
Bella diam saja sejak kembali dari luar, Maria memperhatikan sikap mereka yang saling diam.
"Ada apa? Baru saja mama lihat kau bisa dekat dengan Bella, sekarang sudah saling diam" tanya Maria.
Davin menghela, dia menutup buku yang sedang dia baca.
"Tidak ada apa-apa Ma! " jawab Davin sedikit mengabaikan pertanyaan ibunya.
"Karena... "
"Maah! Please! " Davin menatap ibunya.
"Mama cuma mau menerka dan kamu akhirnya mengatakan apa yang membuat kalian saling diam lagi. Itu saja" ucap Maria.
"Karena aku mengajak Bella ke tempat kemah Amelia. Dan aku menatap kemesraan kak Saga dan Amelia. Bella tahu dan mengerti, dia diam dan minta pulang. Mama puas?" Davin pergi meninggalkan Maria sendiri di ruang keluarga.
Harris melihatnya, dia mendekat dan menepuk bahu Maria.
"Dasar anak kurang ajar, diperhatikan malah nge gas! " ucap Harris.
Maria melihat tangan Harris yang menyentuhnya.
"Biar nanti aku yang marahi dia" ucap Harris.
Dia pergi menyusul Davin, Maria hanya bisa diam melihat kepergian Harris.
Sampai di ruang kerja, Harris langsung membuka pintu dan melihat Davin duduk dengan wajah merengut.
"Bisakah kau bicara sedikit lebih lembut pada ibu mu? " ucap Harris.
Davin menghela seolah tak ingin mendengar ocehan ayahnya.
"Dia itu mengkhawatirkan mu" ucap Harris seraya menunjuk ke arah pintu.
"Aku sedang tidak ingin mengulas perlakuan ayah pada ibu, jadi tolong,,, bisakan ayah pergi meninggalkan aku sendiri? " ucap Davin.
Harris terdiam sejenak, dia menelan salivanya mengerti dengan ucapannya.
"Setidaknya jawab saja dengan baik semua kekhawatiran nya, meskipun aku begitu buruk di mata mu, tapi dia ibu mu. Jangan bersikap tidak baik padanya hanya karena aku... "
Belum selesai Harris bicara, Davin sudah menyela.
"Aku tidak kesal padanya, dia tahu itu, dia ibuku" jawab Davin.
Harris menutup mulutnya.
"Jadi, bisakan? " tanya Davin dengan tangan menengadah ke arah pintu.
Harris pergi, dia menutup pintunya kemudian melihat Maria berdiri di sana.
"Seharusnya dia tidak berkata seperti itu padamu " ucap Maria.
Harris tersenyum dan mendekat, lagi, dia menyentuh bahu Maria.
"Tidak apa-apa, itu sudah biasa. Yang tidak boleh, saat dia berkata kasar padamu" ucap Harris.
Maria merasa gugup, tak biasanya Harris bersikap seperti itu padanya.
Harris pergi meninggalkannya, tapi Maria menahannya.
"Kenapa?" tanya Maria.
__ADS_1
Harris berbalik, dia menatap Maria dengan alis yang terangkat.
"Tak biasanya kau melakukan ini, aku jadi merasa takut" ucap Maria.
Harris menurunkan pandangannya.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan" ucap Harris dengan suara lembut lagi.
Harris kembali berjalan hendak meninggalkannya.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku" ucapan Maria kembali menahan langkahnya.
Kali ini Harris tak berbalik. Dia menelan salivanya karena tak bisa berkata apa-apa.
Maria meneteskan air matanya.
Davin yang mendengarkan mereka di balik pintu, menghela.
'Seharusnya aku tak mengatakannya pada ibu' ucap hati Davin.
Dia mengingat saat dia mendengar percakapan Amelia dan Harris di ruang kerja.
***
Pagi yang cerah, meja makan sudah siap dengan semua hidangan sarapan yang sesuai dengan kesukaan masing-masing anggota keluarga.
Zidan datang dengan pakaian rapi dan wangi. Oma yang berjalan di belakangnya mencium wanginya.
"Waah, wangi sekali kau hari ini" puji Oma.
Zidan menoleh kemudian tersenyum.
"Omaaa, aku kira bukan Oma. Tentu saja aku wangi. Aku akan ke Tangerang, menemui orang tua ku" ucap Zidan.
"Yap! " jawab Zidan semangat.
"Bukannya mereka yang akan kemari? " tanya Oma.
"Tidak, bukan bulan ini. Sepertinya bulan depan, saat Oma mengumumkan tanggal pernikahan Saga" jawab Zidan.
"Apa? Menikah? " Bella yang baru datang menyela pembicaraan.
Oma dan Zidan yang akan duduk, menatapnya.
"Baguslah, segerakan, aku mulai muak" ucap Bella seraya duduk.
"Sedikit sembunyikan kecemburuan mu, terutama di depan ku" ucap Oma.
Bella mendelik kemudian membalik piringnya.
"Mana suami mu? " tanya Oma.
"Tuh! " jawab Bella dengan bibir menunjuk ke arah tangga.
"Pagi Oma! " sapa Davin.
"Kau siap-siap sendiri lagi? " tanya Oma.
Davin melirik ke arah Bella, yang memang tak menyiapkan pakaiannya hari ini.
"Tidak, Bella sudah siapkan tadi" jawab Davin.
__ADS_1
Oma menatapnya cukup lama, tahu cucunya sedang berbohong.
Zidan menatap Bella kemudian tersenyum ke sudut bibirnya, mengejek, tahu Bella takkan mungkin mau melakukannya. Terutama dia tahu dari Bella yang semalam datang padanya mengeluh tentang Davin yang terlihat cemburu melihat Saga dan Amelia saling memberi kebahagiaan.
Sementara Bella sendiri acuh dan memakan sarapannya.
Tak lama kemudian, Maria dan Harris datang bersama. Zidan mengangkat kedua alisnya merasa terkejut dengan pemandangan yang tak biasanya.
"Waah, cuacanya pasti sangat cerah hingga kalian turun untuk sarapan bersama" sindir Zidan.
Harris memukul kepalanya saat berjalan melewatinya.
"Pagi Bu! " sapa Harris yang kemudian mencium keningnya.
"Wahhh, Minah benar-benar membuatkan semua makanan kesukaan semua orang" puji Maria.
Bella, Zidan dan Davin merasa aneh dengan cara bicara Maria. Mereka menatapnya secara bersamaan. Tapi Maria tak memperhatikan dan langsung melahap sarapannya.
Harris pun bersikap sama, dia tak peduli dengan tatapan mereka.
"Oh ya, mendengar keluarga Ghani berkemah, aku jadi ingin mengadakan acara yang sama" ucap Harris.
Semua orang diam, termasuk Oma Mira yang langsung menaruh sendoknya.
"Apa? "
Bukannya Oma tak mendengar, tapi dia merasa ucapan Harris sangat berbeda. Dia juga sadar, beberapa hari ini Harris diam di rumah tak pergi ke kafe nya.
"Ya, berkemah, atau setidaknya piknik. Pasti seru" lanjut Harris.
"Waah, ada apa dengan rumah ini? Bunga apa yang yang mekar sehingga mempengaruhi suasana rumah ini? " sindir Zidan.
"Amelia" jawab Harris.
Davin menatapnya.
"Semenjak dia datang dan tinggal, aku merasa dia membawa suasana hangat dan nyaman. Ide-ide nya selalu membuat kita sadar bahwa kita sudah terlalu lama diam dan fokus pada rasa sakit kita masing-masing. Sudah saatnya kita saling memberikan kebahagiaan, bukan? " jelas Harris.
Bella menaruh sendok garpu nya dengan keras, merasa muak mendengar pujian tentang Amelia.
"Sekaligus kita bicarakan tentang pernikahan mereka, bagaimana konsepnya dan seperti apa pernikahan yang mereka impikan" lanjut Harris.
Kali ini Davin yang menghela dan merasa muak.
Zidan menyeringai.
"Aku tidak akan menanyakan pendapat yang lainnya. Kita atur saja ya bu! " ucap Harris seraya melirik tangan Davin yang mengepal.
"Ya, atur saja. Aku juga ingin cepat-cepat mengumumkan pernikahan mereka" jawab Oma Mira.
Davin semakin geram dengan semua pembicaraan di meja makan pagi itu. Tapi jika dia pergi, dia akan mendapatkan cecaraan dari Oma Mira juga kedua orang tuanya.
Davin berdiri, semua orang menatapnya.
"Aku sudah selesai, aku akan ke ruang kerja" ucap Davin seolah menjawab tatapan mereka.
"Ajak Bella keluar jalan-jalan, ini masih akhir pekan" seru Oma.
Davin berhenti melangkah tapi tak menoleh.
"Tidak, aku sedang tidak ingin kemana pun. Aku akan kembali ke kamar ku. Aku sudah selesai" ucap Bella yang kemudian berdiri menyela ucapan mereka.
__ADS_1
Davin melihat kepergian Bella yang sudah mendahuluinya naik tangga.
\=\=\=\=\=\=>