
22
1 jam lebih polisi melakukan penyelidikan. Setelah selesai melakukan penyelidikan, polisi segera memberitahukan hasilnya.
"Bagaimana hasilnya pak?" tanya kakek Sonia.
"Kami sudah melakukan penyelidikan. Dan hasilnya, kami menemukan sidik jari nona Amanda pada cincin nona Sonia" jawab komandan polisi.
Amanda kaget dengan ucapan komandan polisi itu. Tapi dengan cepat Amanda menstabilkan ekspresinya.
"Bagaimana mungkin sidik jariku ada dicincin milik Sonia? Ini tidak mungkin" tanya Amanda dalam hati.
"Tuh kan,, apa kataku. Amanda itu memang seorang pencuri. Dia sudah mencuri cincinku. Kalian sudah melihatnya sendirikan" ucap Sonia.
"Huh,, dasar tidak tahu malu" ucap teman B.
Daniel juga ikut kaget mendengar ucapan polisi. Daniel tidak akan memihak pada siapapun. Meskipun Daniel mengenal Amanda baru beberapa hari, tapi dia tidak percaya kalau kalau Amanda sudah mencuri cincin milik Sonia.
"Sekarang cepat jebloskan dia ke penjara" titah para tamu.
"Tunggu. Kalian tidak bisa melakukan hal itu. Amanda belum tentu bersalah" cegah Daniel.
"Jelas dia bersalah tuan. Bukankah kau sudah mendengar apa yang dikatakan oleh polisi?" ucap salah satu tamu.
"Iya, saya mendengarnya. Tapi itu masih belum cukup untuk membuktikan kalau Amanda bersalah" balas Daniel.
"Daniel, apa kamu tidak percaya pada hasil penyelidikan polisi? Kamu tidak percaya padaku? Aku ini temanmu. Amanda bukanlah siapa-siapamu" ucap Sonia.
"Aku percaya penuh pada tunanganku" jawab Daniel dengan tegas.
"Tuan, kenapa kau masih mau bertunangan dengan wanita pencuri itu?" tanya tamu undangan.
"Iya tuan, gadis kampung itu tidak pantas menjadi tunanganmu"
"Apa yang kau lihat dari dia? Dia tidak cantik dan juga tidak berpendidikan. Tapi kau mau saja menerimanya menjadi tunanganmu"
"Nona Sonia yang lebih pantas menjadi tunanganmu. Bukan gadis kampung pencuri itu!"
Banyak para tamu yang bertanya dan merendahkan Amanda. Daniel tidak terima semua itu.
"DIAM!" bentak Daniel.
Seketika semua orang terdiam karna bentakan Daniel.
"Ingat, gadis kampung yang kalian hina adalah tunanganku. Kalian tidak bisa mengatakan itu pada tunanganku. Jika ada yang berani mengatakan sepatah kata lagi tentang tunanganku, maka aku tidak akan tinggal diam" ucap Daniel dengan marah.
"Batu akan tetap menjadi batu tuan, meskipun dia ditumpukan diantara ribuan permata. Itulah Amanda. Dia akan tetap menjadi gadis kampung meskipun dia pindah ke kota dan menjadi tunanganmu" ujar salah satu tamu.
Daniel marah dengan ucapan tamu itu. Dia dengan cepat menghampiri tamu itu dan mencengkr*m kerah bajunya. Semua orang kaget dengan tindakan Daniel. Mereka tidak pernah melihat Daniel semarah ini.
"Apa yang kau katakan? Cepat ucapkan sekali lagi! Setelah itu aku akan merob*k mulut kotormu itu" anc*m Daniel.
"Daniel, apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan" ucap Diva.
"Daniel,, lepaskan tanganmu" ucap Sonia.
__ADS_1
"Tuan Daniel, tolong lepaskan tanganmu. Jika kau seperti ini, maka kau akan terkena jeratan hukum" ucap komanda polisi.
Banyak orang yang membujuk Daniel agar melepaskan cengkr*mannya dari tamu itu. Namun mereka sangat sulit menbujuk Daniel.
Amanda tersentuh dengan tindakan Daniel.
"Tuan, lepaskan tanganmu darinya" ucap Amanda.
Dengan satu perintah Dari Amanda, Daniel melepaskan tangannya. Semua orang melepaskan pegangan mereka pada tubuh Daniel.
Daniel melihat ke arah Amanda. Amanda memegang pundak Daniel. Dia seperti menyuruh Daniel untuk tenang dan tidak terbawa emosi.
"Tidak ada gunanya kau melakukan itu pada semua orang. Mereka akan tetap menilaiku seperti itu" ucap Amanda.
"Aku tidak bisa melihatmu diperlakukan seperti ini" balas Daniel.
"Sudahlah tuan.." ucap Amanda.
"Aku tidak akan membiarkan pembelaanmu sia-sia tuan" ucap Amanda dalam hati.
"Tuan, sesuai dengan prosedur, kami harus membawa nona Amanda ke kantor polisi untuk penyelidikan lebih lanjut. Kami mohon kerjasamanya" ucap komandan polisi.
"Bawa saja dia" ucap semua orang.
Salah satu polisi mendekati Amanda sambil membawa borgol ditangannya. Saat hendak memasangkan borgol, tiba-tiba Amanda berkata.
"Aku tidak perlu pergi ke kantor polisi" ujar Amanda.
"Apa maksudmu?" tanya Amanda.
"Aku akan membuktikan kalau aku tidak bersalah. Aku tidak mencuri cincinmu" jawab Amanda dengan yakin.
Amanda menatap Sonia dengan datar.
"Pak, boleh saya pinjam cincinnya?" pinta Amanda.
Polisi yang memegang cincin itu menuruti permintaan Amanda. Dia memberikan cincinnya.
Amanda menerima cincin itu dan memasangnya dijarinya. Amanda mengangkat tangannya agar semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Gerakan yang Amanda lalukan terlihat sangat jelas dan sangat yakin penuh dengan percaya diri.
Para tamu mulai berbisik.
"Trik apa lagi yang akan dia lakukan?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu"
"Dia akan melakukan hal yang sia-sia"
"Benar. Percuma dia melakukan hal itu"
Banyak yang mempertanyakan tindakan Amanda. Mereka merasa heran pada tindakan Amanda. Kenapa Amanda mengangkat tangannya? Apa yang ingin dia lakukan?
Beberapa menit kemudian, jari-jari Amanda menunjukan perubahan. Jari Amanda menunjukan ruam, benjolan kecil, dan kulit kemerahan.
Semua orang terkejut dengan apa yang mereka lihat. Mereka mulai meragukan penilaian mereka pada Amanda. Mereka malah berbalik meragukan Sonia.
__ADS_1
"Kalian lihat ini" ucap Amanda yang masih mengangkat tangannya. "Aku alergi terhadap platinum. Dan kalian tau, cincin ini terbuat dari platinum" lanjut Amanda.
Semua orang mendengarkan apa yang Amanda katakan.
"Jika aku mencuri cincin ini, maka tanganku akan memerah, tanganku akan alergi. Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Untuk apa aku melukai tanganku sendiri? Jika aku menginginkan cincin seperti ini, aku tidak akan mencuri. Aku akan membeli dengan uangku sendiri. Aku akan membeli cincin yang lebih malah dari cincin milik nona Sonia" jelas Amanda.
Semua orang terdiam.
"Apa kalian tidak punya akal? Aku memang gadis kampung. Tapi aku mempunyai harga diri. Aku tidak akan membiarkan siapapun menginjak-nginjak harga diriku" lanjut Amanda dengan tegas.
Wajah Sonia berubah, yang awalnya ceria, menjadi pucat pasi. Rencana yang tadinya berjalan dengan mulus, tiba-tiba gagal seperti ini.
"Si*l! Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sonia gelisah.
Polisi yakin kalau Amanda bukan pencurinya. Mereka melihat pelayan yang menuduh Amanda. Mereka mulai bertanya lagi pada pelayan itu.
"Jadi, apa benar kau melihat nona Amanda mencuri cincin itu? Nona Amanda tau kalau dia alergi pada platinum. Tidak mungkin dia sengaja melukai tangannya" tanya komandan polisi.
"Maaf pak, maafkan saya. Saya mengaku, saya yang sudah memasukan cincin nona Sonia pada dompet nona Amanda. Kemudian saya menuduh nona Amanda yang mencurinya" jawab pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
Flash back
"Bukankah kau sedang membutuhkan uang?" tanya Sonia.
Pelayan itu tidak menjawab.
"Aku bisa memberimu uang tambahan. Tapi dengan satu syarat" ucap Sonia.
Pelayan itu masih diam.
"Aku akan memberimu 10 jt jika kau mau melakukan apa yang kuperintahkan" ucap Sonia.
"10 jt?" gumam pelayan itu.
"Ya,, 10 jt. Kau akan mendapatkan 10 jt dalam satu kali kerja. Bayangkan, butuh berapa lama kau mengunpulkan uang untuk mendapat 10 jt?" balas Sonia menghasut pelayan.
"Apa yang harus saya lalukan nona?" tanya pelayan itu.
"Mudah saja. Kau hanya perlu memasukan cincin ini ke dalam domper Amanda. Setelah itu kau harus mengaku kalau kau melihat Amanda mencuri cincinku" jawab Sonia.
"Itu sangat beresiko nona. Bagaimana jika aku ketahuan?" cemas pelayan itu.
"Kau tidak akan ketahuan jika kau berhati-hati" jawab Sonia.
Pelayan itu diam karna bimbang.
"Aku akan tambahkan 10 jt. Jadi totalnya 20 jt" bujuk Sonia.
"20 jt?" gumam pelayan itu.
"Ya. Aku akan memberikannya secara cash padamu setelah pekerjaanmu berhasil" ucap Sonia. "Jika kau tidak mau, ya sudah. Aku akan meminta orang lain melakukan pekerjaam ini" lanjut Sonia yang hendak pergi.
"Eh,, tunggu nona" cegah pelayan itu. "Baiklah, ku akan melakukan pekerjaan ini. Aku sangat membutuhkan uang nona" setuju pelayan.
"Hem,, bagus" balas Sonia. "Sekarang, ambil ini dan segera lakukan tugasmu" titah Sonia memberikan cincinnya pada pelayan itu.
__ADS_1
"Baik nona" balas pelayan itu kemudian pergi.
Flash on