CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
77


__ADS_3

Bella turun dengan riasan cantik seperti biasanya. Kali ini Davin merasa senang melihatnya riang karena hendak mengajak Dama jalan-jalan.


~Aku tidak pernah berharap dia bisa menerima Dama, tapi aku senang sekali melihatnya mau berusaha untuk lebih dekat dengannya. Apalagi kalau juga mau menerima Amelia~ ucap hati Davin.


Bella mendekat, tangannya dikaitkan ke lengan Davin. Matanya mencari ke arah kamar Amelia.


"Dama belum selesai? " tanya Bella.


"Belum" jawab Davin singkat.


Bella langsung pergi ke kamar Dama. Dia membuka pintu tanpa mengetuk, membuat Amelia terkejut dan menatapnya.


"Cepatlah, kau lama sekali" keluh Bella.


Amelia bahkan belum berganti pakaian. Dia baru menyiapkan Dama yang sudah rapi dan wangi.


Davin menatapnya dari luar, dia memperhatikannya dari ujung rambut hingga kaki.


"Kami sudah siap! " ucap Amelia seraya merapikan rambutnya sendiri dengan tangannya.


Bella meraih Dama dan meninggalkannya sendiri. Amelia menghela menatap kepergiannya. Mata Amelia beradu dengan tatapan Davin yang masih berdiri di luar.


Amelia menundukkan pandangannya, merasa malu dengan pakaiannya yang sedikit basah karena kecipratan air mandi Dama.


Davin pergi terlebih dahulu, tanpa mengatakan apapun. Amelia menghela, dia berjalan perlahan menyusul mereka hingga masuk mobil. Langkahnya terhenti saat Bella masuk ke kursi depan bersama Dama di gendongannya.


Amelia ragu untuk masuk, kedua tangannya meremas kemeja yang menjuntai menutupi pahanya. Hela nafasnya jelas memperlihatkan betapa dia tak nyaman dengan situasi ini.


"Masuklah! " pinta Bella yang kembali keluar seraya menyerahkan Dama padanya.


Tangan Amelia sigap menyambut Dama. Davin menatapnya, dia cukup terkejut karena Bella tiba-tiba menyerahkan Dama padanya.


"Cepat! " ucap Bella setelah dia kembali duduk.


Amelia menurut, mereka pun pergi ke taman bermain.


***


Alex memeriksa beberapa berkas yang sudah menumpuk di mejanya. Sibuk dengan pekerjaan, juga sibuk mengatur Davin yang selalu harus diarahkan kemana harus melangkah. Alex menghela dengan semua urusan orang lain.


"Aku bahkan tidak punya waktu untuk diri ku sendiri" gumamnya.


Tak berapa lama, Harris datang dengan senyum di bibirnya.


"Hei anak muda! " serunya.


Alex berdiri.


"Ya Pak! " jawab Alex.


"Temani aku malam ini untuk mengurusnya" pinta Harris.


Alex tersenyum, dia mengangguk.


"Siap Pak! " jawab Alex.


Harris kembali juga dengn senyum di bibirnya. Alex melanjutkan pekerjaannya. Sesekali tersenyum memikirkan permintaan Harris.


"Dia hebat, aku semakin menghormatinya. Sayang sekali Davin tak pernah mau mengerti dirinya" gumamnya kemudian tersenyum.


Alex keluar dari ruangannya dan bertemu dengan Ghani.


"Pak! " sapa nya.


Pak Ghani hanya melambai dan tersenyum. Alex mengingat saat dia hendak menemui Pak Ghani tadi, dia melihat Hana menerima tamu, keluarga mantan suaminya.


Alex memperhatikan Ghani yang terlihat biasa saja.


'Apa mereka akan rujuk! ' tanya hati Alex.


Tak lama kemudian Zidan menepuk bahunya dari belakang.

__ADS_1


"Kenapa natap Pak Ghani begitu? " bisik Zidan.


Alex yang tak cukup terkejut, hanya menoleh dan menatapnya.


"Kau mau menanyakan perihal kedatangan mantan suami kakaknya Amelia ya? " bisik lagi Zidan.


Alex mengelakkan tangan Zidan yang masih mengait di bahunya.


"Bukan urusan mu" jawab Alex ketus.


"Wah, kamu makin ngelunjak ya. Dasar kacung! " jawab Zidan kasar.


Alex mengabaikannya, dia pergi keliling kantor untuk memeriksa. Zidan sendiri menatap Ghani. Dia juga tak menyangka bahwa mantan suami Hana datang tadi.


***


Sampai di taman bermain, Bella keluar setelah Davin keluar. Dia meraih tangannya dan menariknya untuk ikut dengannya, tapi Davin menahannya.


"Kita kemari untuk mengajak Dama bermain" ucap Davin.


"Tentu saja sayang, lihat, Amelia berjalan di belakang kita" tunjuk Bella pada Amelia yang berada tepat di belakangnya.


Davin menoleh, tak sadar Amelia sudah ada di belakangnya.


Amelia hanya tersenyum, dia mengendalikan nafasnya yang terengah karena terburu-buru menyusul mereka keluar dari mobil.


Bella tersenyum puas sudah mengerjainya. Tapi dia merubah raut wajahnya ketika Davin kembali melihatnya.


"Ok, kita akan ke arena mandi bola" ucap Davin.


"Tidak, dia masih terlalu kecil untuk main itu" Amelia menolaknya.


"Lalu, apa permainan yang cocok untuk Dama? " Bella maju dan menatap Amelia dengan wajah yang terlihat kesal.


Davin yang berdiri di belakang Bella, maju dan meraih Dama dari tangan Amelia.


"Dama mau main apa? Yuk sama papa! " ajaknya.


"Ya, ayo kita jalan-jalan dulu! " seru Bella menyusulnya.


Amelia mengikuti dari belakang.


Mereka berjalan ke sana kemari menuruti arah tangan Dama yang memang sedang dalam masa dimana rasa penasarannya begitu besar terhadap sesuatu benda yang dia lihat.


Bella sengaja masuk ke dalam kerumunan agar Amelia tak bisa menemukan mereka. Dengan mata yang tajam dan senyum menyeringai, dia menatap Amelia yang kesulitan menembus kerumunan.


Davin tak menyadarinya, dia terus fokus pada Dama yang menunjuk ke arah yang dia mau.


Amelia menyerah, dia kembali ke parkiran dan menunggu mereka di sana. Tapi, hampir dua jam dia menunggu, mereka tak kunjung kembali.


Amelia mulai cemas, sesekali dia melihat ke arah taman bermain dan mencari Dama. Kemudian datang seorang pria yang mengatakan bahwa Bella menyuruhnya datang ke restoran dekat taman bermain. Mereka ada di sana menunggu untuk makan bersama.


Amelia menurut dan datang ke sana, tapi dia tak melihat mereka. Seorang pelayan menghampirinya dan memintanya menunggu di salah satu meja. Dia membawakan makanan dan minuman.


Kemudian tak berapa lama, Davin datang menghampirinya.


"Kamu ini keterlaluan" seru Davin kesal.


Amelia berdiri dan menatap dengan heran.


"Ada apa? " tanya Amelia polos.


"Dama terus menangis, kami mencari mu dan kau malah memesan makan di sini? " jelas Davin dengan marah.


"Aku.... " Amelia mau menjelaskan tapi dia melihat Bella tersenyum senang melihatnya di marahi Davin.


"Untung Bella bisa menenangkannya" ucap Davin sambil duduk.


Amelia menatap Davin yang bahkan tak mau melihat wajahnya karena kesal. Kemudian Bella memberikan Dama padanya.


"Aku rasa dia takut saat sadar kamu nggak bareng kami" ucap Bella.

__ADS_1


Glekkk...


Amelia menelan saliva, sadar bahwa Bella sedang ingin dirinya jadi sasaran amarah Davin. Dia pun meraih Dama dan menenangkannya.


"Maaf Dama sayang, mama tadi kehilangan Dama di kerumunan. Maaf ya! " bujuk Amelia pada Dama.


Dengan polosnya, Dama mengusap pipi Amelia dan menciumnya.


"Lov yu" ucap Dama.


Amelia tersenyum, itu seperti obat baginya. Dia kembali ceria dan melupakan semua ucapan Davin ataupun trik Bella.


Amelia main dengan Dama saat mereka makan. Davin terlihat santai dan tak peduli padanya.


Amelia tertunduk dan langsung mengingat Saga. Dia merindukan semua perlakuan manis Saga yang selalu ada untuknya.


"Aku rindu kamu Saga" gumam Amelia.


Davin yang saat itu sedang mendekat untuk menawarinya makan, mendengar ucapan Amelia. Dia terdiam dan mengepalkan kedua tangannya. Davin kesal dan kembali ke meja.


Bella yang memperhatikan, langsung bertanya.


"Ada apa? " tanyanya.


"Gendong Dama bergantian dengan Amelia, kurasa dia tadi belum sempat makan" ucap Davin.


Bella menelan makanannya bulat-bulat. Merasa rencananya justru berbalik merepotkannya lagi. Dia minum kemudian berdiri hendak mengambil Dama.


Tapi dia berhenti bergerak saat Davin ikut berdiri.


"Kau mau kemana?" tanya Bella.


"Ke parkiran, aku tunggu di sana" jawab Davin.


Bella tersenyum melihat Davin pergi dengan kesal.


"Ya, setidaknya rencana ku membuat Davin kesal padanya berhasil" gumam Bella.


Dia mendekati Amelia dan hendak mengambilnya. Namun Amelia terdiam menatapnya.


"Kenapa? " tanya Bella.


"Aku tahu yang kamu lakukan" ucap Amelia.


Bella terkejut.


"Tidak usah repot-repot membuat ku keluar dari kehidupan Davin. Aku pasti pergi, kami sudah membuat kesepakatan dan aku sudah berjanji akan pergi" Amelia berusaha menjelaskan.


"Aku mau kau pergi sekarang" ucap Bella.


"Bella....! "


"Jangan sok akrab dengan ku, aku tidak akan pernah menyukai wanita yang mengandung anak suami ku. Dan aku tidak akan pernah menerima jika dia hadir lagi untuk merebutnya" Bella terus menunjuk wajah Amelia.


Amelia tak bisa mengatakan apapun lagi.


"Bawa Dama, kita pulang" ucap Bella.


Amelia menghela dan menuruti ucapannya.


Sampai di parkiran, Davin terheran.


"Kenapa kembali? Bukannya kamu makan?" tanya Davin.


Amelia hendak menjawab tapi Bella langsung menjawab Davin.


"Dia bilang ngga laper, ya kan Mel? "


Amelia mengangguk dia ikut masuk dan duduk di kursi belakang bersama Dama.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2