
117
Amanda dan Darma sudah berada dalam kamar mereka masing-masing.
Pukul 00.15 Darma masih tidak bisa menutup matanya. Pikirannya masih berputar di saat dia berbicara pada Amanda. Darma tidak menyangka Daniel masih mengingat kejadian belasan tahun yang lalu. Darma kira, seiring berjalannya waktu, Daniel akan melupakan kejadian itu. Tapi rupanya kejadian itu masih berbekas di kepala Daniel.
Darma bangkit dari tidurnya. Dia berjalan kesebuah lemari. Dia mengambil sebuah kotak berukuran sedang. Darma membuka kotak itu.
Dalam kota itu, berisi foto-foto Amanda waktu kecil saat masih belum berusia 10 tahun. Difoto itu, dia tampak sangat bahagia. Darma tersenyum melihat Amanda kecil yang bahagia. Namun senyumannya memudar saat melihat koran di bawah foto itu.
'CUCU 2 PENGUSAHA SUKSES DICULIK OLEH SEKELOMPOK MAFIA. KE-2 KELUARGA BERUSAHA UNTUK MENYELAMATKAN CUCU MEREKA'
Darma melihat satu koran yang berisi berita belasan tahun yang lalu. Lalu dia beralih pada koran yang satunya lagi.
'CUCU PENGUSAHA DARMA, JATUH KE JURANG DEMI MENYELAMATKAN CUCU PENGUSAHA AIDEN'
Darma meneteskan air matanya membaca koran yang satunya lagi. Dia kembali teringat pada kejadian malam itu. Kejadian di mana dia hampir saja kehilangan Amanda. Jika saja dia tidak tepat waktu, mungkin Amanda tidak bisa diselamatkan.
"Andai kau mengingat semuanya Amanda. Kakek yakin, 3 bulan yang lalu kau tidak akan menolak perjodohan ini. Kau tidak perlu tinggal 3 bulan bersama Daniel. Mungkin kalian sudah hidup bahagia bersama" gumam Darma.
Darma menaruh kembali koran dan foto itu ke dalam kotak. Lalu Darma menyimpan kotak itu ke dalam lemari.
Keesokan harinya.
Amanda bingung harus melakukan apa. Pasalnya, setiap hari biasanya dia pergi ke perusahaan bersama Daniel. Tapi kini dia tidak melakukan kegiatan itu.
Amanda memutuskan untuk menjalani harinya dengan bekerja di perusahaan Darma. Dia ingin membantu Darma menjalankan perusahaannya.
Amanda tidak menceritakan apa saja yang terjadi saat dia menjadi sekretaris di perusahaan Daniel. Tidak penting bagi Amanda untuk menceritakan itu. Karna kebanyakan ceritanya mengandung masalah. Amanda tidak mau kakeknya jatuh sakit setelah mendengar apa saja yang terjadi padanya. Toh, dia juga sudah kembali dengan selamat.
1 bulan berlalu. Amanda dan Daniel sesekali melepas rindu melalui telepon dan video call. Tapi itu masih belum cukup untuk mencurahkan rindu mereka. Namun sampai saat ini Daniel belum juga melamar Amanda.
Amanda khawatir akan hal itu. Amanda takut Daniel akan berubah pikiran dan dia akan meninggal Amanda. Amanda tidak mau itu terjadi.
Suatu pagi di hari minggu.
"kek.." Amanda mencari keberadaan Darma.
"Ya.." balas Darma dari arah belakang.
"Aku mau beli dessert box, kakek mau nitip apa?" tanya Amanda.
"Kakek mau teh jahe aja seduh aja" jawab Darma.
"Ok, aku berangkat dulu ya"
"Iya, hati-hati di jalan"
"Siap kek"
Amanda pergi diantar oleh Luis.
Darma memutuskan untuk membaca koran di halaman belakang. Hari ini dia tidak ada kegiatan apa pun. Oleh sebab itu, Darma memilih untuk bersantai di rumahnya.
"Permisi tuan" sapa Asih (kepala ART)
"Ya" balas Darma.
"Di luar ada yang ingin bertemu"
__ADS_1
"Siapa?"
"Mereka bilang, mereka keluarga Aiden"
Darma menutup korannya.
"Keluarga Aiden?"
"Iya tuan. Namanya tuan Bagas dan Tuan Daniel"
Bagas mengembangkan senyumnya.
"Pesilahkan mereka masuk"
"Baik tuan"
Asih pergi dari hadapan Darman.
"Akhirnya kalian datang" gumam Darma senang.
Darma segera pergi ke dalam rumah. Dia sudah tak sabar bertemu dengan sahabat lamanya itu.
Ya, Bagas dan Daniel datang ke rumah Amanda untuk melamar Amanda. Daniel ingin menepati janjinya pada Amanda. Dia juga ingin mencari tahu apakah Amanda dan Tari adalah orang yang sama.
Tapi Daniel agak bingung satu hal. Daniel tidak menyangka Amanda akan tinggal di mansion yang mewah. Bahkan mansionnya ini lebih mewah dari miliknya. Dugaan Daniel tidak pernah salah. Amanda memang bukan orang biasa. Dia pasti berasal dari keluarga atas.
Bagas mendapati Daniek yang hanya diam. Biasanya orang jika masuk ke rumah orang lain akan celingak-celinguk melihat seisi rumah. Lalu dia akan membandingkan rumahnya dan rumah yang dia datangi. Tapi Daniel tidak. Dia lebih merenung dan diam.
"Apa kau gugup?" tanya Bagas pada Daniel.
"Tidak sama sekali" jawab Daniel.
"Untuk apa aku gugup kek? Aku memang mau melamarnya. Itu bukan hal yang harus aku gugupkan. Tapi harus dikhawatirkan"
"Dasar anak berandal. Kau itu sama seperti ayahmu"
"Dan ayah sama seperti kakek"
Bagas pusing melayani Daniel bicara. Sampai akhirnya, dia melihat Darma berjalan ke arah mereka. Daniel juga melihat kedatangan Darma.
Bagas dan Daniel bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Apa kabar? Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Darma.
Darman menjabat tangan Bagas dan Daniel bergantian.
"Kami baik. Dan perjalanan kami juga bagus, di penuhi dengan jalan berkelak-kelok, naik turun" jawab Bagas.
"Hahah,, aku yakin itu sangat menyenangkan" balas Darma.
"Tentu saja. Sudah kubilang agar kau pindah dari kampung ini. Tapi kau tidak mendengarkanku"
"Aku juga sudah bilang, aku menyukai kampung ini. Dan perlu kau ingat, kampung ini sudah menjadi kota. Kini bukan kampung lagi"
"Ya,, terserah kau saja"
"Hahahah..." Darma dan Bagas tertawa bersama.
Daniel diacuhkan oleh mereka.
__ADS_1
"Oh,, ini cucu mu, Daniel?" tanya Darma.
"Iya kek. Saya Daniel" jawab Daniel. "Dan kakek, adalah kakeknya Amanda. Benar?" Daniel balik bertanya.
"Tentu saja benar" jawab Darma.
Daniel bisa menebak kalo Darma dan Bagas sudah lama berteman. Mereka terlihat sangat akrab. Tak ada rada canggung antara mereka.
Darma mempersilahkan Daniel dan bagas duduk. Mereka mulai mengobrol hal yang ringan.
Daniel memperhatikan wajah Darma. Dia merasa tidak asing pada wajahnya. Daniel merasa pernah melihat Darma di suatu tempat.
Setelah lama berpikir, akhirnya Daniel mengingat sesuatu.
"Tunggu. Bukankah, kakek adalah pemilik DARMA'S GRUP?" tanya Daniel.
Darma tersenyum mendengar pertanyaan Dari Daniel.
"Kau baru menyadarinya?" tanya Bagas.
"Iya" jawab Daniel.
"Kau ini" decak Bagas kesal.
"Jadi benar, kakek adalah Darma pemilik perusaha DARMA'S GRUP?" Daniel mengulang pertanyaannya.
"Sudah tau masih bertanya" ujar Bagas.
"Ah,, pantas saja aku merasa familiar pada wajah kakek. Aku merasa pernah melihat kakek disuatu tempat. Tapi aku tidak tau di mana itu. Aku pernah melihat kakek di,, foto yang ada di kamar kakekku. Dan aku juga melihat dikoran" jelas Daniel.
"Kenapa kau baru menyadarinya?" sargah Bagas.
"Maaf kek, karna kakek jarang terekspos di media. Itu sebabnya aku tidak mengenali kakek" sesal Daniel.
"Tidak apa. Aku memang tidak mau terekspos dimuka umum" balas Darma.
"Kalo begitu, Amanda adalah cucu kakek?" tebak Daniel.
Bagas menoyor kepala Daniel.
"Aww.." pekik Daniel. "Apa yang kakek lalukan? Kakek tau itu sakit?" protes Daniel
"Kenapa kau masih bertanya? Sudah jelas Amanda itu adalah cucu dari Darma" Bagas tak habis pikir pada cucunya itu.
"Maaf kek, aku baru menyadarinya" sesal Daniel lagi.
"Tidak masalah. Aku tidak mau cucuku dikenal sebagai cucuk dari Darma. Aku ingin dia bisa berkembang dengan usahanya sendiri. Dan dia pun juga berkeinginan sama sepertiku"
Hai reader,, segini dulu ya
Terus pantengin novel author ya
Novel ini sudah terbit dan sudah bisa di baca. Cuma masih 2 bab. Satu bab lagi masih direview.
Author tunggu kehadirannya ya
Salam hangat dari author
__ADS_1