanannya" usul Daniel.
"Tidak. Jika kita membuat makanannya sendiri. Nanti tante Diva dan Oliv keganggu. Terus mereka nyalahin aku" tolak Amanda.
"Kita pulang ke vilaku saja. Di sana tidak ada orang. Hanya akan ada kita berdua"
__ADS_1
Daniel menaik tunrunkan alisnya.
"Apa! Kau berpikir apa!" garang Amanda. Amanda tau jalan pikiran Daniel
"Tidak" sangkal Daniel.
"Baiklah. Kita akan memasak sendiri untuk makan malam kali ini" setuju Amanda.
Amanda dan Daniel mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Mereka akan makan besar malam ini.
Sesampainya di vila, Amanda dan Daniel langsung memasak. Mereka memasak makanan Indonesia dan Prancis. Kegiatan memasak mereka diiringi dengan canda dan tawa dari keduanya. Mereka seperti sepasang suami istri yang berbahagia.
Dan hasil masakannya, mereka makan sampai habis. Tidak ada yang tersisa. Mereka puas dengan makanan yang mereka masak.
Kini Amanda dan Daniel berada di ruangan tv. Mereka sedang bersantai setelah melakukan pesta makanan.
"Ah,, ku kekenyangan" ujar Amanda. Amanda mengelus perutnya.
"Amanda" panggil Daniel.
Amanda melihat ke arah Daniel sebagai jawaban atas panggilannya.
"Apa keputusanmu?" tanya Daniel.
"Masih ada 2 hari lagi sebelum 3 bulan tuan. Sabarlah" balas Amanda.
"Apa tidak bisa sekarang saja kau mengatakannya?"
"Kalo begitu sekarang aku harus pergi ke rumahku"
"Kenapa?"
"Perjanjiannya setelah 3 bulan aku akan mengatakan apa jawabanku. Dan ini masih belum 3 bulan. Jadi jika kau ingin jawabannya sekarang, berarti ini sudah 3 bulan dan aku harus pergi"
"Baiklah. Hanya 2 hari lagi"
Amanda tersenyum. Senyuman Amanda memudar saat mengingat sesuatu. Sudah lama Amanda ingin menanyakan hal ini kepada Daniel. Namun dia sedikit khawatir jika bertanya soal ini.
"Tuan" panggil Amanda ragu.
"Apa kau sudah menemukan Tari?" tanya Amanda dengan hati-hati.
"Belum" jawab Daniel santai.
"Kenapa?"
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa. Kenapa kau bertanya itu? Bukankah sudahku bilang akan melupakannya. Aku sudah melupakannya. Tapi kembali teringat padanya karna kau bertanya" jelas Daniel.
Amanda terkejut. Itu artinya Daniel sudah melupakan Tari. Dan sekarang hanya Amanda lah yang mengisi hati Daniel. Tidak ada wanita lain.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu" sesal Amanda.
"Hah,, sudahlah.." Daniel bangkit dari duduknya dan meraih tangan Amanda. "Jangan dibahas lagi. Ayo kita tidur" ajak Daniel.
Amanda menganggukkan kepalanya. Dia tidak mau merusak suasana hati Daniel.
"Eh,, tunggu" cegah Amanda.
"Kenapa?" tanya Daniel bingung.
"Di mana kamarku?"
"Tentu saja ada di atas. Kau akan tidur bersamaku"
"Tidak mau. Aku mau tidur di kamar lain"
"Kenapa? Biasanya juga kau tidak masalah jika harus tidur bersamaku"
"Iti saat aku tidak sadar ya. Jadi aku terp*ksa tidur satu ranjanh bersamamu"
Sekarang kau tidak mau tidur bersamaku?"
"Tidak"
"Tapi aku mau"
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau"
"Aku yang mau"
"Aku yang tidak mau"
"Hm,, baiklah. Kali ini aku mengalah. Kau tidur di kamarku"
"Lalu kau?"
"Aku akan tidur di kamar sebelah kamarku"
"Kenapa kau mau tidak tidur di kamarmu?"
"Aku mau. Tapi aku mau bersamamu"
"Ih,, aku serius"
"Aku mau nyaman saat tidur"
"Memangnya kamar itu berantakan?"
"Tidak juga"
"Lalu ya sudah, aku tidur di kamar itu. Kau tidur di kamarmu"
"Tidak"
"Ih,, kenapa?"
"Hah,, sudah. Jangan banyak tanya lagi. Ini sudah malam"
Daniel menuntun Amanda naik ke lantai atas. Daniel membuka pintu kamarnya.
"Sekarang kau masuk dan beristirahat"
"Tapi aku tidak bawa baju ganti"
"Pakai saja bajuku"
"Kebesaran tuan, bagaimana mungkin aku me-" ucapan Amanda tertahan oleh Daniel.
Daniel membungkam mulut Amanda dengan mulutnya. Amanda diam terpaku. Sesaat kemudian, Daniel melepaskan c*umannya.
"Apa mulutmu tidak lelah terus berbicara?"
"Tidurlah. Aku juga akan tidur"
Daniel menc*um kening Amanda dengan mesra. Setelah itu dia mengusap wajah Amanda dengan lembut.
Daniel berjalan menuju kamar sebelahnya. Dia masuk ke dalam kamar itu. Sementara Amanda mematung ditempatnya. Perlakuan Daniel sangat romantis padanya.
Daniel masuk ke dalam kamar. Daniel menyandarkan punggungnya di pintu. Mood Daniel hancur saat Amanda bertanya tentang Tari. Daniel selalu berharap agar Amanda tidak bertanya tentang Tari. Daniel tidak mau berbohong pada Amanda. Namun hari ini dia terp*ksa berbohong padanya.
Keesokan Harinya.
Kring...
Suara alarm berbunyi dengan nyaring, mengganggu Amanda yang sedang tertidur lelap.
"Eum.." Amanda mematikan alarm itu. "Aku tidak memasang alarm. Kenapa alarm berbunyi" gumam Amanda.
Amanda melanjutkan tidurnya.
"Sayang, Amandaku yang cantik, kenapa kau tidur lagi. Ayo bangun, aku sudah menunggumu di ruang makan"
Amanda terduduk dari tidurnya. Dia bingung siapa yang berbicara padanya. Terdengar dari suaranya, itu suara Daniel. Tapi Amanda tidak melihat Daniel. Amanda mengedarkan pandangannya. Matanya tertuju pada alarm yang dia matikan. Rupanya alarm itu yang berbunyi. Amanda tersenyum dan mematikan alarm itu.
Amanda bangun dan dia hendak pergi ke bawah. Amanda membuka pintu dan dia merasa dia kakinya menyentuh sesuatu. Tak disangka, dia disambut oleh bunga-bunga yang berjatuhan. Amanda sangat senang melihat bunga yang berjatuhan.
Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak
Terus dukung Amanda dan Daniel
__ADS_1
Salam hangat dari author