
Minah menarik Alex yang menganga menatap kakaknya berteriak begitu kencang. Dia memukuli kepala Alex sampai-sampai Alex tak tahan dan menahan tangannya.
"Kak! Cukup! " ucap Alex.
"Kalian yang cukup! Kenapa kalian selalu kepergok menempel saat telanjang dada? Kau tahu itu sangat menjijikan" keluh Minah.
Davin menghela keras setelah mendengar prasangka Minah, dia masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan mereka. Sementara Alex menjelaskan situasi nya.
"Hanya menempel biasa, dia itu tidak bisa tegang di hadapan wanita selain Amelia, kenapa harus khawatir melihat ku menempel dengannya? " suara Alex cukup kencang.
Minah menganga mendengar jawaban Alex. Mata Alex mendelik, namun dia merasa telah melihat bayangan seseorang di belakang kakaknya.
Benar saja, Alex membulatkan matanya saat dia melihat Amelia yang membeku, mungkin karena mendengar ucapan Alex.
"Kecilkan suara mu, nanti Amelia mendengarnya. Mau ditaruh di mana muka ku" seru Davin dari dalam kamar mandi.
Glekkk....
Alex menelan salivanya, Amelia sudah mendengarnya. Amelia pergi menuntun Dama kembali ke ruang tengah dengan langkah yang perlahan.
Maria menatapnya, dia bertanya apa yang terjadi.
"Ada apa? Kenapa Minah berteriak? " tanya Maria.
Ameli menoleh, dia membulatkan matanya tak konsentrasi mendengar pertanyaan Maria.
"Oh, itu tadi, Alex dan Davin... " Amelia sulit menjelaskan.
"Oh... mereka lagi, pasti mereka membuat Minah salah paham karena terus menempel. Mereka itu memang susah dinasehati" Maria mengomel.
Amelia hanya mengangguk. Dia kembali mengajak Dama bermain, meskipun pikirannya masih belum bisa mencerna ucapan Alex.
Tak berapa lama, Oma Mira turun dan mengeluh.
"Pagi-pagi begini sudah ribut, ada apa? " tanyanya pada Maria yang sedang merapikan meja makan.
"Alex dan Davin berulah lagi, mereka membuat Minah kesal dengan tingkah mereka" ucap Maria sambil merapikan piring dibantu pelayan lain.
Oma Mira sudah biasa mendengar kisah Alex dan Davin. Tatapannya beralih pada Amelia dan Dama yang sedang bermain.
"Omaaa! " seru Dama.
Amelia menuntunnya ke arah yang dia mau, dia mendekati Oma nya. Oma Mira membulatkan matanya, terkejut dengan perkembangan Dama yang baru sehari tinggal di sini namun pandai mengingat nama panggilan.
"Damaaaa! " malah Maria yang mendekat kemudian menggendongnya.
Dama tersenyum karena digelitik Maria.
__ADS_1
"Oma mau menyiapkan sarapan untuk papanya Dama dulu ya, Dama main sama mama" Maria menyerahkan Dama ke pangkuan Amelia.
Sementara itu, Oma Mira mengalihkan arah duduknya, membelakangi Amelia dan Dama. Amelia menunduk, kemudian kembali ke ruang tengah.
"Harris tidak pulang lagi? " tanya Oma pada Maria.
Maria melirik.
"Pulang, dia tidur di ruang kerjanya" jawab Maria sambil mengambilkan sarapan untuknya.
"Sampai kapan dia melakukan ini? Apa kau benar-benar sudah tidak bisa membuatnya tertarik pada mu lagi? " Oma mulai mengomel.
Maria diam, dia mengangkat kepalanya menatap Harris yang sudah berdiri di ambang pintu. Harris menatapnya, sementara Maria duduk di kursi yang berselang satu kursi kosong dengan Oma Mira.
Harris bergerak mendekat, dia duduk diantara Maria dan ibunya. Oma Mira jelas terkejut karena dia masih mengomel tentang rumah tangga mereka.
"Oh, kau mendengar semuanya? " tanya Oma.
"Ya, tentu saja. Ku rasa Amelia yang sedang berada di ruang tengah pun mendengar ibu mengomel" jawab Harris sambil menyiapkan rotinya.
"Rumah kita tidak sesempit itu sampai dia mendengar aku mengomel" kilah Oma.
"Dia bisa mendengar Minah menjerit, suara ibu mengomel hampir sama dengan Minah yang menjerit" ucap Harris sambil tersenyum.
"Kau ini" ucap Oma sambil memukul lengannya.
"Pergilah berlibur berdua" ucap Oma Mira sambil menatap mereka.
Maria tersedak, Harris dengan refleks mengambilkan minum untuknya. Oma Mira memperhatikan, mereka masih memiliki rasa sayang pada masing-masing.
"Tidak bisa Bu, masih banyak pekerjaan yang harus ditangani oleh ku" Harris menolak.
"Ada Davin dan Alex, belum lagi Zidan yang mulai pandai dalam pekerjaannya.... " ucapan Oma terhenti saat mengingat bahwa dia menampar Zidan semalam.
~Anak itu terlihat kesal waktu aku menampar nya, dia belum turun? ~ tanya hati Oma sambil menatap tangga.
"Mereka belum mumpuni, lagi pula manager pemasaran kita sangat gagal tahun ini. Tender kita juga hanya sedikit yang masuk, harus banyak yang dilakukan, banyak juga yang harus diperbaiki" jawab Harris.
"Apa aku harus datang ke kantor supaya mereka semua serius bekerja? " tanya Oma.
"Datang saja, sudah lama ibu tak mampir ke kantor. Yang ku ingat terakhir, sebelum Davin menikah, bukan? " Harris mengingat-ingat.
Maria merapikan piringnya, hendak membawanya ke dapur tapi tangan Harris mencegahnya. Maria menatap tangan suaminya yang sudah lama tak menyentuhnya itu.
"Biar aku saja, gantian mengasuh Dama, biarkan Amelia duduk untuk sarapan" pinta Harris.
Glekk..
__ADS_1
~Sikap baiknya padaku hanya karena dia memikirkan Amelia yang belum sarapan~ ucap hati Maria kesal.
"Dia sudah sarapan bersama Minah sebelum kita semua bangun" jawab Maria sambil menepis tangan Harris.
Harris menatap tangannya yang ditepis.
"Dia yang bilang tadi. Ini semua juga dia yang buatkan. Aku baru turun dan hanya membantu menyiapkan saja" jelas Maria.
Harris terdiam mendengar ucapan Maria yang seolah kesal.
"Pantas tidak enak" Oma melempar makanannya.
Mata Maria membulat melihat tingkah ibu mertuanya. Dia pergi ke dapur kemudian main bersama Dama.
"Bu...!" seru Harris menatap roti yang dilempar ibunya.
"Tidak baik membuang makanan, dan jangan hanya karena ibu tidak menyukai Amelia, ibu juga menghina rasa makanan yang dia buat" ucap Harris.
"Tidak apa-apa, biar aku yang makan" ucap Davin yang datang dan langsung menyambar makanan di piring Oma nya.
"Davin! Tidak, kau harus mengambil makanan yang baru" ucap Oma.
"Lalu makanan ini? Tidak Oma, Opa selalu bilang untuk tidak menghina makanan. Aku sudah sangat terbiasa dengan didikan itu" jawab Davin.
Oma Mira menghela dan mengalihkan pandangannya pada arah yang lain karena muak dengan alasan Davin, padahal dia memang tak mau membuat Amelia berkecil hati.
Harris menatap Davin yang sudah rapi. Mereka saling menatap karena semalam hampir berdebat dan tidur di tempat yang sama.
"Mana Alex? " tanya Harris.
"Mba Minah menariknya ke dapur, tidak tahu kenapa dia memarahi Alex sejak bangun" jawab Davin dengan mulut penuh makanan.
"Lalu Zidan? " tanya Oma.
"Oh cucu kesayangan Oma itu, dia sedang berdiri di belakang Oma dengan tatapan yang tajam menatap ke arah Oma seolah hendak menelan Oma bulat-bulat" Davin memperagakan ucapannya.
Oma menoleh ke belakang, dia menatap Zidan yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kursi yang akan dia duduki.
"Ayah dan ibu sudah pulang, mereka bilang masih banyak pekerjaan di Tangerang. Jadi titip salam untuk kalian" ucap Zidan.
"Apa katanya? " tanya Davin.
"Semoga kau bisa menghadapi masalah mu kali ini. Dan bisa memilih antara istri mu atau ibu dari anak mu" ucap Zidan dengan tatapan mengejek.
Davin menaruh gelas minumnya. Dia geram dan mengepal seolah ingin melayangkan tinju ke wajah sepupunya.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1