
118
Darma, Daniel dan Bagas membicarakan banyak hal. Mulai dari bisnis, hobi, makanan favorit dan masih banyak lagi. Darma dan Bagas lebih banyak bercerita. Daniel merasa pertemuan mereka bukan untuk melamar Amanda. Tapi untuk bertemunya kedua sahabat lama.
Sudah 1 jam Daniel di rumah Amanda. Tapi dia tidak menemukan Amanda. Daniel tidak tau ke mana Amanda. Soalnya Daniel tidak memberitahukan kedatangannya ke rumah Amanda.
"Kau mencari siapa Daniel?" tanya Bagas.
"Maaf kek, ke mana Amanda? Daru tadi aku dia tidak terlihat" tanya Daniel terbuka pada Darma.
"Kau ini, tunjukan sedikit harga dirimu. Jangan langsung bertanya" tegur Bagas.
"Itu kelamaan kek. Aku ingin segera bertemu dengan Amanda" papar Daniel.
"Kau ini tidak sabaran" ketus Bagas.
"Hahah.." Darma tertawa mendengar ucapan Daniel.
Darma sangat senang melihat perdebatan antara kakek dan cucu itu.
"Daniel, Amanda sedang keluar membeli makanan. Sebentar lagi dia juga akan kembali. Memang kau tidak memberitahu Amanda kalo kau akan datang ke sini?"
"Tidak kek" jawab Daniel.
"Apa! Kau tidak memberitahunya? Kakek pikir kau memberitahunya" tanya Bagas.
"Aku ingin memberinya kejutan kek" jelas Daniel.
"Kita tunggu saja. Sebentar lagi dia pulang" ucap Darma.
Daniel menganggukkan kepalanya.
Amanda sudah pulang. Dia melihat ada mobil seseorang yang terparkir. Amanda merasa mengenali mobil itu. Tapi dia lupa siapa pememilik mobil itu.
"Paman, mobil siapa itu?" tanya Amanda.
"Tidak tau nona. Mungkin itu mobil baru tuan besar" jawab Luis.
"Mobil baru? Hah,, kenapa kakek selalu suka mengoleksi mobil? Padahal mobilnya sudah banyak" heran Amanda.
"Paman, tolong bawa itu ke dalam ya" pinta Amanda.
"Iya nona" balas Luis.
"Tunggu, aku merasa pernah melihat mobil itu. Tapi di mana ya? Ah,, sudahlah. Mungkin emang mobil baru kakek" gumam Amanda.
Amanda masuk ke dalam rumah.
"Kakek, aku pulang" ucap Amanda.
__ADS_1
Amanda melihat ada 2 orang asing di rumahnya. Kedua orang itu melihat ke arah Amanda. Darma juga melihat ke arah Amanda.
"Tuan Daniel" gumam Amanda dalam hati.
"Amanda" gumam Daniel.
Amanda tidak menyangka Daniel datang me rumahnya. Rupanya mobil yang dia lihat itu milik Daniel. Pantas saja Amanda mengenali mobil itu. Setiap hari Amanda menaiki mobil itu.
Ingin rasanya Amanda berlari dan memeluk Daniel dengan erat. Namun dia menghargai kehadiaran Darma dan Bagas. Tidak pantas jika Amanda memeluk Daniel di hadapan kakeknya. Tapi jika Daniel memeluknya terlebih dahulu, dia dengan senang hati akan menyambut pelukan Daniel dengan hangat.
Amanda menyunggingkan senyum pada Daniel. Daniel juga tersenyum pada Amanda. Akhirnya setelah lama tidak bertemu secara langsung, kini dia bisa melihat wajah cantik Amanda.
Tiba-tiba Daniel berlari menghampiri Amanda. Dia tidak bisa menahan kerinduannya lagi. Daniel memeluk Amanda dengan erat. Amanda membalas pelukan Daniel.
"Aku sangat merindukanmu" ucap Daniel.
"Aku juga tuan" balas Amanda.
Amanda tak kuasa menahan air matanya. Air matanya lolos begitu saja tanpa aba-aba.
Daniel melepaskan pelukannya. Dia mengusap air mata Amanda.
"Kenapa kau menangis?" tanya Daniel.
"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau datang lama sekali?" Amanda balik bertanya.
"Maafkan aku. Banyak yang harus ku urus"
"P*kul lagi. Aku merindukan pukulanmu"
Amanda tersenyum. Mereka kembali berpelukan meluapkan rasa rindu yang sebulan terpendam.
"Apa kalian akan terus di sana?" tanya Darma.
Seketika Amanda dan Daniel melepaskan pelukan mereka. Mereka hanyut dalam rasa rindu mereka.
Amanda dan Daniel berjalan menuju Darma dan Bagas.
"Kalian ini. Setelah betemymu, langsung lupa pada kami" ujar Darma.
"Maaf kek" ucap Amanda dan Daniel.
Mereka kembali duduk.
"Kek, karna Amanda sudah datang. Aku akan mengatakan tujuanku dan kakekku datang ke sini" ucap Daniel.
Darma menganggukkan kepalanya.
"Aku ingin melamar Amanda kek. Aku ingin dia menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku kelak" papar Daniel.
__ADS_1
"Aku ingin kakek merestui hubungan kami" pinta Daniel.
"Daniel, dari awal kakek memang berniat menjodohkan kalian berdua. Tapi kalian menolak perjodohan ini. Kalian bersikukuh tidak mau menerima perjodohan ini" ujar Darma.
Amanda dan Daniel tersenyum mengingat 3 bulan lalu saat mereka sama-sama menolak perjodohan ini.
"Kakek setuju kau menjalin hubungan dengan Amanda. Kami tau, kalian ditakdirkan untuk bersama. Oleh sebab itu, kakek merestui kalian" lanjut Darma.
"Kakek juga ingin pertemanan ini berubah menjadi hubungan keluarga. Kakek juga merestui kalian" timpal Bagas.
Amanda dan Daniel tersenyum. Mereka senang karna kedua keluarga sudah merestui hubungan mereka.
Kini Amanda dan Daniel sedang berada di halaman belakang rumah Amanda. Sementara Darma dan Bagas bicara di dalam rumah.
"Kau tau, aku sangat merindukanmu" ujar Amanda.
"Aku lebih merindukanmu. Setiap hari aku berharap agar waktu bisa berjalan lebih cepat. Aku sungguh tidak bisa menahan rinduku lebih lama lagi" balas Daniel.
Amanda tersenyum pada Daniel.
"Tuan, jika kau tak kunjung melamarku, aku sudah merencanakan akan menikah dengan om-om di kampung ini" ujar Amanda.
"Apa! Kenapa kau merencakan itu?"
"Karna aku pikir kau tidak akan melamarku"
"Ish,, kau ini" Daniel menarik hidung Amanda dengan gemas.
"Ah,, tuan. Hidungku bisa panjang seperti pinokio" protes Amanda.
"Tidak papa, aku tetap sayang padamu"
Sore hari, Bagas berpamitan pada Amanda, Daniel dan Darma. Awalnya bagas ingin menginap, tapi banyak yang harus di urus olehnya. Daniel memilih untuk tinggal selama beberapa hari di rumah Amanda. Dulukan Amanda yang tinggal di rumah Daniel, sekarang giliran Daniel yang tinggal di rumah Amanda. Daniel juga ingin mendekatkan diri dengan keluarga Amanda, yaitu Darma. Lagi pula, Daniel ada urusan pekerjaan disekitar daerah itu. Darma tidak masalah Daniel menginap beberapa hari di rumahnya. Dia juga ingin lebih dekat pada calon menantunya itu.
Banyak pertanyaan dibenak Daniel untuk Darma. Daniel sangat penasaran pada identitas Amanda.
Apakah benar Amanda itu Tari?
Jika benar, kenapa dia tidak ingat padanya?
Kalau pun hilanh ingatan, kenapa begitu lama? Kenapa sampai harus belasan tahun Amanda hilang ingatan?
Daniel tidur di kamar tamu yang ada di lantai atas. Lebih tepatnya sebelah kamar Amanda. Sementara Darma berada cukup jauh dari kamar Amanda.
Keesokan harinya, semua orang sudah bangun. Kini mereka berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Daniel sangat merindukan saat-saat dia sarapan bersama Amanda. Dia tak henti-hentinya tersenyum dan menatap Amanda. Darma tak menyangka Daniel akan sebucin itu pada Amanda. Darma mendengar dari Bagas, Daniel itu pria dingin yang kej*m. Tapi saat ini Daniel berbeda dengan yang diceritakan oleh Bagas.
Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tunggalkan jejak
__ADS_1
Terus dukung author
Jangan lupa juga mampir di novel author yang lain