CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
73


__ADS_3

Amelia menatap ke arah jendela dari kamarnya. Belum ada yang pulang dari pemakaman. Hela nafas silih bergantian dengan tatapan matanya pada Dama.


Bukan tentang ucapan Maria, Amelia hanya sedih tak bisa turut hadir dalam pemakaman ayah Bella. Dia biasanya selalu ada dalam situasi duka seperti itu. Rasanya ada yang beda, jika sekali saja dia tak melakukannya.


Saat larut dalam lamunan, suara pesan dari ponselnya membangunkannya. Amelia memeriksa, matanya membulat saat membaca pesan yang dia dapat dari Saga.


"Saga! " seru Amelia dengan riang nya.


[Aku baik-baik saja, maaf aku baru membalas pesan mu] jawab Saga.


[Aku senang kau membalas pesan ku, bisa kita bicara?] tanya Amelia membalas pesannya.


Saga langsung menelponnya, Amelia tak memperhatikan nomor yang digunakan Saga bukan nomor luar negeri nya. Dia langsung mengangkat telpon karena saking senangnya.


"Saga! " seru Amelia.


"Amelia! " jawab Saga.


Mata Amelia terpejam, dia sangat merindukan Saga.


"Aku merindukan mu" ucap Saga.


Amelia tersenyum.


"Mana Dama? " tanya Saga.


"Ada, di dekat ku. Dia sedang tidur" jawab Amelia.


"Aku juga sangat merindukannya" ucap Saga.


Amelia tersenyum lagi.


"Kau tidak menjawab ku saat aku mengatakan aku merindukan mu. Apa kau juga merindukan ku? " tanya Saga.


Amelia tersenyum lagi.


"Aku.... "


Saga menunggu kata-kata rindu dari Amelia untuknya. Sesaat dia ingat dengan pesan yang Amelia kirim untuknya. Dia tersipu.


"Aku sangat merindukan mu" ucap Amelia.


Saga tersenyum lebar, dia sangat senang Amelia masih menyimpan perasaan cintanya.


"Aku ingin sekali bertemu kalian, tinggal bersama lagi. Bermain ke taman bermain lagi dan... "


"Seandainya aku bisa kembali ke Montreuill lagi" ucap Amelia.


"Ya, seandainya" ucap Saga menimpal.


"Apa kabar tante Gendis dan Peter? Mereka marah karena kau tak menghubunginya lagi. Aku juga hanya menanyakan mu tempo hari, tapi Gendis bilang kau belum ke Montreuill. Kunjungi mereka sesekali, kasihan, mereka sering kewalahan mengurus pabrik" jelas Amelia.


Saga diam membeku. Dia tak tahu harus mengatakan apa pada Amelia tentang Gendis dan Peter. Dia sendiri belum menghubungi mereka sejak tiba di Jogja.


"Saga! " seru Amelia.

__ADS_1


"Hmmm! " jawab Saga.


"Aku benar-benar merindukan mu. Aku sangat berharap sebuah keajaiban bisa muncul dan membuat keluarga mu mengizinkan aku dan Dama kembali ke Montreuill" harap Amelia.


"Berdoalah, semoga sebuah keajaiban datang dan membawa mu kembali padaku" timpal Saga.


***


Sementara itu, Davin diam menatap ke arah jendela dari kamarnya. Bella masih berbaring menangisi kepergian ayahnya.


Davin berpikir keras dengan semua amanah yang disampaikan ayah Bella. Meminta agar dia tetap bisa menerima Bella meskipun dia tak bisa mencintai nya.


~ Bagaimana aku bisa melakukan itu? Jelas aku tak bisa. Aku bisa saja berada satu ruangan dengannya, tapi tetap saja aku tidak bisa memberikan hati dan cinta ku padanya. Aku sudah memberikan semua itu pada Amelia. Dan hanya padanya aku bisa melakukan hal itu. Bahkan jika aku bersamanya, hanya dengan mencium wanginya saja, hasrat itu masih selalu ada~


Davin bergumul dalam hatinya. Dia tak bisa janji akan bisa melaksanakan apa yang diminta almarhum ayah mertuanya.


"Aku benar-benar jahat, aku menikahi dia tapi tak bisa memperlakukan dirinya seperti seorang istri" gumam Davin.


Davin berbalik, melihat Bella di ranjangnya. Suara tangis Bella mulai mereda, Davin mengira dia tertidur. Dia menghampiri hendak menyelimuti nya. Tapi tangan Bella meraihnya dan membuat Davin memeluknya.


"Temani aku, aku mohon! " bisik Bella.


Davin menghela, dia tak bisa melakukan itu. Tapi dia berpikir, dia akan melakukannya dengan menganggap Bella sebagai adiknya. Dia diam memeluk Bella. Dengan perlahan menepuk lengan Bella agar dia tertidur.


Davin melepas pelukannya setelah Bella tertidur, kemudian kembali ke ruang keluarga, bergabung dengan yang lainnya.


"Dia tertidur? " tanya Oma.


"Iya Oma" jawab Davin seraya mengangguk.


"Kembalilah ke kamar kalian, temani dia saja" pinta Maria.


Maria tersenyum, dia berdiri dan hendak mengambilkan makanan untuk Davin. Tapi Veni berdiri dan meninggalkan mereka begitu saja menuju kamarnya tanpa ekspresi.


Harris menelan saliva melihat sikap temannya itu. Oma Mira berdiri dan menyusulnya. Davin tetap berjalan menuju dapur dan meminta pelayan menyiapkan makanan untuk yang lain juga.


"Sajikan makan malam, untuk Nyonya Veni, bawakan ke kamarnya. Begitu juga untuk Bella" pinta Davin seraya mengambil gelas untuk minumnya.


Alex datang mendekat.


"Kapan kau akan kembali? " tanya Alex sambil berbisik.


Davin menoleh.


"Entahlah, aku rasa akan lebih lama tinggal di sini. Bella akan lebih sulit meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti ini. Kenapa? " tanya Davin.


"Tidak, hanya saja.... " Alex takut salah bicara.


"Ada apa? ada masalah? " tanya Davin dengan wajah yang penasaran.


Alex masih diam dengan wajah yang menyiratkan keraguannya untuk bicara.


"Apa ibu dan Oma melakukan hal yang buruk pada Amelia? " tanya Davin menebak.


~Itu sudah terjadi dan mungkin melukai hatinya berkali-kali. Tapi dia bisa diam dengan hal itu~ ucap hati Alex.

__ADS_1


Alex menatap wajah Davin yang masih penasaran dan menunggunya bicara.


"Aku tidak tahu apa dengan mengatakan ini aku terdengar memaksa mu untuk memikirkannya" ucap Alex.


"Apaaaa? Jangan berbelit-belit! " Davin mulai kesal.


"Dama..! " bisik Alex.


Mata pelayan yang sedang memasak membulat seolah ingin mendengar apa yang dikatakan Alex pada Davin. Alex menyadarinya, dia menarik tangannya untuk keluar dari dapur.


"Di sini banyak dinding yang mendengar" ucap Alex.


"Semua orang di sini tahu tentang Dama, tidak usah berbisik" ucap Davin santai.


Alex terkejut, dia tak tahu keadaan rumah Bella sudah sangat luwes menerima keadaan Davin.


"Jujur aku sangat merindukan mereka, hanya demi Om Wahyu, aku bertahan dan bisa sedikit akur dengan Bella" ucap Davin.


"Akur? " Alex lebih terkejut lagi.


Davin menutup mulut Alex yang menganga.


"Katakan pada Dama aku akan kembali jika Bella sudah mau kembali. Aku tidak akan memaksanya kali ini" ucap Davin.


Alex membuat ekspresi yang membuat Davin merasa dia sedang diejek.


"Ah... jangan berpikir macam-macam! " ancam Davin padanya.


Alex tersenyum, dia memberikan ponselnya.


"Apa? " tanya Davin.


"Bicara sendiri pada Amelia. Katakan semua itu pada Dama" ucap Alex.


Davin terdiam, dia menatap ponsel Alex dan berpikir.


"Aku tidak bisa" jawab Davin.


"Kenapa? " tanya Alex.


"Aku akan semakin merindukan mereka, aku tidak akan bisa menahan rindu ku padanya nanti" jawab Davin.


"Amelia? " Alex menebak.


"Ya, jika aku mendengar suaranya, aku akan merasakannya lagi. Aku tidak akan bisa menahan rinduku lagi. Sejauh ini aku bisa menahannya tanpa menghubungi nya.... "


"Payah! " ucap Alex menyela ucapannya.


Davin memukul kepalanya, Alex meringis seraya mengusap kepalanya.


"Sakit! " keluh Alex.


"Pergi sana! " Davin mengusirnya.


Alex pergi seraya mengeluh sakit di kepalanya. Sementara Davin menatap kosong ke arah ponselnya.

__ADS_1


"Sumpah demi apapun, aku sangat merindukan mu" gumam Davin.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2