CINTA DALAM 3 BULAN

CINTA DALAM 3 BULAN
Mati Lampu 2


__ADS_3

98


Amanda dan Daniel duduk saling berhadapan di meja kerja Amanda. Daniel memberikan rantang berisi makanan yang dibuatnya pada Amanda. Amanda membuka rantang yang diberikan oleh Daniel. Amanda kaget melihat isi dari 1 wadah rantang itu.


"Wah,, Beef burguignon" ujar Amanda senang.


Amanda membuka satu wadah lagi.


"Ah,, Ratatouille" ujar Amanda tak kalah senang.


Amanda menatap Daniel tak percaya.


"Tuan, apa kau yang memasak ini semua?" tanya Amanda tak percaya.


"Ya" balas Daniel.


"Em,, kau hebat sekali" puji Amanda.


"Sudahlah. Jangan terus memujiku. Sebaiknya kau cepat makan" balas Daniel.


"Apa boleh aku habiskan?" tanya Amanda.


"Itu semua memang untumu"


"Kalo begitu aya kita makan bersama"


"Tidak. Sebelum ke sini aku sudah makan"


"Em,, baiklah"


Amanda mulai memakan makanan yang Daniel bawa. Amanda dengan lahap memakan makanan itu. Dia sangat suka dengan makanan yang dibuat oleh Daniel. Amanda memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Setelah itu dia mengunyah makanan itu. Dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya pun ikut bergoyang dan beberapa kali hanya mengatakan, "Hmm...." Amanda merasakan sensasi lezat yang luar biasa.


Daniel hanya menatap Amanda yang terlihat sangat senang memakan makanan buatannya dengan lahap.


"Apa enak?" tanya Daniel.


"Em.." Amanda menganggukkan kepalanya.


"Apa kau mau?" tanya Amanda dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan.


Daniel gemas melihat Amanda dengan mulut penuh dan pipi mengembangnya.


"Tidak. Kau saja yang makan" tolak Daniel.


Amanda menganggukkan kepalanya. Dia kembali memakan makanan itu sampai habis tak tersisa. Amanda merasakan perutnya sudah terisi penuh. Dari awal sampai akhir Amanda makan, tatapan Daniel tak pernah lepas darinya.


Ada bekas makanan di mulut Amanda.


"Ada sisa makanan di mulutmu" ujar Daniel.


"Hah! Benarkah?"


Amanda mengusap mulut sebelah kanan dengan tissue. Namun noda itu ada disebelah kiri mulut Amanda.


"Bukan di sana" ujar Daniel.


Amanda menaikan arah tangannya.

__ADS_1


"Bukan di situ"


Amanda menurunkan tangannya lagi. Namun tangan Amanda tidak beralih ke sebelah kiri. Tangan Amanda masih setia di mulut sebelah kanan.


"Bukan di situ"


"Kau ini, lalu di mana? Di sini bukan, di sana bukan. Maka lap kan untukku" ucap Amanda.


"Ck, kau ini. Hal kecil seperti ini saja tidak bisa kau lakukan"


Bukannya mengambil tissue, Daniel malah berjalan mendekati Amanda. Dia berhadapan langsung dengan Amanda. Amanda menatap Daniel dengan bingung. Daniel memegang pipi Amanda dengan kedua telapak tangannya. Daniel memajukan wajahnya dan..


Cup..


Daniel mel*mat sisa makanan di mulut Amanda. L*matan itu terjadi selama beberapa menit. Amanda terpaku di tempatnya. Dia tidak melawan mau pun menolak l*matan Daniel. Dia terlalu kaget dengan apa yang dilakukan Daniel.


Daniel melepaskan bibirnya dari Amanda.


Amanda memegang bibirnya setelah Daniel melepaskan tautannya. Daniel kembali ke tempat duduknya semula.


"Tuan,, apa yang kau lakukan? Aku bilang tolong kau lap kan untukku. Tapi kau malah.." Amanda tidak melanjutkan ucapannya.


"Itu cara tercepat" balas Daniel.


"Cara tercepat apanya? Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan"


"Hah,, kau ini,, salah sendiri tidak mengelap bibirmu dengan baik"


Amanda mengerucutkan bibirnya.


Pandangan mereka teralih pada ponsel Amands yang tiba-tiba berdering menandakan panggilan masuk. Amanda merarih ponselnya dan melihat nama si penelepon.


"Hallo Rel" panggil Amanda.


"Amanda, apa kau baik-baik saja?" tanya Farrel.


"Ya, aku baik-baik saja. Ada apa kau menelponku malam-malam?"


"Aku sudah mengetahui rumor yang beredar tentangmu. Tapi aku tau itu tidak benar. Aku bisa menjadi saksi bahwa kau tidak melakukan plagiat"


"Aku sangat berterima kasih Rel. Bantuanmu akan sanhat berguna"


"Apa kau sudah tau siapa pelakunya?"


"Belum. Aku masih belum tau. Tapi aku juga sangat penasaran siapa orangnya"


"Aku yakin kau akan bisa melewati ini semua"


"Iya. Terima kasih atas dukunganmu"


"Ya, sama-sama"


Panggilan pun berakhir.


Amanda terdiam setelah telpon terputus.


Daniel menggenggam tangan Amanda. Dia menyalurkan kekuatan pada Amanda.


"Kau tenang saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki siapa orang dibalik semua ini"

__ADS_1


"Terima kasih tuan" ucap Amanda sambil tersenyum.


Setelah makan, Amanda berniat untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun Daniel bersikeras mengahak Amanda pulang.


"Tuan, kau pulang saja duluan. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu"


"Tidak kau harus ikut pulang bersamaku"


"Tuan, mengertilah. Ini sudah menjadi tugasku"


"Amanda, mengertilah. Ini juga tugasku. Aku akan menjagamu dan melindungimu. Aku tidak akan pulang sampai kau ikut pulang bersamaku"


Mau tidak mau Amanda mengikuti ucapan Daniel. Kini Amanda dan Daniel berada di lift untuk turun ke lantai bawah.


Sesampainya di lantai bawah, belum sempat Amanda dan Daniel keluar, tiba-tiba lift rusak. Amanda dan Daniel terkurung di dalam sana. Lampu lift tidak menyala.


Dari kecil Amanda takut kegelapan. Rasa takutnya mulai menyeruak. Amanda menelan slavinanya dengan susah. Tubuhnya mulai bergetar. Deru nafasnya mulai naik turun. Amanda mengepalkan tangan sebagai tanda ketakutannya.


Daniel menyadari apa yang terjadi pada Amanda. Dengan cepat Daniel memeluk Amanda dan menenangkannya.


"T-Tuan, aku sangat takut" ujar Amanda dengan suara yang bergetar.


Daniel mengelus punggung Amanda sebagai upanya menenangkannya.


"Kau tidak usah takut. Ada aku di sini" balas Daniel.


Amanda memeluk Daniel dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daniel. Amanda merasakan kehangatan dalam pelukan Daniel. Dia juga merasa sangat tenang dan aman berada di dalam pelukan Daniel.


Melihat Amanda yang seperti ini, membuat Daniel merasa kasihan. Dia tidak menyangka Amanda akan sangat takut pada kegelapan. Hal itu membuat dia teringat pada Tari. Tari juga takut kegelapan. Daniel juga mencium aroma tubuh Amanda. Aromanya sama seperti Tari. Daniel yakin, Amanda dan Tari adalah orang yang sama.


Melihat Daniel yang diam, Amanda memanggilnya.


"Tuan"


"Em,, ya" balas Daniel tersadar dari lamunannya.


"Bagaimana sekarang? Kita tidak mungkin terus terjebak di sini"


"Aku akan memanggil seseorang untuk memperbaiki lifnya"


Daniel menelpon seseorang untuk memperbaiki lift. Tak lama lift pun sudah selesai diperbaiki. Lampu kembali menyala dan pintu lift pun terbuka.


Amanda dan Daniel masih dalam posisi berpelukan. Hal itu membuat orang yang melihatnya merasa ambigu.


"Amanda, lifnya sudah selesai diperbaiki" ujar Daniel.


"Benarkah?"


Amanda melepaskan pelukannya. Dan benar saja, lampu menyala, pintu terbuka dan beberapa pasang mata menatap padanya. Seketikan Amanda merasa canggung dan malu saat orang lain melihat dia memeluk Daniel dengan erat.


"Em,, maaf" ucap Amanda gugup.


Amanda keluar terlebih dahulu dari lift.


Daniel melihat Amanda yang berjalan terlebih dahulu. Entah di mana pikiran Daniel, tiba-tiba saja Daniel memanggil Amanda dengan nama Tari.


"Tari" panggil Daniel.


Amanda menghentikan langkahnya dan menatap Daniel. Dia tau, Daniel kembali mengira kali dirinya adalah Tari.

__ADS_1


__ADS_2