
Sejak semalam, saat Ghani pulang dan menceritakan semua tentang yang terjadi di rumah Narendra, Hani tak bisa tidur. Dia kasihan pada Amelia dan sangat merindukannya.
Sekarang Hani sedang menunggu Ghani yang masih di kamar mandi, untuk ikut bersamanya melihat Amelia dan cucunya, Dama.
Hana menatap betapa bahagia ibunya mendengar Amelia ada di dekatnya. Apalagi mendengar anak bungsu nya melahirkan dengan sehat dan menjadi ibu yang kuat.
Tapi Hana juga sedikit khawatir saat mendengar cerita bahwa nenek mertuanya sangat tegas. Terlebih cerita tentang bagaimana Nyonya Mira membuat Ayuningtyas melepaskan anaknya untuk tinggal di sana.
"Ayah mu lama" keluh Hani.
Hana tersenyum.
"Ibu jangan mondar-mandir begitu, Mikayla sampai memperhatikan sesuai arah ibu berjalan" ucap Hana.
"Ibu pengen cepet-cepet ke rumah Nyonya Mira, ibu mau lihat Amelia dan Dama" ucap Hani.
Ghani keluar dan sudah siap. Hani buru-buru mengaitkan tangannya pada lengan suaminya agar tak beralasan lagi untuk pergi terlambat ke rumah Nyonya Mira.
"Dah Ibu, dah ayah!" seru Hana bersama Mikayla setelah mengantar mereka ke halaman.
Hana masuk dan merapikan meja makan. Mikayla berjalan-jalan di sekitar ruang tamu dan sesekali bermain dengan mainannya.
Tak berapa lama, suara ketukan pintu terdengar. Hana berhenti mencuci piring.
"Apa ada yang tertinggal?" gumamnya mengira ayah dan ibunya kembali karena ada yang tertinggal.
Hana berjalan ke arah pintu, Mikayla mengikutinya.
"Apa ada yang ketinggalan Bu?" seru Hana.
Namun mata Hana membulat saat melihat orang yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Hallo Mikayla, papa kangen" ucap Bagas.
Hana diam saja, tangannya menahan langkah Mikayla yang terus maju tanpa tahu siapa yang datang.
Bagas menatap tangan Hana yang menahan tubuh Mikayla. Dia sedikit menunduk dan menelan salivanya.
"Maaf, aku datang tanpa memberitahu dulu. Tapi, ibu dan ayah mu, mereka baru keluar bersama tadi selama setahun ini. Aku tidak berani datang jika ada mereka" jelas Bagas.
"Kau mengintai rumah kami?" ucap Hana sedikit ketakutan.
"Hana, aku sangat merindukan Mikayla. Aku sangat menyayanginya. Aku tidak bisa hidup tanpanya" Bagas memelas.
"Pulanglah, Sita menunggu mu. Dia bisa sedih jika kau pergi jauh dan lama" ucap Hana mengejeknya.
"Aku sudah menceraikannya" ucap Bagas.
__ADS_1
"Tetap saja, pulanglah. Mikayla hidup tenang di sini. Dia tak perlu mendengar teriakan mu atau tangisan ku karena sikap mu" Hana tetap tak mengizinkan Bagas menyentuh Mikayla.
Hana hendak menutup pintunya.
"Tunggu Hana, aku hanya mau berkunjung. Beberapa jam saja Hana, izinkan aku bermain bersamanya" pinta Bagas.
"Tapi Bagas, ayah dan ibu ku tidak ada di rumah. Aku tidak bisa menerima mu masuk ke rumah" ucap Hana bersikeras menolak.
"Di luar juga tidak apa-apa" paksa Bagas.
Hana menatap mantan suaminya itu. Penampilannya lusuh dan terlihat sedikit kurus. Hana kasihan, tapi dia takut Bagas mengambil Mikayla dan menjauhkan mereka.
"Aku mohon Hana, hanya sebentar pun tidak apa-apa" Bagas terus memaksa.
Hana menatap Bagas dan Mikayla bergantian. Dia masih belum percaya pada Bagas. Tapi dia sadar mantan suaminya itu memang hanya kasar padanya bukan pada Mikayla.
"Baiklah, hanya sampai waktu tidur siang Mikayla, setelah itu kau harus cepat-cepat pergi" Hana mengalah.
Hana membawa Mikayla ke kursi taman, Bagas mengikutinya. Mereka duduk bersama, Bagas langsung menggendong Mikayla.
"Mikayla sayangnya papa" ucap Bagas sambil menciumi kening dan pipinya.
Hana hanya bisa menatapnya, dia tak bisa melarang ayahnya sendiri untuk menemui Mikayla.
###
"Ada apa?" tanya Ghani.
"Putri anda Pak, dia menghilang" ucap salah satu penjaga.
"Apa?"
Ghani menatap Hani yang mengerutkan dahinya mendengar putrinya sudah pergi. Ghani mengusap punggung Hani untuk menenangkannya.
Alex yang ikut mencari keluar hendak mengambil mobil untuk mencari Amelia atas permintaan Davin.
Alex berhenti saat melihat Ghani dan Hani berdiri menatapnya.
"Pak, Bu. Ehmmm...." Alex sulit bicara.
"Aku akan mencarinya sampai dapat. Aku janji" ucap Davin yang datang di belakang Alex.
Hani menatap wajah Davin kemudian beralih pada Ghani yang tak menatap Davin dan malah melihat ke arah yang lain seolah tak mau mempercayainya.
"Hati-hati nak!" jawab Hani.
Davin tersenyum mendengar ucapan Hani, sementara Ghani membulatkan matanya merasa Hani tak perlu mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Kami pergi dulu, permisi" ucap Davin sambil menarik Alex yang diam saja.
Mereka pergi mencari Amelia dan Dama.
"Seharusnya kau tidak mengatakan apa-apa" ucap Ghani.
"Tapi dia ayah dari Dama, cucu kita" ucap Hani.
"Amelia saja sampai pergi dari rumah ini, itu berarti dia sangat tahu bagaimana keadaan rumah ini" ucap Ghani.
"Ya, kau yang sangat mengetahui apa saja yang terjadi di rumah ini Ghani" ucap Oma.
Dia datang ke luar setelah tahu Amelia dan Dama pergi dari Alex.
Hani dan Ghani menatapnya.
"Selamat pagi Nyonya, apa kabar?" sapa Hani.
"Pagi Hani, aku sangat baik. Kau datang untuk bertemu Amelia dan cucu mu. Tapi sayang, dia pergi karena takut pada ku. Sama seperti dulu saat pertama kali kalian membawanya kemari. Dia lari karena takut suara ku yang lantang memanggil Minah" ucap Oma.
"Iya Nyonya, dia anak yang berbeda, tidak seperti yang lainnya yang justru mendekat dan menjilat kaki anda" jawab Hani membela anaknya.
Oma Mira tersenyum, dia selalu senang dengan perlawanan dari Hani.
"Kau tidak pernah berubah. Aku menyukainya" ucap Oma.
"Terimakasih atas pujiannya Nyonya" jawab Hani.
"Masuklah, mereka akan menemukan Amelia sebentar lagi" ajak Oma ke dalam.
"Tidak Nyonya, kami akan pulang. Siapa tahu Amelia pulang untuk berlindung pada kami" tolak Hani.
Oma Mira menoleh, dia kesal dengan semua jawaban Hani. Tapi dia tak bisa melawan Hani, dia adalah putri dari sahabat dekat suaminya. Hani juga pernah membantu Ayu untuk mempertahankan Saga. Oma hampir tak bisa melepaskan Ayu dari Saga karena pandainya Hani bicara dan melawannya.
"Permisi Nyonya besar" Hani pamit.
Mereka pergi keluar dan saling menatap.
"Kemana Amelia membawa anaknya?" tanya Hani.
"Dia sudah pernah pergi dan bertahan di luar rumah, dia sudah tak takut menghadapi dunia. Dia ibu yang baik, dia tak memberikan anaknya pada orang lain, meskipun itu adalah keluarga ayah dari anaknya" ucap Ghani.
"Seharusnya dia bisa bersikap tenang dan melawan Nyonya dengan otak yang dingin. Kenapa sifat dan pemikiran ku tak ada padanya. Dia menjadi orang yang mudah panik" keluh Hani.
"Insting seorang ibu, dia sudah menjadi seorang ibu. Ibu yang tak mau dipisahkan dari anaknya" ucap Ghani membela.
Mereka kembali ke rumahnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>