
Saga mengetuk pintu kamar Amelia, setelah dia selesai menenangkan Bella. Tapi tak ada yang menjawab, suara Dama pun tak terdengar olehnya.
Saga membuka pintunya perlahan dan meraba seluruh isi kamar dengan matanya. Amelia dan Dama tak ada di sana. Saga memeriksa kamar mandi pun tak ada sesiapa di sana.
Kemudian Saga keluar dan melihat Alex hendak masuk kamarnya. Alex menatapnya, dia berhenti melangkah dan menunggu Saga bicara.
"Aku.... " tunjuk nya ke kamar Amelia.
"Tidak ada" jawab Alex.
"Hhhmm? " Saga tak mengerti.
"Amelia sudah pergi, dia kembali ke rumah Pak Ghani. Oma Mira yang minta aku mengantarnya tadi" jelas Alex.
Saga terdiam, Alex kembali melangkah menuju kamarnya setelah merasa Saga tak lagi ingin mengatakan sesuatu.
Saga pun pergi, dia kembali ke kamarnya dengan langkah lemah.
Oma Mira yang baru saja keluar kamar, melihatnya. Dia hendak mengabaikannya tapi langsung berbalik kembali menatapnya.
"Apa yang harus aku katakan pada Ghani dan keluarganya? " seru Oma.
Saga terkejut, dia menoleh ke arah Oma Mira.
"Bagaimana cara ku menutupi rasa malu sebesar ini? Setelah Davin yang seperti itu, sekarang kau yang seperti ini" lanjut Oma.
Saga menundukkan pandangannya.
"Kasihan gadis itu, hatinya pasti sangat hancur" ucap Oma sembari melangkah menuruni tangga.
Saga meneteskan air matanya, teringat semua kenangan manis bersama Amelia semasa di Italia dan juga di rumah besar Narendra.
__ADS_1
***
Sementara itu di rumah Ghani.
Hani menangis lagi setelah dia mengumpat dan menyumpahi keluarga Narendra. Dia kelelahan dan duduk lemas di sofa.
Ghani sendiri duduk dengan tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir" ucap Amelia.
Tapi Ghani menatap bening yang mengembang di mata putri bungsunya itu. Dia tahu bahwa hati putrinya sedang hancur. Dia yang lebih merasakannya dibandingkan yang lainnya.
Ghani melemaskan tangannya kemudian mendekat dan memeluk putrinya. Amelia menaruh kepalanya di dada ayahnya yang bidang.
"Jangan menangis, kalau kau menangis, ayah akan mengamuk ke rumah besar Narendra" bisik Ghani.
Jelas Amelia menahan tangisnya. Dia berusaha untuk baik-baik saja, meskipun hatinya begitu hancur menghadapi kenyataan ini.
Hana yang sudah menidurkan Dama dan Mikayla di kamar, menangis dalam diam menatap kepedihan yang dialami adiknya itu.
***
Davin minum banyak, dia meminta bartender untuk mengisi gelasnya lagi.
"Tidak Vin, kau terlalu banyak minum" ucap bartender yang juga temannya itu.
"Aku tidak mabuk, jadi minta segelas lagi" ucap Davin tegas seperti sedang tak mabuk.
"Aku akan mengubungi Alex untuk datang menjemput mu! " ucapnya.
Davin langsung mengambil ponselnya dan melemparnya ke lantai.
__ADS_1
"AKU BILANG TIDAK USAAAAAH! " teriak Davin.
"VIIIINNN! " temannya kesal dengan sikapnya.
"Maaf! " ucap Alex yang datang di saat yang tepat.
"Kalian memang kaya, tapi bukan berarti bisa seenaknya melempar ponsel orang lain seperti itu" ucapnya kesal.
"Maaf, dia sedang dalam masalah, jadi.... " Alex menyatukan kedua tangannya memohon.
"Tidak usah memohon, aku tidak perlu bantuan mu, pergilah! " ucap Davin seraya sempoyongan mendekatinya.
Alex menghindar, Davin pun terjatuh tersungkur ke lantai. Bartender itu pun merasa senang melihatnya.
"Ini, hubungi Susi besok. Dia akan mengurusnya. Ok! " ucap Alex seraya memberikan kartu nama Susi.
"Ok! " jawab bartender itu dengan wajah kesalnya.
Alex menatap Davin yang berusaha bangun namun kesulitan dan terjatuh lagi. Dia meraih lengannya dan membantunya untuk bangun.
"Kenapa kau kemari? " tanya Davin yang menepis tangannya.
"Kau membuat kekacauan, tentu saja selalu aku yang datang menyelamatkan mu" gumam Alex.
Davin mendorongnya.
"Aku bilang aku tidak butuh bantuan mu! " ucapnya.
Alex menghela dan menatapnya iba.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1