CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
69


__ADS_3

Amelia keluar dari kamar Maria dengan rasa sakit di dadanya. Kesal mendengar semua ucapan Maria yang terus memandangnya sebagai wanita yang mudah datang dan pergi juga menyakiti orang lain.


Tapi dia menghela setelah menatap wajah Dama yang tertidur lelap. Bagai obat, wajah lucunya membuat sakit di dadanya hilang. Bagai oase, ketenangan tidurnya membuat panas di otaknya mendingin. Amelia mengusap air matanya. Dia tersenyum dan memeluk Dama kemudian tidur.


***


Bella berlari mendatangi kamar ayahnya dan memeluknya.


"Ayah lihat, Davin akan menemani ku menginap di sini. Davin sangat mencintai ku, jadi jangan khawatir. Cepat sembuh ya! " ucap Bella.


Davin tersenyum, dia merasa bersalah karena Bella sudah membelanya di depan kedua orang tuanya.


"Terimakasih! " ucap Veni.


Davin menoleh dan meraih tangan Veni kemudian mencium punggung tangannya.


"Selamat malam Bu, maaf aku baru tahu kalau ayah sakit" ucap Davin.


"Pasti ibu mu yang mengatakannya kan? " ucap Veni.


Veni menarik tangan Davin untuk bicara di luar


"Oma mu sudah datang dan menjelaskan bahwa Amelia hanya akan merawat Dama hingga dia berusia 5 tahun. Selebihnya dia akan diasuh dibawah pengawasan Bella" ucap Veni.


Davin menelan salivanya tak menyangka Oma nya punya rencana sendiri.


"Tapi ayah Bella tak ingin dia merawat anak yang bukan darah dagingnya" lanjut Veni.


Davin menghela dan merubah posisi duduknya.


"Aku dengar dia adalah calon istri Saga, kenapa kau tak membiarkan mereka menikah dan mempercayakan Dama pada mereka? " Veni menatap nya dengan sinis.


"Dia putra ku Bu, aku merasa bersalah karena aku tak mengetahui keberadaan nya hingga dia lahir. Tak tahu tumbuh kembangnya, aku hanya ingin dia merasakan apa yang tak aku berikan selama dia jauh dari ku" jelas Davin.


Veni menatapnya dengan kesal.


~Bella benar, tekadnya sama sekali tak bisa digoyahkan~ ucap hati Veni.


"Apa yang bisa membuatku yakin kau tidak akan mencampakkan anakku? " tanya Veni dengan tegas.


Raut wajah Davin berubah.


~Wah, ibu mertua ku seperti srigala berbulu domba. Tadi dia bersikap manis, sekarang begitu garang~ ucap hati Davin.


"Aku bukan tipe orang seperti itu bu, aku tahu mana yang menjadi tanggung jawab ku dan mana yang bukan" ucap Davin.

__ADS_1


"Harus ada jaminan Davin, aku menjodohkan kalian dengan kontrak berisi milyaran. Aku tidak mau kami rugi dua kali, secara finansial juga secara psikis anak kami" Veni memberi peringatan pada Davin.


Davin terdiam, dia tak bisa memberikan apapun lagi selain meminta kepercayaan dari ibu mertuanya itu.


"Bu...., Davin sudah berjanji akan tetap menjadi suami ku. Ibu jangan menekannya seperti itu" ucap Bella sambil menghampiri dan duduk di samping Davin.


Bella memanfaatkan situasi dengan merangkul lengan Davin. Dia yang biasanya menolak, kini hanya bisa diam, kaku, menuruti semua tingkah Bella.


Veni menatap memerhatikan mereka, dia mendelik kemudian berdiri.


"Baiklah, istirahatlah! Kamar kalian sudah dibersihkan tadi sore" ucap Veni sambil berlalu menuju kamar suaminya.


Bella menatap Davin kemudian tersenyum.


"Ayo sayang! " ajak Bella.


Davin tak suka melihat tingkah Bella. Tapi dia tak bisa menolak.


Sampai di kamar, Bella menghempaskan tangan Davin. Jelas Davin terkejut dengan perubahan sikapnya yang drastis.


Bella masuk ke kamar mandi dan membanting pintu nya. Davin sangat kesal melihat semua itu.


"Ada apa dengannya?" tanya Davin pada dirinya sendiri.


***


~Meskipun tak bisa membuat ku merasa sangat puas, dia membuat ku sangat merindukannya~ ucap hati Zidan.


Zidan berjalan menuju dapur, dia berhenti melangkah saat melihat Amelia berdiri mengambil air minum.


"Kau terbangun? " tanya Zidan.


Amelia terkejut, tubuhnya terperanjat dan menoleh pada Zidan.


"Oahhh, kau membuat ku terkejut" ucap Amelia seraya menyentuh dadanya.


Zidan tersenyum, tapi kemudian dia terdiam. .


~Kenapa aku melihat wajah Hana saat melihat Amelia tersenyum~ ucap hati Zidan.


"Kalian mirip" ucap Zidan.


"Apa? " Amelia tak begitu jelas mendengar ucapannya.


"Ah... aku bilang kalau kau dan Hana mirip" jelas Zidan.

__ADS_1


"Oh, ya. Tentu saja, kami saudara kandung Garis wajah yang sama dari nenek kami" jawab Amelia seraya menunjuk secara melingkar ke arah wajahnya.


"Kau mau kemana? " tanya Zidan melihat Amelia hendak pergi.


"Tentu saja tidur, tadi aku hanya terbangun untuk minum" jawab Amelia.


"Tidak, kau tidak bangun untuk minum. Aku tahu apa yang kau lakukan" ucap Zidan.


Amelia berhenti melangkah dan berbalik. Dia menatap Zidan kemudian melipat tangannya dan menunggu Zidan mengatakan hal selanjutnya yang akan dia katakan.


"Ahh.. sudahlah, aku minta maaf. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun" ucap Zidan sambil menepuk dadanya beberapa kali, beri syarat untuk Amelia percaya padanya.


"Aku tidak peduli kau mau mengatakannya pada orang lain atau tidak. Tapi ku harap, jangan pernah mengintai orang seperti itu. Itu membuat tidak nyaman" jelas Amelia.


Zidan hanya menganga kemudian mengangguk. Dia tersenyum melihat Amelia berlalu begitu saja.


Oma Mira yang terbangun, melihat pemandangan itu. Dia memperhatikan Amelia dan Zidan yang menurutnya terlalu dekat.


Oma menghela kemudian berjalan perlahan menuju kamarnya.


***


Bella merapikan kasur, dia membagi bantal dan selimut menjadi dua. Dia meletakkan selimut dan bantal di sofa kemudian merapikan diri hendak tidur.


Davin yang baru keluar dari kamar mandi, menatap selimut dan bantal yang ada di sofa. Tak mau mengambil resiko mendapat kata-kata mengejutkan lagi dari ibu mertuanya. Davin mengambil selimut dan bantal itu dan berbaring di sisi ranjang yang kosong di sebelah Bella.


Bella terkejut dan bangun.


"Apa ini? Kenapa kau tidur di sini? " tanya Bella.


Davin tak menjawab, dia berbalik memunggunginya. Bella menghela keras kesal dengan sikap Davin yang sok berbuat baik.


"Tidak usah melakukan ini, ibu ku tahu persis bagaimana hubungan kita. Kalau kau mau tidur di sofa, jangan memaksakan diri tidur di sisi ku"


"Aku tidak akan menyentuh mu, percayalah! Aku sangat mengantuk" ucap Davin.


Bella semakin kesal, Davin bahkan tak berterimakasih karena sudah dia bela di hadapan kedua orang tuanya.


Bella jadi tak bisa tidur, dia duduk bersandar di divan ranjang dan melipat tangannya.


~Aku merindukan Zidan, dia bahkan tidak menelpon untuk menanyakan keberadaan ku. Apa dia hanya memanfaatkan aku? Tapi dia begitu agresif dan seolah tak ingin aku tolak. Atau... dia sedang menggoda Amelia. Tidak masalah jika dia menggoda Amelia, itu justru akan bagus kan? Davin akan tahu bagaimana buruknya Amelia. Sebaiknya aku minta Zidan menggodanya~


Bella tersenyum karena senang mendapatkan ide bagus untuk membuat Davin kecewa pada Amelia.


Beberapa saat kemudian senyum nya hilang karena suara dengkuran Davin.

__ADS_1


"Astaga, cepat sekali dia tidur. Dia benar-benar tak merasakan gemetar berada di sisi ku" ucap Bella kesal.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2